Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 170


__ADS_3

Daisy menahan tangan besar Ben yang menyusup masuk.


"Benn... Jelaskan dulu, bagaimana, Carlos..." Kata Daisy terbata dan terhenti, karena tersentak.


Ben mencium leher Daisy dengan lembut.


"Beenn..." Pinta Daisy.


Ben pun berhenti, dan menghela nafas.


"Ceritanya panjang, dia memiliki seribu muslihat dan banyak akal murahan mengelabui Traver serta para pengawal, apalagi dia sudah tahu dan mengerti seluk beluk ruang tanah bawah kita. Penjara itu tidak akan lama menahan Carlos, meski Traver telah menyiksa tubuh Carlos namun seperti kata Rudolf sejak awal, Carlos De Hugo adalah mafia yang sulit di bereskan, dia memiliki sejuta akal busuk." Kata Ben.


"Lalu bagaimana dia bisa kabur?"


"Malam itu aku sibuk mengajari Zac dan Zay memegang pistol, dan menembak, Traver juga sedang sibuk memeriksa seluruh pembangunan kembali di Pulau Maladewi yang terhenti beberapa tahun, tiba-tiba saja semua terjadi dengan begitu cepat, pengawal semuanya entah mengapa seperti terkena hipnotis sepertinya Carlos juga memiliki kemampuan menghipnotis seseorang untuk melakukan apa yang dia mau, ya begitulah, Carlos akhirnya melarikan diri dengan tubuh yang mengerikan, di bantu para pengawal yang terhipnotis." Kata Ben.


"Lalu bagaimana nasib para pengawal yang di hipnotis."


"Apalagi? Traver membunuh mereka semua. Aku benci kegagalan dan keteledoran." Kata Ben ringan.


"Tapi, bukan salah mereka, Carlos menghipnotis mereka."


"Manusia tak akan terpengaruh jika pikiran mereka tidak kosong, tapi para pengawal yang berjaga pasti lalai membuat mereka gampang di pengaruhi, aku tidak butuh orang-orang lemah." Kata Ben.


"Lalu, dimana Carlos sekarang." Kata Daisy.


"Aku juga tidak tahu, maka dari itu aku memiliki feelling yang tidak bagus, rasa-rasanya... Waktu akan segera tiba, peperangan besar, dan keadaan yang kacau." Kata Ben.


Wajah Daisy menjadi murung.


Ben kemudian menarik dagu Daisy dan menciumnya.


"Jangan khawatirkan itu, sekarang khawatirkanlah yang ada di bawah sana, dia tidak bisa tenang, dan segera harus di puaskan." Kata Ben mencium bibir Daisy lagi dengan lembut.


Daisy kemudian merangkulkan kedua tangannya ke leher Ben.


"Kau menanggung ini semua sendirian, dan aku selalu marah-marah padamu."


Ben kemudian membenarkan posisi duduk Daisy agar kedua kakinya ada di samping pahanya, posisi duduk itu adalah favorit Ben, karena miliknya dan bagian sensitif milik Daisy bisa saling menekan, apalagi tubuh Daisy yang seksi begitu menggoda ketika Daisy duduk mengangkang di paha Ben, membuat liuk' an tubuh Daisy seperti biola, begitu indah dan sensual.


Tangan besar Ben naik dan turun di sekitar pinggul Daisy.


"Aku takut, saat kau marah, aku takut saat kau mengamuk, dan yang paling ku takutkan adalah jika kau melarikan diri lagi dariku, apapun yang akan kau lakukan padaku aku tak apa-apa yang penting jangan pernah kabur lagi seperti dulu, menghilang bertahun-tahun dan aku tak tahu dimana kau berada, itu benar-benar menyiksa ku."

__ADS_1


"Beenn... Kau pria yang sangat baik... Aku bersyukur kau adalah suamiku, tapi aku masih meminta mu satu hal, aku ingin kau membuat kita bisa berkumpul lagi, bujuk Zay pulang ke Negara K, dan bujuk juga Zac agar mau tinggal di sini."


Ben membuka pakaian tidur Daisy, dan menghisap dada Daisy. Kedua tangan Daisy meremas kepala dan rambut Ben.


"Beenn... Katakan sesuatu, kalau kau mau dan berjanjilahh..." Kata Daisy sembari sedikit mendesahh.


Ben mengulum puncak dada Daisy, dan meremasnya dengan satu tangannya.


"Beenn... Berjanjilah dulu."


"Aku berjanji sayang, semua akan ku lakukan, tapi aku mendapatkan kabar dari Traver jika Zac akan ada perjalanan bisnis, setelah itu aku akan bicara dengannya, apa kau senang sekarang?"


Daisy mengangguk dan menggigit bibirnya ketika Ben mulai menelusupkan jarinya masuk melalui celah underware, dan mengusap bagian sensitif milik Daisy.


Seketika Daisy membusungkan dadanya ia menyandarkan tubuh pada dada Ben yang besar dan kokoh.


"Beenn... Aku memiliki ide lain, bagaimana jika kita menyusul Zac dalam perjalanan bisnisnya kita berikan kejutan padanya... Lagi pula aku belum pernah liburan ke luar negeri." Pinta Daisy.


"Aaahh.... Hhnggg...."


Jari Ben keluar masuk di bagian sensitif milik Daisy.


"Beennnn.... Hmmhhh...." Kedua jemari Daisy meremas dengan erat kedua bahu Ben.


Lutut Daisy menyangga tubuhnya yang kian ambruk di tubuh Ben, sedangkan Ben yang menggosok milik Daisy melalui underware belakang kian bersemangat ketika mendengar istrinya sudah mulai mendesahhkan suaranya.


"Beenn jawablahh... Aahhh...."


"Itu ide bagus sayang..." Kata Ben kemudian mengulum dada Daisy.


"Beennn... Aku tidak tahaan..." Kata Daisy menutup matanya dengan rapat ketika gerakan jari Ben semakin cepat dan cepat.


"Bee.eennnn.... Ouuhhh ... Beeeennn lebih cepatt.... Sedikit lagii... Benarr.... Bagian ituu lebih cepat lagiii.... Aaahhh Nghh oohhh... Bennnn..... " Tubuh Daisy gemetar seperti di setrum dengan tegangan tinggi, kepalanya menyusup masuk ke leher Ben dan menghisap kuat leher Ben sembari melenguhkan nafas dan kenikmatannya.


"Apakah rasanya nikmat?" Tanya Ben.


"Seperti biasanya, kau selalu membuatku seperti ini... Berantakan, kacau, dan tak tahu malu..."


"Karena itu yang ku harapkan, dan hanya aku yang bisa melihatmu seperti ini, betapa kacaunya dirimu, betapa vulggar dan cabull nya kau, istriku..." Kata Ben menggendong Daisy.


Saat itu Daisy memeluk erat Ben, dan melingkarkan kakinya di pinggul besar Ben.


Ben kemudian menaruh Daisy di atas meja yang biasanya mereka gunakan untuk makan.

__ADS_1


"Kenapa di sini?" Tanya Daisy.


Ben mendorong tubuh Daisy agar istrinya berbaring, setelah itu Ben menarik celana milik Daisy turun dan membuangnya.


Namun saat itu ponsel bergetar, dan itu dari Rudolf.


"Drrrtt... Drrtt.... Drrrtt..."


"Ben... Ponselmu..." Kata Daisy.


Kemudian Ben mengambil ponselnya, di saat ia juga sudah menurunkan celana.


Ben memasukkan lebih dulu miliknya ke dalam milik Daisy, sekali dorong dan masuk, membuat Daisy mendesahh.


"Aaahhh.... Hmmm..."


Ben menempelkan telunjuknya di bibir agar Daisy mengurangi suaranya.


"Ada apa?" Tanya Ben sembari masih mendorong maju dan mundur pelan pinggulnya.


Daisy menutup mulut dan menahan suaranya ketika sentakan dorongan dari Ben begitu membuatnya kenikmatan.


Wajah dan kepala Ben pun sudah mulai berkeringat, nafasnya sudah berderu membuat dadanya naij dan turun.


"Ada informasi jika seseorang menyebutkan nama Carlos, entah Carlos yang kita maksud atau bukan, tapi seseorang itu mengatakan jika Carlos ada di AS." Kata Rudolf.


Ben semakin mempercepat gerakannya, hingga pinggul nya, dan pinggul Daisy bergetar.


"Haa.... Hmmmb...." Daisy tersiksa jika ia harus menahan suaranya.


"Zac akan ada perjalanan bisnis ke As, dan aku serta istriku juga akan ke sana, percepat penyelidikan sebelum besok pagi kau harus mendapatkan informasinya... Hmmm..." Ben kelepasan ketika saat itu miliknya terasa di remas karena Daisy mengencangkan bagian sensitifnya.


"Kau sedang apa?" Tanya Rudolf.


"Aku sedang olahraga, jangan mengangguku." Kata Ben langsung menutup ponselnya dan membuangnya.


Kedua tangan Ben kini dengan sigap memegang pinggul Daisy dan mengangkat tubuh Daisy, Ben memojokkan Daisy ke dinding dan menggendongnya, lalu mendorong dengan cepat, tubuh berototnya bekerja hingga terukir di seluruh tubuh Ben.


Pria kuat dan perkasa itu tak habis-habisnya tenaga yang ia miliki, hingga Daisy begitu terlihat berantakan ketika berada di dinding, setelah Daisy merasakan puncak kenikmatan dan memeluk Ben dengan erat, Ben pun membawa istrinya ke atas ranjang, dan pertarungan serta pergumulan sesungguhnya baru akan di mulai, Ben sangat bersemangat dan siap menggempur Daisy hingga pagi.


Itu adalah pembalasan yang akan ia luapkan pada Daisy setelah 25 tahun lamanya, ia hanya memuaskan dirinya sendiri.


Bersambung

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2