
Setelah mereka selesai bercerita mereka berdua pun memutuskan untuk pulang.
Di dalam mobil Siska bertanya kepada Aliyaa tentang beasiswa nya itu.
"Al, bagaimana dengan beasiswa kamu itu apa sudah ada kabar nya?"
Aliya terlihat sangat sedih sekali ketika mendengar pertanyaan itu.
"Aku belum dapat kabar dapat atau belum nya, tapi aku berharap besar sekali aku bisa dapat beasiswa itu."
Siska pun memeluk Aliyaa memberikan semangat untuk Aliyaa.
"Kamu yang sabar yaa Aliyaa, aku yakin kok kamu pasti bakalan dapat beasiswa itu."
Handphone Aliyaa tiba-tiba berdering kencang sekali.
Ketika Aliyaa melihat ternyata itu panggilan telephone dari Fabian.
"Kak Bian telephone aku Sis."
Siska pun langsung tersenyum manis.
"Ayooo cepetan jawab telephone nya."
Aliya pun langsung menjawab panggilan telephone dari Fabian.
***Hallo Kak Fabian, ada apa yaa Kak telephone aku.
*Aliya kamu sedang di mana,? bagaimana kalau hari ini kita pergi bersama bisa**?.
__ADS_1
Aliya langsung berbisik ke telinga Siska.
"Kak Bian, ajak aku pergi sekarang."
Siska langsung menggangukan kepalanya berkali-kali.
"Jawab saja iyaaa Aliya Mutiara."
...***Hmmmm, boleh Kak. Nanti kita ketemuan di depan rumah Siska saja yaa Kak....
*Oke baiklah, Kakak menuju ke sana sekarang yaa**.
"Hahhhhh, bagaimana ini aku harus ganti baju dong. Aku harus cantik."
Siska langsung terkejut ketika melihat tingkah laku Aliyaa yang berubah.
"Al, biasa juga kamu nggak sesibuk ini deh. Kalian kan cuman mau main."
"Kenapa yaa Al, aku jadi begini semenjak ucapan kamu tadi di restoran. Bagaimana kalau Kak Bian punya perasaan sama aku jadi aku begini deh."
Siska pun tidak kuasa menahan rasa tawa nya, dia semakin yakin jika Aliyaa memang sudah memiliki perasaan dengan Fabian.
"Pak, aku juga ikut turun yaa di Rumah Aliyaa. Nanti aku pulang nya mungkin bersama dengan Kak Fabian."
Pak Denies memberhentikan mobil nya tepat di depan pintu gerbang rumah Siska.
"Hati-hati yaa Nona Aliyaa."
Ucap Pak Denies yang begitu sangat perhatian sekali kepada Aliyaa.
__ADS_1
"Iyaa Pak Denies, aku akan berhati-hati."
Pak Denies pun langsung meninggalkan Aliyaa dan Siska.
"Sis, kamu di sini dulu yaa. Sampai Kak Bian datang temenin akuuuuu."
Aliya memeluk erat tangan Siska agar dia tidak pergi dan tetap duduk bersama dengan nya menunggu kedatangan Fabian.
"Lama sekali Kak Bian yaa, apa dia cuma bohongan sama aku."
Aliya terlihat sangat tidak sabar sekali menunggu kedatangan Fabian.
"Sabar deh Al, mungkin Kak Fabian pergi dulu ke salon perawatan dulu."
Tidak lama kemudian Fabian pun datang, Aliya tiba-tiba langsung merasa gugup sekali tidak seperti biasa nya.
Aliya memegang erat tangan Siska, tangan Aliyaa begitu sangat dingin sekali dan berkeringat.
"Aliyaaaaaaa, kamu kenapa ? ko jadi begini sih."
Aliya hanya terdiam saja membuat Siska menjadi sangat hawatir sekali.
"Maafkan yaa Aliyaa menunggu lama, tadi di jalan nya macet ada kecelakaan."
Aliya masih saja terdiam dan membuat Fabian pun ikut terdiam juga.
Siska melepaskan genggaman erat tangan Aliyaa.
"Sudah lebih baik kalian langsung pergi saja yaa, bye-bye semua nya."
__ADS_1
Siska langsung meninggalkan mereka berdua dan berlari menuju ke dalam rumah nya.
Fabian merasa sangat kebingungan sekali dia pun langsung masuk ke dalam mobil bersama dengan Aliyaa.