Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 137


__ADS_3

Daisy kembali berlari pada Ben dan meremas mantel Ben dengan panik.


"Ayo kita pergi Ben, jumlah mereka sangat banyak." Kata Daisy dengan mata ketakutan.


"Sayang... Dengarkan baik-baik, kau pergi bersama Traver, aku akan menyusul." Kata Ben.


"TIDAK MAU!!!" Teriak Daisy dengan mata berair.


Ben menghembuskan nafasnya pelan, mencoba menenangkan istrinya.


"BOOMMMM!!!" Terdengar suara bom lagi yang kian dekat.


Daisy mengerutkan bahu dan menutup telinganya, tubuhnya pun mulai gemetar.


Ben melihat ke arah Traver, dengan kode mata jika ia butuh waktu.


Traver pun mengerti dan Ben masuk mengajak Daisy untuk berganti pakaian.


Sedangkan di luar para pengawal sudah bersiap pada posisi masing-masing, penyerangan itu cukup mendadak, namun para pengawal Ben terlatih dan siap menerima gempuran. Mereka yakin dengan kemampuan yang mereka miliki, tak akan begitu saja menyerah dan kalah.


Di dalam kamar Daisy terburu-buru mengganti baju, hingga kakinya tersandung dan membuatnya jatuh. Saat itu Ben sedang memakai kemeja nya dan buru-buru menolong istrinya, mengangkat tubuh Daisy dan mendudukkannya di sofa.


Ben kemudian berjongkok di hadapan Daisy yang tubuhnya gemetaran seperti kedinginan.


"Sayang... Lihat aku..." Kata Ben menggenggam tangan Daisy dengan erat.


Daisy menatap wajah Ben dengan wajah pucat dan lemah, ia sangat ketakutan, bayangan dan pikirannya begitu mengerikan apalagi ia selalu dihantui mimpi-mimpi buruk tentang kematian Ben.


"Aku adalah mafia hebat, kau tahu itu kan..." Kata Ben.


Daisy mengangguk.


"Tidak hanya sekali kau ikut aku berperang, jadi kau pasti sudah tahu betapa hebatnya aku." Kata Ben mencoba menenangkan Daisy lagi.


Daisy kembali mengangguk, namun air matanya masih berlinang.


"Aku butuh ruang yang banyak, agar dapat bergerak dengan bebas, jika kau tetap di sini, aku tidak akan bisa tenang, aku akan terus memikirkan keselamatanmu, bisa kah kau pergi ke rumah orang tuamu lebih dulu dan menemui anak-anak kita? Aku janji aku akan menyusul mu." Kata Ben.


Kaki Daisy bergetar, dadanya serasa ingin meledak, dan air matanya begitu deras.


"Aku benci pekerjaanmu ini!!! Kenapa kau tidak pensiun saja!!!" Teriak Daisy.


"Meskipun aku menyatakan pensiun, para musuhku justru akan lebih giat menyerang." Kata Ben.


Daisy menggigit bibir bawahnya.


"Aku akan memukulmu dan memarahimu jika kau terluka!! Jika kau tidak kembali untuk menemui anak-anakmu, aku akan menyusulmu dan mati bersama!!!" Kata Daisy.


Ben dengan cepat mencium bibir Daisy dan melumaatnya.


Setelah cukup lama Ben melepaskannya.

__ADS_1


"Cukup pikirkan hal-hal bahagia, itu akan membuatku lebih senang." Kata Ben mengelus kepala Daisy pelan.


"Janji padaku..."


"Aku janji sayang." Kata Ben tersenyum.


Ben dan Daisy pun kembali menyelesaikan berpakaian mereka, dengan sigap Ben mengambil pistolnya dan memutar silindernya memasukkan peluru-peluru ke dalamnya.


Daisy menatap tegang, ia melihat punggung besar Ben, seolah-olah ia akan kehilangan Ben, dengan cepat Daisy berlari dan memeluk Ben dari belakang.


Ben pun menaruh pistolnya di atas meja dan memutar tubuhnya lalu memeluk Daisy.


"Pergilah dengan Traver, dia ada di depan." Kata Ben.


Dengan berat hati, Daisy melepaskan pelukan Ben, dan berjalan keluar dari kamar, di susul oleh Ben sembari memasukkan pistolnya di pinggang.


Traver masih berdiri menunggu di depan kamar.


"Bawa istriku pergi, bawa pengawal sebanyak mungkin, tinggal kan beberapa di sini."


"Tapi Tuan... Anda juga butuh pengawal dengan jumlah banyak di sini, karena Paulo Redges membawa pengawalnya yang berjumlah 500 orang." Kata Traver.


"Bantuan akan segera sampai." Kata Ben.


"Mari kita bagi dua saja." Kata Daisy menyambung.


"Tidak, keselamatanmu lebih penting, bawa sebanyak pengawal yang ada di sini, bantuan akan segera datang."


"Kau meragukan ku Traver?" Kata Ben dingin.


"Tidak tuan... Tapi..."


"Sampai mana penerbangan Mena." Bantah Ben.


"Sejam lagi Tuan."


"Kau sudah kabari Mena tentang penyerangan ini?" Tanya Ben.


"Sudah Tuan, Mena membawa para pengawal dan persenjataan."


"BOOOOMMMMM!!!" Terdengar lagi suara yang menggelegar semakin dekat.


Suara mengerikan itu membuat Daisy semakin ciut.


"Bawa Daisy sekarang juga sebelum bandara di runtuhkan." Kata Ben.


"Baik Tuan."


Bukan hanya Paulo Redges, namun di pihak Ben pun juga melayangkan serangan misil rudal, namun begitu banyak kapal yang berlayar.


Ternyata kapal-kapal yang berlayar itu tak berpenumpang, itu adalah pengelabuan yang begitu cerdas.

__ADS_1


Ben mengantar Daisy menuju mobil yang akan membawanya, mereka berpelukan dan saling berciuman.


Setelah Traver membawa Daisy pergi Ben kemudian menemui para pengawalnya.


"Tuan Ben kita menyerang kapal kosong tak ada siapapun, sepertinya kapal-kapal itu di gerakkan dengan otomatis dari jarak jauh." Kata salah satu pengawal.


"SIUUUUUWWW BOOOOMMM!!!" Sebuah boom kembali menghujam pantai.


"Sialan, dia menghancurkan pulau maladewiku." Kata Ben marah dan emosi.


"Tuan... Apa rencana kita." Tanya salah satu pengawal.


"Pengawal tidak cukup untuk di pecah, dan bantuan akan tiba dalam 1 jam lagi, jadi mari kita bertahan sebisa mungkin, jika ada kesempatan menyerang kita akan menyerang sampai ada tanda-tanda manusia dari pihak Paulo Redges."


"Baik Tuan Ben."


Di sisi lain, dalam perjalanan, mobil yang membawa Daisy terus melaju dengan kecepatan penuh, debu-debu aspal mengepul memenuhi jalanan ketika mobil-mobil beriringan dan berurutan melaju dengan cepat.


Semua nya bergegas membawa Daisy pergi dari pulau Maladewi.


Namun sayangnya ketika Daisy hampir sampai di bandara, sebuah bom terlihat menargetkan bandara.


"Tuan Traver kita harus berhenti dan mundur...!!!" Teriak salah satu pengawal.


"SIUUUUUWWW BOOOOMMM....!!!"


Boom meluluh lantakkan bandara, dan kemudian Traver melindungi Daisy yang sedang meringkuk di dalam mobil.


Asap tebal langsung mengepul dan menerjang mobil mereka dengan kecepatan yang sangat mengerikan dan tekanan yang panas.


Mobil-mobil mereka pun seperti akan terbalik, namun untungnya semua bisa selamat.


Di sisi yang lain, Ben melihat misil dan Bom yang di jatuhkan ke bandara, dan langsung menghubungi Traver, karena Ben tahu ada bidikan dari sebuah kapal yang akan menembakkan lagi misil dan bom ke sana.


Saat Traver menekan tombol headpglhon di telinganya, Ben langsung memberikan perintah.


"Kembali!!!" Perintah Ben.


Traver sendiri langsung sigap, dan mengambil alih di depan, ia mendorong sang sopir ke samping dan kemudian menyetir mobilnya memutar nya kembali.


"Berikan peritah pada semuanya kita harus kembali!!!" Kata Traver.


Kemudian pengawal yang ada di sebelah Traver menggunakan headphone nya dan memberitahukan pada mereka harus kembali.


Namun ketika mobil yang membawa Daisy sudah melaju pergi, boom jatuh di belakang mobil Daisy dan mengenai para mobil pengawal.


"DUUUUAAARRRRR!!!" Mobil-mobil pun berterbangan melambung tinggi dan membuat pemandangan mengerikan, api berkobar besar, dan menjilat-jilat seolah kelaparan dan ingin memakan atau membakar yang ada di sekitar.


Daisy menengok kebelakang dan melihat pemandangan yang menakutkan itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2