
Saat semuanya sudah keluar dari ruangan, sang pengawal menutup pintu dan berjaga.
Sedangkan di dalam ruangan Meeting, Zay masih mencium Gege dan memeluk leher Gege dengan erat. Zay menyesapp dalam dan kuat bibir Gege, Gege hanya mengimbangi Zay, dan memeluk Zay dengan lembut.
Hingga beberapa menit belangsung terus seperti itu dan Gege masih membiarkan Zay melakukan apa yang ia inginkan, hingga saat nafas Zay habis, gadis itu mulai menarik bibirnya, dan mengambil nafas dalam-dalam.
Gege melihat bibir sensual Zay sedikit bengkak, Gege pun mengelap bibir Zay dengan ibu jarinya dan Gege melihat Zay yang matanya sudah berkaca-kaca.
Gege menggendong Zay dan menaruh Zay untuk duduk di atas meja.
"Kenapa kau seperti ini?" Tanya Gege dan melepaskan jasnya lalu memakaikannya pada Zay.
"Ayo tidur bersama." Pinta Zay kemudian.
Gege mengernyitkan satu alisnya, dan kemudian tersenyum tipis, hampir seperti tak percaya Zay mengatakan itu padanya.
"Kenapa kau tertawa? Aku mengajakmu untuk tidur bersama. Aku masih perawan, kau tidak mau denganku?" Tanya Zay.
Gege kemudian membelai kepala Zay.
"Aku percaya, tapi aku tidak mau melakukan itu ketika kau mengambil keputusan gegabah ketika keadaanmu sedang marah, kau akan menyesalinya nanti. Aku juga ingin dan mau, bahkan kau tidak akan bisa membayangkan keinginan yang sudah ku tahan, tapi aku ingin melakukannya saat kau mau dengan tulus menyerahkan dirimu. Karena ku rasa saat ini, aku lebih seperti pelarian untukmu dan bukan seseorang yang penting di dalam hatimu." Kata Gege.
Mendengar penolakan Gege, Zay pun bertambah kesal, ia kemudian melepaskan jas milik Gege dan turun dari meja. Zay berjalan dengan marah.
Namun Gege menahan lengan Zay.
"Mau kemana lagi?" Tanya Gege.
"Mencari pria yang mau tidur denganku. Aku akan ke Club."
Gege membuang nafasnya pelan.
"Kau hanya ingin membalas dendam pada Gavriel, tapi melihat sikap mu yang seperti ini, kau justru menunjukkan kau sangat mencintainya." Kata Gege.
"Kalau kau tidak mau tidur denganku, biarkan aku pergi dan mencari pria lain di luar sana. Aku akan mencari di Club, dengan sembarang pria, aku sudah muak dengan yang namanya cinta. Semua hanya omong kosong." Kata Zay kemudian mengibaskan tangan Gege dan pergi keluar.
Gege hanya memandangi kepergian Zay yang dengan amarah memuncak.
"Sialan, dia selalu bertindak semaunya sendiri. Dia pikir, apa yang akan dia lakukan? Mencari pria di Club? Jangan harap." Kata Gege kemudian berlari mengejar Zay.
Di luar ruangan Gege kemudian menghubungi semua pengawal miliknya.
"Cari tahu, Club mana yang akan Zay datangi, dan hubungi Dokter Gavriel katakan padanya ini darurat." Perintah Gege.
Gege berlari menuju bassmant dan menaiki mobil nya, ia menyetir sendiri dan mengeluarkan mobilnya yang terparkir dengan terburu-buru, hingga suara decit ban begitu keras terdengar.
Panggilan telepon masuk dan Gege memencet tombol di mobilnya.
"Ya."
__ADS_1
"Tuan Gege, Nona Zay pergi ke Club milik keluarga Vince tepatnya kakak dari Aaron Vince yaitu Marfin Vince."
"Apakah Zay tahu jika Club itu milik Keluarga Vince?"
"Sepertinya tidak, tapi hari ini Marfin Vince, sedang mengadakan pesta besar di Club bersama para mafia Tuan."
"Ck! Cepat atau lambat kami memang akan bertemu, sekaramg atau nanti sama saja." Kata Gege Vamos.
"Lalu bagaimana dengan Dokter Gavriel?" Tanya Gege lagi.
"Tidak ada jawaban, terakhir kali saya melihat dia sangat mabuk Tuan, mungkin masih tidak sadar."
"Terus awasi pergerakan Zay." Kata Gege.
"Baik Tuan."
Kemudian Gege menginjak gas mobil lebih dalam lagi dan membuat mobilnya melaju sangat cepat.
Di sebuah Club mewah yang ada di daerah Negara K , saat itu sudah sore menjelang malam, dan Club sudah buka, Zay duduk di kursinya sendirian, meski belum terlalu malam, namun tamu yang datang sudah begitu banyak.
"Ramai sekali." Kata Zay sembari menyesap koktailnya.
Suara musik yang keras membuat suasana semakin meriah, lampu-lampu warna-warni dan suasana Club yang sedikit remang, membuat semuanya semakin bersemangat.
Musik Jedag Jedug yang begitu menggugah hasrat semua orang untuk turun ke lantai dan berdansa pun tak luput memanggil jiwa Zay yang suka dengan kebebasan.
Zay membawa gelas Koktailnya, dan turun ke bawah, ia menari di bawah lampu yang berputar dan bersinar warna-warni.
"Sendirian Nona?" Tanya seorang pria yang wajahnya tampan.
Zay melihat pria tersebut dan langsung tersenyum, ia hanya tersenyum tak menjawab sembari masih mengangkat setengah tangannya naik ke atas menggoyangkan tubuhnya, menikmati musik yang keras, sedang tangan satunya memegangi gelas koktailnya.
Sang pria pun merasa mendapatkan lampu hijau, ia mengikuti alur tubuh Zay yang berjoged, pria tersebut mengimbangi Zay dan mereka semakin dekat.
"Ayo pindah." Ajak sang pria itu berbicara di telinga Zay.
"Kemana?" Tanya Zay.
"Kau pasti suka." Pria tersebut pergi lebih dulu dan diikuti oleh Zay.
Akhirnya Zay di bawa ke suatu tempat, ketika pintu di buka sebuah ruangan mewah dengan cukup banyak orang ada di sana.
Namun, Zay dapat membaca situasi, ia tahu semua pria yang ada di dalam ruangan tersebut adalah mafia dan para wanitanya adalah yang mereka pesan. Semua melakukan pesta miras dan obat-obatan, tanpa rasa malu juga mereka melakukan hubungan badan di sana.
"Boss.." Kata pria itu menyapa seorang yang duduk santai dengan menyesap rokoknya.
Pria berwajah tampan dan tak asing bagi Zay, ia memakai kemeja hitam dengan jas dan celana merah maroon.
"Ka.. Kaau... Kauu... Bagaimana bisa kau masih hidup." Kata Zay terbata.
__ADS_1
"Terimakasih Jonathan, kau membawa seseorang yang sangat berharga." Kata si pria yang di panggil Boss.
"Kau... Bukankah kau sudah mati!" Kata Zay.
Semua orang langsung melihat ke arah Zay.
"Pertanyaan mu cukup ambigu. Siapa yang kau maksud sudah mati? Si Aaroon Vince, atau Marfin Vince?" Kata Pria tersebut menyembulkan asap rokoknya.
"Apaa... Makasudnya ini..." Zay masih terbelalak tak mengerti.
"Aku Marfin Vince. Aku memang di kabarkan telah di bantai oleh Aaron Vince, tapi kabar itu palsu. Lalu, jika kau mengira Aku Aaron, kau zalah, aku adalah saudara kembarnya Aaron Vince yang telah di bunuh oleh kakakmu. Yaa... Meski pun kami kakak beradik tapi hubungan kami buruk." Kata Marfin Vince kembali menyesap dan menyemburkan asapnya.
Zay masih membatu dan tubuhnya membeku.
"Aku tahu yang kau cari Zay... Kesenangan bukan? Duduk kemari." Kata Marfin menepuk sofa di sebelahnya.
"Maaf, aku tidak minat, dan aku harus pergi." Kata Zay hendak pergi.
Namun, Marfin memberikan kode pada para pengawal.
Dengan cepat, para pengawal menghalangi Zay.
"Minggir atau kalian akan kehilangan kaki yang yang berharga itu" Kata Zay melihat kaki para pengawal sebagai peringatan.
Karena para pengawal Marfin tidak menyingkir, Zay kemudian menendang mereka, dengan tendangan kilat.
"BUUGGG!!!"
"BUUGGG!!"
Para pengawal yang oleng kemudian memperbaiki keseimbangannya dan langsung melayangkan tinju mereka.
"2 lawan 1 ya... Kalian memang banci, mengeroyok seorang wanita." Kata Zay kemudian Zay melompat bertumpu pada dinding dan terbang, kedua kakinya menjepit leher pengawal satu, dan kedua tangannya berpegangan pada leher salah satu pengawal lagi, lalu Zay memutar tubuhnya dengan cepat.
"BRRAAAKKK!!!"
Mereka secara bersamaan jatuh di atas lantai, namun para pengawal itu telah K.O karena leher mereka sudah patah.
Merasa para pengawal tidak dapat melumpuhkan Zay, kemudian Marfin pun menendang kursi dan tepat mengenai kedua kaki Zay.
Benturan yang keras membuat Zay terjatuh di atas lantai.
"GUBRRAAKKK!!!"
"Ughh...!" Lenguh Zay.
Jonathan kemudian memiting kedua tangan Zay dan menyeretnya untuk duduk di sebelah Marfin Vince.
"Jika aku menyuruhmu untuk duduk di sampingku, maka duduk lah dengan tenang sayang...." Kata Marfin mencengkram rahang Zay.
__ADS_1
Bersambung~