Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 168


__ADS_3

Malam telah tiba, saat itu pukul setengah 7.


Zac sudah berada di restoran mewah bersama Gavriel.


Ketika berjalan dan akan duduk, ia melihat seseorang yang tak asing baginya. Gadis itu mengenakan dress sepanjang lutut, hingga terlihat betapa mulus dan putih serta jenjang nya kaki gadis itu.


Zac, benar-benar hampir tak mengenali gadis itu, gadis yang sama dengan yang ia interview tadi siang. Saat interview, gadis itu memakai rok hitam sepanjang di bawah lutut, dengan kemeja putih agak kebesaran, sangat norak, lucu, dan begitu udik. Membuat Zac sedikit terhibur dan gemas.


Namun, saat ini, gadis itu nampak cantik dan anggun, berpendidikan dan seperti nona muda di sebuah keluarga kaya raya, dandannya sangat pas dan tidak berlebihan, dengan anting panjang di kedua sisi telinga, dan juga gaun yang memperlihatkan kaki serta leher dan bagian bahunya yang ramping dan begitu seksi.


Tubuh itu ternyata, sangat tegak dan ramping, apalagi tubuh langsing itu duduk dengan elegan dan terlihat begitu anggun.


"Ada apa?" Tanya Gavriel.


"Sepertinya aku melihat seseorang yang tak asing." Kata Zac.


"Benarkah?"


"Paman, bagaimana jika kita pindah di meja sebelah sana." Tunjuk Zac.


"Tak masalah." Kata Gavriel.


Kemudian Gavriel mengikuti Zac, dan duduk di dekat jendela.


Saat itu Zac sengaja melewati seseorang yang juga sedang duduk, dia adalah gadis yang baru saja melamar sebagai sekretaris pribadi Zac. Gaby.


Gaby seketika meremas tasnya, ia tak menyangka akan bertemu dengan presdir di tempat dan waktu yang tidak tepat.


Zac kemudian duduk di belakang Gaby, punggung mereka saling menempel dari masing-masing kursi mereka, Zac mengambil buku menu dan seolah sedang membacanya, ia menutupi wajahnya dari Gavriel.


"Ingat, setengah 9 kau harus sudah berada di apartmenku dengan membawa semua barang-barang mu atau kalau tidak, aku akan memecatmu." Suara Zac rendah dan dalam.


Gaby menelan ludahnya.


"Gaby... Apa kau baik-baik saja, wajahmu pucat." Kata pria di hadapan Gaby.


"A... Aku baik." Kata Gaby singkat.


"Senang ya? Bisa makan di restoran dengan alasan akan ada urusan keluarga, aku penasaran apakah dia ayahmu." Kata Zac lagi dengan suara rendah.


Punggung Zac dan Gaby saling menempel, kursi mereka juga saling menempel.


"Zac, aku sudah pesan kan makanannya." Kata Gavriel.


"Terimakasih paman." Kata Zac dan tak berapa lama para koki serta pelayan restoran datang membawakan pesanan Gavriel.


Saat itu Gavriel terus mengobrol, dan berbicara panjang lebar pada Zac, namun, Zac juga sedang menguping pembicaraan apa yang sedang terjadi pada Gaby dan pria di hadapan gadis itu.


"Saat melihat foto anda, saya berfikir anda sangat cantik, tapi setelah bertemu dengan anda, ternyata anda lebih cantik dari yang ada di foto."

__ADS_1


"Sepertinya matanya buta. Kasihan, wajar dia sudah berumur, dan uzur. Ck.. Ck... Ck..." Kata Zac.


"Siapa Zac?" Tanya Gavriel.


Gaby mengingit bibir bawahnya, sedangkan pria di hadapan Daisy masih tidak peka.


"Ahh.. Tidak, aku teringat seseorang yang memiliki mulut ular, setiap kalimatnya seperti bisa beracun, ketika melihat wanita manapun dia selalu membual."


"Oooh... Siapa dia... Apakah teman mu."


"Bukan. Aku juga tidak terlalu kenal dengannya."


"Nona Gaby, ibu anda mengatakan jika pertemuan ini lancar, maka sesuatu yang baik pasti akan terjadi."


Zac mengiris daging steak nya, dan melahap masuk ke dalam mulut.


Sedangkan Gaby, saat itu tangannya masih sangat gemetar karena ketahuan berbohong pada Zac. Jantungnya tak tenang dan berlarian kesana kemari.


"Semoga kencan kita malam ini lancar, saya berharap kita akan mengatur pertemuan selanjutnya." Ajak pria itu lagi.


"Aah... Ku pikir dia ayahmu, jadi ini bukan acara keluarga. Hebat ya kau pasti bangga bisa membohongi seorang Presdir." Kata Zac pelan pada Gaby masih saling membelakangi, sembari Zac meminum wine nya.


"Aku ingat paman Gavriel, besok aku akan terbang ke luar negeri, mungkin untuk seminggu, apakah kau mau sesuatu dari sana." Lanjut Zac berbicara pada Gavriel.


"Tidak ada, tapi ku dengar kau ingin merekrut sekretaris pribadi, apakah sudah dapat?"


"Sebenarnya sudah. Tapi..." Zac melihat jam tangannya, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih.


"Sudah pukul 8 malam lebih, dan aku harus pulang, karena ada pekerjaan yang harus ku selesaikan dengan sekretaris pribadiku." Kata Zac tersenyum.


"Terimakasih sudah menemaniku malam ini Zac, kali ini aku terhindar dari omelan ayahku tentang perjodohan."


Zac tersenyum kecil.


"Bukan masalah, berkat paman juga aku bisa tahu hal menakjubkan."


"Aku pergi lebih dulu." Kata Zac mengelap mulutnya.


Namun, kemudian Zac masih menutupi mulutnya menggunakan sapu tangan dan berbisik pada Gaby.


"Jika aku sampai di apartmen lebih dulu, tamatlah riwayatmu." Kata Zac pada Gaby dari belakang tubuh Gaby.


Saat itu Gaby mendadak panik melihat Zac sudah pergi, hingga hanya bisa melihat punggung Zac.


"Anu... Saya mendadak ada urusan yang sangat penting, saya akan membayar semua tagihannya, dan saya sangat minta maaf karena tidak bisa menemani anda sampai akhir." Kata Gaby berdiri dan menunduk kan kepala.


"Tiba-tiba? Apakah ada masalah? Apakah aku ada salah?" Kata pria yang berkencan dengan Gaby.


"Tidak... Tidak ada hanya saja saya sedang buru-buru ada sesuatu yang harus saja kerjakan." Kata Gaby pergi dengan berlari.

__ADS_1


Pria yang datang bersama Gaby sontak hanya berdiri dan terpaku, Gavriel melihat pria itu memasang wajah kesal dan jengkel, belum lagi pria itu melemparkan serbet makannya ke atas meja hingga mengenai supnya.


"Sial." Kata Pria itu.


Gavriel memandang malas, dan kemudian berdiri, ia hendak pulang, karena suasana hatinya jadi buruk setelah melihat wajah kesal pria jelek yang ada di hadapannya.


******


Malam itu, tepat pukul 9 Gaby tiba di apartmen milik Zac di antarkan oleh Traver.


Gaby, mengetuk pintu dan memencet Bel, namun tak ada jawaban.


"Nona masukkan saja password nya, mungkin Tuan Muda sedang mandi." Kata Traver.


"Benarkah tidak apa-apa?" Tanya Gaby.


"Tuan Muda sudah memberikan perintah pada saya saat menjemput anda, bahwa anda harus tahu password apartmen milik Tuan Muda."


"Baiklah." Kemudian Gaby memencet angka-angka yang di sebutkan oleh Traver.


"KLAKK NIITTT....!!!" Pintu pun terbuka.


Gaby menarik kopernya masuk dan berjalan.


"Tetap berdiri di situ." Suara seseorang memberikan perintah.


Gaby kemudian memandangi ke sekelilingnya, padahal tak ada orang namun ia yakin itu adalah suara Zac.


"Angkat satu kaki mu, dan angkat kedua tanganmu menyentuh telinga." Kaga Zac kemudian ia keluar dari belakang pintu depan.


"An... Anda ada di sana sejak tadi?" Tanya Gaby sembari pada posisi yang di minta Zac.


"Ya."


"Kenapa tidak membuka pintunya saat saya memencet Bel." Kata Gaby.


"Kau pikir aku siapa, dan kau siapa, maksudmu aku membukakan pintu untukmu agar kau masuk? Kenapa tidak sekalian saja kau minta di pasang karpet merah saat kau berjalan masuk." Kata Zac kesal.


"Bu... Bukan begitu maksud saya Tuan Muda."


"Jadi... Tak usah banyak memgeluh, lakukan saja semua yang ku suruh. Ini hari pertama mu kerja, dan kau sudah melakukan banyak kesalahan, bahkan itu sudah tak bisa di sebut ringan karena kau membohongi presdir Benz Grop."


"Maafkan saya Tuan Muda... Saya terpaksa."


"Jadi jelaskan, kenapa kau berbohong, aku paling benci kebohongan. Kau bilang ada acara keluarga, jadi tadi itu keluargamu? Siapa dia? Ayahmu atau kakekmu? Karena dia terlihat tua, sepertinya memang sudah uzur...." Kata Zac merasa geli.


Gaby menarik nafasnya dalam-dalam.


"Orang tua saya membuat perjodohan untuk saya, saya harus menemui pria-pria yang akan di pertemukan dengan saya. Jadi maafkan saya karena telah membohongi anda Presdir." Kata Gaby dengan wajah menyesal dan sedih.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2