Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 165


__ADS_3

Malam itu Ben dan Daisy berbicara dari hati ke hati, bagaimana pun meski hati Daisy masih sulit menerima namun pada kenyataannya, Daisy tetap mencintai Ben, ia pun merasa kesepian, dulu jika ia menolak Ben, pria itu akan memaksanya melakukan hubungan badan, namun sekarang Ben begitu banyak telah berubah.


Pria itu mengalah dan bersabar begitu banyak untuk Daisy, ia bukan lagi mengedepankan hasratnya yang meluap-luap atau menggebu-gebu.


Dulu jika Daisy menolak untuk berbubungan badan, Ben akan marah dan memakasa, namun sekarang Ben lebih menahan diri agar Daisy tak lari atau tak pergi lagi dari sisinya.


Ben memeluk Daisy dari belakang, dan mencium tengkuk leher belakang Daisy, berkali-kali dengan sangat lembut.


Kulit dan tubuh Daisy meremang, semua bulu kuduknya berdiri dan merasa kan serangan atau seperti gelitikan aneh.


Perlahan tangan kekar Ben meraba bagian dada Daisy, perlahan dan sangat pelan.


"Ini terasa lebih besar dan lembut."


Tangan besar Ben kemudian merayap kebawah merogoh pakaian tidur Daisy yang pendek dan menaikkannya ke atas naik sampai ke perut.


"Beennn..."


Ben kemudian membuka ikatan tali Daisy, dan mengambil tali itu untuk mengikat kedua tangan Daisy naik ke atas.


Dengan perlahan Ben mengikat kedua tangan Daisy yang naik, dan menutupi mata Daisy menggunakan pakaian Daisy yang juga sudah naik.


"Beeenn... Apa yang akan kau lakukann... Aku takut..." Kata Daisy.


"Aku tidak akan menyakitimu..." Bisik Ben di telinga Daisy.


Perlahan Ben menggigit kecil telinga Daisy dan memasukkan lidahnya ke dalam lubang telinga Daisy, lalu Ben merayap turun menuruni leher Daisy dengan lidahnya.


Ben naik dan turun membelai leher jenjang Daisy menggunakan lidahnya dan membuat Daisy memiringkan kepala.


"Beeennnn...."


Dengan tenang dan sangat menahan diri Ben kemudian menyentuh Daisy dari buah dada nya dan meremas nya pelan sangat pelan dan hati-hati.


"Kau membuatku gila Daisy, ini sangat lembut dan sangat kenyal." Kata Ben kemudian menyesapnya.


Dengan mulut besarnya Ben, ia memasukkan dada istrinya dan memainkan dengan tangannya.


"Nngghhh... Haaaa... Nggghh... Beeenn..."


Daisy mulai mengeluarkan lenguhannya, membuat Ben semakin bersemangat, meski milik Ben telah besar dan berkedut serta berdenyut begitu keras, namun ia tetap harus memberikan pemanasan pada Daisy. Ben akan memuaskan Daisy lebih dulu.


"Aku benar-benar merindukanmu, aku tersiksa dan gila." Kata Ben menuruni perut Daisy.

__ADS_1


Dalam sekilas bibir dan mulut Ben sudah mendarat di sana dan menyesap kuat-kuat, ia memainkan lidahnya terampil di sana, dan ia juga memutar dengan tangannya.


"OOOUUUHHH.... BEENN... NGGHH..." Daisy melengkungkan tubuhnya. Dadanya membusung dan tangannya masih di atas dengan mata masih di tutup pakaian milik Daisy.


Ben kemudian memutar tubuh Daisy hingga tengkurap di atas pahanya.


"PLAAKK...."


"PLAAKKK...."


Ben dengan pelan dan lembut memukul pantat Daisy berkali-kali.


"Oouuwwhhh..... Hmmmmhh..."


Daisy merasakan sensualitasnya mulai panas, semuanya telah basah dan belum lagi keringatnya mulai mengalir deras, karena tubuhnyan yang memanas.


Ben membalikkan Daisy lagi, masih dengan tangan terikat dan menutup mata.


Perlahan Ben merenggangkan kaki Daisy.


"Benn... Lakukan sekarang..."


"Sesuai maumu..."


"Hmmmm....." Ben mendesahh, sudah sangat lama ia tak merasakan remasan itu, hingga ia harus menahan diri agar tidak klimaakks sebelum waktunya.


"Beennn..." Daisy yang sudah lama juga tak, merasakannya, ia langsung mengejang saat Ben memasukkan bendanya yang besar, tubuh Daisy langsung merespon dengan baik dan merasaka puncak kenikmatan.


"Astaga... Daisy... Aku bahkan belum bergerak, kau sudah merasa nikmat." Kata Ben meremas kedua dada Daisy.


"Beenn... Cepat bergerak..." Pinta Daisy.


Ben kemudian menggerakkan pinggulnya maju mundur, awalnya hanya pelan dan sangat lembut, namun lama kelamaan menjadi lebih cepat, dan lebih brutal, karena permintaan Daisy.


"Beennn... Lakukan lebih cepat, lagi... "


Ben semakin bersemangat karena permintaan Daisy, pria itu seperti jaguar yang berlari kencang.


"Bennn... Lagii... Lebih dalam, lakukan lebih keras, dan kasar, aku menyukainya, remukkan seluruh tubuhku, buat aku tak berdaya...."


"Sesuai maumu, jangan pernah mencoba untuk kembali saat kau sudah mengatakan itu Daisy, kau tahu betapa berbahayanya permintaanmu itu." Kata Ben kemudian memutar tubuh Daisy menjadi menungging.


Ben kemudian memasukkannya lagi meremas dan menekan, berpacu dengan kekuatannya yang tak ada habisnya.

__ADS_1


Daisy yang juga ingin merasakan sedikit lebih keras, menerima terlalu banyak dorongan dan kenikmatan, hingga ia tak bisa lagi berkata-kata, pikirannya kosong dan tenggelam dalam setiap beberapa menit kenikmatannya naik dan memuncak.


Tubuh Daisy tak lagi bisa bertahan, begitu lama Ben memacu tenaganya seperti jaguar yang tak kenal lelah, ia seperti melampiaskan 25 tahun kesepiannya dalam semalam, ia tak ingin menyisakan sedikitpun sisa dalam tubuhnya.


Ben aka menuangkan seluruh tenaganya membuat Daisy merasakan kekuatan sesungguhnya di tambah kesepiannya selama 25 tahun.


Hingga pukul 5 pagi, Daisy menyerah, dia merasakan perih di pangkal pahanya, ia melihat Ben yang bermandikan keringat, terlihat wajahnya begitu bersemangat dan masih bisa tersenyum, otot-ototnya masih kuat dan menegang, serta seluruh tubuhnya sudah seperti mandi keringat, tapi kenapa stamina Ben seperti tak berkurang meski hanya seperempatnya saja.


"Apa kau... Ibliss.." Itulah kalimat Daisy sebelum dia pingsan.


Ben mencapai ******* yang panjang dan berteriak dalam hingga menggema di ruangan kamar besar kedap suara itu.


Tubuh Ben penuh keringat, semuanya basah, namun pria itu tak merasa lelah sedikitpun, meskipun nafasnya sedikit beradu dengan detik jam, namun di pastikan pria itu bahkan masih bisa dan mampu melanjutkannya.


Perlahan Ben membelai rambut Daisy dan mengecup kening Daisy.


"Kau masih sangat cantik, kau masih sangat muda, dan aku tergila-gila padamu, bahkan jika kau melukai ku aku hanya akan diam dan pasrah padamu, bahkan jika kau ingin memperbudakku aku akan siap mengabdi menjadi pelayanmu. Aku sangat mencintaimu Daisy."


Saat itu Ben menarik selimut menutupi tubuh Daisy, pria itu berjalan telanjjang menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah itu Ben memakai pakaian santai dan keluar dari kamar.


Pagi itu meja makan sudah siap, para pelayan sudah menyiapkan sarapan pagi, dan di sana Zac sudah duduk menunggu.


"Di mana ibu?" Tanya Zac.


"Masih tidur. Dia kelelahan." Kata Ben menarik kursi dan duduk.


Zac hanya diam, tanpa Ben menjelaskan ia sudah tahu apa yang telah terjadi.


"Apa kau memaksa ibu melakukannya." Tiba-tiba Zac melontarkan kalimatnya dengan kasar.


Ben yang saat itu mengiris steaknya, tiba-tiba berhenti dan melihat pada Zac anaknya.


"Jadi, kenapa kau menjadi pria play boy? Berapa banyak wanita yang sudah kau tiduri? Tidak kah jika ibumu tahu, dia akan terluka." Kata Ben.


Zac menatap tajam ayahnya, pada akhirnya sarapan pagi itu menjadi ajang saling menyindir dan menilai satu sama lain.


"Zac, aku bukan binatang dan juga bukan pria yang mudah berganti pasangan atau menyakiti ibumu dengan memaksanya, tapi kau anakku, seharusnya kau tak bermain-main dengan wanita apalagi sampai menidurinya."


"Kau tahu apa? Apakah aku meniduri para wanita itu atau tidak, kau tahu apa?" Kata Zac.


"Jadi apa kau meniduri para wanita itu, atau tidak." Tanya Ben mempertegasnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2