
Aliya dan Siska pun langsung berjalan menuju ke mobil nya.
"Al, kamu malam ini tidur di rumah aku aja yah. Lebih baik kamu jangan dulu pulang ke rumah karena aku sangat takut Mama kamu masih emosional sekali sama kamu."
Siska benar-benar menghawatirkan kondisi Aliyaa.
"Aku pulang ke rumah sekarang Siska, aku tidak peduli Mama akan bersikap kasar pun. Aku bertahan sampai saat nya aku pergi untuk mandiri ketika aku kuliah nanti."
Tatapan mata Aliyaa hanya tertuju pada Foto Almarhum Papa nya, Aliya terus memandangi foto Papa nya seperti memberintikan semangat baru untuk nya.
Aliya mengantarkan Siska terlebih dahulu, Siska pun turun dari mobil Aliya hati nya begitu sangat hawatir sekali dengan Aliyaa.
"Al, pokoknya kapan pun kamu mau datang ke rumah aku pasti pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu yah."
__ADS_1
Mendengar perkataan Siska yang begitu besar perhatian nya membuat Aliya seperti tidak sendirian dia masih memiliki sahabat yang begitu sangat sayang kepada nya.
"Terimakasih banyak Siska, kamu baik sekali sama aku. Aku pulang dulu yah Siska aku pasti akan baik-baik saja dan bahagia."
Aliya melambaikan tangan nya sambil tersenyum manis kepada Siska, Siska membalas senyuman manis tersebut.
Biasanya di saat seperti ini Aliya pasti datang ke Restoran Om Irfan, tapi sekarang dia tidak bisa kembali ke Restoran tersebut.
Supir pribadi Aliyaa melihat Aliyaa yang melamun dengan tatapan mata yang kosong, supir pribadi tersebut berniat untuk menghubungi Fabian ketika sudah sampai rumah.
Kedatangan Aliyaa di sambut senyum ceria oleh para pegawai nya, Aliya pun hanya terdiam dan menundukan kepalanya di saat dia berjalan.
Aliya melihat rumah yang sangat sepi sekali, karena ini belum waktunya untuk pegawai di perusahaan Mama nya pulang.
__ADS_1
Aliya memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar nyaman nya, dia pun mengunci pintu kamar nya dan langsung naik ke tempat tidur nya.
Aliya menarik selimutnya dia berharap di saat dia beristirahat maka semuanya yang sedang dia rasakan sekarang adalah sebuah mimpi dan hanya mimpi.
Di saat Aliyaa sedang beristirahat di kamar mewah nya, Miranda masih berada di Apartemen itu.
Dia seperti orang yang despresi berat, dia menangis kencang dan teriak-teriak sambil melempar benda-benda yang ada di sekitarnya.
Melihat kondisi Apartemen nya yang sudah tidak berwujud seperti baru terkena angin topan yang kencang.
Miranda memutuskan untuk pergi dari Apartemen tersebut, dia merasa masih belum puas untuk melampiaskan kekesalannya terhadap perubahan sikap Fabian terhadap nya.
"Aku harus kemana yah, apa aku harus pergi kembali ke Restoran milik Irfan. Setelah kejadian malam itu pasti mereka banyak yang mengenali wajah aku, tapi aku binggung sekali harus pergi ke mana lagi."
__ADS_1
Miranda keluar dari Apartemen nya, dia berjalan seperti orang yang sudah kehilangan arah dan tujuan hidup nya.
Miranda masuk ke dalam mobil nya, dan menjalankan mobilnya dengan kondisi yang tidak fokus. Sakit di kepalanya tiba-tiba saja kambuh dan membuat pandangan Miranda menjadi buram saat menjalankan mobilnya tersebut tapi Miranda terus memaksa walaupun itu sangat bahaya untuk keselamatan dirinya.