Wanita Kesepian (Pecinta Brondong)

Wanita Kesepian (Pecinta Brondong)
Episode (111)


__ADS_3

Ketika Miranda sedang berhayal masa depan indah dengan kesuksesan yang raih oleh Aliyaa.


Fabian mengejar Aliyaa yang tiba-tiba meninggalkan nya begitu saja, Fabian memegang erat tangan Aliya dan membawa nya ke suatu tempat.


"Ayolah kamu duduk yah, Al kamu sekarang sudah tau kan semuanya. Dan Kakak harap kamu jangan lagi menemui Om Irfan karena itu cuma bikin kamu sakit hati saja, mulai sekarang lupakan Irfan, tapi bukan berarti kamu memusuhi dia tapi kamu bisa anggap Om Irfan itu adalah teman baik yang istimewa."


Aliya yang sudah merasa bosan harus selalu seperti ini pun memilih untuk pergi meninggalkan Fabian.


"Aku mau pulang saja yah Kak, aku pusing sekali Kak rasanya."


Aliya pun berjalan menuju ke mobil nya, dia duduk dan langsung meminta supir pribadi nya untuk menjalankan mobilnya.


"Pak, aku ingin pulang saja. Aku mau belajar agar aku lulus mendapatkan beasiswa untuk kuliah kedokteran."


Supir pribadi pun mengikuti apa yang di katakan oleh Aliyaa.


"Seperti nya aku nggak harus menceritakan ini semua nya kepada Siska, yang ada dia bosan dengan cerita ku ini yang selalu membahas tentang Om Irfan."


Aliya pun seakan berpikir keras dia harus lulus dan mendapatkan beasiswa itu, karena dia tau Mama nya tidak akan setuju dengan apa yang dia rencana sekarang.


Sesampainya di rumah Aliyaa langsung masuk ke dalam kamar nya, dia langsung fokus menyala kan laptop nya.


"Aku harus lulus aku harus dapat kan beasiswa ini, aku harus fokus dan fokus."


Aliya terlihat sangat bersungguh-sungguh sekali dalam belajar, dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk belajar.


***


Fabian kembali ke ruangan nya, dia melihat Miranda yang seperti sedang berhayal sambil tersenyum.


"Seperti nya dia sedang berhayal di kelilingi para berondong, semoga saja dia bisa secepatnya mendapatkan brondong kembali agar bisa terbebas dari bayang-bayang Miranda."


Melihat Fabian yang sudah datang kembali ke ruang nya, Miranda pun memilih untuk kembali datang ke ruangan Fabian.

__ADS_1


Dia benar-benar jatuh cinta kepada Fabian tidak peduli Fabian selalu berkata kasar kepada nya.


Melihat Miranda yang keluar dari ruangan, Fabian langsung menutup rapat pintu.


Tapi Miranda tetap membuka kan pintu tersebut, dan masuk kembali untuk menemani Fabian.


"Miranda, apa yang kamu lakukan ini kenapa hari ini kamu menghampiri ke ruangan ini. Kamu tidak sadar ruangan yang di penuhi dengan kaca transparan membuat orang-orang bisa melihat keberadaan kita di dalam."


Miranda tidak mempedulikan kata-kata Fabian dia tetap mendekati Fabian, dia seperti tidak memperdulikan perkataan para pegawai nya yang lain.


Melihat Miranda yang terus-menerus mendekati nya, Fabian memilih untuk pergi dari ruangan nya dan meninggalkan Miranda sendiri di ruang nya.


"Dasar, Tante-tante gatal."


Fabian mendorong tubuh Miranda sampai dia terjatuh ke lantai, Miranda pun langsung berteriak ketika mendapatkan perlakuan kasar dari Fabian.


"Ahhhhhhh, Fabian kenapa dia jadi seperti ini. Dia jadi kasar sekali sikapnya. Apa dia sudah tidak tergoda lagi dengan aku sekarang. Apa benar sekarang Fabian sudah mendapatkan wanita lain yang lebih kaya."


Miranda pun mencoba untuk terbangun dengan sangat hati-hati sekali, dia memegang punggung nya yang seperti patah.


Miranda duduk di kursi nya, dia mulai merencanakan sesuatu agar Fabian bisa kembali kepada nya.


Dia mengirimkan uang 100 juta, kepada no rekening Fabian. Karena dia sangat yakin dia harus mulai memanjakan Fabian seperti dulu lagi.


Fabian yang sedang berada di luar pun langsung terkejut ketika handphone bergetar dan membuka pesan yang isi nya bukti transfer an dari Miranda.


"Apa maksud nya Miranda transfer uang 100 juta ke rekening ini, Dia mulai ingin seperti dulu lagi mencoba merayu dengan uang-uang nya."


Fabian mengabaikan pesan dari Miranda, dia memilih untuk pergi dari kantor nya. Dia tidak mau melihat kembali wajah Miranda.


Miranda terus menunggu balasan dari Fabian, dia membuka kembali handphone nya tapi nggak ada jawaban dari Fabian.


"Fabian sudah membaca pesan dari aku, tapi kenapa dia tidak membalas nya. Apa mungkin uang ku ini tidak seberapa banyak dari yang wanita lain berikan kepada Fabian.

__ADS_1


Miranda mulai was-was sekali karena dia merasa mempunyai saingan dalam mendapatkan hati Fabian.


"Aku nggak boleh kalah saing dengan wanita baru Fabian, aku harus cari tahu segera siapa wanita yang mampu mengambil hati Fabian dari pelukan ku ini."


Miranda mulai memikirkan kembali bagaimana cara nya, agar Fabian kembali ke pelukannya.


Fabian seperti kehilangan arah dia akan pergi ke mana, karena tidak mungkin dia pergi ke rumah Aliyaa dengan kondisi dia yang sudah menjadi asisten pribadi Miranda.


Apalagi ini adalah jam kantor yang seharusnya dia sedang berkerja bukan keluar kantor.


"Pergi ke mana yah, binggung tapi kangen banget sama Aliyaa."


Fabian memberhentikan mobilnya di dekat rumah Aliyaa, dia memegang terus handphone nya.


"Telephone jangan yah Aliyaa, dia pasti ada di rumah ini."


Akhirnya Fabian pun mulai memberanikan diri untuk menelephone Aliyaa.


Aliya yang sedang fokus belajar mendengarkan deringan handphone yang tidak berhenti-henti, dia lupa tidak menonaktifkan handphone sebelum belajar.


"Siapa yah yang telephone aku ini, mengganggu sekali. Pasti deh dari Siska kalau sampai Siksa yang telephone bisa gagal nih belajar nya."


Aliya langsung mengambil handphone dan ternyata itu bukan dari Siska tapi Fabian, Aliyaa pun langsung menjawab panggilan telephone tersebut.


*Hallo Kakak ada apa yah, kok bisa telephone aku . Ini kan jam kerja di kantor setelah jam istirahat.*


*Iyaaa Aliyaa hehe, ini Kakak lagi di toilet kantor. Soalnya Kakak sangat hawatir sekali sama kamu Al, kamu baik-baik saja kan?.*


*Aku baik-baik saja kok Kak, sekarang aku lagi belajar test. Untuk mendapatkan beasiswa karena aku tahu Mama nggak mungkin mau mengurus administrasi nya, apalagi dengan jurusan yang aku ambil sekarang Kak. Yang ada Mama pasti marah besar, makanya sekarang aku lagi berjuang mendapatkan beasiswa itu.*


*Hmmmmmm, semangat terus yah Aliyaa. Demi mengejar cita-cita kamu itu. Kak Bian janji akan bantu Aliyaa, walaupun nanti misalnya kamu gagal, Kak Bian janji akan berjuang keras untuk bisa membiayai kuliah kamu sampai kamu lulus dan menjadi seorang Dokter Specialis yang hebat.*


*Yaa Ampuun Kak, terimakasih banyak yah. Kakak baik banget sama aku, tapi aku janji aku akan terus berjuang demi mendapatkan beasiswa itu Kak.*

__ADS_1


*Yasudah, berjuang terus yah. tapi ingat kamu itu nggak sendirian, masih ada Kakak di saat Mama kamu tidak peduli sama kamu*


__ADS_2