
Fabian langsung membawa Aliya keluar dari ruangan tersebut sebelum Miranda menjawab pertanyaan dari Aliya.
"Aliya, biarkan Mama kamu beristirahat dulu. Jangan berikan banyak pertanyaan untuk dia."
Aliya duduk di kursi tempat menunggu dia mulai mencurigai Mama nya.
"Apa mungkin Mama diantar oleh Om Irfan,? Mama mengenal Om Irfan."
Aliya terus memikirkan nya, Fabian sibuk mengurusi administrasi dan ternyata Miranda sudah di perbolehkan untuk pulang.
Fabian yang mendorong Miranda di kursi roda, Aliya memilih untuk masuk ke dalam mobil dia duduk di kursi depan bersama dengan Fabian. Sedangkan Miranda duduk di kursi belakang sendiri dan menahan rasa pusing di kepala nya.
"Aliya tekanan darah Mama kamu lumayan tinggi, dia harus banyak beristirahat kamu harus temani Mama kamu di rumah yaa."
Aliya hanya menganggukkan kepalanya, sambil memegang handphone nya. Dia berniat untuk menghubungi Om Irfan, dia sangat penasaran sekali ingin bertanya mengenai hal ini.
__ADS_1
"Kamu bilang sama Mama kamu, perkejaan di kantor biar Kak Bian yang urus."
Fabian menyakinkan terus-menerus kepada Aliyaa, agar Melinda mendengar suara perkataan nya.
Miranda hanya terdiam sambil memegangi kepalanya dia merasa pusing yang sangat luar biasa.
Sesampainya di depan gerbang, Aliya lebih memilih untuk turun dan berlari memanggil semua pegawai nya.
Mereka pun langsung keluar dan mencoba untuk membantu Miranda untuk masuk ke dalam kamar nya.
"Lebih baik Kak Bian langsung pulang, karena kalau ada Kak Bian nanti Mama makin manja banyak ngeluh. Sana pergi saja yaa dan hati-hati di jalan nya, nanti kalau ada waktu luang ajakin aku pergi lagi yaa."
Fabian pun mengikuti apa yang di katakan oleh Aliya, dia lebih memilih untuk pergi ke kontrakan rumah yang sebelumnya sudah mereka pesan.
"Lebih baik aku tinggal di rumah sederhana, daripada di Apartemen mewah selalu mengikuti setiap perintah nya."
__ADS_1
Fabian pergi mengunakan taksi agar mobil Miranda berada di rumah nya.
Aliya mendatangi kamar Mama nya, dia melihat Mama nya yang terus mengeluh pusing di bagian kepala nya.
Aliya meminta untuk mendatangkan perawatan pribadi yang biasa mengurusi Mama nya tersebut.
"Saya serahkan semua pada ibu perawat yaaa, dan bilang sama Mama saya jangan pernah memikirkan perkejaan di kantor semuanya sudah di ambil alih oleh Kak Fabian. Fokus saja pada kesehatan Mama."
Aliya memilih untuk pergi dari kamar Mama nya, dia pun masuk ke dalam kamar nya.
"Waktu itu Om Irfan pernah meminta aku untuk membelikan baju untuk seseorang dan baju itu bisa sama dengan baju yang ada di keranjang baju Mama, apa ituuu tandanya Mama adalah seorang yang di maksud Om Irfan."
Aliya semakin di buat penasaran sekali, dia ingin menanyakan hal ini langsung kepada Mama nya ketika sudah sembuh.
Aliya pun memilih untuk menghubungi Siska, dia ingin menceritakan semuanya kepada Siska.
__ADS_1
Aliya mencoba untuk terus menghubungi nomer telephone Siska tapi tidak juga ada jawaban.
"Ihhhh, Siska kenapa sih nggak di angkat terus panggilan telephone akuuu. Menyebalkan sekali hmmmm, pokoknya jika Mama sampai mempunyai hubungan spesial dengan Om Irfan aku nggak akan tinggal diam. Mama sudah merebut seseorang yang aku sayangi."