
Aliya masih saja menangis teringat semua bayang-bayang kebersamaan nya bersama dengan Om Irfan.
"Kamu harus kuat Aliyaa kamu harus lupain dia, kamu udah denger langsung kan kalau dia nggak ada perasaan sama kamu dia cinta sama Mama kamu."
Aliya beranjak dari tempat tidur nya, dia memandangi wajah nya di depan cermin.
"Sudah yaa Aliyaaaaaaa lupakan Om Irfan lupakan benar-benar lupakan, kamu pasti bisa mendapatkan yang terbaik."
Handphone Aliya terus berdering dan Aliya pun langsung mengambil handphone tapi ternyata dering handphone nya tiba-tiba berhenti.
"Hmmmmmm, panggilan telephone tidak terjawab 5 panggilan. Astaga ini pasti dari aku masih di dalam mobil, Kak Fabian pasti hawatir sekali sama aku nih."
Aliya memilih untuk mengirimkan pesan kepada Fabian.
***Kak, maafkan yah. Aku baru buka handphone dan ternyata banyak panggilan telephone tidak terjawab dari Kakak.
*Ok gapapa Aliyaa, tapi kamu baik-baik saja kan Aliyaa dan bagaimana apakah Mama kamu sudah tahu tentang jurusan kuliah yang mau kamu ambil.*
*Mama belum tahu Kak, mungkin besok pagi tensi Mama akan naik kembali.*
__ADS_1
*Yasudah kalau begitu, lebih baik kamu cepat tidur yah. Ini udah malam banget.*
*Baiklah, aku tidur sekarang**.
Aliya menyimpan handphone nya, hati nya masih belum bisa tenang.
"Haruskah aku menceritakan ini semua nya kepada Kak Bian, dia begitu sangat baik sekali sama aku."
Aliya mengambil kembali handphone nya, dia mulai mengetik kembali.
*Kak, sebenarnya aku tadi pergi ke Restoran Om Irfan. aku bertanya langsung sama dia tentang bagaimana perasaan dia sama Mama, dan ternyata dia mengakui kalau dia mencintai Mama.*
"Aliya bertanya langsung ke Irfan, bagaimana kalau sampai Irfan menceritakan semuanya kepada Aliya kalau gue adalah lelaki yang di cinta oleh Mama nya."
Fabian mulai panik karena dia tidak mau semuanya terbongkar secepat ini, Dia pun memilih untuk mendatangi Irfan.
"Gue harus pergi ke Restoran Irfan, gue harus kasih ancaman sama dia jangan sampai dia ceritakan semuanya sama Aliyaa."
Fabian langsung bergegas pergi menuju ke Restoran Irfan, kecepatan mobilnya yang sangat tinggi sekali.
__ADS_1
Tapi ternyata Restoran tersebut sudah tutup ternyata.
"Hahhhhh, tutup lagi gue nggak tahu di mana Alamat rumah nya Irfan."
Fabian kembali masuk ke dalam mobil nya, dia melihat seseorang yang sangat mirip sekali dengan Papah nya.
"Papa, itu papa."
Fabian kembali melihat dari kaca spion mobil nya, dia melihat Papa nya yang sedang membenarkan mobil nya yang sedang mogok.
Fabian sudah lama tidak bertemu dengan keluarga semenjak dia bersama dengan Miranda dan kedua orang tuanya pun tidak setuju ketika mengetahui Fabian mempunyai hubungan dengan wanita yang lebih tua dari dirinya.
"Demi Miranda gue rela ninggalin orangtua gue karena gue yang nggak mau ngikutin kemauan mereka untuk menjadi seorang Dokter. Dan Miranda hadir sebagai penyelamat untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari gue supaya tidak kekurangan."
Fabian hanya bisa memandangi wajah Papa nya dari spion mobil nya, dia tidak berani untuk turun menemui Papa nya.
"Sebenarnya gue kangen tapi mereka mungkin udah terlanjur benci atau untuk menganggap gue mati."
Fabian melihat ternyata Papa nya sedang bersama dengan Ibunya, ibunya yang tiba-tiba datang memberikan minuman untuk Papanya.
__ADS_1