
Malam kembali memeluk dengan kesepiannya. Dini berjalan ke arah rumahnya. Masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan ibunya.
"Baru pulang Din? kamu udah makan?" tanya ibu Dini.
Dini hanya menoleh, tak menjawab sepatahkatapun. Ia masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya.
Ia menaruh tasnya di meja lalu duduk di jendela kamarnya, menatap bulan dan bintang yang tengah berjajar menghiasi malam.
Dini tersenyum tipis bersama bulir air mata yang membasahi pipinya.
"bentar lagi aku gila hehe," ucap Dini dalam hati dengan tertawa kecil.
Ia lalu merebahkan badannya di atas tempat tidur tanpa berganti pakaian ataupun mandi. Ia membiarkan jendela kamarnya terbuka.
Sedikit harapan dalam hatinya, Dimas akan datang dan memeluknya.
Namun sampai pagi tiba, harapan itu hanyalah sebuah harapan yang tak akan menjadi kenyataan.
Sama seperti hari sebelumnya, pagi pagi sekali Dini bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia begitu terkejut melihat Andi yang sudah duduk di depan rumahnya.
Andi hanya tersenyum melihat Dini keluar dari rumahnya.
"Biarin aku sendiri Ndi," ucap Dini lalu melangkah meninggalkan Andi.
"Oke," balas Andi dengan menganggukkan kepalanya.
Andi lalu berjalan di belakang Dini, mengikuti Dini dan memastikan Dini baik baik saja sampai ia tiba di kantor.
Dini yang mengetahui Andi masih mengikutinya memilih untuk mengabaikan Andi. Ia berjalan menyebrangi jalan raya dan segera masuk ke kantornya.
Setelah memastikan Dini berangkat ke kantor dengan selamat, Andi segera berangkat ke home store.
**
Di home store, sudah ada Dimas yang sedang mengerjakan laporan keuangan di meja kerjanya.
"Dari tadi Dim?" tanya Andi.
"Barusan, Andini udah berangkat?"
"Udah, dia masih nggak mau ngomong sama gue."
"Tapi dia baik baik aja kan?"
"Nggak ada yang baik baik aja kalau berada di posisi Dini sekarang Dim!"
Dimas menghela napasnya panjang, ia tau apa yang ia pilih akan memberikan kesedihan pada gadisnya. Tapi ia merasa tak punya pilihan lain saat itu.
"Sampe kapan kalian kayak gini Dim? jujur gue nggak tahan liat Dini kayak gini!"
"Gue lagi berusaha Ndi, gue kenal bokap gue, pasti ada alasan kenapa bokap gue ngelakuin hal itu."
"Kenapa lo nggak nanya bokap lo langsung Dim?"
"Masalahnya nggak semudah itu Ndi, masalah akan semakin lebar kalau bokap tau tentang hal itu, gue harus pastiin dulu kalau bokap gue nggak salah dan pasti ada alasan yang tepat kenapa hal itu terjadi!"
"Apa lo yakin alasan itu akan bikin ibunya Dini nerima lo lagi?"
"Gue nggak tau sebelum gue coba, apapun akan gue lakuin buat bisa sama Andini!"
**
Di tempat kerja Dini.
Jam makan siang sudah tiba. Lagi lagi Dini masih berkutat dengan pekerjaannya. Kesedihannya akan menguap begitu saja saat ia sedang bekerja. Itu kenapa ia sengaja melewatkan makan siangnya dan mengerjakan semua hal yang bisa ia kerjakan di kantor.
Tak lama kemudian, Jaka masuk dan memberikan sebuah flashdisk pada Dini.
"Simpan materi meeting buat besok di sini Din, sebelum pulang aku bawa buat lanjutin materi yang bagian ku!" ucap Jaka.
"Baik pak," balas Dini.
Di luar kantin, beberapa tukang gosip sedang heboh membicarakan Dini.
"Dini nggak makan siang lagi ya? pasti lagi keluar sama Pak Adit ya?"
"Enggak kok, dia masih di rungannya tadi, dari kemarin dia keliatan sibuk banget."
"Pasti lagi cari perhatian pak Adit tuh!"
"Biar bisa digendong lagi kan kalau pingsan, dasar murahan."
"Lo yakin dia beneran pingsan? pura pura aja kali biar dapet perhatiannya Pak Adit."
"Bisa jadi sih, secara dia kan bisanya cuma godain Pak Adit!"
Jaka yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis. Ia memang orang kepercayaan Adit di perusahaan itu, tapi ia begitu kecewa karena bukan dirinya yang menggantikan posisi Ana di sana.
__ADS_1
Terlebih Adit memilih Dini yang sama sekali belum berpengalaman. Hal itu membuat Jaka iri dan tanpa sadar ia juga tidak menyukai keberadaan Dini di sana.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Dini keluar dari ruangannya untuk memberikan flashdisk pada Jaka.
"Ini Pak, saya sudah menyelesaikan bagian saya dan sudah saya copy," ucap Dini.
"Oke," balas Jaka singkat.
"Belum pulang Din?" tanya seorang perempuan cantik pada Dini.
"Belum mbak, masih banyak yang harus saya kerjakan," jawab Dini.
"Berkas yang kemarin aku kasih ke kamu kan deadline nya masih akhir bulan, kenapa dikerjain sekarang?"
"Lebih cepat lebih baik mbak, saya permisi," jawab Dini lalu kembali ke ruangannya.
"Bilang aja mau berduaan sama Pak Adit." ucap si perempuan pelan, namun masih terdengar jelas oleh Dini.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dini pergi ke pantry untuk membuat kopi. Ia kembali ke ruangannya dan menyadari Adit yang masih berada di ruangannya.
"Pak Adit belum pulang? kalau dipikir pikir, dari awal aku di sini tiap aku pulang Pak Adit belum pulang, apa Pak Adit selalu pulang telat?" batin Dini bertanya tanya.
Dini segera mengalihkan pandangannya begitu ia tertangkap basah sedang memperhatikan Adit.
Adit hanya tersenyum tipis lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang. Adit mengemasi barangnya lalu keluar dari ruangannya dan masuk ke ruangan Dini.
"Kamu mau tidur di sini?" tanya Adit.
"Eh, enggak pak, saya nggak akan tertidur lagi hehe...."
"Apa kantor ini lebih nyaman daripada rumah kamu?"
Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis, lalu menghela napasnya.
"Iya Pak, di sini lebih baik daripada di luar sana, di sini saya cuma perlu fokus sama pekerjaan tanpa memikirkan banyak hal lainnya," jawab Dini.
"Apa terjadi sesuatu di luar sana?"
Dini menggeleng. Pantulan cahaya lampu menampakkan kedua mata Dini yang sudah berkaca kaca. Jika tidak sedang memikirkan pekerjaannya, otaknya akan secara otomatis memikirkan Dimas. Jika sudah begitu, hatinya kembali terasa perih.
"Jangan ditahan Din, kamu nggak perlu terlihat kuat untuk menyembunyikan kesakitan kamu, menangis bukan hal yang salah, menangis bukan berarti kamu lemah, dengan menangis semua emosi yang menyesakkan akan terasa melegakan," ucap Adit yang kini duduk di hadapan Dini.
Dini menutup matanya dengan kedua tangannya. Air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Ia benar benar merindukan Dimas, ia merindukan pelukan hangatnya, genggaman tangannya dan semua hal manis yang selalu Dimas lakukan untuknya.
Melihat hal itu, Adit mengarahkan tangannya untuk mengusap rambut Dini, berniat untuk menenangkan Dini. Namun segera ia urungkan, ia menarik kembali tangannya menjauhi Dini.
"Maaf pak, saya nggak bermaksud buat....."
"It's okay Din, sekarang kamu pulang, udah sepi!"
Dini mengangguk, ia lalu menyimpan file yang ia kerjakan dan mengemasi barang barangnya. Ia berjalan ke luar bersama Adit.
"Gimana keadaan mama Pak Adit?" tanya Dini.
"Mama baik, sebenernya udah boleh pulang dari kemarin, tapi mama nggak mau pulang karena....."
"Din!" panggil Andi yang tiba tiba datang.
"Maaf Pak, ini masnya maksa masuk cari mbak Dini katanya," ucap Pak satpam dengan memegang erat kedua tangan Andi.
"Nggak papa pak, tolong lepaskan!"
"Baik pak, saya permisi," balas Pak satpam lalu meninggalkan mereka bertiga.
Melihat Dini yang sedang bersama Adit, membuat Andi mengalihkan pandangannya pada Adit. Ia menatap lekat lekat laki laki di hadapannya. Begitu juga Adit yang tanpa sadar memperhatikan dengan detail laki laki yang berdiri di hadapannya.
"Kamu ngapain Ndi?" tanya Dini membuyarkan lamunan Andi, begitu juga Adit.
"Aku.... aku... nungguin kamu dari tadi, aku khawatir sama kamu Din," jawab Andi.
"Aku nggak papa, ayo pulang!" ucap Dini lalu menarik tangan Andi.
"Saya permisi pak," ucap Dini yang dibalas anggukan kepala Adit.
Adit masih berdiri di tempatnya dengan memegang dadanya yang terasa nyeri.
"aku harus periksa ke Dokter kayaknya, takut ada penyakit jantung," ucap Adit dalam hati lalu keluar meninggalkan lobby dengan masih memegangi dadanya.
Di perjalanan pulang, Dini masih belum banyak bicara pada Andi.
"Kamu udah makan?" tanya Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
"Mulai besok kamu nggak perlu antar jemput aku ya Ndi, aku baik baik aja kok," ucap Dini pada Andi.
"Selama sikap kamu masih kayak gini aku nggak akan biarin kamu sendirian Din!"
__ADS_1
"Jangan bikin aku keliatan menyedihkan Ndi!"
"Aku ngelakuin ini karena aku sahabat kamu Din, bukan karena kamu keliatan menyedihkan atau apapun itu!"
Dini kembali diam sampai mereka tiba di depan rumah masing masing.
"Tutup jendela kamar kamu Din, Dimas akan datang lewat pintu, bukan jendela kamar kamu!" ucap Andi sebelum Dini masuk ke rumahnya.
Dini hanya diam, ia lalu melangkah ke rumahnya meninggalkan Andi.
Dini membuka pintu rumahnya dan berjalan begitu saja melewati ibunya yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Kamu udah makan Din?" tanya ibu Dini namun lagi lagi diabaikan oleh Dini.
"Mau sampe kapan kamu kayak gini Din? kamu mau jadi anak durhaka?"
Dini menghentikan langkahnya, ia berbalik dan berdiri di hadapan ibunya.
"Apa Dini masih dianggap anak durhaka karena lebih memilih ibu daripada kebahagiaan Dini sendiri?"
"Kamu pikir ini hal yang mudah buat ibu? ibu juga sedih liat kamu sedih kayak gini, tapi jalan kamu masih panjang Din, kamu nggak tau apa yang ibu rasain waktu....."
"Ini juga nggak mudah buat Dini bu, bertahun tahun Dini bertahan sama Dimas, bertahun tahun kita susah seneng sama sama, bertahun tahun kita perjuangin hubungan kita dan sekarang takdir masih nggak berpihak sama kita, apa semua ini keliatan mudah buat ibu? enggak bu, ini juga nggak mudah buat Dimas, ini pilihan sulit yang terpaksa kita pilih demi ibu, demi kebahagiaan ibu!"
"Din, ibu....."
"Dan sekarang ibu masih anggap Dini durhaka? terus apa yang harus Dini lakuin biar ibu bahagia? apa rasa sakit yang Dini rasain sekarang belum cukup buat ibu? Dini udah ninggalin Dimas demi ibu, Dini udah lepasin cinta Dini buat Dimas demi cinta Dini buat ibu, apa yang harus Dini lakuin lagi bu? apa lagi?" tanya Dini dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Ibu Dini hanya diam. Hatinya juga terasa sakit melihat anak satu satunya terluka. Tapi ia percaya, tak akan lama lagi Dini akan menemukan kebahagiaannya, meski tanpa Dimas di sisinya.
Dini lalu melangkah ke kamarnya, meninggalkan ibunya yang masih berdiri di tempatnya.
Seperti biasa, Dini akan duduk merenung di jendela kamarnya sebelum ia merebahkan badannya di ranjang.
**
Pagi kembali datang. Sebelum Dini berangkat, ibunya sudah menunggu di ruang tamu.
"Ibu minta maaf Din, maaf ibu nggak bisa jadi ibu yang baik buat kamu," ucap ibu Dini dengan mata yang berkaca kaca.
Dini lalu mendekat dan memeluk ibunya.
"Ibu yang terbaik buat Dini, maafin sikap Dini beberapa hari ini bu, Dini butuh waktu untuk sendiri," balas Dini lalu melepaskan pelukannya dan keluar dari rumahnya.
Seperti biasa, sudah ada Andi yang menunggunya.
"Kamu baik baik aja Din? wajah kamu keliatan pucet!"
Dini lalu mengambil cermin kecilnya dan memperhatikan wajahnya. Hari itu dia akan melakukan meeting dengan klien penting. Ia harus memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya.
"Gara gara kurang tidur kayaknya," ucap Dini sambil memoles kembali wajahnya dengan bedak.
Sesampainya di kantor, Jaka memberikan flashdisk yang berisi materi meeting pada Dini.
Dini kembali mempelajari materi meeting nya dengan baik.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 siang. Setengah jam lagi Dini akan berangkat meeting bersama Adit dan Jaka.
Dini lalu pergi ke kamar Dini, membasuh wajahnya dan memoles make up yang sedikit lebih flawless dari biasanya, itu ia lakukan untuk menutup wajahnya yang tampak sedikit pucat.
Tepat pukul 9 lebih 30 menit, Dini, Adit dan Jaka bersiap untuk berangkat meeting.
"Pastikan semuanya tidak ada yang tertinggal!" ucap Adit pada Dini dan Jaka.
"Baik pak," jawab Dini dan Jaka kompak.
Merekapun segera berangkat.
20 menit sebelum meeting dimulai, Adit, Dini dan Jaka sudah berada di tempat duduk mereka. Ruangan meeting masih kosong, hanya ada Adit, Dini dan Jaka.
Adit kemudian meminta file materi meeting yang dibawa oleh Dini. Dinipun memberikan flashdisknya pada Adit.
"Kamu yakin ini flashdisk nya?" tanya Adit pada Dini.
"Yakin pak, cuma ada flashdisk itu di tas saya," jawan Dini.
"Lihat, mana materi meeting yang kalian kerjakan?"
Dini lalu menggeser laptop Adit dan melihat isi dari flashdisk itu ternyata kosong.
"Tapi ini flashdisk yang Pak Jaka....."
"Kamu nuduh saya Din? jelas jelas tadi pagi saya kasih kamu flashdisk yang lain, bukan flashdisk ini!"
"Maaf pak, saya nggak inget flashdisk yang Pak Jaka kasih seperti apa, tapi di meja saya nggak ada flashdisk lain selain flashdisk dari Pak Jaka."
"Kamu tau ini meeting penting Din? kamu tau nama perusahaan kita dipertaruhkan di sini? kenapa kamu tidak bisa profesional? saya tau kamu ada masalah di luar kantor, bukan cuma kamu, kita semua punya masalah, tapi jangan bawa masalah kamu ke kantor Din!"
__ADS_1
"Maaf pak, saya...."
"Maaf kamu tidak saya butuhkan di sini, kelalaian kamu kali ini tidak bisa saya maafkan lagi!" ucap Adit lalu keluar dari ruangan meeting.