
"Tuann... Berhenti..." Nafas Daisy terengah, keringat mulai mengguyur tubuhnya.
Ben sedikit demi sedikit semakin mempercepat gerakannya. Berkali-kali hentakan keras membuat Daisy menjerit dan mendesahh secara bersamaan.
"Berhenti? Apa kau yakin?" Kata Ben dengan suara rendah yang seksi dan menggigit telinga Daisy mesra.
Beberapa menit berlanjut menjadi beberapa jam, panas tubuh mereka membara menjadi satu, keringat yang mengucur keluar dari masing-masing tubuh mereka bercampur menjadi peluh keringat yang bergumul satu.
Suara desahaan kian terdengar jelas dan keras di mulut Daisy membuat suara-suara yang indah di telinga Ben memenuhi ruangan kamar mewah itu. Pendingin ruangan pun tak mampu lagi mendinginkan tubuh mereka yang kian mengganas.
Entah sudah berapa kali Daisy merasakan orgasmeenya, hingga ia tak mampu lagi bisa mengingat berapa kali tubuhnya menegang dan melengkung, tatapan matanya kian sayu dan tubuhnya kian lemah, ia tak mampu lagi menahan serangan demi serangan itu lagi. Ben seperti singa yang berlari dengan sangat kencang.
"Tu... Tuan... Saya sudah tidak sanggup." Rintih Daisy.
Daisy ingat, saat pertama kali Ben menyuruhnya untuk membuka pakaian, itu masih siang dan terang. Namun, kini matanya yang sayu mengarah pada jendela besar yang nampak sudah gelap dan remang-remang terlihat dari pancaran lampu yang menyorot di taman luar.
Semua area sensitif Daisy seperti mati rasa, Ben seperti melampiaskan tenaganya dan menumpahkannya pada Daisy.
"Sebentar lagi." Kata Ben dengan suara rendah dan nafas yang memburu.
Ben kemudian semakin mempercepatnya, ia sudah berulang kali menaburkan benih nya di dalam milik Daisy, namun benda keras miliknya tetap saja berdiri tegak dan justru semakin membesar, berdeyut dan terus ingin merasakan kenikmatan di dalam Daisy.
Dalam putaran terakhirnya, Ben menggeram bagai singa yang melampiaskan suaranya, punggung besar berototnya naik turun dan tubuhnya menekan jauh lebih dalam hingga menekan tubuh mungil Daisy.
Sedangkan Daisy, sudah tidak sadar, matanya tertutup karena kelelahan.
Ben mengakhiri permainannya, dan melihat Daisy, gadis itu benar-benar tak berdaya, tubuhnya di penuhi dengan bekas merah cap kepemilikannya, bahkan itu terlalu banyak, hingga membuat senyuman Ben sedikit mengembang.
"Astaga, aku tidak sadar membuat mu seperti macan tutul." Kata Ben terkekeh pelan.
Kemudian Ben menarik selimut dan menutupi tubuh Daisy, setelah itu ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan air dingin.
Ben berdiri di bawah shower dan air mengguyurnya dari atas melalui kepala dan turun hingga kakinya.
Ben mengingat-ingat kenangan yang baru saja ia lalui dengan menekan dinding kamar mandi menggunakan salah satu telapak tangannya yang kekar, untuk menyangga tubuhnya yang masih merasakan gejolak untuk melanjutkan permainannya.
Ben, berharap air dingin dapat mendinginkan miliknya dan membuatnya lebih tenang.
__ADS_1
"Total waktu 6jam? Pemanasan untuk membuatnya terangsangg yang menurutku lama tapi itu pun masih membuatnya kesakitan, aku bermain dengan gadis itu hanya dengan beberapa jam. Benar-benar aku sudah terlalu mempercepat permainanku, hanya waktu sebentar saja dia sudah pingsan, dia benar-benar kelelahan, dan lemah. Mungkin aku harus menyuruh Traver untuk memperhatikan makanannya nanti."
Setelah Ben membersihkan dirinya ia keluar menggunakan mantel dan terlihat lebih segar. Wajahnya yang tampan semakin memiliki pesona, entah karena ia merasa suasana hatinya menjadi baik setelah berhubungan badan, ataukah memang berhubungan badan membuatnya jauh lebih berenergi serta berkharisma.
Ben berdiri di sebelah Daisy, dan membenarkan posisi kepala Daisy yang miring berada di bawah bantal.
Ketika Ben mengangkat kepala Daisy dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya membenarkan bantalnya, sesuatu jatuh ke lantai.
Ben mengernyitkan dahinya, dan mengambilnya. Itu adalah potongan kertas kumal dan sangat kotor.
Ben melihat itu dan tertulis disana adalah angka-angka nomor telepon, dengan nama Dereck Waldorf, kata-kata lainnya adalah, ia menyuruh Daisy untuk menghubunginya, jika dia dalam keadaan darurat.
Ben meremas kertas kumal itu dan ia berjalan keluar balkon, kemudian ia memantikkan api dan membakar kertas itu, lalu melemparkannya pergi, api melalap kertas itu dengan cepat, dan abunya beterbangan di udara.
Ingatan Ben kembali lagi pada usianya yang masih sangat kecil, ia sangat mengingatnya dengan jelas.
Ben yang kala itu berusia 7 tahun sedang mencari sesuatu, tak sengaja menemukan banyak potongan kertas kumal di laci ibunya.
Ben membacanya satu persatu, ia terkejut melihat tulisan-tulisan itu berisi kata-kata jorok dan tak senonoh. Semua di tujukan untuk ibunya. Semua kertas-kertas potongan itu adalah seperti surat berbalas.
Ibunya setiap malam keluar dan bekerja di sebuah club murahan yang di penuhi oleh para pria hidung belang dan pecandu alkohol, bahkan pecandu obat-obatan.
Flashback On
"Kau.... Jangan memasang wajah seperti itu. Apa kau berlagak suci? Kau lahir dari kemaluaan ibu mu yang kotor." Kata wanita paruh baya yang memiliki riasan tebal dan menor.
Saat itu Ben melihat ibunya dengan wajah terkejut, karena tiba-tiba ia menjatuhkan potongan-potongan kertas yang ada di dalam laci ibunya.
Kemudian Ben menundukkan kepalanya, ia melihat tumpukan kertas potongan berserakan di kakinya.
Semua kalimat-kalimat itu berisikan hal-hal yang tak senonoh dan harga tawar-menawar ketika seseorang pria dan wanita sedang bernego di sebuah tempat.
"Aku benci wajah mu yang memandangiku seperti itu!"
PLAAKKK
Tamparan melayang di pipi kanan Ben, hingga bocah itu terpelanting ke lantai yang kusam dan kotor.
__ADS_1
Rumah kumuh yang dinding dan atapnya dari seng berkarat dan berlubang saling di tumpuk dan di tambal, membuat suasana rumah yang agak gelap menjadi lebih dingin dan menyeramkan bagi Ben.
Tidak ada kehangatan di dalam rumah itu, yang ada hanyalah kehidupan yang sangat mengerikan baginya.
Kesehariannya, ayah dan ibunya selalu bertengkar, ayahnya yang pulang dalam keadaan mabuk sering kali melampiaskan kemarahannya dengan memukuli sang ibu. Sedangkan sang ibu setelah di pukuli melampiaskannya dengan merokok dan mengonsumsi obat-obatan terlarang.
"Ayo ikut!!! Akan menyenangkan membuatmu sadar siapa ibumu sebenarnya!!!"
Wanita paruh baya itu menarik tangan Ben dengan paksa, hingga Ben meraung tidak ingin pergi, namun wanita itu tetap saja menyeretnya untuk ikut bersamannya.
Hingga mereka menjadi tontonan di sepanjang jalan area rumah kumuh di kawasan itu.
Sampailah mereka di sebuah Club malam yang jauh dari kesan mewah. Bahkan, itu adalah Club paling berantakan, jorok, dan sangat menjijikkan. Ya, disanalah ibu Ben bekerja.
"Madam, dimana pelangganku." Kata wanita itu.
"Ada di lantai atas, kamar biasanya. Tapi, kenapa kau membawa anakmu?"
"Di saksikan oleh anak sendiri pasti akan lebih menantang dan menyenangkan bukan?"
"Astaga! Apa kau gila. Aahhh terserah kau saja." Sang madam pun pergi dengan menyesap cerutunya.
Lagi-lagi tangan kecil dan mungil, tubuh kurus milik Ben kembali di seret menaiki tangga yang sedikit reyot, hingga berbunyi derit yang mengerikan. Seolah-olah jika Ben memberontak pasti tangga itu akan jebol.
Wanita paruh baya yang seharusnya di panggil Ibu oleh Ben, kini justru menjadi salah satu orang yang sangat melukai hati Ben. Bahkan, dia adalah pemeran utama trauma yang akan di miliki Ben.
Seketika tubuh kecil nan kurus Ben di lempar masuk ke dalam kamar. Seorang pria gendut dengan perut besar dan tanpa busana sudah duduk di atas ranjang tanpa malu.
Ben kecil menangis, tanpa henti, tanpa suara, hingga tenggorokannya seolah di gorok oleh kesakitan yang ia pendam.
"Jangan pernah menutup matamu, jika kau tutup matamu, aku akan mencongkelnya!" Ancam wanita itu.
Ben hanya menggigit bibirnya dan mengepalkan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat.
"Jika kau masih memasang wajah sok suci mu lagi untuk memandangku, kau akan selalu berakhir seperti ini. Ben."
Flashback Off
__ADS_1
bersambung