
Irfan pun langsung membuka pintu mobil nya, dia meminta pertolongan kepada para pegawai yang ada di rumah mewah itu.
"Saya rasa tugas saya sudah selesai, saya pamit pergi dulu yaa. Miranda semoga kamu bisa cepat pulih kembali."
Irfan pergi dari rumah Miranda dia mencari taksi untuk dia pulang ke Apartemen nya, Irfan masih saja tidak menyangka dengan kejadian malam ini.
Irfan membuka pintu Apartemen nya dengan sangat lemas sekali dia pun langsung pergi menuju ke kamar nya, dan berbaring sambil mengingat kembali kejadian tadi malam.
"Bagaimana ini Aliya pasti menyangka jika aku mempunyai hubungan spesial dengan Ibunya, sedangkan hal yang sebenarnya terjadi adalah Fabian dan Miranda yang mempunyai hubungan spesial."
Irfan merenungkan pikiran nya, karena sekarang Aliya pasti semakin membenci Miranda. Irfan akan mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada Aliya.
Irfan mencoba untuk menghubungi nomer handphone Aliya, Aliya mengabaikan panggilan telephone tersebut dia berpikir jika itu adalah panggilan telephone dari Mama nya.
__ADS_1
Karena panggilan telephone yang terus menerus tidak berhenti, Aliya pun akhirnya mengambil handphone dan dia pun langsung terkejut ketika Irfan yang menghubungi nya.
Aliya pun menjawab panggilan telephone tersebut, tapi dia hanya terdiam mendengar suara Irfan.
*Hallo Aliya cantik, kamu baik-baik saja kan. Om hawatir sekali dengan keadaan kamu sekarang, Aliya kamu jangan salah paham dengan apa yang sudah kamu lihat tadi yaa. Om Irfan tidak ada hubungan apapun sama Mama kamu Miranda kita hanya berteman saja, dan Om Irfan mohon sekali kamu jangan marah yaa sama Mama kamu.*
Setelah mendengar perkataan dari Om Irfan, Aliya langsung mengakhiri panggilan telephone tersebut dia langsung histeris kembali menangis dan membuat Fabian pun seketika langsung berlari masuk ke kamar Aliya.
Fabian langsung mengambil handphone yang di lemparkan oleh Aliya, Fabian mengecek panggilan yang masuk dan ternyata dari Irfan.
Fabian mengajak Aliya untuk duduk dan mengelus rambut panjang nya, Aliyaa masih saja menangis.
__ADS_1
"Apa yang di katakan oleh lelaki itu,? sampai membuat kamu seperti ini."
Fabian menghapus air mata Aliya yang terus mengalir deras di pipi nya.
"Om Irfan bilang dia tidak punya hubungan yang spesial dengan Mama, dan dia bilang aku nggak boleh marah sama Mama."
Fabian merangkul Aliya sehingga Aliya bisa bersandar di bahu nya.
"Kan Kakak sudah bilang lupakan walaupun itu susah, karena tidak mungkin mereka berdua mengakui hubungan mereka berdua jadi mulai sekarang kamu lupakan dan buka lembaran baru karena sekarang kamu juga harus fokus dengan kuliah kamu Aliya."
Aliya terbangun dari sandaran hangat Fabian, dia memandangi wajah Fabian.
"Kak aku ingin kuliah kedokteran, aku ingin bisa menjadi seorang Dokter Specialis Anak atau Kandungan itu masih aku pikirkan sekarang dan aku akan tinggal di rumah yang sudah di sewakan itu."
__ADS_1
Ketika Fabian mendengar perkataan Aliya yang ingin menjadi seorang Dokter Specialis, Fabian pun kembali teringat kembali dengan keluarga nya yang menginginkan nya bisa menjadi seorang Dokter Specialis seperti Ayah dan Kakak perempuan, tapi Fabian memilih untuk pergi dari rumah nya dan memilih untuk menjadi seorang pembisnis hebat.
"Kak Bian, pasti dukung terus Aliya apapun itu Kak Bian pasti ada di samping Aliya.