
Ke esokan hari nya, Aliya berniat untuk pergi melihat universitas yang mau dia pilih bersama dengan Siska.
Aliya sudah sangat cantik sekali, dia pun langsung pergi ke meja sarapan. Dan ternyata di sana sudah ada Miranda yang sedang menunggu nya.
Aliya langsung duduk dia bersikap datar seperti biasanya, tapi Miranda menyapa dengan senyuman dan membuat Aliya merasa Aneh.
"Kamu mau pergi ke mana sekarang,? kamu sudah rapih dan cantik se pagi ini."
Aliya pun langsung memandangi wajah Mama nya yang tiba-tiba berubah bisa tersenyum manis kepada nya.
"Aku sekarang akan pergi bersama dengan Siska untuk melihat Universitas yang akan kita pilih. Tapi sebelumnya aku aku pergi untuk bertemu dengan Papah dulu untuk minta ijin dan meminta doa, walaupun dia sudah tidak ada tapi aku yakin di pasti mendengarkan semua ucapan kuu ini."
Miranda merasa tersinggung ketika dirinya sudah lama tidak pergi ke pemakaman almarhum suaminya.
"Hmmmmmm, yasudah kalau begitu bareng dengan Mama sekarang bagaimana sebelum Mama pergi ke kantor."
__ADS_1
Aliya pun menyelesaikan makanan nya, dia pun langsung berdiri dari tempat duduk nya dan langsung bersiap untuk pergi bersama dengan Mama nya.
Sungguh pemandangan yang sangat langka, Aliya tidak tahu sampai betahan berapa jam atau berapa menit Mama nya kembali marah-marah kembali.
Miranda menyuruh supir pribadi nya untuk mengikuti nya, karena akan mengantarkan Aliya bersama dengan Siska pergi ke Universitas.
Aliya memilih untuk duduk di belakang tapi Mama nya membuka kan pintu depan mobil nya, yang membuat Aliya terpaksa mengikuti apa yang di inginkan oleh Mama nya.
Setelah Aliya duduk dan Miranda menjalankan mobilnya dia pun berbasa-basi bertanya tentang Fabian kepada Aliya.
Pertanyaan Miranda membuat Aliya merasa di rendahkan oleh Mama nya sendiri.
"Maksud Mama apa,? melakukan apa.?
Aliya berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh Mama nya.
"Hmmmmm, maksud Mama selama kamu pergi dari rumah. Kamu kan selalu di selamat kan oleh Fabian, apa sikap Fabian kepada kamu atau sikap dia tidak sopan."
__ADS_1
Aliya pun langsung tersenyum tipis sambil memandangi wajah Mama nya.
"Kak Fabian tidak pernah menyentuh aku sama sekali, karena mungkin dia tahu jika aku bukan wanita murahan. Dan aku pun bukan wanita yang cepat memberikan seutuhnya kepada lelaki yang belum tentu menjadi suaminya, karena itu sangat murahan sekali."
Miranda merasa sangat malu sekali mendengar perkataan putri nya tersebut, karena dia merasa sudah menyerahkan semuanya untuk Fabian selama mereka bersama.
"Hmmmmm, baguslah kalau begitu. Kamu menjaga nama baik keluarga kita."
Mereka pun sampai di tempat pemakaman umum, seperti biasanya mereka memberli bunga mawar dengan dua warna putih dan merah.
Aliya berjalan lebih dahulu dia sampai dan langsung membersihkan batu nisan yang tertulis nama Papa nya.
"Pap, hari ini aku mulai mencari universitas yang mau aku pilih. Ini adalah pilihan aku Pap semoga saja selalu bisa mendukung ku walaupun apapun pilihan kuu."
Aliya pun langsung menaburkan bunga, dan berdoa untuk Papa nya, Aliya memilih langsung pergi dan meninggalkan Mama nya yang baru saja sampai.
"Aku pergi duluan ya Mam, Mama bisa meluapkan semua isi hatinya sepuasnya."
__ADS_1