
Di lain tempat saat itu Daisy tahu Traver mengikutinya dan bukannya Ben yang menyusulnya, Daisy dengan cepat berlari dan langsung bersembunyi, agar Traver tak menemukannya.
Traver pun kebingungan kemana Daisy pergi, hingga pada akhirnya Traver tak bisa menemukan dimana Daisy.
Ketika Traver akhirnya pergi kembali, Daisy pun langsung meninggalkan perusahaan dengan menggunakan taksi.
Traver yang kebingungan kemudian menyuruh para pengawal untuk mencari Daisy.
Namun, terlambat, Daisy telah melaju pergi menuju mansion, Traver juga tak bisa melacak Daisy, karena ponsel Daisy retak dan ada di kantor Ben.
Saat Traver ingin ke kantor Ben, ia ingat bahwa kalung Daisy juga di pasang pelacak, Traver memeriksa nya, dan bersyukur bahwa Daisy benar-benar menuju mansion.
Traver pun kembali ke ruangan, di sana Ben masih cemas menanti kabar dari Traver.
"Bagaimana?" Tanya Ben ketika Traver baru saja sampai.
"Ponsel Nyonya rusak Tuan." Traver melihat ke arah ponsel Daisy yang retak dan tergeletak di atas meja.
"Lalu..." Tanya Ben.
"Saya melacak melalui kalung Nyonya, dan saat ini Nyonya Daisy sedang menuju ke mansion."
"Jadi, dia pulang?" Tanya Ben.
"Benar Tuan."
"Ben... Apa kau benar-benar mengakuinya sebagai istrimu?"
Ben diam.
"Kau harus ingat aku lah yang seharusnya menjadi istrimu!" Kata Marry Anne.
"Anne..." Panggil Ben.
Marry Anne mengambil tisu dan menghapus air matanya.
"Aku menyesal tidak sengaja membunuh suamimu, tapi, ini sudah berjalan cukup lama, pendekatan kita tidak pernah berhasil." Kata Ben.
"Kau sudah bersumpah Ben! Siapapun istrimu, aku tidak akan pernah setuju, dan kau tidak akan pernah mengakuinya saat sedang bersamaku! Ingat Ben, karena kau lah aku menjadi janda, aku kehilangan suamiku, pemberi nafkah lahir dan batinku." Kata Marry Anne.
__ADS_1
"Sudah cukup Nona Anne, anda harus melepaskan Tuan Ben. Saya yang seharusnya bertanggung jawab, karena saya yang salah menembak saat perang itu terjadi." Kata Traver.
"Kalian sudah sepakat. Kenapa kalian jadi seperti ini padaku!! Aku akan memaafkan Ben jika Ben mau menggantikan sosok Rafael suamiku!!!"
"Nona Marry Anne... Yang salah menembak adalah saya." Kata Traver.
"Dan yang kau tembak adalah suamiku, serta teman karib Ben, dia sudah seperti saudara untuk Ben, bahkan hubungan Ben dan Rafael lebih dekat di bandingkan, hubungan Ben dengan mu ataupun Rudolf!!! Dan kalian setuju saat aku mengajukan Ben sebagai pengganti Rafael!!!" Mata Marry Anne mendelik.
Marry Anne kemudian berdiri dan mendekati Ben.
"Apa kalian akan mengingkari janji dan sumpah kalian!!!"
"Tapi ini tidak adil bagi Tuan Ben, saya yang seharusnya menggantikan posisi Tuan Rafael karena saya yang menembaknya!" Baru kali ini Traver membuat suara yang tinggi hingga naik beberapa oktaf.
Traver benar-benar merasa bersalah dan memikirkan Daisy.
Marry Anne kemudian mendekat pada Traver.
"Apa kau lupa bahwa aku hanya mau Ben yang menggantikan posisi Rafael! Karena Rafael dan Ben sejajar, kau... Hanya lah pelayan yang tidak selevel."
"Tapi, bukankah anda menikmati ketika anda bekerja di bawah seorang Madam."
"Plakk!!!" Tamparan Marry Anne keras menghantam pipi Traver.
"Traver... Kau keluarlah dulu." Kata Ben akhirnya berbicara.
"Tokk...! Tokk...! Tokk..."
Pintu di ketuk, Traver membukanya, dan itu adalah Clarissa.
"Tuan Ben, Tuan Moranez sudah tiba." Kata Clarissa menyampaikan.
"Traver, gantikan aku untuk rapat dengannya, Clarissa kau sudah siapkan dokumennya?" Tanya Ben.
"Sudah Tuan."
"Pergilah bersama Traver."
"Baik tuan." Kata Clarissa di ikuti dengan Traver.
__ADS_1
Setelah kepergian Traver dan Clarissa Ben menutup pintu.
Sontak Marry Anne berlari dan memeluk Ben dari belakang.
"Aku mencintaimu Ben... Kau sudah janji akan bersamaku selama aku belum pulih dari masa Trauma ku. Selama beberapa tahun, kau pergi menghilang karena kau selalu mengatakan banyak kesibukan dan juga hanya mengirim uang padaku, kau tak pernah menjengukku, dan pada akhirnya aku mendengar kau menikah, kau bersumpah tak akan mengakui istrimu saat di hadapanku, kau akan menjadi pemeran pengganti untuk Rafael suamiku, dia juga sahabatmu Ben..." Bujuk dan rayu Marry Anne.
"Kita sudah mencobanya Anne... Aku juga sudah berperan sebagai Rafael untukmu, Dan aku tak bisa memberikan sesuatu yang tidak bisa ku lakukan dengan wanita manapun kecuali dengan istriku."
"PLAKKK!!!" Tamparan Anne akhirnya melayang di pipi Ben.
Baru kali ini Ben merasakan tamparan di pipinya selain dari Daisy istrinya, rahang Ben mengeras, dan amarahnya mendidih di atas kepala. Bagi Ben, hanya Daisy yang boleh menamparnya. Tidak ada wanita lain sekalipun itu Marry Anne.
"Kenapa? Kau marah? Kau akan membunuhku?"
Ben diam dan masih terpaku dengan Marry Anne yang masih saja menguji kesabarannya.
"Jadi, tamparanku padamu membuat mu marah? Kesal? Apa kau perlu kehilangan sosok orang yang kau cintai baru lah kau mengerti bagaimana rasanya menjadi aku? Begini saja, agar kita adil, aku akan membunuh istrimu Daisy, dan kau akan mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kau cintai. Rafael suamiku adalah sahabat dan sudah seperti keluarga bagimu, dia pasti akan marah dan sedih ketika dia tahu, kau tidak mengurusku dengan baik!!!"
Ben diam dan meremas kepalan tangannya sendiri.
"Apa kau sudah melupakan wasiat terakhirnya padamu!" Mata Marry Anne mendelik.
"Suamiku, mengatakan padamu, agar kau dapat menjagaku, dan kau menikahiku, dia akan mati dengan tenang ketika dia tahu aku ada di bawah perlindungan mu, dan kasih sayangmu Ben... Rafael akan bahagia di sana Ben, tapi jika kau membuangku, apa yang akan Rafael rasakan? Kebencian dan dendam padamu. Kau lupa Ben siapa yang telah memberikan makan padamu, ketika kau belum memiliki segalanya."
Tubuh Ben semakin bergetar tak terkendali, ia kemudian berjalan pelan menuju meja terdekat untuk menyangga tubuhnya.
Marry Anne mendekat, dan berbisik lirih di belakang Ben.
"Jadi... Tepatilah janjimu pada Rafael, dan juga sumpahmu padaku. Ben." Kata Marry Anne kemudian memeluk Ben dari belakang.
Tentu saja Ben masih sangat tidak suka dan mual jika wanita lain memeluk dan menyentuhnya, berulang kali Marry Anne melakukan uji coba dan beberapa terapi untuk Ben, agar dia bisa menyentuh Ben tanpa Ben merasa mual.
Semua itu Marry Anne foto dan rekam, dengan menutup mata Ben berharap Ben dapat menerima sentuhan lembutnya.
Namun, tetap saja, hingga beberapa kali percobaan, itu tak pernah berhasil, dam justru kerusakan lah yang tersisa.
Ben pernah merobohkan ranjang, karena tangan dan kakinya terikat, ia tak kuat dengan terapi atau uji coba yang Marry Anne lakukan, bahkan saat itu Ben di tutup mata dan di sedikan wewangian yang harum.
Tetap saja, Ben mual dan memiliki tingkat emosi yang besar.
__ADS_1
Tak ada yang bisa menyentuh Ben, selain Daisy, dan ketika bersama dengan Marry Anne, trauma Ben semakin dalam dan gelap. Semakin membuat Ben terjeremban dalam lumpur hisap yang seperti tak akan rela mengeluarkan Ben dati siksaan dan neraka Trauma tentang kenangan bersama ibunya yang selalu melakukan pelecehan padanya.
Bersambung