Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Weekend


__ADS_3

Waktu berlalu dan hari telah berganti. Adit sudah pindah ke rumah sang mama. Apartemennya sudah kosong, semua barang barang sudah ia pindah ke rumah sang mama.


Saat Adit mulai sibuk dengan pekerjaannya, Andi juga mulai mengerjakan beberapa pekerjaannya dari rumah. Sekedar membuat desain tanpa harus dikejar deadline.


Pagi itu, setelah sarapan bersama, Adit berpamitan untuk berangkat ke kantor.


"Adit berangkat ma," ucap Adit sambil mencium kening sang mama.


"Hati hati sayang," balas mama Siska.


Tak lama setelah keberangkatan Adit, Andi yang baru saja turun dari lantai dua juga sudah siap untuk berangkat ke home store.


"Andi ke home store bentar ya ma!"


"Kamu yakin sayang?"


"Cuma bentar aja kok ma, Andi sama pak Rudi, nggak papa kan?"


"Ya udah nggak papa, jaga diri baik baik ya!"


"Iya ma," balas Andi lalu melangkah ke arah pintu.


"Andi!" panggil mama Siska.


Mendengar sang mama memanggil, Andipun menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada sang mama.


"Nggak papa, hati hati di jalan," ucap mama Siska.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Ayo pak, tolong antar saya ke home store ya!"


"Baik mas," balas Rudi.


Setelah Andi pergi bersama Rudi, mama Siska hanya bisa melihatnya dari balik jendela.


"mama cuma pingin kamu peluk atau cium kayak Adit biasanya," batin mama Siska dalam hati.


**


Di kantor.


Adit masuk ke ruangannya dan duduk sambil menyeruput minuman yang selalu Dini siapkan untuknya.


"Selamat datang pak Adit, hari ini jadwal pak Adit sangat sangat padat, jadi saya mohon kerja samanya ya pak!" ucap Dini sambil memberikan sebuah map pada Adit.


"Kamu pending yang bisa dipending, saya....."


"Pak, sudah banyak pertemuan yang saya pending dari beberapa hari kemarin, tolong pak Adit lakukan sesuai jadwal ini pak, saya sudah reschedule jadwal pak Adit dari kemarin, saya....."


"Oke," ucap Adit lalu mulai mengerjakan pekerjaannya.


"Eehh!!"


"Apa lagi? lanjutkan pekerjaan kamu!"


"Bbb.... baik pak, saya permisi," ucap Dini lalu keluar dari ruangan Adit.


Adit hanya tertawa kecil lalu kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dini masih sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga Adit.


Melihat Dini yang masih tampak fokus dengan komputer di depannya, Adit lalu memintanya untuk datang ke ruangannya.


Merekapun mengerjakan pekerjaan mereka di satu ruangan, ruangan Adit. Tak lama kemudian seseorang datang dengan membawa dua kotak makan siang dan memberikannya pada Adit lalu segera keluar.


"Makan dulu, biar tetep fokus!" ucap Adit pada Dini.


"Bentar lagi kak!"


Adit lalu membuka kotak makanan itu dan menaruhnya di hadapan Dini.


"Makan!"


"Baik pak," balas Dini dengan tatapan kesal.


Adit hanya terkekeh melihat sikap Dini.


"Kalau sikap kak Adit kayak gini ke semua cewek, harusnya sih gampang buat kak Adit dapet pacar," ucap Dini.


"Maksud kamu?"


"Kadang kak Adit ingetin Dini sama Dimas," jawab Dini.


"Kakak nggak ngerti maksud kamu."


"Kak Adit sadar nggak sih, apa yang kak Adit lakukan itu bisa bikin cewek salah paham!"


"Kenapa? emang kakak ngelakuin apa?"


"Kadang sikap kak Adit itu too sweet, bisa bikin cewek baper."


"Apa iya? apa kamu baper?"


"Enggak, cuma jadi inget Dimas aja."


"Hubungannya sama Dimas apa?"


"Kak Adit inget nggak waktu Dini lihat Dimas di kafe sama cewek yang Dini kenal? kita dulu temen deket, tapi karena sikap Dimas yang baik sama dia, dia jadi baper dan akhirnya suka sama Dimas," jelas Dini.


"Jadi inti dari ucapan kamu apa? kakak masih nggak paham!"


"Intinya kakak harus bisa jaga sikap, pacar kak Adit pasti nggak suka kalau kak Adit perhatian sama cewek lain secara berlebihan!"


"Emang sikap kakak sama kamu berlebihan?"


"Kakak harus bicarain itu sama pacar kak Adit."


"Dia itu nggak kekanak kanakan kayak kamu Din, dia pemikirannya dewasa dan......"

__ADS_1


Ups. Masuk jebakan.


Adit menghentikan ucapannya saat ia sadar apa yang ia ucapkan.


Dini hanya tersenyum dengan menatap tajam kedua mata Adit.


"Maksud kakak.... kakak kalau punya pacar pasti yang nggak suka cemburuan kayak kamu gitu!"


"Dia siapa kak? bukan Jenny kan?"


"Kamu ngomong apa sih, lanjutin kerjaan kamu!"


"Iiiihhh, salting, mukanya merah kayak kepiting rebus hehe......"


"Din, lanjutin kerjaan kamu!"


"Nggak mau, ini kan jam makan siang."


"Terserah kamu lah!" balas Adit menyerah lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Beneran deh kak, bukan Jenny kan?"


"Bukan!" jawab Adit cepat.


"Maksud kakak bukan siapa siapa, kakak nggak punya pacar kok!" lanjut Adit yang semakin merasa suhu di ruangannya begitu panas.


"Kakak mau keluar dulu!" ucap Adit lalu meninggalkan ruangannya.


Dini yang masih berada di sana hanya terkekeh melihat Adit yang tampak salah tingkah. Meski Adit mengelak, ia yakin sikap yang ditunjukkan Adit sangat membuktikan jika Adit memang sedang dekat dengan seseorang.


Saat Dini sedang membereskan map di hadapannya, ponsel Adit yang berada di meja berdering.


Karena terlalu penasaran, Dinipun melihat siapa yang menghubungi Adit saat itu.


Ana


"mbak Ana?"


Karena tidak diangkat, panggilan itu berakhir begitu saja. Lalu sebuah pesan masuk.


Aku ikut Lisa pulang kampung Dit, cuma 3 hari, kamu jangan khawatir, aku pasti baik baik aja.


"ini mbak Ana yang aku kenal bukan sih? tapi kok panggilnya aku kamu, apa jangan jangan kak Adit pacaran sama mbak Ana? tapi mbak Ana kan udah mau nikah, nggak mungkin kan mereka punya hubungan gelap, aaarrgghhh mana mungkin, tapi itu tadi..... enggak enggak, nggak boleh negatif thinking, ayo pergi aja, pura pura nggak tau kadang lebih baik daripada sok tau!" batin Dini dalam hati lalu segera meninggalkan ruangan Adit dengan tumpukan map di tangannya.


Dini lalu kembali melanjutkan makan siangnya di ruangannya sambil melakukan panggilan video dengan Dimas. Di sana, Dimaspun sedang makan siang sambil bekerja. Mereka benar benar pekerja keras.


"Dimas, kamu ada rencana apa dalam waktu dekat ini?" tanya Dini.


"Nggak ada sayang, aku cuma mau fokus sama materi meeting yang harus aku selesaiin secepatnya."


"Deadline nya kapan?"


"Akhir bulan harus udah dikumpulin buat langsung dinilai," jawab Dimas.


"Berarti Minggu depan?"


"Iya begitu lah."


"Data perusahaan?"


"Iya, nggak boleh ya?"


"Data perusahaan emang bersifat rahasia sih, tapi bukan itu masalahnya, aku cuma nggak mau kamu jadi makin banyak kerjaan."


"Kak Adit udah balik ke kantor kok, jadi aku udah nggak sesibuk kemarin!"


"Gunain waktu kamu buat istirahat yang cukup sayang, aku bisa selesaiin ini sendiri kok."


"Tapi kalau kamu butuh bantuan ku, aku pasti siap kok!"


"Aku cuma butuh pelukan kamu aja, aku nggak mau yang lain," ucap Dimas yang membuat Dini tersipu.


"tunggu sampai weekend nanti Dimas, aku akan kesana buat temuin kamu," batin Dini dalam hati.


**


Hari yang ditunggu Dini telah tiba. Dini berangkat ke kantor dengan penuh semangat. Tak lupa ia berpamitan pada sang ibu jika ia akan menemui Dimas dan akan menginap di sana.


"Jaga diri kamu baik baik, secinta apapun kamu sama Dimas, kamu harus lebih mencintai diri kamu sendiri, kamu mengerti maksud ibu kan?"


"Iya Bu, Dini mengerti, ibu nggak perlu khawatir, ibu bisa percaya sama Dini dan Dimas."


"Iya, ibu percaya sama kalian," balas ibu Dini lalu memeluk anak semata wayangnya itu.


Dini lalu berangkat ke kantor dengan menaiki bus seperti biasanya. Hari itu ia benar benar bersemangat, ia sudah tidak sabar menunggu waktu berlalu sampai ia meninggalkan kantor.


Waktu terasa berjalan begitu lambat bagi Dini. Berkali kali ia menatap jam di ponselnya yang seolah tidak berubah.


Akhirnya, saat yang ditunggu tiba. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dini segera membereskan pekerjaannya dan keluar dari ruangannya.


"Buru buru banget, mau kemana?" tanya Adit.


"Rahasia dong, kak Adit nggak boleh ganggu Dini sampe Dini masuk kerja hari Senin nanti, pokonya hari libur ini Dini nggak mau mikirin kerjaan sama sekali."


"Kalau urgent?"


"Enggak, nggak bisa, Dini sibuk, kak Adit nggak boleh ganggu Dini, bye!"


Dini lalu berlari ke arah halte menuju ke terminal terdekat untuk menaiki bus selama lebih dari 4 jam.


Sesampainya di terminal yang dituju, Dini memesan taksi untuk mengantarnya ke apartemen Dimas.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam saat Dini sampai di depan apartemen Dimas. Ia lalu menghubungi Dimas, memastikan keberadaan Dimas.


"Halo sayang, baru 5 menit yang lalu loh kamu hubungin aku, kamu masih mau nanya aku dimana?"


"Hehehe.... aku kangen sama kamu, kamu masih lama di kantor?"


"Ini udah siap siap pulang kok, 15 menit lagi aku hubungin kamu!"

__ADS_1


"Oke, aku tunggu."


"Love you sayang!"


"Love you too Dimasku," balas Dini lalu mengakhiri panggilannya.


Dini lalu memencet password di pintu dan masuk ke apartemen Dimas.


"Rapi banget, bersih lagi," ucap Dini saat matanya berkeliling memperhatikan setiap sudut apartemen Dimas.


Ia lalu mengeluarkan barang barang yang sudah ia beli sebelumnya.


"Maaf Dimas, buat kali ini aku jadi bad girl karena masuk kamar kamu tanpa izin," ucap Dini lalu masuk ke dalam kamar Dimas.


Dini melepas pakaiannya dan mengambil kemeja putih milik Dimas untuk ia kenakan.


Setelah beberapa lama menunggu, ia mendengar suara pintu yang dibuka. Dini segera mengambil parfum miliknya dan memakainya dengan cukup banyak.


Di sisi lain, Dimas yang baru saja membuka pintu mengernyitkan dahinya saat ia melihat kelopak mawar yang berjejer di lantai menuju ke arah kamarnya.


Dengan ragu Dimas berjalan mengikuti kelopak mawar itu. Sebelum ia membuka pintu kamarnya, jantungnya berdegup kencang. Wangi parfum yang sangat ia kenal menyeruak masuk ke dalam hidungnya, meninggalkan degupan dahsyat di dadanya.


"Andini?" batin Dimas dalam hati.


Dengan pelan ia membuka pintu kamarnya dan melihat gadis yang dicintainya sedang duduk di atas ranjang dengan membawa sebuah kue di tangannya. Tapi fokus Dimas bukan pada kue di tangan Dini, tapi pada pakaian yang Dini kenakan saat itu.


Gadis cantik itu sudah berhasil melunturkan semua rasa lelah yang Dimas rasakan beberapa hari itu. Tanpa ragu Dimas berjalan ke arah Dini dan duduk di samping Dini.


Dimas menarik dagu Dini dan mencium bibir Dini dengan singkat.


"Tiup lilinnya dulu," ucap Dini yang masih memegang kue dengan lilin di tengahnya.


"Apa aku hari ini ulang tahun?" tanya Dimas.


"Nggak harus ulang tahun buat bisa tiup lilin kan?"


"Oke," balas Dimas dengan tersenyum manis.


"Make a wish dulu," ucap Dini.


"Harus?"


"Iya, biar asap dari lilin ini yang akan bawa harapan kamu ke atas dan di dengar sama Tuhan," jawab Dini.


Dimas lalu memejamkan matanya beberapa saat kemudian meniup lilin di hadapannya.


"Oke, kita potong kue nya dulu," ucap Dini lalu turun dari ranjang Dimas dan memotong kue yang ia bawa.


Dimas hanya diam, membiarkan Dini melakukan apa yang ia mau. Dini kemudian mengambil sepotong roti dan menyuapkannya pada Dimas.


Dimas lalu menarik tangan Dini, membawa Dini ke pangkuannya.


"Jadi ini yang bikin kamu dari tadi nanya aku dimana?" tanya Dimas.


"Iya, buat mastiin aja biar aku bisa siapin ini semua."


"Kenapa kamu tiba tiba ke sini? ibu tau kami ke sini?"


"Ibu tau kok, aku cuma pingin nemenin kamu, aku nggak akan ganggu kamu ngerjain materi meeting kamu yang belum selesai."


"Kue sama lilin itu?"


"Itu..... aku sebenarnya nggak tau harus bawa apa hehe....."


"Kamu ada di sini aja udah bikin aku seneng banget Andini, adanya kamu di sini bikin aku makin semangat dan optimis kalau aku bakalan bisa selesaiin kerjaan aku dengan baik."


"Kamu bahagia?"


"Banget, apa yang harus aku lakuin buat balas kebahagiaan yang udah kamu kasih buat aku? kasih tau aku gimana caranya biar kamu bahagia Andini!"


"Aku udah bahagia Dimas, aku bahagia karena kamu selalu jaga hati kamu buat aku," balas Dini lalu mencium pipi Dimas.


Dimaspun tak tinggal diam, sebuah kecupan mendarat sempurna di bibir mungil Dini. Mereka saling bertaut dalam rasa rindu yang mengisi setiap sudut ruang hati. Untuk beberapa saat dunia seperti menghentikan waktunya untuk mereka berdua, membiarkan rasa kebahagiaan meluruhkan rasa rindu yang sudah mengakar di dalam hati.


Biiiiippp biiiipp biiipp


Ponsel Dini berdering, membuat Dini segera mendorong tubuh Dimas. Dini berdiri dari pangkuan Dimas dan mengambil ponselnya yang ada di meja.


Sebuah pesan dari sang ibu membuat Dini merasa bersalah.


Kamu belum sampai Din?


"Ada apa sayang?" tanya Dimas yang melihat raut wajah Dini berubah.


"Aku lupa ngabarin ibu kalau aku udah nyampe'!"


"Kamu hubungin ibu kamu aja!"


Dini mengangguk lalu menghubungi sang ibu dan meminta maaf karena lupa mengabari sang ibu.


Dimas lalu memeluk Dini dari belakang dan mencium leher Dini.


"Makasih sayang, makasih udah dateng ke sini," ucap Dimas berbisik.


Dini hanya tersenyum berusaha menahan sesuatu dalam dirinya, namun ternyata tidak bisa.


Krruukk Krrruukkk Krrruukkk


Dini lalu menggigit bibir bawahnya menahan malu pada Dimas. Sedangkan Dimas yang mendengar hal itu lalu memutar badan Dini agar menghadap ke arahnya.


"Kamu belum makan malem?" tanya Dimas.


"Nggak sempet," jawab Dini pelan.


Dimas lalu mengambil ponselnya dan memesan makanan.


"Masih bisa delivery jam segini?" tanya Dini.


"Bisa dong, di sini ada yang delivery 24 jam," jawab Dimas.

__ADS_1


Setelah makanan datang, Dini dan Dimaspun menghabiskan makanan itu dengan cepat sebelum akhirnya mereka tertidur di ruang tamu.


__ADS_2