
Malam yang gelap dan suram, penerangan jalan tak terlalu terang, suasana yang lengang dan sepi, rintik hujan yang halus perlahan turun dan membasahi jalanan beraspal yang bersih.
Antonio mendesah dan mendecakkan lidahnya kesal, karena uang 4 milyar yang sudah ada di dalam genggaman tangannya di rampas oleh anaknya.
"Sial. Seharusnya dari dulu saja ku jual anak itu. Dasar tidak berguna!"
Antonio berjalan gontai, ia melihat ke jalan setapak yang dilaluinya dan melihat sepuntung rokok tergeletak di jalan setapak itu dan masih tersisa setengah.
Antonio kemudian memungutnya dan memasukkannya ke dalam mulut, pria tua itu menggigit kecil rokok dan ia mencari apakah ada korek api di dalam saku mantelnya.
"Sial." Kata Antonio merogoh saku nya ke sana dan kemari.
Kemudian seorang pria berpakaian jas lengkap memantikkan api.
"Aahh terimakasih." Kata Antonio menundukkan kepala, kemudian Antonio menyesap rokoknya.
Saat itu jalanan begitu sepi, Antonio bergegas akan menyeberang, namun lampu merah masih menyala untuk pejalan kaki.
Tiba-tiba mobil truk besar melaju dengan kencang, alih-alih mengurangi kecepatannya, mobil itu justru menginjak gas lebih dalam membuat mobil semakin cepat.
Pria yang memakai jas lengkap tiba-tiba mendorong Antonio dengan sangat keras di saat bersamaan ketika mobil melaju dengan kencang.
Antonio terkejut, dan membelalakkan mata, ia tak tahu mengapa orang itu mendorongnya, yang jelas seringai jahat muncul di wajah pria yang tadi memantikkan api agar Antonio bisa merokok.
"Kauu....!!!" Kata Antonio tak bisa melanjutkan kalimatnya, karena tubuhnya telah lebih dulu di tabrak oleh mobil truk besar.
BRAAAKKKK!!!
Seketika tubuh Antonio terpelanting jauh, darah telah ada di mana-mana, truk berhenti perlahan namun kemudian pergi.
Pria ber jas berjalan dan mendekati tubuh Antonio yang menelungkup di jalan aspal dengan bercucuran air mata dan darah.
Jari-jari Antonio bergerak meski perlahan, ujung jarinya menyentuh sepatu mengkilat yang ada di hadapan wajahnya.
"Tuan Traver, kami sudah membereskan kecoa yang menganggu atas perintah Tuan Ben."
"Jangan tinggalkan jejak apapun."
"Kami telah mengaturnya seolah ini adalah murni kecelakaan, cctv sepanjang jalan juga sudah di retas dan di matikan."
Antonio semakin merasakan kesakitan, ajal yang menjemputnya pun seolah mencabut nyawanya dengan sangat sadis, setelah ia mendengar bahwa Ben memerintahkan anak buahnya untuk membunuhnya.
__ADS_1
Dalam benak Antonio, ia seharusnya tak menyentuh bahkan tak seharusnya menyinggung pria monster itu.
Ada harapan kecil di hatinya, jika anaknya tahu, pria itu membunuhnya, apakah anaknya akan merasakan dendam dan sakit hati. Namun, Antonio sadar apa yang telah ia perbuat pada Daisy, bahkan ia tak pernah menggendong Daisy saat Daisy masih bayi.
Menginginkan Daisy dendam pada Ben, adalah hal yang tidak mungkin terjadi, dan Antonio kemudian menutup matanya, ia mati bersimbah darah di tengah jalan beraspal yang sepi dan dingin.
Sedangkan di mansion, Ben bersiap memeriksa semua senjata nya, pria itu menggulung lengan kemejanya dan sudah siap untuk bergegas pergi.
"Tuan, sudah di bereskan." Kata Traver.
"Hmm... Bagus." Kata Ben masih fokus memeriksa senjata-senjata api nya.
"Traver, kau berangkat besok pagi dengan Rudolf,bawa John bersama kalian. Lalu pastikan Mena menjaga Daisy dengan sangat ketat. Semua sensor di Mansion harus menyala tanpa terkecuali kamar mandi Daisy. Pastikan keamanan di perketat."
"Baik Tuan."
Kemudian Ben mengambil sebuah ponsel, dan di berikan pada Traver.
"Sudah di beri pelacak, berikan pada Daisy." Perintah Ben.
"Tapi, Tuan, kenapa tidak anda yang memberikannya?"
"Aku akan berangkat malam ini."
Traver terkejut, ternyata mereka akan berangkat secara terpisah, namun inilah trik Benjove, dan pada akhirnya Traver mengerti.
"Baik Tuan."
Kemudian Traver keluar, Ben mulai bersiap, ia memakai mantel besar dan memasukkan semua senjatanya ke dalam tas panjang.
Dengan gagah, Ben menenteng tas hitam yang berisi senjata dan pergi keluar, namun Ben berhenti di depan kamar Daisy dan membuka pintu.
Ben menaruh tas nya dan kemudian masuk ke dalam kamar Daisy, pria itu menyeka pipi Daisy dengan lembut, saat itu Daisy terlelap seperti bayi yang tak berdosa.
Perlahan Ben mencium bibir ranum Daisy dengan lembut dan mesra.
Kemudian pria itu berdiri meninggalkan Daisy, dan mengambil tas hitamnya lagi.
Dengan langkah lebar dan panjang serta mantap pria itu pun pergi untuk memusnahkan para musuhnya.
******
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan pesawat pribadi.
Akhirnya Ben sampai di tujuannya, Negara Philadelfea sebuah Negara yang jauh dari Negara K, beberapa anak buahnya yang telah di tugaskan untuk menjalankan misi bersamanya telah sampai lebih dulu dan berbaris memberikan hormat.
Itu adalah mansion miliknya, tempat itu akan menjadi markas saat misi berlangsung.
Para anak buah Carlos De Hugo, Yakuza Yamaguchi dan anak biah Rudolf Gama juga telah berkumpul di lapangan terbuka, masing-masing memiliki komando untuk melaksanakan misi tersebut.
Tak lama setelah Ben, Carlos, dan Yamaguchi juga tiba.
Mereka kemudian duduk bersama di meja bundar dekat dengan halaman belakang mansion.
Sudah di putuskan bahwa, anak buah dari masing-masing termasuk Carlos dan Yamaguchi, Rudolf, dan para petinggi Mafia lain yang menyerahkan pasukannya akan di ambil sebagian untuk keperluan tim medis.
Sisanya akan menjadi Tim penyerang dan Tim penyelamatan. Termasuk anak buah Ben serta Rudolf.
"Kali ini kita melawan Rei Brandon dan El Joa, kekuatan mereka tidak main-main, dan yang pasti mereka sangat licik." Kata Carlos.
Yamaguchi menghela nafasnya.
"Aku tidak takut, yang ku ingat hanyalah bagaimana El Joa menggorok leher istriku." Kata Yamaguchi mengepalkan tangannya.
"Seperti nya Kemaanan Mafia Gelap harus di benahi, atau jangan-jangan..." Kata Carlos tertahan.
"Mereka telah bekerja sama dengan El Joa." Lanjut Ben.
"Ini akan semakin seru, aku akan menghanguskan mereka semua, dan membentuk Kemanan Mafia Gelap yang baru dan lebih memiliki pondasi yang kuat." Geram Carlos.
"Malam ini kita menyerang, Traver akan bawa John sebagai pancingan." Kata Ben.
"Baiklah, rencananya sudah matang, kita pasti berhasil." Kata Yamaguchi.
Sedikit demi sedikit matahari menyembul dari balik pegunungan yang hijau, sinarnya bergerak naik dengan pelan dan lamban, akhirnya matahari pun naik sembari memancarkan kehangatan di sudut mansion.
Ben, Carlo, dan Yamaguchi, berdiri melihat para anak buah mereka yang sudah bergabung di lapangan. Mereka harus memulai perang, jika tidak maka mereka yang akan di serang dan di bantai.
Dunia Mafia begitu keras dan kejam, tak pandang siapapun lawannya, ketika ada di medan perang, mereka tahu, bahwa hanya ada 2 pilihan. Pulang dengan membawa kemenangan dan kekuasaan, atau mati dan harta benda mereka menjadi milik lawan.
Yang jelas, Ben adalah sosok yang tidak suka dengan kekalahan, Ben seperti monster berdarah dingin yang kejam dan tanpa belas kasih.
Ketika kedua tangannya telah memegang senjata, Ben tidak akan lagi memikirkan yang lainnya selain kematian musuhnya.
__ADS_1
Bersambung