Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 59


__ADS_3

Di sebuah gedung mewah milik keluarga Waldorf, pesta meriah sedang di adakan. Banyak lampu-lampu keramik berwarna-warni tergantung di atas langit-langit gedung.


Karpet merah pun telah terbentang di depan gedung hingga ke pintu gedung untuk menyambut para tamu undangan.


Saat itu mobil limousin berewarna hitam mewah berhenti, dan seorang pria tampan dengan tubuh yang ideal tinggi kekar keluar dari mobil, itu adalah Benjove Haghwer.


Ben memakai setelan jas mahal yang rapi, dengan matel besar di bahunya. Pria itu berjalan dengan sepatu hitam yang mewah dan mengkilat. Tatanan rambutnya rapi dan tentu saja ketampanannya tak bisa lagi di bantah, sdmua wanita seakan pingsan jika melihatnya. Mereka hanya bisa memandang tanpa bisa menyentuh, hanya bisa berkhayal dan berakhir menyakitkan.


Semua media langsung sibuk memotret dan sibuk ingin mewawancarai Ben pria yang bahkan mengalahkan pamor para selebriti laki-laki papan atas.


Ben masuk dengan kawalan ketat dan kemudian di sambut oleh keluarga Waldorf.


"Terimakasih anda telah meluangkan waktu untuk datang ke pesta sederhana anak kami." Kata Mark Waldorf ayah dari Derreck Waldorf.


"Tidak masalah." Kata Ben dingin.


Traver kemudian maju dan memberikan hadiah lalu di terima oleh Casey sekretaris Derreck.


"Terimakasih Tuan Ben." Kata Casey.


Kemudian Ben pergi ke ruangan tengah dimana semua sudah berkumpul, Ben menyesap sampanye perlahan, sembari melihat ke arah para tamu yang bersenang-senang.


"Membosankan." Kata Ben.


"Apa anda akan pergi Tuan?" Tanya Traver.


"Ya, aku bosan kita pulang saja." Ajak Ben.


Belum ada 5 menit Ben berada di ruangan itu, namun ia sudah merasa bosan, tidak ada hal yang menarik baginya. Ben memang tidak menyukai pesta ulang tahun, baginya bahkan ulang tahunnya sendiri ia tidak berniat merayakannya.


Terlebih banyak wanita dan gadis yang selalu terpana seperti manusia bodoh, banyak di antara mereka yang selalu merusak suasana hatinya.


Wanita yang selalu tebar pesona dan mencari perhatian belum lagi banyak wanita yang pura-pura tersandung hanya ingin memeluknya dan mencari perhatian, semua itu membuat Ben jijik.


"Singkirkan semua yang menganggu hari ini, sampai ke akarnya. Suasana hatiku menjadi buruk karena mereka." Kata Ben.


Perintah Ben berarti adalah menyingkirkan seluruh keluarga para wanita yang menganggu itu dari dunia dengan cara gelap.


"Baik Tuan."


Ketika Ben hendak melangkahkan kakinya untuk pergi. Sorak sorai para undangan tiba-tiba menggelegar membuat suasana yang awalnya hening dan sayup-sayup musik melantun membuat perubahan di ruangan itu menjadi sangat ramai dan penuh tepuk tangan.

__ADS_1


Ben kemudian melihat ke atas, tepatnya di lantai 2, Derreck hadir dengan seorang wanita.


Mata Ben membulat, jantungnya berdegup sangat kencang, tubuhnya bergetar hebat, bahkan keringat dingin mengucur dan mengalir dengan cepat. Wajah yang tak pernah ia lupakan, wajah yang sangat familiar, dan wajah yang selalu mengisi pikirannya setiap detiknya.


"Da.. Daisy...!!!"


Tak hanya Ben, Traver pun melihat pemandangan yang tak dapat di pahami oleh logikanya. Jika dia benar Daisy, bagaimana mungkin, apakah dia selamat? Apakah Derreck di balik dari penyerangan di bawah laut itu? Bagaimana mungkin Derreck ada di sana? Traver terus berpikir tanpa henti menerka dan menduga semua kemungkinan.


"Tu... Tuan... Bukankah itu...."


Derreck melambaikan tangannya, seorang wanita cantik dengan kulit putih bersih dan bersinar memakai gaun putih yang memperlihatkan lekukan tubuh indahnya mengikuti Derreck menuruni anak tangga secara perlahan.


Wanita cantik yang anggun itu melingkarkan tangannya di lengan Derreck. Tubuh ramping dan seksi serta rambut panjang yang di tata rapi, membuat wanita cantik itu menjadi pusat perhatian.


Setelah mereka turun Derreck mengambil sampanye untuk pasangannya dan untuk dirinya sendiri.


"Hari ini... Adalah hari yang sangat spesial bagi saya, selain merayakan ulang tahun saya yang ke 33 tahun, saya juga akan memperkenalkan tunangan sekaligus artis yang akan memperkokoh perusahaan JIMI ENTERTAIMENT. Perkenalkan dia adalah Sunny. Sunny akan memulai debutnya tahun ini dan akan menjadi artis papan atas." Kata Derreck mengangkat gelas sampanyenya.


Mendengar itu kedua kaki kokoh dan kuat Ben seolah tak bertulang, jantungnya kebas dan sakit, nafasnya semakin berat, keringatnya mengucur deras, belum lagi kenangan buruk Daisy yang terjun ke tebing berulang kali terputar di memorinya.


"Daisy... Kau selamat?" Kata Ben lagi.


Ben menekan pelipis matanya yang berair, kepalanya mendadak nyeri dan matanya mendadak kabur. Entah ia harus senang atau sedih, posisinya tak bisa untuk memilih, ia pun bingung dengan perasaannya sendiri.


"Wajahnya... Bahkan setiap inch tubuhnya, sekalipun aku tak pernah melupakannya." Kata Ben.


Setelah acara bersulang, Derreck juga memotong kue yang setinggi satu meter, itu adalah kue ulang tahun sekaligus kue pertunangan mereka.


Acara dilanjutkan dengan jabat tangan dan obrolan basa-basi.


Ben meminum alkohol cukup banyak, membuat Traver semakin khawatir, ia takut Ben akan mengamuk dan membuat keributan.


"Tuan Ben... Terimakasih telah datang, saya pikir anda tidak tertarik dengan acara seperti ini." Dereck mendatangi Ben bersama tunangannya.


Ben menelan sisa alkohol di mulutnya dan menatap lekat-lekat wajah wanita yang tersenyum di samping Derreck.


Mata bengis Ben melihat tangan wanita cantik itu yang merangkul lengan Derreck.


Ben kemudian menghabiskan alkoholnya dengan satu tegukan dan menaruh gelas nya di atas meja dengan sedikit kasar.


"Kau pasti senang." Kata Ben.

__ADS_1


Derreck tersenyum.


"Tentu saja Tuan Ben saya sangat senang. Ini adalah ulang tahun saya yang sangat istimewa, Tuhan memberikan banyak hal hebat pada saya."


"Aku mengingatmu saat kau mencoba membawa lari Daisy." Kata Ben kemudian.


Derreck tiba-tiba menjadi diam dan senyumannya hilang.


"Itu sudah sangat lama." Kata Derreck.


"Apa Daisy memiliki kembaran?" Kata Ben.


Derreck masih diam.


"Aku tahu dia Daisy. Setiap inc tubuhnya aku telah menyentuhnya, setiap bau dari tubuhnya telah menyatu denganku, setiap keringatnya bercampur dengan keringatku, bahkan setiap gerakan sensualnya selalu terpatri dalam ingatanku." Ben mengulurkan tangannya ingin menyentuh Sunny.


PLAKKK!!!


Sunny menampar Ben dengan tangan kecilnya. Traver terkejut dan buru-buru memeriksa apakah Ben baik-baik saja.


"Bahkan tamparannya masih sama seperti dulu. Daisy... Apa kau memang benar-benar ingin lari dariku? Jika kau ingin lari kenapa hanya Derreck yang ada di pikiranmu, lari lah yang jauh kenapa hanya seperti ini."


"Anda terlalu mabuk sebaiknya pergi dan jangan merusak pesta pertunangan saya, terlebih lagi, sebentar lagi saya akan debut, jangan memancing saya, dan membuat saya kehilangan kendali lalu membuat kesalahan. Saya tahu anda dan tunangan saya adalah musuh bebuyutan, jadi apakah ini rencana licik anda untuk menjatuhkan perusahaan tunangan saya?"


Ben tersenyum sengit.


"Tunangan ya? Memuakkan."


Sunny membelalakkan mata dan Derreck hanya tersenyum.


"Bahkan suaramu masih sama, aku yakin Daisy tidak memiliki kembaran." Kata Ben.


"Tuan Ben saya turut berduka atas tragedi yang menimpa Daisy, dia adalah wanita yang manis dan sangat ceria, dia mandiri dan juga cantik. Saya mengerti bagaimana perasaan anda, saya juga merasa kehilangan Daisy, tapi yang berdiri di samping saya adalah Sunny, dia adalah tunangan saya, dia memiliki keluarga yang mencintainya, kami sudah bertunangan dan semoga anda segera mendapatkan kebahagiaan anda kembali."


"Kau tidak akan pernah mengerti rasanya." Kata Ben.


"Saya pikir anda akan menjaga Daisy dengan baik. Jadi itu kesalahan siapa?" Kata Derreck.


Mata Ben dan Derreck saking menatap penuh kebencian dan dendam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2