Wanita Kesepian (Pecinta Brondong)

Wanita Kesepian (Pecinta Brondong)
Episode (144)


__ADS_3

Ketika Fabian dan Aliyaa sedang bersenang-senang bersama. Miranda tiba-tiba masuk ke dalam kamar Aliyaa, dia melihat semua buku-buku tentang kedokteran yang ada di meja belajar.


"Dia benar-benar ingin menjadi seorang Dokter, jika memang itu terjadi maka aku akan menyerahkan warisan Aliya untuk Fabian karena dia yang lebih membantu perkembangan perusahaan dan juga akan menjadi pengganti kuu nanti."


Miranda masih saja percaya diri jika Fabian akan kembali ke pelukannya.


Miranda merasa sangat penasaran sekali dengan laptop Aliya dia pun mencoba untuk membuka nya.


Dan ternyata apa yang di tunggu-tunggu oleh Aliyaa akhirnya datang juga.


Miranda melihat ada email yang masuk dan dia pun langsung membaca email tersebut.


Miranda sangat terkejut sekali ketika membaca isi dari email masuk tersebut.


"Aliya mengikuti beasiswa untuk bisa masuk ke fakultas kedokteran dan dia di nyatakan lulus."


Miranda pun merasa tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Aliyaa.


"Seperti nya dia tahu jika aku tidak akan membiayai kuliah nya jika dia tetap memilih untuk kuliah kedokteran, tapi dia tidak mungkin bisa bertahan jika tidak memiliki fasilitas yang biasa dia gunakan."

__ADS_1


Miranda pun memilih untuk keluar dari kamar Aliyaa, dia memilih untuk menunggu kedatangan Aliya di depan rumah dengan segelas Coffe panas kesukaan nya.


"Aliya, kamu tidak bisa seperti ini kamu harus mengikuti perintah Mama. Jika tidak warisan kamu akan di berikan kepada Fabian calon Papa baru kamu."


Miranda pun dengan santai nya dia menunggu Aliyaa padahal Aliyaa sedang bersama dengan Fabian.


***


Fabian terus memandangi Aliyaa dia takut sekali Aliyaa tidak membalas cinta nya, maka dia harus bersama dengan Miranda.


Fabian mempunyai rencana jika Aliyaa menerima kehadiran nya di hati nya maka dia akan memberitahukan hubungan nya kepada Miranda.


Fabian berusaha untuk menutupi hubungan dengan Miranda supaya Aliyaa jangan sampai tahu semuanya.


Fabian mencoba untuk mendekati kembali Aliya.


"Al, kenapa sih harus berpikir dulu. Apa Kak Bian kurang baik kurang perhatian ? Kakak serius loh sayaaaaang sama kamu Al."


Fabian seperti memaksa Aliyaa untuk menjawab perasaan hati nya.

__ADS_1


"Kak Bian sabar nanti pasti akan aku jawab kok Kaa, sabar yaa sekarang bagaimana kalau kita pergi ke sana ramai sekali coba deh Kak lihat."


Fabian dengan terpaksa mengikuti apa keinginan dari Aliyaa, dia pergi ke tempat yang di tunjukkan oleh Aliyaa.


Wajah Fabian terlihat datar sekali tampa ekpresi sedikit pun karena merasa kecewa Aliyaa menunda jawabannya.


Melihat ekpresi wajah Fabian yang seperti sudah tidak nyaman, Aliyaa langsung meminta untuk di antarkan pulang saja.


"Lebih baik kita pulang saja sekarang."


Mendengar perkataan Aliyaa, Fabian pun langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju ke mobil nya.


"Kak Bian jadi marah deh kayak nya, hmmmmm yasudahlah mau gimana lagi. Yang penting aku di antarkan pulang saja."


Aliya pun langsung berlari untuk mengejar Fabian yang berjalan sangat kencang sekali.


Aliya tidak berani berkata apapun dia melihat wajah Fabian yang tidak seperti biasa.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, Aliyaa memilih untuk duduk di kursi belakang karena dia merasa terganggu sekali melihat kondisi wajah Fabian yang menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2