
Aliya mulai mencurigai Mama nya sedang dekat dengan seseorang, dan dia pun langsung berpikir jika bucket mawar merah itu dari Lelaki tersebut.
Aliya bersiap untuk berangkat sekolah di perjalanan dia terus memikirkan Mama nya.
"Apa Mama sudah mendapatkan pengganti Papa, siapa yaa lelaki itu nama nya Fabian. Aku harus mencari tahu siapa Fabian itu."
Aliya tidak biasa nya dia diam merenung di dalam kelas, Siska merasa heran dengan tingkah laku Aliya dari pagi sampai pelajaran berakhir.
"Al, kamu kenapa ko diem aja sih kamu di tolak yaa sama Om Irfan ? apa Om Irfan itu bohongin kamu ternyata dia sudah punya anak dan istri yaa."
Siska mendekati sahabat nya itu, dia sangat hawatir sekali Aliya yang baru merasakan jatuh cinta harus merasakan para hati dengan begitu cepat.
"Ini nggak ada hubungan sama Om Irfan, ini tentang Mama Miranda. Lebih baik kita ngobrol di depan gerbang sekolah aja yaa terus kita main ke rumah aku yaa."
Tatapan wajah Aliya begitu sangat sedih sekali membuat Siska pun mengikuti apa yang di katakan oleh Aliya.
__ADS_1
"Lebih baik kita ngobrol nya di kamar kamu aja Al, jangan di depan gerbang sekolah ini kan udah waktunya kita pulang sekolah."
Mereka pun menunggu jemputan pribadi Aliya, dia masih saja kelihatan sangat sedih membuat Siska semakin bertanya-tanya.
Di perjalanan menuju ke rumah nya pun, mereka tidak saling mengobrol sampai akhirnya sampai di depan rumah mewah nya dan mereka langsung masuk ke dalam kamar nya.
"Ayo Al ceritakan semuanya sama aku, sebenarnya ada apa ini coba jangan bikin aku hawatir."
Aliya pun langsung memeluk Siska dengan sangat erat sekali.
"Tadi pagi aku mendengar suara Lelaki di handphone Mama, nama nya Fabian seperti nya dia sangat akrab sekali dengan Mama dan aku rasa mereka mempunyai hubungan yang spesial."
"Terus kenapa kamu harus sedih, yaa bagus donk berarti akan ada sosok yang bertanggung jawab di keluarga kamu dan Mama kamu nggak harus cape-cape lagi untuk berkerja keras."
Mendengar perkataan Siska, Aliya langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali.
__ADS_1
"Ahhhhhh, aku merasa dia seperti bukan lelaki yang baik untuk Mama. Ntah lah ketika aku mendengar suara nya aku langsung nggak suka langsung."
Siska memegang tangan Aliya dan tersenyum.
"Aliya sebelumnya aku minta maaf yaa, apapun pilihan Mama kamu itu pasti yang terbaik Mama Miranda nggak mungkin salah milih seseorang untuk pendamping hidup nya dan juga untuk jadi Papa bary untuk kamu."
Aliya hanya bisa terdiam dia tetap saja cemberut seperti tidak terima jika Mama nya memiliki seorang yang spesial.
"Tapi kalau itu terjadi aku belum bisa menerima kehadiran lelaki lain rumah ini selain Papa aku, aku belum bisa sis."
Siska pun langsung mengelakkan nafas panjang nya.
"Aliya bukan kah sekarang kamu ini pun sedang menyukai seseorang lelaki yang umurnya lebih tua dari kamu bahkan mungkin lebih pantas dari Papa kamu, aku nggak yakin loh Al Mama kamu bisa menerima kehadiran Om Irfan jika sampai kamu bisa jadi pacar nya Om Irfan."
Aliya langsung menatap sinis wajah Siska dia seperti tidak suka dengan perkataan Siska tersebut.
__ADS_1
"Aku yakin ko Mama pasti sangat suka sekali kalau aku ini punya pacar seperti Om Irfan, dia ganteng dan sudah sangat mapan sekali dalam hal finansial."
Tampa Aliya sadari ke egoisan yang di lakukan terhadap dirinya sendiri.