
Ben dengan cepat hendak menarik Daisy, namun Rei Brandon membaca gerakan Ben, dan langsung menarik tangan Daisy.
Seketika Daisy tercengang ketika lengan kirinya di tarik kuat oleh Ben, dan tangan kanannya di genggam erat oleh Rei, sedangkan Rri menodongkan pistolnya pada Daisy.
Daisy sudah dalam keadaan berdiri, matanya membulat, ia masih tak mengerti apa yang akan terjadi.
Rei pun juga terus menodongkan pistol di kepala Daisy.
Sedangkan para pengawal Rei mengepung pengawal Ben dan para petinggi Mafia, mereka saling menodongkan pistol.
"Ku pikir benar-benar tak berharga, ternyata kau hanya berlagak. Menarik sekali." Kata Rei tersenyum.
Ben tahu, mengelabui Rei sekarang sudah tak berguna lagi, namun ia harus tetap mengulur waktu hingga bantuan datang, karena jumlah mereka kalah banyak.
Meskipun mereka para petinggi Mafia dan Traver serta Ben bisa membantai para pengawal Rei. Namun, ia tak bisa mengambil resiko itu, karena dapat kehilangan Daisy.
Ben hanya harus fokus pada Daisy, dan menunggu para pengawalnya datang agar mereka dapat membalikkan suasana di sana, saat ini Ben serta para petinggi mafia, mereka di kelilingi pengawal Rei yang berjumlah banyak, jika pengawal Ben dan pengawal para petinggi mafia datang setidaknya itu akan membuat pikiran Rei Brandon terpecah karena serangan kilat gabungan pengawal, pasti keadaan itu membuat Rei tidak fokus lagi pada Daisy.
Ben masih diam dan siaga, sedangkan Daisy juga masih terkejut dengan gerakan cepat mereka.
Ben dan Rei tarik menarik, namun melihat Daisy kesakitan, Ben memilih melepaskan tangannya, pada akhirnya Rei mendapatkan Daisy lagi dengan menarik kuat Daisy hingga membentur dadanya, menempatkan Daisy di dalam pelukan Rei.
Kemudian Rei menahan Daisy, memindahkan Daisy di sisi kirinya dan menodongkan pistolnya.
Rei melayangkan senyuman tipis dengan tatapan membunuh.
Kemudian Rei memerintahkan seorang pengawal untuk memukul Ben.
Mansion masih belum selesai pembangunannya, banyak bebatuan di sekitar Mansion, dan salah satu pengawal mengambil batu besar kemudian langsung memukul kepala belakang Ben.
BUUGGGGG!!!!
Seketika Ben terjatuh di atas tanah, dan memegang kepalanya, darah mengucur deras dan mengalir hingga ke lehernya.
"Tu... Tuan Ben..." Kata Daisy mendelik ketakutan, air matanya mengalir.
"Aku suka pemandangan ini, aku suka melihat seorang Ben Haghwer hancur. Untungnya aku dapat melihat kelemahanmu. Cinta memang selalu berakibat fatal, dan wanita cantik selalu memiliki takdir yang tidak baik." Kata Rei tersenyum.
"Lanjutkan Rei...!!!" Perintah El Joa.
Para petinggi mafia tak bisa berbuat apapun, mereka juga di jaga para pengawal, meskipun mereka bisa saja melumpuhkan para pengawal Rei, namun mereka masih tidak berani mengambil resiko jika Daisy terluka.
"Sial. Aku ingin sekali membunuh El Joa." Geram Yamaguchi.
Kemudian Ben berdiri lagi, dan menatap Rei.
Rei membelai wajah Daisy dan berbisik.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan pada Tuan mu sebelum kematiannya?" Kata Rei.
__ADS_1
Mulut dan tubuh Daisy bergetar hebat, air matanya mengalir tak bisa di bendung, dengan gaun hitam yang sebatas lututnya dan sudah sobek di bagian bahu karena perbuatan Rei, Daisy menggenggam kedua tangannya dan menempelkannya di dada.
"Tuan Ben tidak akan mati."
Rei seketika tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... Hahaha....Kita lihat saja." Kata Rei dan memberikan isyarat lagi pada pengawalnya.
Kemudian beberapa pengawal datang untuk memukuli Ben, mereka menendang dan meringkus Ben secara bersamaan.
"1 lawan 5 ya... Biasanya bahkan puluhan Ben tak bisa di kalahkan." Kata Rudolf.
"Tuan Ben aku mencintaimu!!!" Teriak Daisy.
Ben bertumpu dengan lututnya dan meludahkan darah.
"Bodoh." Kata Ben.
Daisy terkejut dengan tatapan Ben yang mengerikan.
"Bagi seorang Ben tidak akan pernah ada cinta." Kata Ben.
Daisy terkejut dengan penolakan Ben, dan terbawa emosi, hingga ia menangis lebih keras.
"Jadi... Apakah semua sikap baik anda pada saya adalah kebohongan..." Kata Daisy.
"Aku memang memperlakukannmu lebih baik daripada wanita-wania lain, tapi kau tak lebih dari sekedar tahanan ranjang ku. Buka mata mu!!!" Kata Ben.
"Drama apapun yang kalian mainkan aku tidak peduli, sekarang matilah saja." Kata Rei.
"Bunuh Ben." Perintah Rei lagi.
Traver meremas pistolnya, dan ingin menembak namun Ben memberikan kode mata untuk terus bertahan berjaga di belakang El Joa, para petinggi Mafia mulai panas, mereka tak sabar ingin bertarung dan membantai para pengawal Rai namun Ben masih tak bergeming.
"Aku tidak mau berhutang nyawa pada siapapun." Kata Daisy dengan suara lemah.
Sedikit demi sedikit kaki Daisy mundur.
Rei membelalakkan mata dan terkejut, ia tidak tahu dan tak bisa membaca apa yang akan Daisy lakukan.
Namun kemudian, di saat tak ada orang yang bisa membaca pikiran Daisy, Ben sadar bahwa Daisy semakin mendekati tebing.
Mansion berada di atas tebing, dan di bawah adalah lautan lepas.
"Daisy!!! Berhenti!!! Kau salah.... Paham!!" Teriak Ben dan berlari.
Namun, terlambat tanpa berbalik melihat curamnya dan tingginya tebing, Daisy menjatuhkan dirinya sendiri dari tebing itu, dengan melihat Ben yang berlari mengejar padanya.
"DAISY AKU MENCINTAIMU....!!!!" Teriak Ben.
__ADS_1
Namun, Daisy tak mendengar itu, ia hanya bisa melihat bibir Ben saja yang bergerak, deburan ombak lebih dominan di telinga Daisy.
Bukan tidak punya alasan Ben melakukan penipuan itu, ia masih tidak bisa kehilangan Daisy, jika dia mengakui bahwa Daisy sangat berharga baginya, Ben hanya sedikit mengulur waktu hingga bantuan tiba.
Rei Brandon yang melihat Daisy terjun pun syock, ia tak menyangka wanita polos, anggun dan lemah memiliki pikiran seperti itu.
Tak lama setelah Daisy terjun, beberapa helikopter berdatangan dan menembaki para pengawal Rei Brandon, mereka adalah penembak jitu Ben dan para pengawal petinggi mafia.
Dengan cepat Ben berbalik dan menatap nanar Rei Brandon, dengan gerakan secepat kilat dan tak di sadari Rei, Ben sudah merebut pistol yang ada di tangan Rei.
Melihat Ben bergerak, para petinggi Mafia pun ikut bergerak, dan terjadi adu tembak di antara mereka semua.
Namun Ben, pria itu justru memukuli Rei Brandon secara brutal, mematahkan tangan Rei.
"Kau tahu, seberapa sabar aku menahan diri, untuk tidak mematahkan tangan ini." Kata Ben dengan wajah mengerikan.
Saat itu Rei tak bisa menandingi kecepatan Ben saat berkelahi, bahkan tak ada celah bagi Rei untuk membalas.
Ben kemudian memutar kepala Rei, hingga menimbulkan suara mengerikan.
KRETEK...!!!
Leher Rei Brandon terputar, namun Rei masih sadar.
Setelah mematahkan kaki dan tangan Rei Brandon, Ben mengulurkan tangannya pada Traver.
Kemudian Traver memberikan belatinya pada Ben.
Belati berwarna hitam pekat yang telah menjadi senjata untuk membunuh ribuan orang.
"Bahkan jika kau mati, kita tetap harus bertemu di neraka, aku akan terus membunuhmu." Kata Ben dan menghunuskan belati itu di wajah Rei Brandon.
Ben murka dan menusuk Rei Brandon berkali-kali, pria itu kalap dan sangat dendam.
Ansella menutup matanya, melihat darah Rei muncrat di wajah dan tubuh Ben, tak sampai di situ Ben juga terus menusuk tubuh Rei Brandon.
Sedangkan El Joa merasa mual melihat darah yang muncrat seperti air mancur, di tambah Ben yang terus menusukkan belati berulang kali bahkan, saat itu di pastikan Rei sudah mati.
Setelah adu tembak yang sangat sengit, para petinggi Mafia juga menyelesaikan adu tembak mereka dengan para pengawal Rei, para pengawal bantuan menyisir lagi apakah masih ada pengawal El Joa dan Rei yang masih hidup, karena tugas mereka adalah membasmi musuh yang bersembunyi.
Sedangkan Yamaguchi tiba-tiba sudah berada di belakang El Joa, dan menodongkan pistol di kepala El Joa.
Mendadak mata El Joa membulat ketika memdengar suara Yamaguchi.
"Aku sudah sangat menantikan pembalasan ini sejak lama, tamatlah riwayatmu. Meski kau mati, dendamku masih tidak akan sembuh, karena kau telah menembak istriku yang tak bersalah, membuat anakku tumbuh tanpa kasih sayang ibunya."
DOOORRRR!!!
Satu tembakan Yamaguchi membuat kepala dan otak El Joa berserakan dimana-mata, wajah Yamaguchi penuh muncratan darah.
__ADS_1
Ansella yang berada di samping El Joa, juga terkena darahnya dan langsung mengenai wajahnya, mendadak Ansella langsung pingsan dan tak sadarkan diri.
Bersambung