Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 109


__ADS_3

Malam penuh bintang, di temani deburan ombak tenang di lautan lepas, kapal pesiar mengambang dan berhenti dengan di barengi pemandangan luar biasa.


Saat itu Daisy tampil dengan cantik, gaun putih transparan dan bahu mungil terekspose. Kulit putih bening dan bercahaya mrmbuatnya paling bedinar di malam hari dengan cahaya bulan.


Ben pun melepaskan jas nya lalu memakaikannya pada Daisy, ketika angin laut mulai menerpa.


Lantunan musik dari para pemain musik terkenal membuat suasana malam itu, menambah nuansa romantis.


Setelah makan malam yang panjang, Ben akhirnya membungkuk, dan mengeluarkan kotak cincin lalu membukanya.


"Daisy, aku mohon... Nikahi aku." Kata Ben membuka kotak cincin itu.


Daisy yang masih duduk di mejanya menutup mulutnya dengan jemari lentik. Lagi, Daisy terharu melihat seorang Ben membungkuk padanya untuk melamarnya.


Itu adalah lamaran romantis yang luar biasa. Traver serta Mena bertepuk tangan pelan.


"Aku tidak bisa...." Kata Daisy.


Tiba-tiba suasana yang sangat bahagia berubah menjadi tatapan keterkejutan. Hingga suara biola pun terdengar melengking karena pemainnya pun terkejut.


Tak kalah syock, Ben menegang, raut wajahnya berubah drastis.


"Maksudku adalah... Aku tak bisa menolaknya, karena aku juga ingin kau menikahiku, aku ingin kita memiliki anak setidaknya 1 atau 2." Kata Daisy.


Ben tersenyum lega, senyuman lebar yang membuat matanya menyipit.


Diikuti tawa bahagia yang lainnya pula karena semua orang merasa di prank oleh Daisy.


"Kau tidak memasangkan cincinnya?" Tanya Daisy.


Kemudian Ben dengan cepat dan sigap memasangkan cincinnya ke jari Daisy, Ben mengecup cincin yang sudah di pasang di jari Daisy, lalu naik ke punggung tangan Daisy, itu adalah kecupan paling lembut.


"Setidaknya 3 anak akan sangat bagus." Kata Ben.


"Setuju." Kata Daisy tersenyum.


Ben pun berdiri, namun, kakinya mendadak goyah, kepalanya seperti berputar.


Lagi. Ben merasakan mual. Lagi.


"Jangan sekarang." Kata Ben pelan.


"Ben?" Daisy berdiri dan memegangi lengan Ben.


"Kau sakit?" Tanya Daisy.


"Tidak... Tidak apa-apa...."


"Kalau begitu ayo kita pulang saja." Kata Daisy.


"Tidak... Tidak... Ini belum selesai. Kita juga harus ke suatu tempat." Kata Ben.


"Jangan sembrono dengan kesehatan Ben, kau selalu terlihat aneh beberapa hari ini, kau juga selalu muntah, ayo kembali masuk ke dalam kamar dulu, lalu kita akan kembali ke mansion, aku takut kau semakin masuk angin. Traver bantu aku memapah Ben." Kata Daisy.


"Kita tidak akan pulang ke mansion, karena kapal ini akan segera menunu tempat lain."


Traver maju dan hendak membantu Ben.


"Aku bisa jalan sendiri." Kata Ben.


Ben memang pria yang sangat rumit, gengsinya segudang langit, prinsipnya adalah seorang pria kuat tak perlu di papah.


"Tapi jalanmu sempoyongan. Apa kau mabuk laut?" Tanya Daisy.


Ben melihat Daisy dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Bukankah kau selalu bugar? Kenapa akhir-akhir ini..." Daisy bingung.


Ben melanjutkan langkahnya di temani Daisy, sesampainya di kamar, Ben langsung merebahkan diri, begitu juga Daisy yang kelelahan karena menjaga keseimbangan Ben.


Mereka ambruk berbarengan di atas ranjang.


"Kau sangat cantik."


"Kau tidak minum, tapi kau seperti orang mabuk Ben."


"Aku tahu, aku mabuk karena dirimu." Ben mencium bibir kecil Daisy.


Perlahan kedua tangan Ben menurunkan gaun Daisy, namun ketika gaun itu sudah turun sebatas dada Daisy, Ben berhenti dan memukul kepalanya.


"BUUGG!!!" Pukulan itu cukup keras di kepalanya, kepalan tangan Ben sangat besar.


"Hey!!! Apa yang kau lakukan Ben!!" Teriak Daisy.


"Aku sedang menyadarkan diriku sendiri." Kata Ben.


Kemudian Ben menarik tubuh Daisy untuk tidur di lengannya dan memeluknya.


"Kenapa kau harus sadar? Apa kau pingsan?"


"Ya aku takut terlalu mabuk, dan memakanmu, aku benar-benar ingin memakanmu, tapi aku harus tahan semua itu, karena aku juga menyayangi anakku." Kata Ben mencium kening Daisy dan memeluknya yang berbaring di sampingnya dengan berbantal lengan kanan Ben.


"Tapi... Begini saja apa sudah culup?" Tanya Daisy.


"Mmm... Sudah, aku akan tidur sebentar."


Daisy tersenyum melihat Ben bertahan dan menjaga hawa nafsuunya.


"Apa aku perlu membantumu untuk memuaskanmu?" Tanya Daisy.


"Bagaimama caranya?" Tanya Ben sembari masih memeluk dan memejamkan mata.


"Seperti wanita-wanita yang melayanimu? Aku akan melakukannya untukmu."


Ben menegang, pelukannya semakin erat dan gemetar, matanya mendadak terbuka.


"Tidak... Mulutmu hanya di gunakan untuk menciumku, bukan untuk melakukan hal seperti itu." Kata Ben.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi, dan tidur lah, besok pagi kita akan sangat sibuk."


"Kenapa?"


"Banyak yang harus di persiapkan seperti gaun pengantin dan undangan." Kata Ben memejamkan matanya.


Daisy tak bisa lagi menahan senyumannya, senyuman bahagia yang begitu merekah.


"Terimakasih sayang." Kata Daisy mencium bibir Ben.


Ben tersenyum dan semakin memeluk Daisy.


*******


Perlahan Daisy membuka matanya, dan ia tidak menemukan Ben di sampingnya, namun selimut sudah terpasang di tubuhnya, itu Ben yang menyelimutinya.


Kaki Daisy perlahan turun dan keluar dari kamar, ia melihat ke sekeliling.


Cahaya matahari begitu silau, Daisy dapat melihat hamparan pasir putih yang sangat indah, pasir putih yang bercahaya seolah sangat suci dan belum terjamah.


Karang dan banyak ikan-ikan warna-warni berenang di pantai yang surut itu, membuat Daisy tersenyum lebar.

__ADS_1


"Indah sekali." Kata Daisy.


Kemudian Daisy berlari menuju seseorang pria tampan yang memakai kemeja putih dan menggulung lengannya, serta menggulung celana hitamnya. Pria itu sedang berbicara dengan seseorang.


Daisy berlari dengan cepat, membuat Ben yang mendadak melihat sosok Daisy berlarian membuatnya khawatir.


Daisy melemparkan dirinya ke pelukan Ben, dan Ben menangkapnya.


"Indah sekali!!! Aku menyukainya!!! Aku mau kita menikah di sini!!" Kata Daisy.


Ben memutar tubuh Daisy dan kemudian menurunkannya.


"Pelan-pelan aku tidak mau bayinya menjadi mual karena kau berlarian seperti itu." Kata Ben.


Daisy tertawa dan malu karena ia akhirnya melihat siapa yang sedang di ajak Ben berbicara.


"Kenalkan dia adalah Daisy, istri ku." Kata Ben.


"Oh astaga... Maafkan kelancangan saya Nona Daisy." Pria itu membungkuk dan meremas topinya.


"Tapi... Siapa?" Tanya Daisy.


"Perkenalkan Nona, saya yang akan merancang pernikahan anda di sini. Nama saya Matheo."


"Matheo...?" Kata Daisy mengulangi.


"Jadi kita benar-benar akan menikah disini?" Tanya Daisy pada Ben dengan antusias.


Ben mengangguk pelan.


"Jadi kita akan menginap di sini sampai pernikahan kita." Kata Ben.


Daisy kemudian memandangi seluruh hamparan pantai berpasir putih yang indah.


"Ini surga...." Kata Daisy.


"kita ada di pulau maladewi. Apa kau suka?" Kata Ben memeluk Daisy dari belakang dengan mesra.


Matheo pun tahu diri dan meninggalkan mereka.


"Suka? Kau bercanda? Ini lebih dari kata suka. Aku benar-benar mau tinggal di sini selamanya." Kata Daisy memegang lengan kekar Ben yang memeluknya.


Ben memeluk dari belakang, dan mereka saling berciuman.


Ciuman lembut dan penuh rasa cinta, kemudian Ben melepaskan pelukan dan ciumannya, dan menghadap pada Daisy.


"Ada yang ingin ku beritahu padamu, karena aku takut kau akan terkejut. Jadi, konsep yang kau sukai sebenarnya adalah ide dari JiMi Grup, mereka memiliki perusahaan yang bergerak dalam bidang itu, apa kau tidak apa-apa?" Tanya Ben.


Senyuman Daisy menghilang. Namun akhirnya Daisy menggelengkan kepala.


"Tidak masalah, aku dan Derreck sudah berbaikan. Kami benar-benar seperti kakak dan adik." Sahut Daisy.


"Lalu... Sepertinya ada kabar yang harus kau dengar juga tentang ibumu, Beatrice."


"Kenapa... Ada apa dengannya..."


"Ibu mu mengajukan perceraian dengan Mark Waldorf." Kata Ben.


Daisy tersentak kaget, namun ia juga tak tahu harus berbuat apa. Itu adalah rumah tangga mereka. Daosy tak tahu apakah dia berhak untuk ikut campir, karena Daisy baru saja bertemu dengan mereka.


"Apa aku boleh mengundangnya ke sini sebelum acara pernikahan? Aku merasa gugup, kalau dia di sini mungkin perasaanku akan lebih baik."


"Tentu saja, ku dengan Beatrice juga sedang berada di dekat pulau Maladewi, dia memiliki perusahaan fashion dan sedang melakukan pemotretan di sana bersama para artis-artis top." Kata Ben.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2