
Sore kian tenggelam dan malam pun sudah datang, Zay terlihat gembira di taman hiburan yang di penuhi wahana bermain, malam itu banyak lampu warna-warni yang gemerlap menjadi cahaya penerang wahana bermain paling luas dan terkenal milik Derreck Waldorf.
"Kau senang?" Tanya Gavriel.
Zay mengangguk cepat, sembari memakan arumanis berwarna pink di jemari lentiknya yang memiliki kuku pink berkilau.
Saat itu di sudut bibir Zay terdapat sisa arumanis yang menempel, Gavriel kemudian membersihkannya dengan menggunakan jari jempolnya.
Namun, tiba-tiba ada tontonan yang menarik perhatian Zay.
"Apa itu?" Tanya Zay.
"Ohh... Itu pertunjukan sirkus." Kata Gavriel.
"Ayo kita lihat!" Ajak Zay.
Gavriel menurut saja. Zay sembari memakan arumanis nya, ia berjalan riang tanpa beban, seolah sudah lupa permasalahannya dengan Zac yang membuatnya marah besar.
Zay masuk ke sebuah tenda besar berbentuk kerucut, dan melihat sudah banyak penontonnya. Zay memilih duduk di belakang dan melihat dengan tenang sembari masih mencuil sedikit demi sedikit arumanis.
Musik pun berdendang keras, semua bersorak menantikan pertunjukan itu.
Namun, ada suara yang membuat Zay terpaku, pikirannya tiba-tiba di liputi rasa takut, panik, frustasi, sesak dan seolah menjadi suasana gelap yang sempit.
"Traannggg!!!! Trangg!!! Criinggg!!! Criinngg!!!" Itu adalah suara rantai yang saling bertubrukan.
Seekor harimau dan manusia keluar, harimau besar itu di ikat di bagian leher, besarta empat kakinya, suara rantai-rantai itu bergemerincing terus menerus di telinga Zay.
"Trangggg!!! Siiirrrrr Criingggg!!!"
"Tidakk..." Mendadak arumanis Zay terjatuh ke bawah.
Gavriel melihat tubuh Zay kaku dengan mata melotot namun tatapannya kosong.
"Zay... Ada apa?" Tanya Gavriel mulai cemas.
"Traanngggg!!!!" Harimau itu naik ke atas dengan suara rantai yang saling berbenturan.
"Traangggg!!!"
"Tidakkk... Jangan lakukann..." Mata Zay yang terbuka tanpa berkedip tiba-tiba menangis, Zay mendadak menutup telinga dan ketakutan.
__ADS_1
"Zay... Tenang... Ada apa..." Gavriel mencoba menenangkan tubuh Zay dan memeluknya serta mendekapnya ke dalam tubuh nya yang kekar dan besar.
"Trangggg!!!! Sriingggg Trangggg!!!"
"Tidakk.... !!! Jangan Carlosss!!! Jangan sentuh akuu.... Jangan lakukann itu...!!!"
Gavriel kemudian sadar, bahwa suara rantai itulah yang membuat Zay ketakutan, ternyata Zay memiliki trauma yang tidak ia sadari.
Zay mengira dirinya baik-baik saja, namun ternyata Zay hanya memendamnya dan berharap ia baik-baik saja, Zay berfikir tak kan jadi masalah pada dirinya karena dia sudah di latih begitu kuat oleh sang ayah, namun nyatanya Zay tetaplah manusia, dia wanita biasa yang juga bisa mengalami trauma hasil perbuatan Carlos.
"Kita keluar!" Kata Gavriel langsung menggendong Zay dan bergegas keluar dari sana.
Tanpa pikir panjang Gavriel langsung menuju ke mobil membawa Zay untuk pulang.
Gavriel memasukkan Zay perlahan, dan melihat Zay masih menutup telinga serta kepala dan menutup mata, Gavriel kemudian mengambil obat penenang dari dalam tasnya.
Dengan cepat Gavriel menyuntikkan obat itu ke lengan Zay, saat itu Zay sudah gemetar hebat dan tidak mau membuka mata.
Perlahan Gavriel membenarkan posisi duduk Zay dan menutup pintu, Gavriel pun memutari mobil dan ikut masuk.
Tak ingin menunggu lagi, Gavriel menekan gas mobil nya dan melajukan mobil itu dengan kecepatan penuh.
"Ya tuhan... " Gavriel mencengkram kemudinya dan begitu marah.
Andai saja Carlos masih hidup, ia pasti sudah membuat perhitungan pada Carlos.
Perlahan tubuh Zay yang kaku dan gemetar, sedikit demi sedikit sudah melemah dan mengendur, Zay mulai tenang dan tidak ketakutan lagi.
"Sebentar lagi kita sampai di mansion." Kata Gavriel membelai kepala Zay.
"Aku tidak mau pulang ke sana dengan kondisi seperti ini, ayah dan ibu pasti akan khawatir..." Kata Zay lemah dan pandangannya tertuju ke arah luar.
"Lalu..." Tanya Gavriel.
"Kau bisa tinggalkan aku di hotel mana saja." Kata Zay.
"Apa kau pikir aku pria kejam? Meninggalkan mu di hotel dengan keadaan seperti itu... Apalagi aku seoramg dokter!" Kata Gavriel.
Kemudian Gavriel mendecakkan lidahnya, ia memutar kemudi stirnya dan berbalik arah, suara decitan mobil terdengar begitu keras, dan Gavriel menekan gas nya lebih dalam, ia pun merubah tempat tujuan nya menjadi mansion miliknya.
"Aku tidak apa-apa..." Kata Zay kemudian.
__ADS_1
"Aku dokter Zay, dan aku tahu bagaimana kondisimu, kenapa kau tidak mengatakannya." Kata Gavriel masih fokus menyetir.
"Aku juga tidak tahu jika aku begini, ku pikir aku baik-baik saja."
"Sejak kapan itu terjadi!" Kata Gavriel panik.
"Entahlah, aku hanya ingat, bahwa, saat malam aku menyusup di rumah Zac, Charles memiting dan membekapku, tanpa sadar aku ketakutan dan memanggil nama Carlos." Kata Zay masih lemah menyandarkan kepalanya.
"Ck... Sial." Gavriel mendecakkan lidahnya dan marah.
"Kau harus mengatakan semua yang terjadi Zay, tidak boleh ada yang kau tutupi..." Kata Gavriel.
"Tidak... Aku... "
"Kau tahu, ayahmu mengalami trauma hebat dari dia masih sangat kecil, dan akhirnya sampai dewasa dia terperangkap dan terpenjara di dalam nya. Sebelum terlambat, kau harus menceritakannya padaku, dan aku akan membantumu terapi." Kata Gavriel.
Gerbang besar terbuka dan mobil melaju dengan cepat.
"Ckiiitttt!!!" Gavriel mengerem mobil dengan kasar, membuat decitan yang sangat keras.
Dengan sigap Gavriel keluar dan membuka pintu mobil, ia menggendong Zay yang masih lemah dan lemas karena efek obat penenang yang di suntikkan Gavriel.
Para pelayan sontak syock dan sangat terkejut hingga ada beberapa pelayan wanita yang menaruh hati dan berharap pada Gavriel terlihat seperti hampir pingsan, Tuan mereka tak pernah sekalipun membawa wanita, sekarang justru datang dengan kehebohan yang sangat luar biasa, yaitu mengendong seeorang gadis muda yang sangat cantik.
Gavriel langsung menuju kamarnya dan membaringkan perlahan Zay di atas ranjang besarnya, dengan sigap Gavriel mengambil peralatan nya lalu memeriksa kondisi Zay.
"Aku sudah baik-baik saja." Kata Zay.
"Itu karena obat penenang yang ku berikan, jika kau mendengar sesuatu yang membangkitkan trauma mu, reaksi seperti tadi akan terjadi lagi, jika kau tidak menjalani perawatan, kau akan depresi dan yang paling parah, kau tidak bisa menahannya hingga kau memilih untuk..." Gavriel tak melanjutkan kalimatnya.
"Aku bunuh diri?" Kata Zay tersenyum lemah.
"Aku tak akan melakukannya." Kata Zay.
"Kau tahu betapa kuat dan tangguhnya ayahmu? sekuat dan setangguh Ben pun pernah mengalami yang namanya putus asa. Kau tahu apa yang terjadi padanya setiap kali trauma nya kambuh?" Kata Gavriel.
Zay menelan ludahnya, ia bahkan tak tahu apa-apa tentang ayahnya, seperti apa sebenarnya ayahnya.
"Ben akan merusak seluruh mansion, ia tak akan sadar jika semua yang ia lakukan juga melukai dirinya sendiri, saat traumanya bangkit atau kambuh, Ben mengamuk, namun luka yang timbul dari apapun yang mengenainya, dia tak merasakannya sama sekali, sampai setiap kali aku menjahit lukanya, dia tak pernah memakai anestesi. Katakan padaku, kau mau seperti ayahmu? Kau mau berakhir seperti ayahmu? Tersiksa sepanjang hidupnya?" Kata Gavriel bertanya dengan mimik wajah serius yang menakutkan.
Bersambung~
__ADS_1