
Miranda merasa sangat lelah sekali dengan apa yang dia rasakan selama ini, dia merasa semakin dia ingin memisahkan Aliyaa dan Fabian semakin banyak orang-orang yang membela Aliya.
"Kenapa Nadia sampai mempunyai pikiran untuk mengadopsi Aliyaa, apa yang membuat Nadia ingin memiliki Aliyaa."
Miranda masuk ke dalam mobil nya dia berniat untuk pergi ke rumah nya.
Miranda mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang rendah sehingga dirinya bisa sambil memikirkan perkataan Dokter Nadia dan juga Rendy.
"Tadi Rendy datang dan mencurigakan aku, bagaimana jika Rendy mengatakan ini semua kepada Kania. Hmmmmm bisa habis aku di bully oleh nya."
Miranda seperti kehilangan arah dia harus pergi ke mana.
"Cinta ku yang begitu sangat besar sekali kepada Fabian bisa membuat aku hilang seketika rasa sayang ku kepada Anak kandung kuu sendiri."
Miranda memberhentikan mobilnya dia memegang kepala nya yang mulai merasakan pusing yang luar biasa.
Miranda mencoba untuk beristirahat di jalan tersebut sambil memegang kepala nya yang luar biasa sakit sekali.
"Ahhhhhh, kenapa dengan kepala kuu ini yang mendadak sakit luar biasa sekali."
Miranda mencoba untuk mengambil handphone nya dia mencoba untuk menghubungi nomer yang ada di handphone nya.
__ADS_1
Tapi ternyata Miranda menghubungi nomer handphone Fabian.
Di saat Fabian dan Aliya sedang membicarakan masa depan nya, handphone nya langsung berdering kencang sekali.
Mata Aliya langsung tertuju pada handphone Fabian.
"Itu handphone nya berdering kencang sekali cepat jawab panggilan telephone nya, mungkin itu sangat penting sekali."
Fabian hanya terdiam dia merasa sangat kesal dengan Aliyaa yang tidak mau menikah muda dengan dia.
"Biarlah tidak penting, yang lebih penting kamu harus mau menikah dengan kuu."
Fabian masih saja membicarakan tentang rencana pernikahan yang di saran kan oleh Dokter Nadia.
Fabian tetap bersikap dingin dia terus saja memandangi wajah Aliyaa.
Fabian ingin Aliyaa menyetujui rencana pernikahan mereka.
"Kamu mau kan Aliyaa menikah dengan kuu, menikah muda dengan kuu."
Fabian terus saja mengatakan hal tersebut kepada Aliya.
__ADS_1
Aliya yang merasa kesal dia pun langsung mengambil handphone Fabian.
Dan Aliyaa melihat ternyata Mama nya yang menelephone Fabian.
Seketika Aliyaa pun langsung terdiam dan memandang sinis wajah Fabian.
Aliya pun langsung menjawab panggilan telephone tersebut tampa dia berkata-kata.
*Ahhhhhh, Fabian tolong aku sayaaaaang. Kepala kuu tiba-tiba pusing begini. Sekarang aku berada di jalan yang tidak jauh dari perusahaan kita berdua, aku mohon sayaaaaang tolong aku.*
Seketika wajah Aliyaa langsung memerah ketika mendengar Mama nya menyebutkan kata sayang kepada kekasih nya.
Aliya langsung memandangi wajah Fabian dengan wajah yang memerah menahan rasa kesal nya.
Fabian pun seketika langsung panik sekali ketika melihat wajah Aliyaa yang memerah.
"Aliya sayaaaaang kamu kenapa kamu marah sama aku memang siapa yang menelephone itu."
Fabian terlihat sangat ketakutan sekali dia tidak pernah melihat wajah Aliyaa seperti itu.
Fabian merasa di posisi yang serba salah dia pun mencoba untuk mengambil handphone nya tapi Aliyaa tidak memberikan nya.
__ADS_1
*Ini aku Aliyaa Mam, aku juga di sini sedang kesakitan sekali tapi sayang nya aku tidak kegatelan seperti Mama yang menyebut kata sayang kepada kekasih anak nya sendiri."
Aliya langsung mengakhiri panggilan telephone dia melempar kan handphone ke arah wajah Fabian.