Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kabar Bahagia (Extra Part)


__ADS_3

Pagi di hari Minggu telah menyapa dengan sinar terik matahari. Dini menggeliat di atas ranjangnya saat cahaya matahari sudah masuk ke kamarnya.


Tangannya meraba di sebelahnya dengan mata terpejam, namun ia tidak mendapati Andi disana.


Dini kemudian membuka matanya dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 9 siang.


"Duuuh, aku kesiangan!" ucap Dini lalu segera beranjak dari ranjang.


Perjalanan yang cukup jauh membuat Dini tertidur dengan pulas hingga terlambat bangun. Saat ia akan membuka pintu kamar mandi, ia mendengar suara dari dalam kamar mandi.


"Ndi, kamu kenapa?" tanya Dini yang mendengar suara Andi dari dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian Andi keluar dengan wajah yang pucat. Ia lalu memeluk Dini dan menjatuhkan diri di atas ranjang.


Dini kemudian menyentuh kening Andi dengan telapak tangannya.


"Nggak demam, tapi wajah kamu pucat banget, kenapa?" tanya Dini.


"Nggak tau Din, dari pagi rasanya perutku mual banget!" jawab Andi sambil meraih tangan Dini dan memeluknya.


"Apa karena makan makanan yang di Korea kemarin?" tanya Dini menerka.


"Aku juga nggak tau Din," jawab Andi dengan memejamkan matanya.


"Kamu istirahat dulu, aku buatin bubur buat kamu," ucap Dini lalu menutup tubuh Andi dengan selimut.


Dini kemudian keluar dari kamar dan membuatkan bubur untuk Andi di dapur.


"Mama baru bangun?" tanya Alana menghampiri Dini.


"Iya sayang, mama sama papa kecape'an jadi bangunnya telat, Alana sudah sarapan?"


"Sudah, tadi sama Oma Ranti, mama lagi bikin apa?"


"Mama bikin bubur buat papa, papa lagi nggak enak badan," jawab Dini.


"Papa sakit?" tanya Alana yang tampak khawatir.

__ADS_1


"Mungkin cuma kecape'an sayang, Alana udah buka koper yang dibawah? itu oleh oleh dari mama sama papa buat Alana!"


"Nanti aja dibuka, Alana mau liat papa," jawab Alana lalu berlari ke kamar Andi.


Dini hanya tersenyum tipis lalu segera mengikuti Alana setelah ia selesai membuat bubur untuk Andi.


"Papa sakit?" tanya Alana dengan menempelkan telapak tangannya di kening Andi.


"Enggak sayang, papa cuma kecape'an aja, Alana udah buka oleh olehnya?" jawab Andi sekaligus bertanya.


"Belum, kita buka sama sama ya nanti!"


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum dan membelai rambut Alana.


**


Waktu berlalu, hari berganti. Entah kenapa setiap pagi Andi selalu merasa mual, namun saat menjelang siang rasa mualnya tiba tiba hilang begitu saja.


Sudah 2 hari Andi berangkat kerja pada jam siang, karena setiap pagi ia merasa tubuhnya begitu lemah.


Dini sudah berkali kali meminta Andi untuk memeriksakan dirinya ke Dokter, tapi Andi selalu menolak dengan alasan yang sama.


Satu Minggu berlalu dan Andi masih merasakan hal yang sama, mual dan lemas setiap pagi.


Sampai akhirnya Dini berhasil memaksa Andi untuk memeriksakan dirinya. Tapi anehnya Dokter menjelaskan jika Andi baik baik saja dan sehat.


Dokter malah meminta Dini untuk memeriksakan dirinya ke Poli Obgyn untuk memastikan dugaan Dokter terkait apa yang terjadi pada Andi.


Dengan ragu Dinipun mengikuti perintah Dokter. Setelah melakukan pemeriksaan di Poli Obgyn, Dokterpun menjelaskan sesuatu yang begitu mengejutkan Andi dan Dini.


"Hamil?" tanya Dini tak percaya.


"Iya, apa tidak ada tanda tanda kehamilan yang dirasakan? seperti morning sickness misalnya?"


"Enggak Dok, justru sebenarnya saya kesini karena mau memeriksakan suami saya yang setiap pagi mual dan lemas," jawab Dini menjelaskan.


Dokter pun tersenyum mendengar penjelasan Dini.

__ADS_1


"Hal itu bisa saja terjadi karena kondisi psikologis suami yang bisa merasakan gejala kehamilan yang biasa dirasakan istri," ucap Dokter menjelaskan.


"Apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan agar suami saya berhenti mual setiap pagi Dok?" tanya Dini.


"Morning sickness yang dirasakan suami biasanya terjadi pada trimester pertama saja, jika dirasa sangat menganggu bisa mencoba untuk menghindari makanan padat setiap pagi, minum minuman hangat dan jika mualnya semakin parah bisa juga mengkonsumsi obat anti mual," jawab Dokter menjelaskan.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter, Andi dan Dini pun meninggalkan rumah sakit. Dini masih sedikit tidak percaya jika dirinya benar benar hamil saat itu, karena ia baru sekali melakukan hubungan suami istri dengan Andi saat mereka berada di Korea.


Dini juga sama sekali tidak merasakan tanda tanda kehamilan seperti yang ia rasakan dulu saat pertama kali hamil.


Di sisi lain, Andi berkali kali bersyukur dalam hatinya karena Dini sedang mengandung anaknya.


Ia tidak menyangka akan diberikan kepercayaan oleh Tuhan secepat itu, mengingat usia pernikahannya yang baru beberapa bulan dan ia baru melakukan hubungan suami istri dengan Dini hanya satu kali.


"Ndi, apa kita perlu periksa ke tempat lain?" tanya Dini pada Andi.


"Kenapa? kamu nggak percaya penjelasan Dokter tadi?" balas Andi bertanya.


"Aku.... agak ragu aja, karena aku sama sekali nggak ngerasain apa apa, beda banget sama kehamilan pertamaku dulu," jawab Dini.


"Kita coba ke rumah sakit lain sekarang," balas Andi lalu segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit yang lain.


Sesampainya disana mereka segera berjalan ke arah Poli Obgyn dan ternyata hasilnya pun sama. Dini memang benar benar hamil. Merekapun meninggalkan rumah sakit dan segera pulang.


"Apa kamu belum siap dengan kehamilan kamu yang sekarang?" tanya Andi mengkhawatirkan Dini.


Dini hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum pada Andi.


"Aku akan jaga dia dengan lebih baik Ndi, aku nggak akan kecewain kamu," ucap Dini dengan menatap Andi.


"Dan aku akan berusaha buat jadi suami siaga buat kamu," balas Andi dengan membelai rambut Dini.


Saat tiba di lampu merah, Andi membelokkan mobilnya ke arah lain, bukan ke rumahnya.


"Kita mau kemana?" tanya Dini pada Andi.


"Dimas harus jadi yang pertama tau tentang kabar bahagia ini," jawab Andi yang dibalas anggukan kepala Dini.

__ADS_1


Ya, Andi mengajak Dini mengunjungi makam Dimas. Seperti biasa, setelah menaburkan bunga dan berdo'a, mereka berbincang seolah Dimas ada di hadapan mereka.


Setelah itu Andi dan Dinipun pulang, mereka sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar bahagia itu pada semua orang.


__ADS_2