Wanita Kesepian (Pecinta Brondong)

Wanita Kesepian (Pecinta Brondong)
Episode (49)


__ADS_3

Miranda merasa rencana Fabian untuk Aliya yang terlalu berlebih-lebihan sedangkan ini hanya selesai ujian sekolah bukan hari kelulusan sekolah seperti yang Fabian katakan.


"Hmmmmm, Fabian lebih baik cukup berlibur saja jangan makan malam yang terlalu berlebih-lebihan seperti ini. Aliya memang putri tunggal ku tapi aku tidak pernah memanjakan nya seperti ini."


Fabian langsung menghampiri Miranda dan dia pun duduk di meja kerja nya sambil berhadapan dengan Miranda.


"Aku melakukan ini ingin membuat Aliya tersenyum dia sangat butuh waktu bersama dengan keluarga apalagi Mama yang begitu sangat sibuk sekali. Sudahlah jangan berpikir panjang ini demi Aliya bukan orang lain."


Miranda terdiam mendengar perkataan Fabian.


"Bukan kah apa yang membuat Aliya bahagia adalah akan membuat kamu juga bahagia, jadi jangan berpikir macam-macam dan berlebih-lebihan seperti ini."


Fabian langsung berdiri dan meninggalkan Miranda dia begitu tergesah-gesah sekali, Miranda langsung berteriak memanggil nama Fabian dan Fabian menjawab dengan suara yang samar terdengar.


"Aku harus menjemput Aliya dia pasti sedang menunggu ku."


Miranda beranjak dari tempat duduk nya, dia lagi-lagi memikirkan sikap Fabian yang berlebih-lebihan kepada Aliya.

__ADS_1



"


"Kenapa aku merasa sedikit berpikiran negatif terhadap Fabian, padahal ini semua adalah rencana ku untuk mempersatukan mereka akan bisa dekat dalam artian Aliya mau menerima kehadiran Fabian sebagai Papa baru nya bukan sebagai hmmmmm. Yasudah lah aku harus selalu berpikir positif."


Miranda kembali menyelesaikan pekerjaan nya, dia mencoba untuk fokus dengan pekerjaan nya.


****


Ketika Aliya hendak pergi ke luar, dia mendengar perkataan dari salah satu pegawai yang ada di belakang nya.


"Pak Irfan kemarin akrab sekali yaa dengan perempuan itu, dia cantik dan elegan sekali seperti nya dia teman baik nya Pak Irfan atau teman bisnis nya yaa."


Aliya yang mendengar perkataan itu langsung berlari keluar dari Restoran tersebut, air mata nya tak kuasa dia tahan dan dia usap.


"Kenapa aku harus menangis mendengar perkataan itu, sedangkan mereka hanya membicarakan tentang perempuan yang mungkin adalah teman bisnis Om Irfan. Astaga Aliyaaaaa dia belum jadi milik kamu tapi kamu udah mulai cemburu begini."

__ADS_1


Aliya berjalan menuju ke tempat yang biasa tadi dia di turunkan oleh Fabian, tapi ternyata Fabian sudah menunggu nya dan Aliya pun langsung berlari menghampiri mobil nya.


Aliya memilih duduk di kursi belakang dia tidak mau Fabian memperhatikan nya, karena dia yang baru saja menangis.


Fabian membalikkan badannya dan melihat Aliya, dia pun memilih untuk turun dari mobil nya dan membuka pintu belakang.


Aliya terkejut melihat Fabian yang duduk di samping nya, dia pun langsung membuka pintu mobil nya dan pindah ke kursi depan.


"Hedeuhhh bocah, di samperin malah langsung kabur."


Fabian akhirnya kembali ke kursi depan dan langsung menjalankan mobilnya, dia tidak berani bertanya kepada Aliya tapi dia tahu kalau Aliya sedang sedih.


Aliya yang merasa diperhatikan oleh Fabian pun langsung mengalihkan pandangannya dia terus melihat kaca mobil nya, dia tidak mau Fabian sampai bertanya dengan keadaan nya sekarang.


"Aliya, kamu bisa cerita apapun dan itu semua nggak akan sampai ke Mama kamu. Kakak bisa jaga rahasia apapun yang kamu ceritakan."


Fabian mencoba untuk menjadi seorang kepercayaan Aliya itu salah satu cara supaya Aliya bisa merasakan kenyamanan bersama nya.

__ADS_1


__ADS_2