
**3 Tahun** setelah Daisy melahirkan~
Daisy sedang menemani anaknya bermain, kini usia anaknya sudah 3 tahun, namun pikirannya masih saja mengingat kenangan dimana dirinya melahirkan.
Saat itu Ben sangat panik, wajahnya pucat dan terlihat hampir pingsan. Namun, saat itu yang jadi masalah adalah Daisy masih di Maladewi dan harus mengundang dokter untuk datang.
Ben ingin dokter yang menangani Daisy semuanya perempuan dan tak akan mengijinkan jika ada dokter pria, hingga sekitar 6-10 Dokter serta perawatnya pun akhirnya di datangkan dengan sangat heboh menggunakan pesawat dan helikopter.
Saat itu keadaan Daisy yang akan melahirkan, hingga keringat membanjur, kesakitan yang luar biasa tak bisa di tahan tentu saja membuat Ben semakin gusar dan sangat ketakutan, keluarga dari Daisy pun juga tak kalah takut, bahkan Mark Waldorf yang telah menemani istrinya melahirkan pun merasa takut, ia khawatir dengan keadaan Daisy.
Sedangkan Derreck juga merasa tertekan, ia khawatir dan frustasi jika terjadi apa-apa dengan Daisy, dan meminta untuk operasi saja.
Namun, semua ke khawatiran mereka lenyap ketika mendengar suara bayi menangis.
Bayi yang menangis dengan kencang dan kemudian ibu yang tersenyum setelah melahirkan normal.
Tiba-tiba pikiran Daisy di hisap untuk kembali ke dunia aktifitasnya sehari-hari ketika mendengar anaknya menangis.
"Cup... Cupp... Zac dan Zay kenapa?" Tanya Daisy menggendong salah satu dari anaknya.
Suara menangis yang kencang dan sangat ribut, kadang Daisy juga tak cukup tidur ketika Ben pergi ke perusahaan.
Meski ada pelayan dan Baby sitter, tetap saja membuat Daisy tak tenang, dan pada akhirnya ia akan memegang anak-anaknya sendiri.
Seperti biasanya Zac dan Zay selalu menangis karena saling berebut mainan, dan seperti biasa juga setiap kali Ben pulang dari kerja, ia langsung bergegas menemui anak-anaknya.
"Kenapa dengan mereka?" Tanya Ben langsung menggendong Zay.
Anak mereka kembar, laki-laki dan perempuan.
Laki-lakinya di berikan nama Zac Haghwer dan anak perempuan mereka di berikan nama Zay Haghwer.
"Ada apa? Kalian berebut mainan lagi?" Tanya Ben dengan menggendong Zay ke pundaknya.
Tentu saja Zay, langsung kegirangan, membuat Zac pun menjadi ingin juga.
Daisy tersenyum melihat Ben yang selalu ada untuk anak-anak nya, bahkan selama 3 tahun ini Ben lah yang lebih sering begadang untuk menjaga anaknya.
Namun, entah mengapa tetap saja ada kekosongan yang aneh di dalam hati dan perasaan Daisy.
Sebuah aktifitas rutin yang monoton membuatnya seperti bosan dan merasa jenuh. Sesekali Daisy sudah menggunakan ponselnya sebagai hiburan namun, tetap saja tak membantu.
Sesekali juga sudah mencoba yang lain, seperti Daisy pergi berjalan-jalan dengan kedua anaknya namun tetap juga tak membantu.
__ADS_1
Parahnya lagi, sepertinya ada sesuatu yang beku di dalam hati Daisy.
Daisy tidak pernah merasa kekurangan dari segi harta, suami yang baik, dan juga perhatian kepada kedua anaknya, Daisy juga tidak pernah merasa kesulitan mengurus anak-anaknya karena ada suaminya yang selalu bermain dengan mereka.
Tapi, kenapa tetap saja ada suatu kejenuhan dalam dirinya, seperti kebosanan dan entah perasaan aneh yang sulit untuk di jelaskan, Daisy seperti terpenjara dalam sangkar emas yang mewah, ia menjadi lupa siapa dirinya yang sebenarnya.
Daisy kemudian menaruh Zac, dan anak laki-lakinya berlari ke arah ayahnya.
Ben berbaring dan kedua anaknya naik ke atas perut nya, tak ada amarah, Ben suka melakukan itu.
Bahkan Ben sering seolah-olah menjadi kuda dan anaknya menaikinya hanya agar anak-anaknya senang dan bahagia.
Ben bisa menjelma menjadi apapun demi anak-anaknya.
Daisy berjalan keluar, ia tersenyum canggung dan pergi ke dapur untuk menjernih kan suasana hatinya. Di dapur beberapa pelayan sibuk bekerja, ketika melihat kedatangan Daisy semua menjadi tegang.
"Ya Nyonya... Apa ada sesuatu yang anda perlukan."
"Tidak... Tidak... Aku hanya mengambil air minum saja." Kata Daisy.
"Akan saya ambilkan Nyonya." Kata salah satu pelayan.
"Tidak... Tidak perlu, aku hanya akan duduk di sini sebentar dan kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian. Anggap aku tak ada." Pinta Daisy dengan meminum air putih.
Daisy duduk di dapur dengan tenang, di hadapannya gelas mewah terisi dengan air putih dan beralaskan meja marmer mewah.
Kemewahan itu, bahkan sudah seperti hal biasa bagi Daisy.
Sejenak Daisy memiliki pikiran kosong, dan ponselnya berbunyi.
Itu adalah nomor tak di kenal, biasanya Daisy akan mengabaikannya, namun, hari ini entah kenapa jarinya menerima panggilan itu, dan dari sanalah semua kekacauan, serta keretakan rumah tangga Daisy akan di mulai.
Seandainya saja Daisy tak mengangkat telefon itu, mungkin semua hanya akan berjalan seperti biasanya, dan Daisy juga aka terjebak dalam keadaan yang dinamakan kejenuhan.
Namun, entah mengapa ada sesuatu yang ekstream di dalam dada Daisy, seolah ia meminta nomor tak di kenal itu adalah sesuatu yang bisa membangkitkan semangatnya, seolah-olah Daisy menanti perasaannya untuk terbebas dari kejenuhan dan kebekuannya selama 3 tahun ini.
"Halo?" Daisy mengangkatnya.
"Daisy... Ini aku Ansella. Maaf, karena aku menghubungimu. Aku tahu ini mendadak dan sudah beberapa tahun kita tak memiliki hubungan, namun, aku sangat butuh bantuanmu."
"Kenapa?" Tanya Daisy.
"Kau bisa datang ke alamat yang ku berikan? Aku butuh bantuanmu, aku sangat kesusahan, seseorang sudah menjebakku." Ansella berkata sambil sesenggukan.
__ADS_1
"Aku akan datang, kirimkan alamatnya."
"Tapi, jangan katakan pada suamimu, dan jangan bawa pengawal, kau datang sendiri, aku janji tidak akan terjadi apa-apa padamu Daisy. Aku mohon tolong aku..." Ansella kembali menangis.
"Aku mengerti."
Kemudian dengan tanpa sepengetahuan Ben, Daisy pergi mengendarai mobilnya.
Selama 3 tahun ini, Ben tidak lagi memikili perasaan ketakutan akan di tinggal Daisy, Ben sudah percaya penuh pada Daisy.
Membuat Daisy cukup sering keluar masuk mansion sendiri karena kadang Daisy memang harus pergi untuk mencari sesuatu yang mendesak untuk kebutuhan anak-anaknya, dan Mena yang akan menjaga Zac serta Zay.
Daisy mengendarai mobilnya dengan cepat, menuju alamat yang di maksud. Saat sampai, itu adalah sebuah rumah cukup mewah meski tak terlalu besar.
Daisy keluar dan mendongak kan kepala, pintu sudah terbuka dan Daisy langsung masuk.
Namun, alangkah terkejutnya ketika Daisy melihat Ansella bersimbah darah, dengan memegangi perutnya, wajahnya sangat pucat.
Tentu saja Daisy terkejut, ia tidak bisa membayangkan ternyata Ansella sedang dalam keadaan sekarat.
"Ansella... Apa... Apa... Yang terjadi..." Daisy gemetar.
"Pacarku... Membawa lari semua uangku." Kata Ansella terbata-bata.
"Apa...!!!" Daisy terkejut.
Namun, keadaan Ansella tidak begitu baik, dirinya sangat lemah tak dapat menjelaskan lebih lanjut, Daisy pun segera menghubungi ambulan dan kantor polisi.
Hanya butuh beberapa menit, dan mereka datang.
Seorang polisi yang masih muda dan berwajah tampan dengan tubuh kekar dan tinggi tubuh kira-kira 170an masuk, sedangkan Ansella di bawa pergi menggunakan Ambulan.
Beberapa anggota polisi sudah mulai melakukan tugasnya, kemudian Daisy, tidak dapat pergi karena ia harus memberikan keterangan.
"Saya harus menemani saudara saya." Kata Daisy.
"Baik, saya harap anda tetap tenang. Perkenalkan nama saya adalah Kieth Brawn, anda bisa memanggil saya cukup dengan Kieth, saya menyesal anda tidak dapat menemani saudara anda yang sedang kritis tapi anda harus memberikan keterangan, jika ini di tunda lagi, tersangkanya mungkin sudah kabur sangat jauh." Kata Kieth dengan wajah berharap.
Daisy hanya diam dan tak bisa membantah, ia juga tidak bisa menerima jika tersangkanya kabur begitu saja tanpa mendapatkan hukuman.
"Saya... Harus menghubungi suami saya." Kata Daisy.
"Silahkan, tapi sebelum itu mari ikut saya ke kantor polisi." Kata Kieth.
__ADS_1
Bersambung