Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 112


__ADS_3

Hari dimana acara sakral tiba, di sana telah berdiri Ben dengan pakaian tuxedo mewah dan dengan rambut yang sudah di tata rapi.


Tubuh Ben yang tinggi, wajah tampan, serta tubuu ideal yang kekar, tentu saja membuat para undangan wanita saling merasa iri dan menangis


Apalagi saat itu Ben terlihat jauh lebih muda dari usianya.


Tapi orang yang melihat wajah tampan Ben tidak tahu sebenarnya apa yang ada di dalam diri Ben, apa yangbsedang Ben rasakan saat itu, perasaan Ben campur aduk, ia berusaha setenang mungkin meski pikirannya sangat takut, ia takut acaranya tidak berjalan dengan lancar.


"Pastikan semua keamanan berada di level tertinggi." Kata Ben.


"Sudah Tuan, bahkan Tuan Rudolf dan Tuan Carlos sudah mengerahkan semua kekuatannya untuk mengamankan pernikahan ini. Semua penembak jitu juga sudah berada di tempatnya." Kata Traver.


Di saat semua orang bahkan Ben sedang menunggu Daisy untuk keluar, sebuah helikopter pun tiba-tiba mendarat dan dia adalah Mark Waldorf.


Traver bersiap, namun Ben menghentikannya dengan kode mata.


"Siapa yang telah mengijinkannya masuk." Kata Traver geram.


"Sepertinya Derreck, aku mendengarnya berbicara di telepon dan mengirimkan alamat, dia mengatakan terserah mau datang atau tidak." Sahut Ben mengingat kembali.


Traver membuang nafasnya.


Ben melihat Mark Waldorf serta Luwis yang mengenakan setelan jas dengan rapi dan mewah. Mereka berdua berjalan menuju tempat yang sudah di dekor dengan sangat indah di tepi pantai.


Itu adalah taman penuh rerumputan yang bersebalahan langsung dengan pantai biru yang indah, bahkan saat itu pantai sedang surut membuat pemandangannya semakin apik.


Para undangan yang tidak terlalu banyak pun melihat ke arah Mark Waldorf.


"Apa yang akan dia lakukan." Kata Rudolf pelan.


"Tentu saja datang ke perayaan pernikahan putrinya. Untuk apa lagi?" Celoteh Carlos yang saat itu dia terlihat sangat tampan.


"Ku harap begitu, jika tidak aku akan menghabisinya dengan sekali bantai." Ujar Rudolf.


"Mari kita lihat..." Sambung Carlos.


Mark akhirnya menghampiri Ben dan kemudian mengulurkan tangannya ingin bersalaman.


"Aku bukan ayah yang baik dan juga pasti jahat, bahkan sebentar lagi aku akan kehilangan istriku, ijinkan aku sekali ini saja untuk melihat kebahagiaannya." Kata Mark.


Ben kemudian menerima jabatan tangan Mark, dan mengangguk pelan.


Mark Waldorf pun berdiri di pinggir jalan setapak, alunan musik mulai terdengar, dan perlahan seseorang pun nampak keluar.


Itu adalah Daisy dengan gaun pernikahan berwarna putih senada dengan tudung yang menutupinya.


Di samping Daisy adalah Derreck yang berjalan bersamanya serta Beatrice sang ibu yang berjalan di belakangnya lalu ada Mena dan Casey yang tampil cantik.

__ADS_1


Jantung Ben berdegub tak karuan, itu adalah momen paling tergugup yang pernah ia rasakan bahkan mengalahkan situasi saat ia sedang bertarung.


"Benar-benar sangat cantik..." Kata Mark Waldorf menghapus setitik air mata yang ada di sudut matanya.


Beatrice kemudian duduk dan Daisy menatap pada Mark Waldorf serta Ben.


Derreck memberikan tangan Daisy yang merangkul lengannya pada tangan Ben.


Kemudian Derreck pun duduk diikuti oleh Mark Waldorf.


Ben dan Daisy kini sudah berdiri di hadapan pendeta yang akan menikahkan mereka.


"Kau sangat cantik, aku ingin pingsan." Bisik Ben.


Daisy menahan tawa, ketika Ben mengucapkan bahwa ia ingin pingsan


"Kau... Akan terus menjadi tahanan ranjangku, karena setiap hari kau membuatku kembali merasakan jatuh cinta lagi dan lagi."


"Kau semakin mahir menggoda dengan rayuan." Bisik Daisy.


"Jadi... Mari kita lakukan dengan sebaik mungkin, aku akan menjadi suami yang kau inginkan sayang..." Kata Ben.


"Dan aku aku akan menjadi istrimu yang selalu mencintaimu..." Kata Daisy tersenyum.


Pendeta yang berdiri di hadapan Ben serta Daisy kemudian membuka kitabnya dan membacakan ikrar.


Setelah Ben serta Daisy saling mengucapkan ikrar janji sehidup semati, mereka saling menatap, Ben membuka tudung yang menutupi Daisy dan mereka saling berciuman.


Namun, tiba-tiba Traver berbisik di telinga Ben, seketika membuat Ben mengeratkan rahangnya dan memperlihatkan urat-urat yang keras di leher.


Ben berfikir sejenak, kemudian Rudolf serta Carlos mulai ikut tegang melihat Ben berfikir cukup keras.


"Paulo Redges ada di sini." Kata Ben.


Rudolf dan Carlos masih menunggu pernyataan lanjutan Ben dengan wajah penuh tanya dan tegang.


"Dia ayah dari Vanda Betrando." Kata Ben.


"Vanda? Bukankah anak Paulo Redges adalah Vanya Belando, dia adalah gadis yang ingin ku perkenalkan padamu saat ternyata kau telah membawa Daisy untuk pertama kalinya, dan aku tidak tahu itu, jika kau sudah jatuh cinta pada Daisy." Kata Rudolf.


"Paulo Redges memiliki anak kembar, dia bernama Vanda Betrando dan juga Vanya Belando." Kata Ben lagi.


"Lalu? Apa masalahnya?" Tanya Carlos.


"Masalah adalah, Tuan Ben telah membantai Vanda Betrando, dia menjadi mafia Kolombya yang sukses melakukan perdagangan gelap, untuk obat-obatan terlarang. Vanda Betrando sengaja memancing Tuan Ben, dia berpura-pura menyewa salah satu Resort yang ada di pulau Maladewi ini, dan membawa banyak barang Heroin ke Resort, dia tahu, Tuan Ben sangat mencintai pulau Maladewi." Kata Traver.


Rudolf dan Carlos menelan ludah.

__ADS_1


"Kau gila Ben? Kau tahu kan siapa Paulo Redges, aku tidak tahu jika Vanya Belando memiliki saudara kandung, setahuku Vanya adalah wanita yang cantik dan tidak menjadi Mafia, jadi aku ingin mengenalkannya padamu." Kata Rudolf.


Carlos melirik pada Rudolf.


"Bahkan, sampai mati Ben tidak akan mau kau kenalkan dengan sembarang wanita."


"Hey! Ku pikir Ben terganggu, ku pikir dia tidak menyukai wanita, aku akan terancam, jika dia ternyata menyukai pria, karena aku adalah pria tampan!" Sanggah Rudolf.


"Sangat tidak masuk akal, meskipun Ben menyukai pria, dipastikan dia tidak akan menyukaimu." Balas Carlos.


"Ya, setidaknya aku hanya melindungi diriku dari kemurnianku." Kata Rudolf menutupi tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya di tubuhnya.


"Lalu bagaimana?" Tanya Carlos.


"Mungkin dia datang untuk membalas dendam." Kata Ben.


"Kalau begitu, kami akan siaga, mari penggal kepalanya jika dia berani merusak acara penting ini." Ucap Carlos.


Rudolf mengangguk setuju.


Traver pun juga bersiap, sedangkan Ben melihat ke arah Daisy yang tertawa bahagia sedang berbicara dengan para tamu undangan.


"Pastikan Daisy tidak mengetahui masalah apapun tentang ini. Aku tidak mau membebani pikirannya." Kata Ben.


"Baik Tuan." Jawab Traver.


Kemudian Ben peegi diikuti oleh Traver, Rudolf serta Carlo, di sisi lain, Derreck serta Mark Waldorf memperhatikan, ada kejanggalan.


Ben berjalan masuk menuji bangunan Resort mewah dan mendatangi pada pembawa berita yang menyampaikan bahwa Paulo Redges ada di Maladewi.


"Dimana?" Tanya Ben.


"Mereka ada di bandara Tuan." Kata pengawal itu.


"Berapa orang?" Tanya Ben


"Hanya Paulo Redges dan seorang gadis, katanya dia adalah putrinya." Jawab pengawal itu lagi.


"Aku dan Carlos akan kesana mengurusnya." Kata Rudolf.


Ben masih diam sejenak.


"Biarkan dia datang ke sini, beri jalan untuknya." Perintah Ben.


"Kau gila!!!" Teriak Rudolf.


"Kau... Apa kau tidak waras!!!" Kata Carlos melanjutkan.

__ADS_1


Namun, Ben masih berfikir dan tetap tenang, dia pun juga tidak asal begitu saja memberikan perintah.


Bersambung


__ADS_2