
Tepat jam 5 sore Dini, Andi dan Dimas sudah tiba di rumah sakit. Karena keadaannya yang semakin membaik, ibu Dini sudah dipindahkan ke ruang rawat.
"Aku tunggu di sini sayang," ucap Dimas lalu duduk di kursi tunggu depan ruangan ibu Dini.
"Kamu nggak papa?" tanya Dini meyakinkan.
Dimas mengangguk dan tersenyum. Dini dan Andi lalu masuk ke ruangan ibu Dini, meninggalkan Dimas di kursi tunggu seorang diri.
Di dalam ruangan, ada seorang suster yang bertugas khusus merawat ibu Dini atas permintaan Dimas. Setelah membantu ibu Dini minum obat, suster segera keluar dari ruangan.
"Eh Andi, kalian berdua aja?" tanya ibu Dini.
Andi menoleh ke arah Andi sebelum ia menjawab dan Dini hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya bu, kita berdua, ibu sama ayah masih di luar kota jadi belum bisa jenguk," jawab Andi.
"Nggak papa, ibu juga nggak mau lama lama di sini, pingin cepet pulang," balas ibu Dini.
"Dokter bilang ibu masih harus disini beberapa hari bu," ucap Dini pada ibunya.
"Iya Din ibu ngerti," balas ibu Dini.
Mereka lalu membicarakan banyak hal dan melupakan masalah yang belum menemukan jalan keluar. Di sela sela obrolan, Andi mengambil apel yang baru saja ia bawa, mengupasnya, memotongnya dan memberikannya pada ibu Dini.
"Makasih ya Ndi dari dulu kamu selalu jagain Dini," ucap ibu Dini pada Andi.
"Kita kan sahabat dari kecil bu," balas Andi.
"Ibu pinginnya kalian punya hubungan yang lebih, ibu....."
"Ibu mau anggur?" tanya Dini yang sengaja memotong ucapan ibunya.
"Udah, ibu udah kenyang," jawab ibu Dini.
"Dokter bilang ibu nggak boleh banyak pikiran, jadi Dini mohon buang jauh jauh hal hal yang memberatkan pikiran ibu, demi kesehatan ibu," ucap Dini.
"Iya Din, asal kamu mau turuti permintaan ibu, ibu nggak akan mikirin itu lagi," balas ibu Dini.
"Iya bu, Dini kan udah bilang tadi pagi."
"Jadi kapan kamu resign dari kantor?"
"Kasih Dini waktu bu, Dini nggak bisa resign gitu aja, banyak kerjaan yang harus Dini selesaiin dulu di kantor, itu udah jadi tanggung jawab Dini sebelum Dini resign," jawab Dini.
"Kamu pasti cari cari alasan kan?"
"Enggak bu, kalau Dini nggak selesaiin kerjaan Dini, kredibilitas Dini di kantor akan turun dan bisa jadi berpengaruh sama penilaian kantor, pengalaman kerja yang baik kan bisa bikin Dini cepet dapet kerjaan baru bu!"
__ADS_1
"Ya udah terserah kamu!"
"Ibu nggak usah pikirin hal itu lagi, Dini tau apa yang harus Dini lakuin!"
"Andi, ibu bisa minta tolong sama kamu?" tanya ibu Dini pada Andi.
"Bisa bu," jawab Andi.
"Tolong kamu jagain Dini ya, bantuin Dini cari kerja dan jangan biarin Dimas temuin Dini lagi, bisa?"
Andi diam beberapa saat, ia kembali membawa pandangannya ke arah Dini sebelum ia menjawab, namun Dini hanya memalingkan wajahnya.
"Maaf sebelumnya, tapi kenapa Dimas nggak boleh ketemu Dini lagi bu? mereka kan udah tunangan."
"Ada masalah yang nggak bisa kamu tau, cukup kamu jaga Dini biar nggak ketemu Dimas lagi, kalau kamu keberatan ibu akan minta tolong orang lain buat......"
"Andi bisa bu, Andi nggak keberatan sama sekali," ucap Andi memotong ucapan ibu Dini.
"Terima kasih Ndi, kamu emang baik banget, sayangnya Dini nggak bisa liat ketulusan kamu selama ini!"
Dini hanya diam berusaha mengabaikan apa yang ibunya ucapkan, mengabaikan perih yang semakin terasa di hatinya.
Begitu juga Andi yang hanya diam melihat Dini yang tampak tidak nyaman berada di ruangan itu.
"Bu, Andi sama Dini pamit pulang dulu ya, Andi baru pulang kerja mau bersih bersih dulu," ucap Andi pada ibu Dini.
"Oh iya Ndi, kalian hati hati ya!"
Andi dan Dini lalu keluar dari ruangan ibu Dini. Dimas yang masih menunggu di kursi tunggu segera berdiri begitu melihat Dini dan Andi keluar.
"Gimana keadaan ibu sayang?" tanya Dimas pada Dini.
"Udah baikan," jawab Dini tak bersemangat.
Mereka lalu meninggalkan rumah sakit. Dimas melajukan mobilnya ke arah rumah Dini. Sesampainya di sana, Andi segera pulang ke rumahnya, membiarkan Dimas dan Dini berdua.
**
Pagi tiba dengan terik yang terasa hangat. Dini dan Andi berjalan ke arah halte untuk berangkat bekerja bersama.
"Gimana tidur kamu? nyenyak?" tanya Andi yang dibalas anggukan kepala Dini.
"Bohong!" ucap Andi.
"Emang keliatan banget ya?"
"Iya, tapi tenang aja, mata panda kamu nggak akan mengurangi kecantikan kamu kok," ucap Andi yang membuat Dini reflek memukul lengan Andi.
__ADS_1
Tiba tiba ada seorang wanita yang sedang hamil besar berdiri di samping Andi, karena tak ada kursi kosong Andi segera berdiri dan mempersilakan si wanita untuk duduk.
Melihat hal itu, Dini ikut berdiri agar si wanita duduk di dekat jendela karena tak lama lagi Dini akan turun.
"Makasih ya, jarang ada anak muda yang baik kayak kalian," ucap si wanita yang dibalas anggukan kepala Dini dan Andi.
"Sudah menikah?" tanya di wanita dengan membawa pandangannya pada Dini dan Andi bergantian.
"Belum bu," jawab Andi.
"Kelihatan sekali kalau kalian saling mencintai, saya do'akan kalian cepat menikah, punya momongan dan jadi keluarga yang bahagia," ucap si wanita.
Andi dan Dini lalu saling pandang dan sama sama tersenyum karena mendengar ucapan si wanita yang salah paham pada mereka berdua.
"Makasih do'anya bu," ucap Andi pada si wanita yang membuat Dini dengan cepat mencubit pinggang Andi.
Tak lama kemudian bus berhenti, Dini segera turun.
"Aku duluan Ndi!"
"Hati hati Din," balas Andi dengan mengusap rambut Dini.
Sesampainya di kantor, Dini bertemu Cika yang sengaja menunggunya. Mereka pun berjalan bersama.
"Kamu kok nggak semangat gitu sih Din?" tanya Cika ketika mereka sudah berada di belakang meja kerja masing masing.
"Emang keliatan ya?"
"Banget, dari awal kita kerja di sini kamu itu selalu semangat, kenapa sekarang tiba tiba lemas gini?"
"Aku bingung Cik, kayaknya aku mau resign,"
"Hah, resign?" pekik Cika tak percaya.
Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu membaringkan kepalanya di meja kerjanya.
"Kenapa Din? ada masalah apa? kamu berantem sama Dimas?"
"Jangan tanya lagi Cik, aku juga bingung gimana jelasinnya," jawab Dini.
"Ada apa ini pagi pagi pada males malesan?" tanya Kintan yang tiba tiba datang.
"Maaf mbak, saya sedikit pusing," ucap Dini berbohong, ia bukan sedang pusing, melainkan sedang tak bersemangat.
"Kalau kamu sakit pulang aja Din, kalau kamu udah di kantor tugas kamu kerja bukan tidur," ucap Kintan.
"Iya mbak, maaf," balas Dini lalu segera memulai pekerjaannya.
__ADS_1
"Kamu juga kalau nggak niat kerja pulang aja, jangan ngerumpi di kantor," ucap Kintan pada Cika.
Cika hanya diam dan segera mengerjakan pekerjaannya.