
Keesokan harinya Aliya masih memilih untuk tidak keluar dari kamar nya, dia merasa sangat malas sekali untuk bertemu dengan banyak orang.
Aliya memilih untuk diam saja di dalam kamar nya, hingga Miranda pun masuk ke dalam kamar yang tidak terkunci.
"Aliya, ini waktu nya kamu untuk sarapan pagi. Kenapa kamu lebih memilih untuk berdiam saja di dalam kamar."
Miranda menghampiri Aliyaa yang masih berselimut di kasur nya.
"Ayoo Aliyaa, jangan seperti ini kamu harus bisa menerima kenyataan jangan terlalu lama bersedih begini."
Mendengar perkataan Miranda, Aliya langsung beranjak dari tempat tidurnya.
"Semudah itu kah Mama bisa meluapkan seseorang yang sangat Mama cinta dan sayang, Mama sendiri pun belum tentu bisa."
Aliya terlihat sangat emosional sekali dan Miranda pun lebih memilih untuk pergi dari kamar nya.
"Baiklah, Mama pergi saja."
Miranda menutup rapat pintu kamar Aliya.
"Lalu aku harus bagaimana, memaksa Irfan untuk mencintai Aliyaa. Lagipula Irfan terlalu tua untuk Aliyaa."
Miranda tidak berselera untuk makan, dia memilih untuk langsung saja ke kantor nya.
Aliya melihat Mama nya yang sudah pergi dari rumah nya dan masuk ke dalam mobil.
"Mama sudah berangkat ke kantor, ini waktunya untuk aku sarapan pagi. Lapar banget aku."
Aliya keluar dari kamar nya, dia menuju ke meja sarapan. Dia melihat ternyata Mama langsung pergi ke kantor.
"Mama ternyata nggak makan dia langsung pergi ke kantor, aku lihat dari wajah Mama dia seperti yang biasa saja. Apa Mama nggak punya perasaan gitu yah sama Om Irfan, tapi aku lihat malam itu Mama sangat akrab sekali dengan Om Irfan."
Aliya semakin di buat pusing dengan kisah cinta nya ini.
"Bagaimana kalau hari ini aku pergi ke kantor Mama, sudah lama juga aku nggak ke sana dan aku juga mau membuat kan bekal untuk ka Fabian."
Aliya langsung pergi ke dapur mempersiapkan makanan yang akan di buat untuk Fabian, Aliya ingin membalas kebaikan Fabian.
"Aku harus masak yang enak sekali untuk ka Fabian, Mama nggak mungkin kan marah sama aku dia kan kekasihnya Om Irfan."
__ADS_1
Selesai masak Aliya langsung mandi dan berpakaian sangat cantik sekali.
"Hmmmmmmm, aku sekarang nggak boleh kalah saing sama Mama aku sendiri. Mama yang menjadi musuh di dalam selimut."
Aliya langsung bersiap untuk pergi, dan para pegawai melihat penampilan Aliya yang berbeda seperti biasanya.
"Nona Aliyaa, cantik sekali dan sekarang jadi pintar masak."
Ucap salah satu pelayan yang memperhatikan Aliyaa.
"Cantik aku atau Mama Miranda."
Aliya menghampiri pelayan tersebut dengan pertanyaan.
"Hmmmmmm, cantik nya non Aliya kan turunan dari Ibu Miranda. Jadi kalian berdua cantik."
Aliya yang berharap dia yang di sebut cantik pun langsung memilih untuk pergi dari rumah nya, Aliyaa pun langsung mencari supir pribadi nya Pak Dennys untuk pergi mengantarkan nya.
"Pak antarkan aku ke kantor Mama yah, aku ingin bertemu dengan Kak Fabian dan membuat kan bekal makan siang untuk nya."
Pak Denise seketika terkejut ketika mendengar perkataan Aliya yang mau pergi ke kantor Miranda tapi dia tidak bisa berbicara banyak dia pun mengikuti apa yang di katakan oleh Aliyaa.
"Hmmmmm, semoga kita datang tepat waktu yah Pak. Sekitar 10 menit ke waktu nya istrirahat supaya makan ngga terlalu dingin."
"Non, apa sudah memberitahu dulu Pak Fabian kalau mau datang ke sana untuk memberikan makanan."
Aliya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Hmmmmm, ini kejutan aja sih Pak dan aku pengen tahu bagaimana reaksi nya ketika aku datang bawa makanan."
Denies hanya bisa tersenyum karena dia melihat Aliyaa yang sangat ceria sekali.
Aliya pun sampai di depan perusahaan orang tua nya tersebut dia hanya tersenyum dan berjalan masuk.
"Mungkin aku tidak bisa berkerja di perusahaan ini membantu Mama, tapi aku sangat yakin perusahaan ini tetap akan menjadi perusahaan yang terbaik."
Ketika kedatangan Aliyaa yang mau menuju ke ruangan Fabian, Miranda terlebih dahulu yang masuk ke dalam ruangan Fabian.
__ADS_1
"Selamat siang Fabian sayaaaaang, kita sudahi pertengkaran antara kita berdua bagaimana jika nanti waktu jam istirahat kita pergi makan ke suatu tempat."
Fabian hanya bisa terdiam ketika mendengar ajakan dari Miranda, dia sudah tidak punya rasa sama sekali dengan Miranda.
"Maksud nya kita pergi ke Restoran Irfan Riawan, begitu maksudnya Bu Miranda."
Perkataan Fabian membuat Miranda langsung berubah menjadi datar sekali, dia pun terdiam sambil duduk di berhadapan dengan Fabian.
Aliya melihat Mama nya sedang berada di dalam ruangan Fabian.
"Ngapain tuh Mama ada di ruangan Kak Fabian deket banget kaya gitu lagi ihhhhh gatelll."
Tampa mengetuk pintu Aliya langsung masuk ke ruangan Fabian, dan membuat Miranda terkejut sekali dan berdiri dari tempat duduk nya.
"Aliyaaaaaaa, kamu ngapain di sini katanya kamu lagi sakit hati akibat semalam dengan Om Irfan."
Miranda seperti memojokkan Aliyaa, dia pun menghampiri Aliyaa dan melirik sesuatu yang Aliyaa yang bawa.
Melihat lirikan Mama nya yang tertuju pada makanan yang dia bawa, Aliyaa memilih untuk langsung menghampiri Fabian.
"Kak Bian, ini aku buatkan sesuatu untuk Kakak makan siang. Jadi nggak usah pergi ke kantin."
Fabian begitu sangat bahagia sekali ketika Aliyaa memberikan makanan untuk nya.
"Aliyaaaaaaa, sejak kapan kamu bisa masak hah.? Itu pasti makanan yang kamu beli kan di luar kan."
Miranda langsung tertawa karena dia sangat tahu sekali jika Aliyaa yang sangat manja.
"Ini aku yang buat yah Mam, aku belajar masak ketika aku mulai kabur dari rumah. Mama sendiri yang punya kekasih bos Restoran bisa masak nggak ? lebih baik Mama pergi saja deh karena ini bukan kumpulan Om-om dan Tante-tante."
Miranda langsung di buat emosional sekali dengan perkataan Aliyaa.
"Dengar yah Aliya, Mama tidak ada sedikit perasaan dengan Irfan Riawan. Mama memiliki seorang lelaki yang jauh lebih-lebih dari Irfan."
Pandangan Miranda langsung tertuju kepada Fabian, tapi Fabian mengabaikan pandangan tersebut. Fabian memilih untuk membuka makanan dari Aliyaa di saat waktu istrirahat berbunyi.
Miranda melihat Fabian begitu sangat lahap sekali makan nya, dan Aliyaa pun tersenyum melihat Fabian yang begitu lahap sekali makan nya.
Miranda pun memilih untuk pergi dari ruangan tersebut dan kembali ke ruangan nya sambil memperhatikan Aliyaa dan Fabian.
__ADS_1
Fabian yang menyadari jika Miranda memperhatikan nya, langsung menyuapi Aliya dengan penuh perasaan.
Miranda langsung berdiri melihat hal tersebut sambil menatap sinis kepada Fabian.