
Aliya keluar dari kamar nya dia melihat Mama nya sedang makan siang, Aliyaa mencoba untuk menghampiri Mama nya dan duduk berhadapan.
Miranda hanya fokus dengan makanan yang ada di hadapannya, dia tidak melirik kan mata nya sedikit pun kepada Aliyaa.
Aliya merasa sikap Mama sudah sangat kelewatan sekali kepada nya, apalagi Aliyaa tidak tahu apa penyebab dari perubahan sikap Mama nya tersebut.
"Mama membenci kuu,? Mama sudah tidak mau melihat aku di rumah ini. Karena setiap Mama melihat ku tensi Mama seperti naik turun padahal aku ini adalah anak kandung Mama."
Ucap Aliyaa yang sudah merasa sangat kesal sekali dengan perubahan sikap Mama nya.
Miranda langsung menghentikan makan siang nya, dia langsung memandangi wajah Aliyaa dengan sangat sinis sekali.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu kepada Mama,? jika Mama sudah tidak mau melihat kamu Mama tidak akan pernah pulang ke rumah ini."
Aliya tersenyum mendengar perkataan dari Mama nya.
__ADS_1
"Kenapa sikap Mama sekarang jadi berubah seperti ini Mam, apa penyebab nya apa karena aku yang ingin menjadi seorang Dokter itu yang membuat Mama menjadi seperti ini."
Aliya mulai tidak bisa menahan emosi nya dia sangat begitu kesal sekali dengan sikap Mama nya.
"Jika kamu masih memilih ingin menjadi seorang Dokter maka kamu tidak akan pernah mendapat hak sedikit pun dari perusahaan Papa. Karena kamu tidak mau membantu perkembangan perusahaan milik Papa kamu."
Aliya menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil tersenyum.
"Mama bilang tidak mau membantu perkembangan perusahaan milik Papa. Lalu bagaimana dengan Mama sendiri yang sekarang lebih memilih untuk menyerahkan kewajiban Mama sepenuhnya kepada orang lain yaitu Kak Bian. Semakin Mama bermalas-malasan di rumah semakin dia lebih pintar dari pada Mama."
Miranda langsung berdiri dari tempat duduk nya.
Aliya semakin curiga dengan sikap Mama yang terlalu berlebih-lebihan dengan Fabian.
"Apakah Mama lebih percaya dengan dia daripada dengan aku, dan apakah Mama lebih mencintai dia dari pada mencintai aku dan seterusnya aku malas jika harus mengatakan semuanya."
__ADS_1
Sudah membuat kesal Mama nya, Aliyaa memilih untuk meninggalkan meja makan tersebut.
Miranda melemparkan piring yang ada di hadapannya.
Dia pun memilih untuk pergi dari rumah nya dengan perasaan yang penuh dengan emosi.
"Kenapa Mama menjadi seperti itu, ini bukan Mama Miranda yang dulu. Mama Miranda yang penyayang yang selalu mencoba untuk ada di samping aku."
Aliya menangis tersedu-sedu dia berlari menuju ke kamar nya.
Aliya melampiaskan kekesalannya terhadap Mama nya.
"Semoga hasil dari beasiswa itu segera ada, aku rasa memang yang terbaik aku harus meninggalkan rumah ini. Hidup sendiri bisa membuat aku jauh lebih baik dan tenang."
Aliya berjalan menuju jendela kamar nya, dia melihat Mama nya benar-benar pergi untuk meninggalkan nya.
__ADS_1
"Mama benar-benar pergi dia pergi dia benar-benar sudah tidak punya perasaan lebih sama aku. Dan aku sangat yakin bukan karena aku ingin menjadi seorang Dokter Specialis Anak tapi pasti ada sesuatu di balik ini semua. Aku harus menceritakan semuanya kepada Siska besok aku nggak mau memendam perasaan ini sendiri."
Aliya pun memilih untuk menutup kembali jendela kamar nya.