
Setelah Fabian pergi Aliyaa pun bersiap untuk pergi ke kampus nya, dia berniat untuk bercerita kepada Siska tentang perasaan nya yang tiba-tiba cemburu melihat kepergian Fabian bersama dengan Mama nya.
Aliya yang sudah siap untuk pergi ke kampus berjalan menuju ke kampus yang jarak nya cukup dekat dengan rumah nya.
Aliya menunggu kedatangan Siska tapi tiba-tiba terdengar getaran handphone nya.
"Pasti Kak Bian nih yang kirim pesan, emang secepat itu yaa dia sampai di kantor nya".
Aliya pun mengambil handphone nya yang ada di dalam tas nya.
Dia terkejut ketika melihat bukan Fabian yang mengirimkan pesan tetapi Rendy.
*Aliya, jangan lupa sarapan yaa dan semangat terus kuliah nya.*
Rendy yang mengetahui jika kekasih Aliyaa yang sedang berangkat bertugas membuat Rendy berani untuk mengirimkan pesan kepada Aliyaa.
"Lebih baik aku nggak usah balas pesen nya, karena hanya memperpanjang bahasan kita pesan kita dan aku tidak mau memaafkan ketika Kak Bian tidak bersama kuu."
Aliya memasukkan kembali handphone nya ke dalam tas nya, dia menunggu kedatangan Siska dan akhirnya Siska pun datang menghampiri Aliyaa.
Aliya tersenyum manis ketika melihat Siska yang berlari menghampiri nya.
"Lama yaa nungguan aku nya yaa, maaf yaa tadi susah banget cari taksi online nya."
Aliya pun langsung memegang tangan Siska dan mengajak nya ke kantin.
"Ayoo kita ke kantin ada yang mau aku ceritakan sama kamu Siska tentang Kak Bian dan Mama Miranda."
Seketika Siska pun langsung terkejut ketika Aliyaa yang menyebutkan nama Fabian dengan Miranda.
Siska langsung merasa sangat bergetar sekali, apakah Aliyaa sudah mengetahui semuanya.
Mereka pun duduk berhadapan dan Siska sambil memesan makanan karena dia yang belum sarapan pagi.
"Hmmmmm, Siska tiga hari Kak Bian dan Mama Miranda mereka sedang menjalankan tugas nya di luar kota untuk kepentingan perusahaan bisnis dan aku sendiri an di rumah."
__ADS_1
Siska terdiam seketika ketika mendengar Tante Miranda dan Fabian pergi berdua untuk menjalankan tugas selama tiga hari lama nya.
"Tapi ntah mengapa aku langsung menangis ketika mendengar hal tersebut, seperti Kak Bian tidak akan kembali lagi kepada kuu. Dan aneh nya aku mempunyai pikiran yang negatif terhadap mereka berdua."
Mata Aliyaa terlihat berkaca-kaca ketika dia mengatakan hal tersebut, Siska tidak bisa berkata apa-apa lagi kepada Aliyaa.
Siska merasa jika dengan sendirinya Aliyaa akan mengetahui semuanya.
"Aliya, aku rasa Kak Bian itu sangat-sangat mencintai kamu. Jadi jika kamu memang percaya dengan Kak Bian maka kamu juga harus memberikan kepercayaan untuk dia."
Siska memegang tangan Aliyaa supaya Aliyaa tetap bertahan dan dengan Fabian.
Siska tidak mengerti hati nya pun merasa sangat tidak nyaman sekali ketika membayangkan ketika mereka berdua harus bersatu kembali.
Aliya pun terus memaksa aku tersenyum manis padahal hati nya seperti ini menangis dan menjerit-jerit.
"Al, jika kamu memang di ciptakan untuk bersama dengan Kak Fabian. Apapun coba an nya kalian pasti akan selalu di pertemuankan, aku tahu kamu merasa jika Kak Bian adalah segala nya untuk kehidupan kamu karena hanya dia yang bisa membuat kamu bangkit kembali dan melindungi kamu dari semua perbuatan Mama kamu."
Aliya pun tidak kuasa menahan air mata nya dan akhirnya Aliyaa pun menangis juga di depan Aliyaa.
"Apakah cinta kuu ini terlalu berlebih-lebihan sekali, aku pun tidak mengerti kenapa aku harus seperti ini. Kak Bian adalah pacar pertama ku aku pun ingin sekali dia menjadi cinta terakhir ku juga."
"Sudah yaa Aliyaaaaaaa sudah, kamu jangan seperti ini yaa. Ayo lebih baik sekarang kita pergi ke kelas dan hapus air mata kamu yaa."
Aliya pun langsung mengambil cermin yang ada di dalam tas nya dia menghapus air mata nya.
Mereka pun langsung pergi ke dalam kelas nya masing-masing.
***
Fabian menunggu kedatangan Miranda yang sedang mengurusi semua nya.
Fabian terus saja memandangi foto Aliyaa yang ads di handphone nya.
Miranda begitu sangat bersemangat sekali dia akhirnya bisa berduaan dengan Fabian walaupun itu hanya dengan waktu tiga hari saja.
__ADS_1
Miranda menghampiri Fabian dengan senyuman manis nya.
"Semua sudah selesai sekarang ayo kita berangkat menuju ke bandara."
Mendengar perkataan Miranda dengan wajah datar nya, Fabian pun memilih masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke bandara.
Miranda masih tetap saja sabar dalam menghadapi sikap Fabian terhadap nya.
"Fabian sayaaaaang, kamu jangan seperti ini yaa. Lihat saja nanti kamu akan lemah kembali di hadapan kuu."
Miranda menyusul Fabian dan mereka pun masuk ke dalam mobil yang sama.
"Miranda, jangan lupa bawa obat hipertensi kamu. Jangan sampai nanti di sana kamu pusing kambuh pingsan dan masuk ke rumah sakit."
Perkataan Fabian membuat Miranda langsung emosional sekali.
Miranda pun lebih memilih untuk terdiam saja karena sudah merasa malas untuk memulai pembicaraan dengan Fabian.
Mereka bisa membuat Miranda emosi, Fabian memilih untuk tidur di perjalanan sampai menuju ke bandara.
Melihat Fabian yang lebih memilih untuk tidur, Miranda pun mengambil handphone nya.
Dan ternyata ada pesan masuk dari Rendy kepada nya.
Miranda pun membuka pesan dari Rendy dengan sangat hati-hati sekali karena dia tidak mau Fabian sampai membaca pesan dari Rendy.
*Tante Miranda, kenapa Tante tidak mau membiayai Aliyaa. Dia kuliah hanya mengandalkan uang dari beasiswa untuk kehidupan nya sehari-hari Tante Miranda jahat sekali, padahal itu adalah putri satu-satu nya Tante Miranda.*
Miranda tidak menyangka Rendy sampai mengetahui semuanya, Miranda merasa sangat malu sekali.
*Rendy kamu jangan berpikir yang aneh-aneh dulu yaa sama Tante Miranda, Tante melakukan itu semua nya supaya Aliyaa kembali lagi ke rumah dan dia tidak tinggal di rumah sewaan. Dengan cara ini Aliyaa pasti merasa sangat kekurangan sekali dan dia langsung masuk kembali ke rumah nya sendiri.*
Miranda pun langsung terdiam dia merasa apa yang dia lakukan kepada Aliyaa dan sampai di ketahui oleh keluarga Rendy ini sangat memalukan sekali.
Miranda melakukan ini semua nya karena dia yang tidak terima Fabian yang lebih memilih untuk bersama dengan Aliyaa.
__ADS_1
Fabian yang sebenarnya berpura-pura tidur pun memilih Miranda yang begitu sangat panik sekali ketika membaca pesan di handphone nya.
Miranda pun memilih untuk memasukkan kembali handphone nya ke dalam tas nya, dia tidak mau menunggu balasan pesan singkat dari Rendy. Miranda sangat berhati-hati sekali sekarang dalam menyimpan handphone nya.