
Waktu masih berjalan dengan sebagaimana mestinya. Keadaan Andi semakin membaik, begitu juga dengan mama Siska.
"Mama yakin udah nggak ada keluhan apa apa?" tanya Adit sebelum sang mama benar benar meninggalkan ruangannya.
"Mama yakin sayang, kan Dokter juga udah bilang," jawab sang mama.
"Tapi mama nggak boleh kecape'an dulu, nggak boleh banyak kegiatan dan harus lebih banyak istirahat!"
"Iya sayang, mama mengerti," balas mama Siska yang merasa gemas pada anaknya yang sangat protektif itu.
"Mama juga harus janji, kendalikan emosi mama waktu ketemu Andi nanti, keadaanya memang sudah membaik tapi masih nggak boleh terlalu banyak tekanan, mama harus....."
"Iya sayang, iya, mama mengerti Adit, kamu jangan khawatir," ucap mama Siska yang sudah tidak tahan dengan kebawelan Adit.
Adit lalu duduk di ranjang sang mama saat mama Siska hendak membuka pintu ruangannya. Mama Siska lalu mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, ia menghampiri Adit yang tampak sedang tidak baik baik saja.
"Ada apa Adit? kenapa kamu sedih?"
"Adit nggak sedih ma, Adit cuma......"
"Adit cuma nggak tau harus bersikap gimana, di sisi lain Adit seneng karena adik yang selama ini Adit cari udah di depan mata, anak yang selama ini mama rindukan sudah ada di hadapan mama, tapi ada sedikit rasa takut di hati Adit, takut kalau mama akan lupain Adit, seperti saat emosi mama nggak terkendali, mama selalu lupa kalau Adit juga anak mama," batin Adit dalam hati.
Mama Siska lalu duduk di samping Adit dan memeluknya.
"Adit, kamu anak mama sayang, mama yang melahirkan kamu dan membesarkan kamu walaupun dengan banyak kekurangan, mama sayang sama kamu seperti mama sayang sama Andi, cinta mama cuma buat kalian berdua, hidup mama cuma buat kalian berdua," ucap mama Siska yang mengerti kekhawatiran Adit.
"Maafin Adit ma."
"Kamu nggak perlu minta maaf sayang, kamu sudah banyak berkorban buat keluarga kita, kamu selalu sabar hadapin mama, kamu selalu ada buat mama, nggak ada yang salah dari kamu Adit, kamu tetap anak kebanggaan mama."
Adit hanya diam dengan memeluk mamanya erat. Ia sangat menyayangi mamanya. Baginya, sang mama adalah cinta pertama dalam hidupnya. Meski sering kali ia harus menahan sakit karena sikap mamanya yang tak terkendali, hal itu tidak membuat rasa dalam hatinya berkurang dan hilang.
Baginya, sang mama adalah alasan untuknya selalu penuh semangat untuk menjalani impiannya. Ia selalu berusaha membahagiakan sang mama, bagaimanapun caranya.
"Tenangkan hati kamu sayang, mama nggak akan keluar dari sini sebelum suasana hati kamu membaik," ucap mama Siska.
Adit lalu menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan pelan, membuang semua pikiran pikiran negatif yang menyerang dirinya.
"Ayo kita temui Andi ma," ucap Adit dengan senyumnya.
"Kamu yakin sayang?"
"Adit yakin," jawab Adit sambil menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.
Adit dan mamanya lalu keluar dari ruangan itu dan berjalan ke arah ruangan Andi. Dengan jantung berdegup kencang tanpa jeda, mama Siska melangkahkan kakinya dengan penuh do'a untuk menemui anak yang sudah puluhan tahun tidak ia temui.
Saat sampai di depan ruangan Andi, Adit melihat ayah dan ibu Andi yang sedang berada di dalam.
"Adit minta izin om sama tante dulu ya ma, mama tunggu di sini sebentar," ucap Adit.
"Iya sayang," balas sang mama.
Adit lalu membuka pintu dengan perlahan, membuat semua yang ada di dalam membawa pandangannya pada Adit.
"Permisi om, tante, mama boleh ketemu Andi?" tanya Adit sopan.
Ibu dan ayah Andi lalu saling pandang, ibu Andi hanya menganggukkan kepalanya pada sang suami.
"Boleh, biar kita keluar dulu," jawab ayah Andi.
"Apa ayah sama ibu nggak bisa di sini juga?" sahut Andi bertanya.
"Kalian butuh waktu berdua," jawab ayah Andi lalu membawa sang istri keluar dari ruangan Andi.
"Silakan masuk!" ucap ayah Andi pada mama Siska.
"Terima kasih banyak mbak, pak," balas mama Siska lalu segera masuk menyusul Adit.
Dengan langkah penuh bahagia, mama Siska memasuki ruangan Andi.
__ADS_1
Mata mama Siska tampak berkaca kaca saat ia melihat anak yang selama ini ia cari ada di depan matanya. Namun ia segera menghapus air matanya, seperti kata Adit, ia harus bisa mengendalikan emosinya.
"Duduk ma," ucap Adit sambil menggeser kursi untuk sang mama.
Mama Siska duduk di samping ranjang Andi, sedangkan Andi duduk di atas ranjangnya.
Untuk sesaat mereka hanya saling diam. Andi membawa pandangannya ke segala arah karena merasa terlalu canggung untuk menatap mama Siska. Sedangkan mama Siska hanya menatap Andi tanpa berucap apapun.
"Ndi, lo pasti udah denger apa yang mama dan orangtua lo ucapin malam itu, di sini mama cuma mau jelasin apa yang sebenarnya terjadi 25 tahun yang lalu, lo boleh nggak percaya, tapi gue yakin hati lo nggak akan bisa bohong," ucap Adit.
"Andi, anak mama," ucap mama Siska dengan mata yang kembali berkaca kaca.
Adit lalu memegang pundak sang mama, berusaha menguatkan sang mama. Lagi lagi mama Siska mengusap air matanya, ia tidak ingin terlihat lemah di depan kedua anaknya.
"Andi akan denger semuanya, jadi Andi harap nggak akan ada kebohongan lagi yang Andi denger," ucap Andi tanpa menoleh ke arah mama Siska.
"Semua yang akan mama ceritakan ini adalah kebenaran yang selama ini disembunyikan dari kamu, jadi mama harap kamu bisa mengambil pilihan dengan bijak nantinya," ucap mama Siska yang dibalas anggukan kepala Andi.
"Dulu sebelum kamu lahir, kita keluarga yang berkecukupan, papa kamu adalah pemilik perusahaan di kota tempat tinggal kita, mama inget waktu itu 2 hari sebelum hari kelahiran kamu, papa kamu tiba tiba pulang sebelum jam pulang kantornya, papa minta mama buat beresin barang barang seperlunya karena kita harus pergi saat itu juga."
"Waktu itu mama menolak, karena alasan yang papa sembunyiin dari mama, sampe akhirnya papa cerita kalau dia dikhianati sahabat baiknya, sahabat baik papa menusuk papa dari belakang, seseorang yang dianggapnya sahabat itu bekerja sama dengan pihak kepolisian dan media buat menyebarkan berita bohong tentang papa kamu, mereka membuat bukti palsu yang menyatakan kalau papa adalah pelaku kejahatan bisnis."
"Semua bukti mengarah pada papa tanpa papa bisa mengelak, alhasil satu hari sebelum kamu lahir, semua aset papa disita, nggak cuma perusahaan, tapi juga rumah dan bisnis papa yang lainnya, mereka nggak ngasih kesempatan mama buat ambil perhiasan ataupun uang yang kita simpan di bank, mereka membuat nama papa buruk di masyarakat, mereka membuat papa kehilangan segalanya dalam sekejap mata, nggak ada seorang pun yang bisa dan mau membantu papa kamu saat itu, bahkan saudara pun tidak ada yang peduli bahkan mengucilkan keluarga kita, mereka menganggap papa kamu sebagai aib bagi keluarga."
"Selama sehari penuh kita cuma berjalan tanpa arah, mama, papa dan Adit yang masih berusia 2 tahun saat itu cuma bisa melangkah tanpa tau kemana tujuan kita, kalau bukan karena kamu yang masih ada dalam kandungan mama dan Adit yang masih sangat kecil, mama pasti sudah menyerah saat itu."
"Sampe akhirnya mama kontraksi hebat, air ketuban mama pecah saat kita semua berjalan ke arah rumah pak Joko, papa bawa mama ke rumah sakit, tapi nggak ada rumah sakit yang mau menerima mama karena tau mama istri orang yang sudah mendapat cap buruk dari seluruh masyarakat, beruntung saat itu mbak Joko mau membantu mama, dia bawa mama ke rumah sakit tanpa papa dan dia juga yang membiayai biaya persalinan mama saat itu."
"Dengan keadaan mama dan papa yang seperti itu, mama merasa nggak akan bisa merawat kamu dengan baik, mama nggak mau kamu merasakan kesulitan hidup yang mama rasain, itu kenapa mama minta mbak Joko buat bawa kamu, mama akan kembali setelah keadaan mama dan papa membaik, tapi ternyata mama salah, hari dimana mama melahirkan kamu adalah hari terakhir mama melihat kamu, sejak saat itu selama bertahun tahun lamanya, mama nggak pernah bisa temuin kamu."
"Butuh waktu bertahun tahun buat papa kembali bangkit, kita pindah ke luar kota dan memulai semuanya dari nol di sana, tak jarang mama papa dan Adit harus menahan lapar karena tak ada apapun yang bisa kami beli, tak ada sepeserpun uang yang kami punya, hidup kami sangat berat sebelum akhirnya papa bisa memulai kembali bisnisnya setelah bertahun tahun lamanya."
"Mama dan papa nggak pernah berhenti cari kamu, terlebih saat keadaan kita membaik, tapi alam seperti sedang mengutuk mama saat itu, nggak ada satupun petunjuk tentang keberadaan mbak Joko dan pak Joko yang membawa kamu."
"Sekarang kamu sudah ada di hadapan mama, mama minta maaf atas pilihan mama yang membuat kita terpisah begitu lama, mama menyesal sekaligus bersyukur karena kamu dirawat dengan baik oleh ayah dan ibu kamu."
"Mama sangat ingin kamu kembali sama mama dan tinggal bertiga dengan Adit di rumah kita, tapi mama nggak akan memaksa kamu, semua keputusan ada di tangan kamu, pintu rumah mama akan selalu terbuka buat kamu," ucap mama Siska di akhir ceritanya.
Kini ia mengerti kenapa ia berada di tangan ayah dan ibunya. Hal itu bukan suatu keegoisan, tapi pengorbanan seorang ibu pada anak yang baru dilahirkannya.
"Tolong maafkan mama, maafkan mama yang sudah membuat kamu dalam posisi yang sulit saat ini," ucap mama Siska.
"Kalau lo nggak percaya, lo bisa cari artikel tentang hancurnya perusahaan papa waktu, tapi karena kegigihan papa, papa akhirnya bisa balikin nama baiknya lagi setelah bertahun tahun berusaha," ucap Adit pada Andi.
"Sayang, kamu mau ikut mama pulang kan?" tanya mama Siska dengan menggenggam tangan Andi.
"Maaf tante," ucap Andi dengan perlahan menarik tangannya dari genggaman mama Siska.
Seketika air mata mama Siska meluncur deras tak terbendung lagi mendengar dua kata yang Andi ucapkan.
Bukan hanya karena Andi memanggilnya "tante", tapi juga ucapan Andi yang bermaksud sebuah penolakan membuat hatinya kembali hancur.
"Tolong kamu pikirkan lagi Andi, mama......."
"Ma, sudah," ucap Adit menenangkan sang mama.
Andi hanya diam dengan menahan sesak di dadanya. Entah kenapa melihat wanita di sampingnya menangis, membuatnya terasa begitu sedih.
"Mama mengerti, mungkin sulit buat kamu menerima semua ini, tapi ini fakta yang harus kamu tau, tapi tolong jangan menghindar lagi dari mama," ucap mama Siska yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Andi, tanpa membawa pandangannya pada wanita di sampingnya.
"Kamu bisa datang ke rumah, kapanpun kamu mau," ucap mama Siska dengan berusaha tersenyum.
"Biar Andi istirahat dulu ma, mama juga harus istirahat di rumah," ucap Adit pada sang mama.
"Kita balik dulu Ndi, mama harus istirahat dulu," ucap Adit pada Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
Adit dan sang mama pun meninggalkan ruangan Andi, mereka segera pulang ke rumah.
Setelah Adit dan mamanya pulang, ayah dan ibu Andi segera masuk ke dalam ruangan Andi.
__ADS_1
"Andi udah ngelakuin hal yang bener kan bu?" tanya Andi dengan mata berkaca kaca.
Ibu Andi lalu mendekat dan memeluk Andi. Tangis Andi tumpah dalam pelukan wanita yang sudah memberinya cinta dan kasih sayang sepanjang hidupnya.
Entah kenapa hatinya terasa sakit. Ia tidak ingin meninggalkan ayah dan ibunya. Ia sangat menyayangi mereka, namun di sisi lain dadanya terasa sesak saat melihat mama Siska menangis di sampingnya dan hal itu membuat hatinya juga merasakan kesedihan yang begitu dalam.
"Apapun keputusan kamu, ayah dan ibu akan terima, kamu akan tetap jadi anak ayah dan ibu kemanapun kamu pergi, dimanapun kamu tinggal," ucap ayah Andi pada Andi.
"Andi udah ambil keputusan yah, Andi akan tetep sama ibu dan ayah," balas Andi yang masih dalam pelukan sang ibu.
"Kamu yakin dengan pilihan kamu?" tanya ibu Andi.
Andi hanya diam, ia lalu melepaskan dirinya dari pelukan ibunya.
Ibu Andi lalu menceritakan bagaimana keadaan mental mama Siska selama ini. Ia juga bercerita bagaimana Adit harus tetap bertahan pada sikap sang mama yang selalu menyakitinya, membuatnya terluka dan berakhir di rumah sakit.
**
Di tempat lain, baru saja Adit meninggalkan kamar sang mama, ia sudah mendengar teriakan sang mama yang disertai dengan suara barang barang yang dibanting dengan keras.
Aditpun segera kembali masuk ke ruangan sang mama dengan kunci cadangan.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya mama Siska dengan membawa lampu meja di tangannya.
"Adit mau nemenin mama," jawab Adit dengan mendekati sang mama pelan pelan.
"Pergi, ini kutukan buat mama, ini karma buat mama karena udah ninggalin anak mama yang masih bayi," ucap mama Siska dengan terisak.
"Enggak ma, kita masih bisa berusaha lagi, kita......"
Adit menghentikan ucapannya saat lampu meja yang dipegang sang mama terlempar ke arahnya dan melukai keningnya.
"Mama istirahat dulu ya ma, nanti kita temui Andi lagi," ucap Adit yang masih berusaha mendekati sang mama.
Ia tidak ingin sang mama melukai dirinya sendiri saat sedang seperti itu, itu kenapa Adit harus selalu menemani sang mama meski ia tau jika ia akan terluka.
"Mbak, tolong ambilkan obat penenang mama," ucap Adit pada penjaga ibunya yang berada di pintu kamar.
"Baik mas."
Setelah memberikan suntikan obat penenang pada sang mama, Adit meminta ART nya untuk membereskan kamar sang mama. Sedangkan Adit segera kembali ke rumah sakit setelah membersihkan luka di keningnya.
Sesampainya di rumah sakit, ia segera menemui Andi, bukan untuk memaksa Andi ikut dengannya, namun untuk memberi tahu Andi tentang keadaan mental sang mama.
"Ini laporan kesehatan mama, mama depresi berat karena rasa bersalah dan penyesalannya selama ini, gue nggak maksa lo Ndi, tapi tolong lo pikirkan baik baik," ucap Adit.
"Gue udah coba bawa mama ke psikiater, psikolog, tapi itu nggak bawa pengaruh baik sama sekali buat mama, Dokter bahkan minta gue buat bawa mama ke rumah sakit jiwa tapi gue selalu nolak karena gue tau yang bisa sembuhin mama cuma lo, Andi, anak mama yang selalu mama rindukan," lanjut Adit.
Andi membaca sekilas laporan yang Adit berikan, ia sudah mendengar hal itu dari ayah dan ibunya. Saat melihat luka di kening Adit, ia segera tau jika itu karena mama Siska.
"Kening lo berdarah," ucap Andi.
Adit segera mengambil tissue dan mengusap keningnya yang terasa perih.
"Gue abis jatuh," ucap Adit berbohong.
Andi hanya diam meski ia yakin jika Adit berbohong padanya.
"Mama butuh lo Ndi, tolong jangan biarin mama hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah yang menyiksanya selama ini, kasih mama kesempatan buat bisa rasain kasih sayang anak anaknya yang udah lama terpisah," ucap Adit.
Andi hanya terdiam mendengar ucapan Adit. Ia sama sekali tidak menyangka jika Adit menjalani hidupnya dengan berat selama ini.
Andi menjadi bimbang dengan keputusannya, ia ragu kemana ia harus memilih. Ia tidak ingin menyakiti siapapun. Ayah dan ibunya yang sudah merawatnya dari kecil, atau mama Siska yang telah melahirkannya dan menjalani hidupnya dengan rasa bersalah dan penyesalan.
**Maaf beberapa hari ini telat upadate dan jarang buka aplikasinya, sebenernya author ulang tahun tanggal 19 kemarin 🤭
**Dari tanggal 18 udah berangkat liburan dan baru pulang, jadi maaf atas keterlambatannya ya kakak readers semuanya
**Insya allah mulai besok akan mulai rutin lagi
__ADS_1
**Dukung terus karya author ya kak, biar makin semangat. Terima kasih.
Peluk cium untuk kakak readers semuanya 😘❤🌹