
Aliya benar-benar seperti ingin bersaing kecantikan dengan Mama nya, dia minta perawatan seluruh tubuh. Sampai Mama nya pun merasa sangat heran kenapa Aliya begitu sangat berlebihan sekali.
"Aliya, bukan kah para lelaki remaja itu lebih menyukai perempuan yang natural. Tidak berdandan berlebihan seperti itu."
Aliya mengabaikan ucapan Mama nya, dia menikmati apa yang sedang dia rasakan, Miranda pun memilih untuk pergi meninggalkan Aliya dan pergi untuk mencari pakaian untuk dirinya dan Aliya.
"Kamu baik-baik ya di sini jangan kabur, Mama akan kembali karena butuh waktu yang sangat lama untuk menunggu perawatan kamu sampai selesai."
Miranda pun langsung pergi dia fokus mencari pakaian untuk dirinya dan Aliya, tiba-tiba Miranda bertabrakan dengan seorang lelaki.
Bruuuuuuukkkkkk, Miranda dan barang-barang nya terjatuh.
"Astaga maaf saya mbak," lelaki itu pun langsung membantu Miranda untuk berdiri.
"Ohh, yasudah tidak apa-apa ko."
Lelaki tersebut menjulurkan tangannya kepada Miranda seperti ini berkenalan dengan Miranda.
"Perkenalkan saya Irfan Riawan,"
Lelaki tampan itu menatap wajah Miranda dengan tersenyum manis.
"Hmmmm, Miranda Larasati."
Suasana canggung pun mulai menghampiri mereka berdua.
"Hmmmm, maaf yaa saya tidak bisa berlama-lama di sini. Saya harus kembali untuk bersama dengan putri saya."
Miranda pun langsung meninggalkan Irfan, dan Irfan terus memandangi wajah cantik Miranda.
__ADS_1
"Cantik sekali wanita itu, sudah punya anak tapi masih sangat mempesona sekali."
Miranda langsung menghampiri Aliya, yang dengan cemberut menunggu kedatangan Mama nya.
"Astaga, Mama kenapa sih lama sekali Mama aku nunggu in dari tadi."
Aliya marah-marah kepada Mama nya.
"Tadi Mama terjatuh tidak sengaja bertabrakan dengan seorang lelaki, jadi membuang waktu Mama."
Miranda pun melihat kecantikan putri tunggal nya tersebut, dia tersenyum manis.
"Sayang, kamu cantik sekali Mama merasa sangat tersaingi oleh kamu."
Aliya langsung bercermin kembali ketika Mama nya memuji kecantikan wajah nya.
Aliya pun tersenyum memandangi wajah nya di cermin, dan dia tersenyum tipis sambil membayangkan wajah tampan Om Irfan Riawan.
Aliya pun langsung menghampiri Mama nya dan memeluk manja.
"Bagaimana sekarang kita pulang atau kamu mau makan dulu, waktu kita masih sangat lama sekali."
Aliya langsung berpikir dia sebenarnya ingin membawa Mama nya makan siang di restoran Om Irfan Riawan, tapi perut Aliya yang sudah terlanjur kelaparan.
"Bagaimana kalau kita makan di sini saja, aku udah kelaparan banget nih Mam."
Miranda pun langsung mengikuti apa yang di inginkan oleh Putri kesayangannya mereka pun langsung mencari makan.
Aliya sangat fokus sekali dengan handphone nya, dia hanya fokus pada handphone dan dia pun berniat untuk mengirimkan pesan kepada Om Irfan.
*Siang Om Irfan Riawan, jangan lupa makan siang yaa hehe.*
__ADS_1
Aliya pun terlihat tersenyum sambil melihat layar handphone nya, Miranda hanya memperhatikan tingkah laku putri nya tersebut dia tidak mau menggangukan kesenangan nya.
Miranda mulai memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua, tapi ternyata handphone nya tiba-tiba berdering kencang sekali.
Miranda melihat panggilan telephone itu dari Fabian, seketika Miranda pun langsung terkejut.
"Aliya sayaaaaang, Mama sudah pesan makanan untuk kamu yaa. Kamu makan duluan saja Mama mau ke toilet sebenar yaa."
Aliya menganggukan kepalanya tapi mata nya masih saja fokus pada layar handphone nya.
Miranda pun langsung pergi dan mencari tempat yang aman untuk menerima panggilan telephone dari Fabian.
*Hallo Fabian ada apa lagi kamu berani telephone lagi aku hah,?*
*Sayang jangan marah-marah terus, aku minta maaf atas perilaku dan kesalahan yang aku perbuat aku mohon sayang maafkan aku yaa.*
Miranda menarik nafas panjang nya, dia menahan rasa kesalnya kepada Fabian.
"Sudah cukup yaa Fabian, jangan kamu gangguan aku lagi. Lebih baik kamu bersenang-senang dengan teman-teman mu lagi itu jauh lebih menyenangkan kan.*
*Miranda sayaaaaang, jika kamu tidak mau memaafkan aku. Maka aku akan datang ke rumah kamu untuk berlutut di hadapan kamu agar kamu mau memanfaatkan semua kesalahan yang aku perbuat.*
Miranda pun merasa sangat terjebak sekali, dia tidak mungkin membiarkan Fabian datang ke rumah nya. Apalagi status Fabian yang jauh lebih muda dari umur nya.
*Jangan sampai kamu datang ke rumah aku, Malam ini kita bertemu lagi di Apartemen. Sekarang jangan ngangu waktu kebersamaan aku dengan putri kesayangannya ku.*
Miranda pun langsung mengakhiri panggilan telephone nya.
"Ahhhhhh, dia selalu mengancam kuu saja membuat aku tidak bisa terlepas dari nya."
Miranda memilih untuk menenangkan pikiran nya terlebih dahulu dia tidak mau Aliya sampai tahu jika dia sedang emosional.
Fabian putra
__ADS_1