
"Kenapa Zay? Ada apa dengan Carlos..." Tanya Gavriel.
"Dia... Dia... Menyentuhku..." Tangisan terisak pecah.
"Aku mencintainya... Namun, dia mencintai ibu ku, dan aku hanya lah alat balas dendamnya..."
Gavriel mendengar itu dan mengepalkan tangan. Amarahnya mendidih.
"Rantai itu... Tubuh ku... Di rantai, kedua kaki dan tanganku..." Kata Zay tubuhnya mulai gemetar.
"Suara rantai itu mengerikann... Diaa.. Dia mengikatku... Dengan rantai-rantai ituu..." Air mata Zay mengalir terus menjadi isak tangis membuat tubuhnya berguncang.
"Baiklah sudah cukup, mari bangun." Gavriel tidak ingin melanjutkanya lagi, ia tidak ingin mendengar hal itu lebih dalam lagi. Selain membuat Zay semakin tenggelam dalam rasa sakit, Gavriel sejujurnya mulai terbakar emosi.
Namun terlambat, Zay ternyata masuk ke alam bawah sadar lebih dalam lagi, dan ia kembali merasakan tubuhnya dalam ikatan rantai yang mengekangya.
"Tidak...!!! Carlosss....!!! Jangan sentuh aku...!!! Hentikaa....nnn... Tidakkkk....!!!"
Saat Gavriel hendak menyuntikkan obat, tiba-tiba Zay menggelinjang, tubuhnya bergetar.
"Zay...!!! Zayyy!!!" Teriak Gavriel.
Zay semakin meronta dan menggelinjang.
"Tidakk... Ohhh... Tidaakk... Jangaann... Jangann hisap lagiii... Cukuppp... Mmmhhh!!!" Zay menggigit bibirnya.
Tubuh mulai Zay kepanasan, keringat mengucur deras, ruangan yang tadinya membuat Zay kedinginan dan gemetar kini tak mampu membendung keringat deras Zay yang membasahi tubuh dan kepalanya, tubuh mudanya yang seksi bergetar merasakan orgasmee dalam alam bawah sadar.
"Sial!" Kata Gavriel langsung menggendong Zay dan kembali ke kamar.
Perlahan Gavriel menaruh tubuh Zay di atas ranjang, Zay yang berkeringat dan sudah basah kuyup karena sedang merasakan hasrat di alam bawah sadarnya, tubuh Zay melengkung, dan kaku.
"Oouuuhh... Stoopp Carloss hentikaann... Hhhmmmhhh hentikaaann....!!!"
Gavriel berlari mengambil obat yang hendak ia berikan agar Zay segera sadar, dan kembali dengan tergesa-gesa, tangannya cukup gemetar melihat Zay yang masih di bawah alam sadar nya merasakan orgasme nya berulang kali.
Perlahan Gavriel menyuntikkannya di lengan Zay, dan menepuk pipi Zay pelan.
"Zay... Bangun... Kau harus bangun Zay..." Kata Gavriel menepuk pipi Zay, kemudian Gavriel naik ke atas ranjang dan berada di atas tubuh Zay dengan kedua lututnya menjadi penopangnya lalu Gavriel memaksa Zay membuka matanya.
"Hmmhhh.... Jangan... Jangan sentuh lagii... Aku tidak mau... Itu terlalu dalammm... Tidakkk... Hhmmmhh enngghhhh oohhh....!!"
Tiba-tiba Zay memeluk tubuh Gavriel dan menggelinjang merasakan kenikmatan lagi.
"Sialan!!" Gavriel pun sedang menahan diri.
"Carloss... Hentikan itu...!" Kata Zay lemah dengan tubuh yang masih tersentak.
__ADS_1
Gavriel yang kian emosi kemudian mencium bibir Zay, ciuman yang dalam dan sembari memeluk tubuh Zay yang terlihat kecil dari tubuhnya.
"Bangun Zay... !!" Teriak Gavriel.
Tak ada jawaban.
Gavriel membisikkan sesuatu di telinga Zay.
"Zay... Bangun, aku menyayangimu, aku akan menjadi seseorang yang selalu ada untukmu." Gavriel kemudian mencium leher jenjang dan putih milik Zay.
Lalu beralih mencium bibir Zay lagi, melumattnya dengan lembut dan dalam.
Saat itu Zay masih belum bisa bangun, matanya pun masih saja menangis, tubuhnya mulai berkeringat sangat banyak, berulang kali Zay merasakan orgaasmenya, dan sentakan-sentakan tubuhnya yang seperti tersetrum.
"Carlosss.... " Panggil Zay dengan lemah.
"Jangan panggil namanya...."
"Carloss..." Panggil Zay lagi di setiap sentakan tubuh Zay.
"Kumohon jangan panggil namanya saat kau seperti ini Zay..." Kata Gavriel memeluk Zay.
Gavriel mencium bibir Zay lagi, dan memeluknya erat, mencium lebih dalam dan menghisap bibir Zay.
Merasa tubuh Zay semakin panas dan belum juga sadar, Gavriel turun dan menuju kamar mandi lalu mengalirkan air dari kran untuk mengisi bathup hingga penuh.
Secepat mungkin Gavriel kembali ke kamar dan menggendong Zay yang pakaiannya sudah tersingkap kemana-mana menuju kamar mandi.
"Hhmmhh... Nghhhh... "
"Zay ayo bangun..." Kata Gavriel dan menepuk pipi Zay dengan lembut.
Perlahan mata Zay yang sayu pun terbuka sedikit, dan tubuhnya terasa sangat lemas.
Zay menangis dengan sangat malu di hadapan Gavriel.
Namun, saat itu juga Gavriel tak akan membiarkan zay sendirian merasakan traumanya, Zay pun menangis di pelukan Gavriel.
"Aku aib untuk keluargakuu...!!!" Kata Zay menangis dan terisak.
Dalam bathup yang penuh dengan air itu Gavriel memeluk dengan erat Zay yang menangis dan lemah.
"Kau bukan aib, kau tidak bersalah Zay... Maafkan aku.... Aku berjanji akan menghapusnya dari ingatanmu." Kata Gavriel.
Saat itu Gavriel juga merasa menyesal, ia pun tak sanggup jika harus membuka lagi kenangan itu, pertama Gavriel tak sanggup melihat Zay yang merintih dan mendesahh merasaka orgasmeenya sembari memanggil nama Carlos, kedua Gavriel tak sanggup melihat Zay merasakan kenangan itu lagi.
Kemudian Gavriel mengangkat tubuh Zay, lalu menggendongnya.
__ADS_1
"Ku pikir aku tidak bisa bangun dari mimpi itu." Kata Zay lemah.
"Jika kau tak bisa bangun aku yang akan terus membangunkanmu." Gavriel menaruh Zay duduk dan mengambil handuk, kemudian memakaikannya pada Zay.
"Apa kau kuat mengganti baju sendiri?" Tanya Gavriel.
"Entahlah, kaki ku lemas, tubuhku juga lemas dan gemetar." Kata Zay menaikkan tangannya yang gemetar hebat.
Setelah mengalami orgasmee berturut-turut tubuh Zay merasa sangat lemas.
"Mau ku bantu?" Tanya Gavriel tiba-tiba.
Zay melihat ke arah Gavriel, pria tampan yang sama sekali tak menunjukkan gurat keriput sedikitpun, bahkan pria itu terlihat lebih muda dari usianya.
Zay menelan ludahnya dan wajahnya memerah.
"Entahlah." Mata Zay sayu dan memalingkan wajahnya malu.
"Baiklah aku akan memanggil pelayan wanita." Kata Gavriel hendak pergi.
Zay dengan segera memegang jemari Gavriel yang terasa kuat di jemari lentiknya.
"Kau saja yang membantuku." Pinta Zay.
"Kau tahu Zay, pilihanmu itu mungkin saja membuat kita memiliki hubungan yang canggung." Kata Gavriel maju dan menyentuh kancing kemeja Zay.
"Aku percaya padamu." Kata Zay.
Zay kemudian mendongakkan kepalanya dan memandang Gavriel, tubuh dan pakaian Gavriel yang basah membuat Zay sedikit malu, karena tubuh kekar Gavriel menjadi terlihat seksi.
Gavriel mulai membuka kancing Zay, perlahan hingga membuat kemeja itu benar-benar terlepas.
Gavriel menelan ludahnya melihat payudaraa menantang milik Zay yang kenyal dan sintal, karena saat itu Zay tak memakai braa.
Sedangkan tubuuh Zay yang sedari tadi sudah panas karena hasrat nya di dalam alam bawah sadarnya, sedikit demi sedikit mulai terpancing.
"Kau baik-baik saja...?" Tanya Gavriel.
"Tidak... Sepertinya tidak..." Kata Zay.
"Dia benar-benar sudah merusakku..." Kata Zay menutup wajahnya malu.
"Hey... Dengarkan aku... Kau tidak rusak, kau adalah berlian yang bersinar sangat terang, kau cantik dan kau suci bagiku." Kata Gavriel.
"Jadi kenapa kau begitu padaku? Kenapa kau membuat kalimat itu padaku, dan kenapa akhir-akhir ini kau seperti ini dengan ku?" Tanya Zay dengan penuh penasaran.
Gavriel kemudian berjongkok, dan memandang Zay.
__ADS_1
"Kau... Mungkin tidak percaya, tapi aku sudah menyukaimu sejak kita bertemu di rumah sakit itu, aku sadar bahwa kau semakin hari semakin tumbuh menjadi gadis yang ingin ku dapatkan." Kata Gavriel menatap mantap kedua mata Zay.
Bersambung~