
Langit sore tampak masih cerah. Jam masih menunjukkan pukul 3 lewat 30 menit. Setelah selesai bersiap siap Ana segera memesan taksi untuk menemui Adit di kantor.
Saat ia baru saja tiba, ia begitu terkejut melihat Adit yang keluar dari kantor bersama Jenny dengan bergandengan tangan. Ia pun segera menyembunyikan dirinya di belakang satpam yang sedang bertugas.
Sejauh yang ia tau, Adit selalu menjauhi Jenny dan ia sudah berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun sampai masalah keluarganya selesai.
Tapi apa yang ia lihat sore itu cukup membuat gemuruh dalam hatinya, entah karena Adit yang tidak menepati ucapannya atau ada hal lain yang ia rasakan saat itu.
Tak lama kemudian Ana melihat Dini keluar dari dalam kantor, ia pun segera menghampiri Dini.
"Hai Din," sapa Ana.
"Hai mbak, mbak Ana cari siapa? kak Adit?"
"Iya, dia udah pulang?" tanya Ana seolah ia belum melihat Adit.
"Udah mbak barusan, sama Jenny," jawab Dini.
"Jenny? berdua aja?"
Dini mengangguk cepat.
"Ada yang aneh sama kak Adit mbak," ucap Dini.
"Ada apa Din?" tanya Ana.
"Tadi Jenny cium kak Adit dan kak Adit nggak ada respon apa apa, mbak Ana pasti tau kan kalau kak Adit selalu jauhin Jenny."
"Iya, saya tau, apa ada sesuatu yang terjadi sebelumnya?"
"Saya kurang tau mbak, dari pagi kak Adit keliatan bad mood, saya nggak berani nanya apa apa lagi," jawab Dini.
Ana hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Dini.
Tiiiiin Tiiiiin Tiiiiin
Suara klakson membuat Dini dan Ana mengarahkan pandangan mereka ke arah jalan raya.
"Saya udah dijemput mbak, mbak Ana mau saya antar pulang sekalian?"
"Nggak usah Din, makasih."
"Saya duluan ya mbak!"
"Iya hati hati."
Dinipun meninggalkan Ana yang masih berdiri di sana. Ia segera masuk ke dalam mobil Dimas.
"How was your day?" tanya Dimas.
"Good, kamu?"
"Good," jawab Dimas.
Dimaspun membawa Dini ke mall yang tak jauh dari tempat kerja Dini.
"Ini bukan jalan ke rumah, kita mau kemana?" tanya Dini.
"Ke mall, nggak papa kan? atau kamu capek, mau langsung pulang?"
"Enggak kok, nggak papa, aku pingin ngabisin waktu sama kamu," jawab Dini dengan senyum manisnya.
Tak lama kemudian, merekapun sampai, mereka berkeliling mall dengan bergandengan tangan seperti biasa.
Saat mereka sedang makan, Dini melihat Adit dan Jenny yang juga sedang makan di tempat itu. Tampak mereka sedang asik membicarakan sesuatu. Sebuah pemandangan yang sedikit aneh bagi Dini karena ia tidak melihat sosok Adit yang selama ini menghindari Jenny.
"apa ini ada hubungannya sama kejadian di kafe? apa ada hubungannya sama video yang di lihat kak Adit?" batin Dini dalam hati.
"Ada apa sayang?" tanya Dimas yang melihat Dini tampak bingung.
"Enggak, nggak papa," jawab Dini sambil menyeruput minuman di hadapannya.
"Sayang, selama aku nggak ada di sini, kamu harus bisa jaga diri baik baik ya!" ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
"Pasti, kamu juga jaga diri baik baik di sana dan yang pasti nggak boleh nakal!"
"Aku mana pernah nakal Andini, aku kan cowok baik baik."
"Kebaikan kamu itu yang sering bikin cewek salah paham!"
"Ya udah aku jadi cowok nggak baik aja."
"Ya nggak gitu juga dong Dimas," balas Dini kesal.
Dimas hanya terkekeh melihat raut wajah Dini yang tampak kesal.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang, Dimas sudah mengantarkan Dini sampai di depan rumahnya.
Setelah Dimas pulang, Dinipun masuk ke dalam rumah.
**
Di sisi lain, Ana sedang duduk di depan pintu apartemen Adit. Beberapa kali ia menghubungi Adit namun tak pernah tersambung.
Hingga langit mulai gelap Ana masih duduk di sana seorang diri.
Tepat jam 8 malam Adit keluar dari lift dan melihat Ana yang tertidur dengan posisi duduk di lantai.
"Ana, bangun An," ucap Adit pelan dengan menyentuh tangan Ana.
Hangat, Adit merasa tangan Ana lebih hangat dari biasanya. Ia pun menempelkan telapak tangannya di kening Ana dan ia sadar jika Ana tengah demam saat itu.
Adit pun segera membuka pintu dan membopong Ana masuk lalu membaringkannya di ranjang.
Adit segera mengambil kain dan air untuk mengompres kening Ana.
"lo kenapa An? apa yang sebenarnya terjadi sama lo?" batin Adit bertanya.
Tanpa berganti pakaian apa lagi mandi, Adit duduk di samping Ana yang masih terpejam.
Tak lama kemudian Ana membuka matanya dan melihat Adit di sampingnya.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit ya!" ucap Adit pada Ana, namun Ana menggeleng.
Ana lalu berusaha bangun dari posisi tidurnya dengan dibantu Adit, ia duduk di samping Adit.
"Lo dari mana?" tanya Ana.
"Gue..... tadi..... gue baru pulang dari kantor, harusnya lo hubungin gue kalau mau ke sini," jawab Adit berbohong.
"Gue tadi ke kantor dan liat lo sama Jenny, ada apa Dit? apa lo udah tanda tangan kontrak kerja samanya?"
Adit menggeleng pelan.
"Terus?"
"Gue emang nggak tanda tangan kontrak kerja sama, tapi gue tanda tangan perjanjian sama Jenny."
"Perjanjian? perjanjian apa?"
"Rumit An, gue nggak bisa jelasin!"
"Jelasin Dit!"
"Tapi......"
"Adit!"
"Oke oke, gue jelasin!"
Aditpun menjelaskan permasalahan yang terjadi yang membuatnya terpaksa membuat perjanjian dengan Jenny.
"Lo tenang aja, ini nggak akan lama, gue akan cari cara buat selesaiin hal ini," ucap Adit di akhir penjelasannya.
Ana hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Adit.
Adit lalu kembali menempelkan telapak tangannya di kening Ana.
"Lo demam, minum obat ya!" ucap Adit.
"Nggak usah, gue nggak papa," balas Ana sambil beranjak dari duduknya.
"Lo mau kemana?"
"Pulang," jawab Ana singkat.
Adit segera menarik tangan Ana, menahan Ana agar tidak pergi lagi.
"Lo kenapa An? ada apa?" tanya Adit dengan masih menahan tangan Ana.
"Gue kesini cuma pingin ketemu lo," jawab Ana.
"Lo nggak jawab pertanyaan gue dan kalau lo kesini mau ketemu gue, sekarang lo mau langsung pergi?"
Ana menarik tangannya dengan kasar lalu kembali duduk.
"Ada apa An? cerita sama gue!"
Ana menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskannya pelan.
Ia merasa saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk memberitahu pada Adit tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Adit yang sudah dibuat kacau oleh Jenny.
"Lo mau balik ke kantor?"
Ana menggeleng.
"Lo bisa balik ke kantor kapanpun lo mau An, gue bisa pindahin Dini," ucap Adit.
"Anterin gue pulang!" pinta Ana.
"Oke, gue ganti baju bentar."
Setelah berganti baju Adit dan Ana keluar dari apartemen.
"Lo belum mandi ya?" tanya Ana.
"Hehe, belum," jawab Adit terkekeh.
"Bau lo bikin gue mual," ucap Ana sambil menutup mulutnya.
"Lebay banget deh, lo kan sering bareng gue seharian walaupun gue nggak mandi," balas Adit.
Tiba tiba Ana memukul mukul tangan Adit, bermaksud meminta Adit untuk menghentikan mobilnya karena Ana benar benar mual saat itu.
Dengan cepat Adit menepikan mobilnya begitu melihat Ana yang tampak panik dengan memegangi mulutnya.
Ana segera keluar dari mobil dan memuntahkan isi perutnya di pinggir jalan.
"apa sebegitu baunya gue?" tanya Adit dalam hati.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Adit sambil memberikan tissue pada Ana.
"Enggak, anterin gue pulang aja!" balas Ana.
"Tapi lo lagi sakit An, gue....."
"Anter gue pulang Dit!" ucap Ana dengan sedikit emosi.
Adit mengalah, ia membantu Ana kembali masuk ke dalam mobil.
"Lo udah makan?"
Ana menggeleng.
"Oke, kita cari makan dulu, lo nggak boleh nolak," ucap Adit.
Adit memutuskan untuk membeli nasi goreng favorit Ana lalu kembali melajukan mobilnya ke arah rumah Ana.
Sesampainya di sana, Adit kembali membantu Ana berjalan karena ia melihat Ana yang tampak lemas.
"Gue bisa jalan Dit, jangan lebay deh!" ucap Ana kesal.
"Lo lagi 'dapet' ya, marah marah mulu dari tadi!"
__ADS_1
Ana hanya diam sambil membuka pintu rumahnya. Sepi, karena hanya Ana yang tinggal di sana. Ia tinggal seorang diri karena kedua orangtuanya sudah meninggal dalam kecelakaan.
"Lo nggak pulang?" tanya Ana pada Adit.
"Baru juga duduk, udah diusir, lo makan dulu abis itu gue pulang!"
"Gue nggak laper!"
Adit lalu masuk ke dapur, mengambil piring dan sendok lalu membuka nasi goreng di depan Ana. Seketika bau nasi goreng seakan begitu menusuk hidung Ana, membuat Ana kembali mual dan segera berlari ke kamar mandi.
"An, lo kenapa?" tanya Adit sambil menggedor gedor pintu kamar mandi.
Tak ada jawaban, namun tak lama kemudian Ana keluar dengan wajah yang sangat pucat.
"Gue nggak papa, lo pulang aja, gue takut nanti ada salah paham kalau lo di sini."
"Cowok lo tau kalau lo sakit?"
Ana mengangguk.
"Bentar lagi dia datang," jawab Ana berbohong.
Dengan terpaksa Aditpun pulang meninggalkan rumah Ana.
**
Hari berganti. Pagi pagi sekali Andi berangkat ke home store untuk mengambil desain yang tertinggal di sana.
Setelah mengambilnya, Andi segera berangkat menemui kliennya dengan membawa beberapa lembar desain yang baru dibuatnya.
Tak lupa ia menyalakan GPS untuk mengetahui lokasi yang akan ia datangi.
Setelah beberapa lama berkendara, Andi sampai di depan sebuah rumah seseorang yang ia kenal.
"apa aku batalin aja ya? tapi.... enggak, aku harus profesional, aku kesini cuma masalah pekerjaan, nggak lebih!" ucap Andi dalam hati.
Setelah mendapat izin dari satpam, Andipun masuk ke halaman rumah itu. Entah kenapa jantungnya berdebar kencang, membuatnya semakin gugup.
Andi lalu berjalan ke arah pintu, baru saja ia mengangkat tangannya untuk menekan bel, seorang wanita paruh baya sudah membuka pintunya.
Seuntai senyum tampak tergaris di bibir wanita itu. Tampak sebuah kebahagiaan dari binar matanya saat ia membuka pintu.
"Andi ke sini cuma buat pekerjaan tante," ucap Andi.
"Iya, tante mengerti, ayo masuk!" balas mama Siska.
Andi lalu masuk mengikuti mama Siska.
"Andi bawa beberapa desain, tante bisa pilih," ucap Andi sambil memberikan sebuah map pada mama Siska.
Mama Siska pun membuka dan memperhatikan beberapa desain yang Andi buat.
"Tante pilih yang ini, apa akhir bulan nanti bisa selesai?"
"Bisa tante, ini contoh kain yang bisa tante pilih sesuai kebutuhan dan keinginan tante."
Mama Siska mengangguk. Ia merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan Andi lagi.
Setelah beberapa lama mereka berdiskusi, Adit datang.
"Ngapain lo di sini?" tanya Adit pada Andi.
Andi tak menjawab, setelah mendapat kesepakatan dengan mama Siska, Andi segera mengemasi barang barangnya dan beranjak dari duduknya.
"Andi permisi dulu tante," ucap Andi.
"Iya, hati hati," balas mama Siska.
Andi melewati Adit begitu saja tanpa menoleh ataupun menyapa. Adit lalu mengikuti Andi dan menahannya.
"Gue udah bilang jangan temui mama lagi!" ucap Adit.
"Ini pekerjaan gue, lo nggak bisa ngelarang gue!"
"Gue nggak tau apa maksud lo deketin mama, tapi sekali lagi lo nyakitin mama, gue nggak akan tinggal diam!"
"Dan gue juga nggak akan tinggal diam kalau lo ninggalin Dini di pinggir jalan lagi, cuma cowok yang nggak bertanggung jawab yang ngelakuin hal itu!"
"Dan cuma cowok pengecut yang nggak berani ungkapin isi hatinya sama cewek yang disuka!"
"Lo nggak tau apa apa, lo juga nggak kenal gue jadi stop bertingkah seolah kita kenal!" ucap Andi lalu melangkah pergi.
Sedangkan Adit segera masuk ke dalam rumah menemui sang mama.
"Kenapa dia ke sini lagi ma?" tanya Adit.
"Kamu jangan salah paham Dit, kamu ingat kan bulan depan ulang tahun mama, seperti biasa mama mau rayain ulang tahun mama di panti asuhan, mama punya rencana buat kasih mereka baju dan mama minta bantuan Dimas, mama juga nggak tau kalau Andi yang datang," jelas mama Siska.
"Mama kenal Dimas dari mana?"
"Mama dapat saran dari teman mama, mama nggak tau kalau clothing arts yang mama hubungi itu tempat kerja Andi karena yang mama hubungi Dimas," jelas mama Siska beralasan.
Pada awalnya mama Siska memang tidak mengetahui hal itu, namun saat ia melihat website clothing arts itu ia mendapati nomor kontak Andi yang tercantum di sana.
Ia pun segera menghubunginya dengan menggunakan nomor baru agar Andi tidak mengetahuinya.
"Adit akan carikan clothing arts yang lain, mama batalin aja yang tadi!"
"Nggak bisa begitu dong sayang, mama udah deal sama Andi."
"Tapi mama harus janji sama Adit kalau kejadian kemarin nggak akan terulang lagi!"
"Iya sayang, mama janji, kamu tenang aja, ayo sarapan!"
Adit lalu berjalan ke arah meja makan untuk sarapan bersama sang mama. Setelah selesai sarapan, ia segera berangkat ke kantor.
"Adit berangkat dulu ma!"
"Hati hati sayang."
Hari itu Adit akan melakukan rencananya untuk keluar dari perjanjian yang ia buat dengan Jenny. Ia tidak ingin semakin lama berhubungan dengan Jenny karena jika ia masih berada dalam lingkaran hidup Jenny, masalah lain akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
__ADS_1
Sebelum hal besar lainnya terjadi, Adit harus segera menyelesaikan perjanjian itu dan kembali menjauh dari Jenny meski ia tau jika Jenny tidak akan menyerah begitu saja.