Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Darah


__ADS_3

Waktu berlalu, mentari yang seharusnya terik kini mulai tertutup awan hitam. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang saat Anita sampai di rumah Dini.


Seperti sebelumnya mereka akan membuat kue dengan bahan yang sudah Dini siapkan. Mereka mengobrol dan sesekali tertawa saat sedang membuat kue.


Setelah lama menunggu, wangi khas kuepun menyeruak ke dalam hidung. Anita segera mengeluarkan kue dari dalam oven.


"Waaahhh, baunya enak banget," ucap Dini antusias.


"Tinggal nunggu dingin setelah itu kita kasih krim," ucap Anita yang dibalas anggukan kepala Dini.


Mereka kembali mengobrol sebelum ponsel Dini berbunyi, membuatnya harus meninggalkan Anita untuk menerima panggilan dari Dimas.


Anita yang berada di dapur lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah botol kecil yang berisi cairan berwarna putih mirip air biasa.


Anita menuang cairan itu ke dalam krim yang berwarna biru lalu mencampurnya. Setelah kue buatannya dingin, Anitapun mengolesi kue kue itu dengan krim yang sudah dibuatnya.


Hanya ada 2 kue yang dia olesi dengan krim yang berwarna biru.


"Udah dingin Nit?" tanya Dini yang tiba tiba masuk ke dapur.


"Udah, ini beberapa udah aku kasih krim," jawab Anita.


Setelah menyelesaikan semua kuenya, Anita dan Dini membawa kue itu ke ruang tengah.


"Kenapa yang biru cuma dua?" tanya Dini sambil menunjuk kue dengan krim berwarna biru.


"Iya, aku bikinnya kebanyakan yang pink tadi," jawab Anita beralasan.


"Cobain deh, ini ada lelehan coklatnya di dalamnya," ucap Anita sambil memberikan kue dengan krim biru pada Dini.


Tanpa ragu Dini menerima kue dari tangan Anita dan memakannya.


"Hmmmm.... enak, manisnya pas, nggak terlalu manis," ucap Dini menikmati kue buatan Anita.


Anita hanya tersenyum dan memberikan kue dengan krim biru yang kedua untuk Dini. Akhirnya dua kue dengan krim biru itu sudah habis oleh Dini.


Sedangkan Anita hanya memakan kue dengan krim merah muda.


Setelah beberapa lama mengobrol, Anitapun berpamitan untuk pulang.


"Lain kali kita harus bikin kue lagi!" ucap Dini pada Anita.


"Oke, aku pulang dulu ya!"


"Take care!" balas Dini dengan melambaikan tangannya.


Anita masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Dini dengan tersenyum puas.


Hanya tinggal menunggu waktu sampai obat yang ia tuang dalam krim bekerja dengan baik.


Anita lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Andi.


"Halo Ndi, kamu dimana?" tanya Anita saat Andi sudah menerima panggilannya.


"Aku di home store, kenapa?"


"Aku kesana sekarang," jawab Anita.


"Kamu dimana sekarang? biar aku yang kesana!"


"Aku udah di jalan kok, aku....."


CKIIIIIIITTTTTT


Anita menginjak remnya tiba tiba saat mobil di hadapannya berhenti dengan tiba tiba, membuat ponsel di tangannya terjatuh. Ia kembali menjalankan mobilnya saat mobil di hadapannya sudah berjalan.


"Aahh iya Andi," ucap Anita saat ia baru menyadari jika ponselnya masih terhubung dengan Andi.


Anitapun mencari ponselnya di bawah sambil sesekali membawa pandangannya ke arah bawah.


Saat ia baru mendapatkan ponselnya, tanpa sadar ia tidak memperhatikan jalan di hadapannya.


Dengan cepat Anita membanting setir untuk menghindari seseorang yang berada di depan mobilnya. Alhasil bagian depan mobil Anita menabrak trotoar jalan raya.


Beruntung saat itu tidak ada orang lain yang berada di trotoar sehingga tidak ada korban lain selain Anita sendiri.


Untuk beberapa saat Anita masih bisa mendengar suara beberapa orang yang berteriak, namun tak lama kemudian semua suara terdengar semakin samar dan akhirnya ia tak sadarkan diri.


**


Di sisi lain, Andi yang tiba tiba kehilangan kontak dengan Anita menjadi khawatir. Berkali kali ia menghubungi Anita namun tak ada jawaban.


Hingga akhirnya panggilannya terjawab, namun bukan suara Anita yang ia dengar.


"Halo, maaf ini yang punya hp lagi di rumah sakit karena kecelakaan!" ucap seseorang yang membawa ponsel Anita.


"Kecelakaan? sekarang dia di rumah sakit mana pak?" tanya Andi yang benar benar khawatir saat itu.


Setelah mendapatkan jawaban dimana rumah sakit tempat Anita dirawat, Andipun segera meninggalkan home store dan pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Andi segera mencari keberadaan Anita. Beruntung di sana masih ada seseorang yang membantu Anita ke rumah sakit, seseorang itu lalu memberikan kunci mobil dan ponsel milik Anita pada Andi kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


Setelah beberapa lama menunggu, Dokter akhirnya keluar dan memberi tahu jika keadaan Anita baik baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

__ADS_1


Setelah Anita dipindahkan ke ruang rawat, Andipun masuk menghampiri Anita.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Andi pada Anita.


"Tenang aja, anak kamu baik baik aja," jawab Anita.


"Aku juga khawatir sama kamu Anita," ucap Andi.


Anita tersenyum tipis mendengar ucapan Andi.


"Aku tau kamu cuma khawatir sama anak kamu, nggak papa, aku ngerti," ucap Anita.


Andi menggelengkan kepalanya lalu menggenggam tangan Anita.


"Udah banyak hal yang terjadi sama kamu Nit, aku nggak mau hal buruk lain terjadi lagi sama kamu," ucap Andi.


"Aku baik baik aja kok," balas Anita sambil menarik tangannya dari genggaman Andi.


"Apa aku boleh pulang sekarang?" tanya Anita.


"Besok kamu baru boleh pulang, aku akan jemput kamu," jawab Andi.


"Tapi aku bosen di sini, nggak ada yang bisa aku lakuin juga," ucap Anita.


"Aku akan pindahin kamu ke ruangan VIP dan aku akan jagain kamu sampe besok," ucap Andi.


"Nggak perlu, kamu pulang aja, biar bibi yang nemenin aku di sini!"


Andi menggelengkan kepalanya lalu keluar dari ruangan Anita. Andi meminta staf rumah sakit untuk memindahkan Anita ke ruangan VIP agar Anita lebih nyaman dan ia bisa menemani Anita dengan lebih leluasa.


"Gini lebih nyaman kan?" tanya Andi saat Anita sudah berada di ruangan VIP.


Anita hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Aku tau kamu ngelakuin semua ini bukan karena kamu peduli sama aku, tapi karena ada bayi ini, iya kan?"


"Kenapa kamu berpikir kayak gitu?" balas Andi bertanya.


Anita menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan sebelum menjawab pertanyaan Andi.


"Aku bukan perempuan yang baik, kamu tau aku punya niat jahat sama Dimas dan Dini, tapi bukannya benci sama aku, tapi kamu malah baik banget sama aku, kalau bukan karena ada bayi ini, kamu nggak mungkin bersikap kayak gini sama aku, iya kan?"


"Apa itu cukup buat jadi alasan kamu berterima kasih sama dia?" balas Andi bertanya dengan membawa pandangannya ke arah perut Anita.


"Enggak, aku juga nggak akan berterima kasih sama kamu karena semua yang terjadi bukan keinginan aku," ucap Anita.


"Tuhan punya jalanNya sendiri Nit, kamu harus tau itu," ucap Andi.


"Aku tau, tapi terkadang jalan yang Tuhan kasih itu nggak sesuai dengan apa yang aku mau," balas Anita.


"dan aku akan berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang aku inginkan," batin Anita dalam hati.


"Terserah kamu aja," ucap Anita lalu menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya sampai kepala.


Andi hanya tersenyum tipis lalu menghubungi sang mama untuk memberi tahu mamanya jika ia tidak bisa pulang malam itu.


Andi beralasan jika ia sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya di home store.


**


Di tempat lain, Dini menunggu Dimas dengan menyibukkan dirinya di dapur. Ia menyiapkan makan malam untuk Dimas.


Tepat jam 7 malam, Dimas sudah sampai di rumah. Dini segera menghambur dalam pelukan Dimas saat Dimas baru saja masuk ke rumah.


"Kenapa lama banget?" tanya Dini yang masih memeluk Dimas manja.


"Maaf sayang, ada masalah kecil yang harus diselesaiin," jawab Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya pada Dini.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Dini dan Dimas pun makan malam bersama.


"Tadi Anita kesini," ucap Dini pada Dimas.


"Anita? ngapain?"


"Bikin kue sama aku, kuenya masih ada kok, mau cobain?"


"Boleh," jawab Dimas.


Dini lalu mengambil kue yang masih ia simpan di kulkas dan memberikannya pada Dimas.


"Hmmm.... enak," ucap Dimas menikmati kue dari Dini.


"Kayaknya aku bisa bikin lagi, kamu mau aku bikinin lagi?"


"Jangan terlalu banyak kegiatan sayang, aku nggak mau kamu kecape'an," jawab Dimas dengan menggenggam tangan Dini di atas meja.


"Cuma bikin kue nggak akan bikin aku capek Dimas," balas Dini.


Setelah makan malam, Dimas dan Dini masuk ke kamar. Mereka duduk di atas ranjang dengan laptop di hadapan mereka.


Mereka sedang mencari dekorasi untuk kamar bayi mereka.


"Ini lucu deh," ucap Dini sambil menunjuk sebuah foto yang didominasi warna merah muda.

__ADS_1


"Kalau dia cowok gimana? merah muda?"


"Mmmm.... jangan sih," jawab Dini.


"Ini aja sayang," ucap Dimas sambil menunjuk warna coklat muda.


"Warnanya kurang ceria Dimas," ucap Dini tidak setuju.


Setelah lama mencari, pada akhirnya mereka menggabungkan beberapa dekorasi yang menurut mereka menarik untuk dijadikan satu.


"Udah selesai, sekarang waktunya tidur," ucap Dimas sambil menutup laptopnya.


"Kamu juga tidur?"


"Kamu tidur dulu sayang, ada yang harus aku kerjain di ruang kerja," jawab Dimas lalu menarik selimut untuk Dini.


"Jangan lama lama," ucap Dini manja.


"Aku akan langsung kesini setelah semuanya selesai," ucap Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini.


Dimas lalu keluar dari kamarnya dan pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Tepat jam 11 malam Dimas baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia pun segera meninggalkan ruang kerjanya dan masuk ke kamarnya.


Dimas tersenyum menatap Dini yang sudah terlelap, tangannya mengusap perut Dini pelan penuh kasih sayang.


Dimas memberikan kecupan singkatnya di kening Dini sebelum ia merebahkan badannya di samping Dini.


Waktu berjalan, Dini dan Dimas sudah sama sama terlelap dalam tidur mereka.


Namun tiba tiba, Dini merasakan sakit di perutnya. Dengan mata yang masih tertutup, Dini merubah posisi tidurnya dengan memegang perutnya yang terasa sakit.


Semakin lama ia merasa jika yang ia rasakan bukanlah kram yang biasa terjadi, ia merasa perutnya semakin sakit.


Dinipun membuka matanya dan begitu terkejut saat tangannya merasakan ada sesuatu yang basah di bawahnya.


Dini lalu beranjak dan melihat tangannya yang sudah dipenuhi darah. Dengan rasa sakit yang ia rasakan, Dini menggeser posisi duduknya dan melihat ranjangnya yang sudah dipenuhi darah.


Dinipun berteriak histeris bersama rasa sakit yang semakin menyiksa dirinya, membuat Dimas segera terbangun dari tidurnya.


Sama seperti Dini, Dimas begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tanpa banyak bertanya, Dimas segera membopong Dini keluar dari kamar.


Dimas membawa Dini masuk ke dalam mobil dan segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit.


"Sakit Dimaaass, saakiiiiit!!" ucap Dini merintih dengan memegangi perutnya.


"Tahan sayang, bentar lagi kita sampai," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


Dimas mengendari mobilnya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di rumah sakit.


"Aku takut Dimas, aku takut," ucap Dini dengan derai air mata yang sudah membasahi pipinya sedari tadi.


"Tenangin diri kamu sayang, semuanya akan baik baik aja," ucap Dimas berusaha menenangkan Dini meski dirinya juga benar benar panik saat itu.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Dini hanya bisa merintih dan menangis menahan sakit yang ia rasakan saat itu.


Ia benar benar berharap jika bayinya akan baik baik saja. Ia tidak tau kesalahan apa yang sudah ia lakukan sehingga hal buruk itu terjadi padanya.


"Aku yakin kamu kuat sayang, dia juga akan kuat seperti kamu," ucap Dimas berusaha memberikan kekuatan pada Dini.


Dimas mengerti apa yang Dini rasakan saat itu, karena ia pun bisa merasakan apa yang Dini rasakan.


Tidak hanya sakit, namun juga takut jika sesuatu yang buruk terjadi.


Meski begitu Dimas berusaha untuk bisa menyembunyikan rasa takutnya agar Dini tidak semakin takut, ia hanya bisa berharap jika Dini dan bayi dalam kandungannya akan baik baik saja.


Sesampainya di rumah sakit, Dini segera dibawa ke ruang UGD.


Di sisi lain, Andi yang baru saja keluar dari ruangan Anita tanpa sengaja melihat Dimas berlari di belakang brankar bersama para Dokter dan suster.


"Dimas, ada apa?" tanya Andi lalu segera mengikuti Dimas.


Andi melihat brankar itu masuk ke ruang UGD, meninggalkan Dimas yang terduduk lesu di lantai.


Andipun menghampiri Dimas untuk memastikan apa yang terjadi.


"aku harap kamu baik baik aja Din, aku harap itu bukan kamu," ucap Andi dalam hati saat ia melangkah menghampiri Dimas.


"Dimas!"


Mendengar namanya dipanggil, Dimas mendongakkan kepalanya melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.


Dimas hanya bisa diam dengan mata merah berkaca kaca.


Andi lalu berjongkok di hadapan Dimas, membawa Dimas untuk duduk di kursi.


"Ada apa Dim? siapa yang di UGD?" tanya Andi pada Dimas.


"Andini," jawab Dimas dengan suara serak.


"Dini? apa yang terjadi Dim? kenapa Dini bisa di UGD? ini belum waktunya dia melahirkan kan?" tanya Andi penuh kekhawatiran.


Dimas hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab satupun pertanyaan Andi. Ia menundukkan kepalanya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Sedangkan Andi hanya bisa mengacak acak rambutnya karena kesal. Masalahnya dengan Anita belum bisa ia atasi dengan baik dan sekarang ia harus melihat sahabatnya berada di ruang UGD.


Dalam hatinya, Andi hanya bisa berdo'a agar Dini dan bayi dalam kandungannya baik baik saja.


__ADS_2