
Flashback : Penculikan Daisy
"Seorang pria paruh baya di temukan meninggal dunia di tengah jalan, polisi menyelidiki dugaan tabrak lari, namun cctv area jalan sekitar mengalami kerusakan, tidak ada saksi mata yang melihat, dan hingga kini informasi yang kami dapat keluarga korban belum dapat di hubungi, sekian berita hari ini."
Saat itu Daisy sedang melanjutkan belajar menyulam sembari menonton televisi, meski matanya hanya tertuju pada jari dan sulaman namun telinganya mendengar berita apa yang sedang di bacakan di televisi.
"Nona Daisy ada telefon." Kata salah satu pelayan yang berlari menuju kamar Daisy.
"Telefon? Dari siapa?"
"Dari pihak kepolisian Nona." Kata pelayan dengan khawatir.
Daisy kemudian menerima telefon tersebut.
"Ya saya Daisy."
"Mohon maaf Nona Daisy, apakah benar Antonio Pablo adalah nama ayah anda?"
"Benar."
"Bisa anda ke kantor polisi, kami akan menjelaskannya."
"Tapi..." Daisy terdiam.
Ada beberapa alasan Daisy tak bisa langsung menjawab, yang pertama adalah Daisy langsung menebak bahwa ayahnya, Antonio, pasti terlibat masalah dan saat ini sedang di penjara, Daisy mengira bahwa Antonio pasti ingin meminta bantuan Daisy dan mengatakan pada polisi bahwa saat ini anaknya sedang tinggal bersama dengan Benjove.
"Dia pasti ingin menggunakanku atau menggunakan Ben sebagai penjamin kebebasan dari penjara." Kata Daisy dalam hati.
Alasan kedua yang Daisy pikirkan adalah, ia tidak bisa pergi tanpa Mena.
"Saya... Tidak mau ada hubungan lagi dengan ayah saya. Penjarakan saja dia." Kata Daisy.
"Ayah anda meninggal dunia Nona Daisy."
"Me... Meninggal...."
"Ya Nona Daisy. Saya memeriksa identitas korban, dan menghubungi pihak keluarga. Nyonya Samantha adalah istri kedua korban, tapi saya tidak dapat menghubungi beliau, Nona Ansella juga tidak dapat di hubungi, terakhir saya mencoba menghubungi anda di Kota S, namun informasi yang kami dapat bahwa anda berada di kediaman Tuan Ben. Sejujurnya, sangat susah mendapatkan nomor kediaman Tuan Ben."
"Di... Dimana sekarang dia.. Dimana ayah saya?"
"Anda harus datang ke kantor polisi, agar dapat mengambil jasad ayah anda, kami baru selesai melakukan autopsi."
"Ba... Baik. Saya akan segera datang."
Daisy memberikan telefonnya kembali pada pelayan.
"Mena apakah belum pulang?"
"Belum Nona Daisy."
Daisy menghela nafasnya.
"Mena sedang pergi mengurus kerusuhan di Kota S, katanya pemerintah sedang gencar ingin menggagalkan pembangunan rumah milik mendiang ibu ku. Seandainya aku keluar dengan para pengawal, pasti tidak akan ada apa-apa." Kata Daisy dalam hati.
"Aku akan menghubunginya." Kata Daisy.
"Tolong hubungi ponsel Mena." Pinta Daisy pada pelayan.
__ADS_1
"Baik Nona."
Kemudian sang pelayan menghubungi ponsel Mena dan terhubung.
"Halo..."
"Nona Daisy sudah tersambung..." Pelayan menyerahkan telfonnya dan di berikan pada Daisy.
"Halo Mena... Aku... Sebenarnya... Polisi baru saja menghubungi... Mereka mengatakan Ayahku... Dia meninggal, aku harus datang dan memakamkannya dengan layak, terlepas apapun yang ia lakukan padaku, pemakaman yang layak untuk orang tua adalah tanggung jawab dan tugas ku sebagai anak. Bolehkah aku pergi?"
Beberapa menit setelah Daisy mengatakan maksudnya, telefon menjadi hening.
"Halo? Mena? Apakah boleh??"
"Saya akan menanyakannya pada Tuan Ben." Kata Mena.
"Baiklah. Aku menunggu."
Mena bukannya tidak tahu tentang meninggalnya Antonio, saat itu Ben memberikan perintah menghabisi nyawa Antonio saat di depan Mena, dan para pengawal Ben telah melaksanakan tugas mereka dengan cara gelap.
Mena mulai menghubungi Ben, dan akhirnya tersambung.
"Tuan Ben, Nona Daisy tahu tentang kematian ayahnya. Saya tidak menyangka pihak kepolisian berani menghubungi ke mansion, mereka sangat gigih dan mencari informasi, saat ini Nona Daisy di minta untuk datang."
"Kau masih di Kota S?"
"Ya Tuan. Pemerintah kota S sangat alot, mereka tunduk pada pemerintah Negara K, saya menemukan fakta baru bahwa El Joa mungkin terlibat dalam aksi politik di tubuh pemerintahan, lalu untuk pembangunan rumah Nona Daisy di Kota S juga terkendala oleh pemerintah Kota S serta Negara K, saya tidak mengerti mereka selalu mengada-ada sesuatu yang tidak ada, ssperti peraturan dan lainnya."
Ben diam sejenak.
"Cari tahu siapa yang bertugas di kepolisian, singkirkan mereka semua yang berani menghubungi mansion, lalu singkirkan pihak pemerintah yang sulit di atur, bereskan mereka semua tanpa jejak, jika psrlu buang mayatnya ke laut lepas." Perintah Ben.
"Karena sudah terlanjur tahu, berikan ijin keluar untuk Daisy, dengan pengawalan." Lanjut Ben.
"Baik Tuan."
Telefon pun di tutup dan Mena menghubungi Daisy
******
Sore itu hujan rintik membasahai Kota Z, Daisy telah menyelesaikan urusannya dengan pihak kepolisian dan berhasil membawa jasad ayahnya.
Di bawah payung hitam, dan gaun hitam, Daisy berdiri di depan pusara sang ayah yang baru saja di makamkan.
"Aku sudah memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang anak, memakamkanmu dengan layak." Kata Daisy.
Suasana di pemakaman umum sangat sunyi, saat itu hujan turun semakin lebat, dan pemakaman berjalan lancar tanpa ada seorang pun pelayat. Setelah di makamkan oleh petugas makam, Daisy hanya berdiri tak bergeming di ujung pusara.
"Aku yakin kau tidak akan bertemu dengan ibu dan nenekku, karena mereka ada di surga."
Daisy menghembuskan nafasnya dan mengingat masa-masa hidupnya yang pahit dan bahkan ketika ingatannya kembali ke masa lalu itu ia ingin muntah, semua itu terjadi ketika Antonio memutuskan untuk menikah lagi.
Daisy kemudian berbalik dan ingin pulang, namun ia terkejut, para pengawalnya yang berjaga telah menghilang.
"Aa... Apa yang terjadi!!! Tidak ada suara apapun dan tiba-tiba mereka semua.... Hilang!!!" Mata Daisy membulat.
"Daisy..." Suara seorang pria membuat tubuh Daisy bergidik.
__ADS_1
"Aku kenal suara ini...." Batin Daisy dan dengam cepat memutar tubuhnya.
Itu adalah Rei Brandon.
"Aa... Apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini...."
"Itu tidak penting... Yang paling penting sekarang adalah keselematan Ben... Pria itu membutuhkanmu, Ben meminta kehadiranmu... Dia... Sekarat." Kata Rei.
"Apa!!!" Payung yang Daisy pegang terjatuh dan hujan membasahi tubuhnya.
"Ta... Tapi... Setauku kau ada di pihak musuh."
"Aku dan Ben memang bertengkar, tapi aku tidak sebodoh itu untuk memihak El Joa." Kata Rei.
Tubuh Daisy gemetaran. Wajahnya pucat pasi.
"Ayo... Ikut denganku... Daisy...." Rei mengulurkan tangannya.
"Ta... Tapi kemana para pengawal pergi?" Kata Daisy ketakutan.
"Untuk itulah aku datang, di sini sangat berbahaya!! Ayo!!! Kita harus bergegas!!!" Kata Rei meyakinkan Daisy.
Daisy dengan khawatir bercampur resah dan gelisah antara haruskah ia percaya atau tidak pada Rei Brandon, membuatnya semakin gusar.
"Percayalah padaku... Dia membutuhkanmu, dia memintamu untuk datang. Kita tak punya waktu banyak Daisy, atau mereka akan menangkapmu lebij dulu di sini dan kau kehilangan Ben selamanya." Kata Rei.
Kemudian dengan gemetar Daisy terulur maju, dan menerima uluran tangan Rei Brandon.
Dalam hati, Rei Brandon tersenyum puas.
Flashback Off
******
"Aaahh... Sayang sekali Daisy... Kau bukan yang spesial untuk Ben, sia-sia saja, aku benar-benar ingin menghancurkan hidup seorang Benjove. Tapi, di sisi lain kau benar-benar membuatku bergairah." Ucap Rei Brandon.
Ben melihat Daisy yang putus asa menundukkan kepalanya, ia menangis. Ben juga mendengar jika Daisy selalu mengumpatinya.
Ben tak punya cara lain selain mengelabui Rei Brandon. Semakin Ben menunjukkan bahwa Daisy wanita paling penting dan paling berharga untuk Ben, Rei Brandon akan semakin mempermainkan Daisy.
Semakin Ben terlihat khawatir dengan keadaan Daisy, Rei akan semakin nekat untuk menyentuh Daisy.
Karena itulah Ben dengan keras menahan dirinya agar tak bertindak impulsif, ia harus menyusun strategi untuk menyelamatkan Daisy.
Jika Ben salah langkah dan salah perhitungan sedikit saja, ia tahu nyawa Daisy taruhannya, ia tahu Daisy akan di hancurkan oleh Rei Brandon.
Berulang kali Ben meyakinkan dirinya untuk bersabar, bahwa tubuh Daisy sangat rapuh dan tidak akan kuat menahan satu peluru, bahkan hanya satu pukulan dari Rei, Daisy bisa saja kehilangan kesadaran dan nyawanya.
Meskipun Rei Brandon harus menyentuh Daisy, dan mencium Daisy, Ben harus benar-benar menekan rasa sakitnya pemandangan itu hanya agar dapat menyelamatkan Daisy tanpa terluka sedikitpun.
"Tidak ada yang perlu di lakukan di sini lagi, jika kau mau bersenang-senang bawa gadis itu ke dalam mansion. Kau bukan binatang bukan?" Kata Ben dengan santai dan semakin mendekat ke arah Rei Brandon.
"Tapi... Setelah itu... Aku punya perhitungan denganmu... Tentang kau memihak El Joa." Kata Ben dengan tatapan tajam dan menusuk.
Traver dan para pengawal juga mengikuti Ben membawa El Joa, Blaze serta Ansella, kini mereka saling berhadapan dengan Rei Brandon, sedangkan para petinggi mafia yaitu Carlos, Yamaguchi serta Rudolf dan para pengawal lainnya berada di samping mereka mengawasi dengan tegang dan bersiap setiap saat, karena keadaan selalu berubah.
Bersambung
__ADS_1