
Di sisi lain, Daisy yang sudah sampai di seberang pulau Maladewi dan hendak menaiki jet ski melihat serta mendengar ledakan berkali-kali dan Daisy tahu bahwa suara itu dari bangunan Resort.
Daisy hendak turun, namun ia berfikir kembali, sekarang yang paling penting adalah anak-anaknya, ia percaya pada Ben, lagi pula Ben juga sudah berjanji padanya ia tidak akan mati atau bahkan terluka.
Daisy menarik nafanya panjang dan dalam, ia tak tahu cara menaiki jet ski, ini adalah pertama kali baginya.
Entab bagaimanapun caranya Daisy berfikir ia harus sampai di tempat yang aman dan meminta bantuan pada siapapun.
Namun tak berapa lama, sebuah helikopter terbang rendah di atas kepalanya, membuat pusaran angin dan begitu kencang.
"Nona Daisy!!!" Teriak seseorang dari atas.
Itu adalah Mena, dan tak berapa lama, banyak sekali helikopter-helikopter beterbangan di atas kepala Daisy, semua itu seperti serbuan capung yang begitu banyak membuat Daisy sendiri merasa ngeri.
Suara-suara helikopter yang begitu banyak menjadi satu kebisingan yang seperti kalap dan ingin segera tiba di tujuan mereka.
Mena kemudian memerintahkan untuk terbang rendah, dan Mena turun menggunakan tali.
Setelah Mena turun Helikopter mencari tempat untuk mendarat.
"Nona Daisy anda baik-baik saja?" Tanya Mena dengan wajah terkejut.
Tubuh Daisy sontak menjadi lemas, sudah dari awal kaki Daisy terasa sulit berjalan dan seperti mati rasa karena saking takutnya, melihat Mena ada di hadapannya setidaknya ada sedikit kelegaan dan tersiramlah panas hatinya menjadi sedikit lebih sejuk.
"Ben... Selamatkan Ben..." Kata Daisy menangis sembari terduduk.
Mena berjongkok di hadapan Daisy.
"Traver sudah berada di Resort Nona Daisy, dan sedang menyisir Resort."
"Apa? Menyisir? Lalu bagaimana Ben?" Daisy bertanya dengan terkejut.
"Traver sedang menyisir nya Nona." Kata Mena lemah.
"Apa kau bilang? Menyisir? Apa tak ada yang melihat dimana Ben? Dia harus berdiri dengan angkuh seperti biasanya agar para pengawalnya menemukannya." Kata Daisy mendelik.
"Saya mendapatkan info dari Traver, jika tidak ada seorang pun yang terdeteksi masih hidup Nona, tapi bisa saja ada kemungkinan Tuan Ben..."
Mena belum sempat melanjutkan kalimatnya, dengan tertatih dan berulang kali kakinya tersandung Daisy berdiri tergopoh, ia berusaha dengan sangat keras agar dapat berjalan.
"Nona Daisy... Berbahaya...!!!" Teriak Mena dan mengejar Daisy.
"Nona...!!!" Mena berhasil menangkap Daisy.
"Lepaskan Mena, aku tidak bisa meninggalkan Ben sendirian!!"
"Baik Nona... Tapi anda harus menurut dengan perkataan saya, karena di sana berbahaya." Kata Mena.
Daisy duduk dengan lemas tak memiliki daya dan kehabisan energi lagi.
Mena pun memapah Daisy menuju helikopter dan helikopter pun terbang melambung kembali menuju Resort.
__ADS_1
Daisy melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu, ia melihat begitu hancurnya pulau Maladewi yang sangat berarti bagi Ben.
Air mata Daisy beruraian dan tak tertahan, ia melihat banyak pengawal sudah tiba dan memeriksa apakah ada yang selamat dari ledakan-ledakan yang besar itu.
Helikopter pun mendarat.
Daisy langsung berlari dan menemui Traver, Rudolf, serta Carlos.
"Dimana Ben!!!" Teriak Daisy.
Semua orang diam tak ada yang mampu menjawab.
"Dimana Ben!!!" Teriak Daisy.
"Tenang Nona Daisy, ada kemungkinan Tuan Ben masih hidup karena mayatnya tidak ada di sini, kami hanya menemukan mayat Paulo Redges." Kata Traver.
Daisy memandangi hamparan Resort yang rubuh dan sudah tak berbentuk. Asap hitam mengepul naik dari bangunan yang gosong.
Daisy seketika mual dan muntah, tubuhnya lemah.
Semua itu karena bau gosong dan bau tubuh dari manusia-manusia yang terbakar hidup-hidup.
"Huweeekkk!!! Huweekkk!!!" Daisy muntah karena bau daging-daging yang gosong dan matang.
"Mena bawa Nona Daisy pulang." Kata Traver.
Mena mengangguk.
Daisy bersikeras ia membongkar puing-puing hingga tangannya terluka dan berdarah.
"Daisy..." Carlos mendekat dan menahan tubuh Daisy yang kian merosot jatuh di atas puing-puing.
Rudolf tak tega melihat keadaan Daisy dan memalingkan wajahnya, ia pun juga terluka karena ini adalah pertama kalinya Ben mengalami hal seperti ini.
Namun, Rudolf yakin Ben belum mati. Rudolf memalingkan wajahnya karena matanya berair, ia sudah menganggap Ben adalah adiknya sendiri.
Carlos tak bisa membujuk Daisy yang kian kacau, tubuhnya makin lemas di bawah terik sinar matahari, dan tubuhnya sudah sangat kotor.
Carlos memberikan kode pada Traver, dan Traver pun mengeluarkan sebuah suntikan kecil lalu mendekat pada Daisy.
"Maafkan saya Nona Daisy, anda harus istirahat." Kata Traver kemudian menusukkan suntikan kecil itu di leher belakang Daisy.
Daisy memandang Traver dengan marah, namun dengan cepat pula Daisy menutup matanya, ia tertidur, Carlos menagkap tubuh Daisy dan menggendongnya.
Mena mengikuti Carlos dari belakang.
"Aku akan membawanya pada orang tua dan anak-anaknya." Kata Carlos pada Rudolf.
Rudolf mengangguk pelan.
"Kita selesaikan pekerjaan kita Traver." Ajak Rudolf melanjutkan menyisir Resort untuk menemukan dimana Ben berada.
__ADS_1
Traver pun melihat bangungan gudang yang terbakar hangus, ia melihat sebuah jendela yang pecah dan ada darah yang mengering dan sudah kotor karena debu gosong ada di dekatnya.
"Apa mungkin..." Kata Traver ingin menebak.
Traver kemudian memeriksa sekeliling namun tak ada tanda-tanda Ben.
"Kenapa?" Tanya Rudolf.
"Saya pikir apakah Tuan Ben kabur dari jendela ini? Pecahannya berbeda dari yang lain, karena kaca yang lain pecah di sebabkan ledakan." Kata Traver.
"Kita periksa sekeliling." Ajak Rudolf.
Mereka semua kembali menyisir lagi, para pengawal yang berjumlah ratusan orang di bagi mengurus mayat dan sebagian lagi menyisir mencari Ben.
Resort dan pulau Maladewi benar-benar sudah habis, tidak ada yang tersisa dari keindahan itu, pantainya pun di hajar, di boom dengan brutal menyebabkan karang dan semua hewan laut yang indah juga mati.
Jika semua itu di rekam melakui udara, yang tersisa hanyalah kapal-kapal karam yang hangus, jet ski- jet ski yang menerobos pasir, dan juga puing-puing yang rata dengan pasir dan juga bangunan-bangunan yang gosong dan penuh kepulan asap-asap hitam belum lagi dengan bau menyengat daging-daging manusia yang terbakar.
"Ini akan jadi masalah besar." Kata Rudolf.
Traver pun mengangguk pelan.
"Mena harus mengurus dan membungkam para pihak pemerintahan lagi." Perintah Rudolf.
"Baik Tuan Rudolf."
"Jika mereka mengulur waktu dan berbelit, singkirkan saja dengan sembunyi-sembunyi, aku sedang tidak mau di permainkan oleh tikus-tikus rakus seperti mereka."
"Akan saya sampaikan pada Mena tuan."
Saat Rudolf mengorak-arik puing-puing menggunakan tangkai besi, ia melihat sesuatu itu adalah sebuah sepatu.
Rudolf mengambil sepatu itu dan Traver melihatnya.
Alis Rudolf naik dan tersenyum.
"Mungkin dia sekarat, tapi aku yakin dia belum mati. Astaga ya tuhan... Terimakasih..." Kata Rudolf.
"Sepatu ini memiliki jarak yang cukup jauh dari reruntuhan dan bangunan Resort, saya yakin Tuan Ben berjalan sampai kemari." Kata Traver.
Tak berapa lama terdengar suara-suara mesin pemberat datang, itu adalah excavator yang akan mengeduk bangunan.
Rudolf dan juga Traver melihat mesin-mesin besar mulai merapat ke Resort.
Mereka mandandangi dari tempat yang agak jauh.
"Ayo lanjutkan lagi pencarian." Ajak Rudolf.
"Baik Tuan."
Bersambung
__ADS_1