Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Video Ancaman


__ADS_3

Semakin malam datang, semakin kuat dingin menyelimuti. Pesta barbeque telah selesai. Dini, Dimas, Andi dan Anita sudah membereskan semuanya.


Setelah membersihkan diri dengan air hangat dalam kamar mandi, Dini dan Anita mulai merebahkan diri di atas ranjang.


Mereka tak banyak bicara, hanya sesekali berbasa basi. Entah kenapa suasana menjadi canggung.


Berbeda dengan Dini dan Anita, Dimas dan Andi justru sedang membicarakan banyak hal, mulai dari kelanjutan home store setelah kepergian Dimas sampai kelanjutan hubungan Dimas dan Dini.


"Gue yakin lo pasti bisa tangani home store sendiri," ucap Dimas pada Andi.


"Selama ini gue lebih sering di home store daripada ketemu klien di luar Dim, soal marketing lo semua yang handle dan sekarang gue harus handle semua sendiri," balas Andi.


"Ya gimana lagi, gue nggak bisa gantiin posisi lo buat ngerjain art nya!"


"Lo yakin percayain home store ini sama gue yang nggak ada pengalaman bisnis apa apa ini?"


"Yakin seyakin yakinnya Ndi, gue tau lo bisa, lo cuma belum coba aja, nggak ada yang Andi Putra Prayoga nggak bisa, iya kan?"


"Lo tau clothing art itu kita mulai sama sama dengan modal kita yang seadanya dan kalau dilihat dari awal kita mulai sampai sekarang emang udah ada kemajuan, tapi buat balikin modal lo kayaknya....."


"Gue nggak mikirin itu Ndi, gue cuma mau lo bisa bikin clothing arts kita sukses, itu aja."


"Gue akan berusaha Dim," balas Andi bersemangat.


"Gitu dong, gue percaya sama lo Ndi!"


"Terus lo sama Dini gimana?"


"Dia bisa ngerti kok, gue cuma bisa berharap kalau hal ini nggak akan jadi masalah baru buat gue sama Andini," jawab Dimas.


"Pesen gue cuma satu Dim, jangan mudah percaya sama ucapan orang lain, bahkan orang yang lo percaya sekalipun!"


Dimas mengangguk cepat. Ia sudah banyak belajar dari masalah yang ia hadapi sebelumnya. Ia mencintai Dini dan sudah sepatutnya ia mempercayai Dini melebihi siapapun.


**


Pagi telah tiba. Setelah sarapan, Dini, Anita, Andi, Dimas dan mama papanya sudah siap untuk kembali pulang.


"Lo yang bawa mobil ya!" ucap Dimas pada Andi.


"Oke," balas Andi.


Merekapun masuk ke dalam mobil dan mengantarkan Anita pulang terlebih dahulu.


Setelah menurunkan Anita di depan rumahnya, Andi melajukan mobil ke arah rumah Dini.


Tak lama kemudian mereka sampai, Andi, Dini dan Dimaspun turun dari mobil.


"Thanks Dim, gue pulang dulu!" ucap Andi pada Dimas.


"Oke," balas Dimas.


"Aku langsung pulang ya sayang, ada yang harus aku kerjain di rumah," ucap Dimas pada Dini.


"Iya, hati hati," balas Dini.


Dimas lalu memeluk Dini dan mencium keningnya lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Dini.


Jam masih menunjukkan pukul 10 siang, Dini mengambil ponselnya lalu menghubungi Andi.


"Kamu sibuk?" tanya Dini ketika Andi sudah menerima panggilannya.


"Enggak, kenapa?"


"Ke bukit?"


"Ayo!"


"Aku keluar sekarang ya!"


"Oke!"


Dinipun berganti pakaian lalu keluar dari rumahnya. Ia menyunggingkan senyumnya pada Andi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. Merekapun berjalan berdua ke bukit.


Seperti biasa, sesampainya di sana mereka duduk di bawah pohon.


"Kamu bahagia Din?" tanya Andi.


"Bahagia, kamu?" jawab Dini sekaligus bertanya.


"Sama seperti jawaban kamu, karena kebahagiaan kamu itu bahagia ku," jawab Andi sambil mencubit kecil hidung Dini.


"Bohong," ucap Dini mencibir.


"Kok bohong sih, serius Din!"


"Kamu bahagia karena ada Anita kan?"


"Sama sekali nggak ada hubungannya sama Anita."


"Aku liat kalian makin deket sekarang, udah mulai peluk peluk lagi!" ucap Dini dengan raut wajah yang tak suka.


"Kamu cemburu?"


"Kalau aku pacar kamu ya aku cemburu," balas Dini dengan nada kesal.


"Tapi kamu sahabat aku, apa kamu tetep cemburu?"


Dini hanya memutar kedua bola matanya karena kesal. Entah kenapa ada sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman, seolah sesuatu itu memukul hatinya dengan sangat keras.


"Aku juga cemburu liat kamu sama Dimas," ucap Andi pelan.

__ADS_1


"Maksud kamu?"


Andi hanya menggeleng lalu merangkul pundak Dini.


"Kamu harus selalu bahagia Din, biar aku juga bahagia," ucap Andi.


Dini lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah Andi.


"Kamu juga harus bahagiain diri kamu sendiri Ndi," ucap Andi.


Andi lalu menundukkan kepalanya menatap Dini yang juga sedang menatapnya.


"Aku juga mau kamu bahagia," ucap Dini.


Andi hanya tersenyum lalu mencium kening Dini dan semakin erat memeluk pundak Dini, membuat Dini semakin dekat dan menyandarkan kepalanya di dada Andi.


Mereka saling diam untuk beberapa saat, membiarkan hembusan angin membelai mereka tanpa henti, menggugurkan daun daun kering dari atas pohon, menambahkan suasana romantis yang sederhana di atas bukit.


**


Hari berganti, Dini kembali sibuk dengan pekerjaannya di kantor.


Sesekali Dini memperhatikan Adit di ruangan sebelahnya. Entah kenapa ia melihat Adit tampak sering melamun hari itu.


Saat jam makan siang tiba, Dini segera menemui Adit di ruangannya.


"Kak Adit mau makan siang di luar?" tanya Dini yang melihat Adit sedang bersiap siap.


"Iya, kalau kamu nggak ada janji sama Dimas, kamu bisa ikut kakak ketemu seseorang di kafe X!"


"Dini nggak ada janji kok, Dini siap siap bentar kak!"


"Oke, 5 menit!"


Dini segera kembali ke ruangannya untuk mengambil tas dan bersiap siap. Tak lama kemudian ia keluar, mengikuti Adit berjalan ke arah tempat parkir.


"Pak Rudi nggak masuk kak?" tanya Dini karena Adit mengendarai mobilnya tanpa supir.


"Anaknya sakit, kakak kasih dia izin libur," jawab Adit.


"Kak Adit mau ketemu siapa di kafe X?"


Adit tak menjawab, raut wajahnya tampak kesal saat itu. Dinipun tidak bertanya lagi, ia tidak ingin membuat Adit semakin kesal.


Sesampainya di kafe X, Adit berjalan ke sudut kafe, menghampiri seorang perempuan cantik dengan rambut pirangnya.


Jenny, ya Adit akan menemui Jenny.


"Akhirnya kamu datang, aku tau kamu pasti datang!" ucap Jenny yang hendak memeluk Adit, namun Adit mendorongnya.


"Kamu mau apa lagi sih Jen?"


"Dia personal assistant ku, jadi dia ikut kemanapun aku pergi!"


"Oke oke, aku ke sini cuma mau kasih tau kamu ini!" ucap Jenny sambil memberikan ponselnya pada Adit.


Terlihat sebuah video ketika Adit memberikan bunga mawar merah pada Dini. Dari video singkat itu tampak Adit dan Dini seperti seorang sepasang kekasih yang romantis.


"What do you mean?"


"Aditya Putra, seorang CEO muda mengencani bawahannya sendiri di kantor, apa itu nggak cukup buat jadi berita heboh minggu ini?"


"Kamu mau sebar video itu ke media?"


"May be yes, may be no, tergantung sikap kamu darling," jawab Jenny sambil menggengam tangan Adit, namun Adit segera menarik tangannya.


"Din, kamu tunggu di mobil!" ucap Adit pada Dini.


Dini mengangguk lalu meninggalkan Adit dan Jenny. Ia begitu penasaran apa yang Jenny tunjukkan pada Adit karena raut wajah Adit tampak menegang begitu ia melihat apa yang ada di ponsel Jenny.


"video apa yang diliat kak Adit? kenapa kak Adit takut video itu tersebar ke media? apa sebegitu berpengaruh nya video itu sama nama baik kak Adit?" batin Dini bertanya tanya.


"Kamu tau Dit, aku bisa sebar video ini dengan mudah dan kamu pasti tau apa respon orang kalau liat video ini, bukan cuma kamu, perusahaan besar Adhitama juga akan terlibat!" ucap Jenny dengan senyum penuh kemenangan.


"Dini nggak ada sangkut pautnya sama masalah kita Jen, jadi jangan pernah kamu bawa dia dalam masalah kita."


"Kalau kamu nggak mau kita menikah, kita pacaran aja dulu, aku yakin lama lama kamu pasti jatuh cinta sama aku, aku akan bikin nama besar kamu jadi lebih dikenal orang karena kedekatan kita."


"Apa untungnya kamu pacaran sama aku? banyak laki laki di luar sana yang mau sama kamu Jen!"


"Aditya Putra, kamu itu laki laki idaman para perempuan, CEO plus pemilik perusahaan yang sukses di usia muda, tampan dan tentunya punya masa depan cerah, apa kamu nggak sadar tentang itu?"


Adit hanya menghembuskan napasnya kasar mendengar ucapan Jenny. Ia tidak menyangka akan berada di posisi seperti itu.


Jika ia membiarkan Jenny menyebarkan video itu, ia takut jika dampaknya akan semakin melebar. Wartawan akan mencari tau seluk beluk tentang Dini dan ketika para wartawan mengetahui jika Dini adalah tunangan Dimas, bukan tidak mungkin jika keluarga Adhitama juga akan terkena dampak dari hal itu.


"It's up to you Adit, you have 2 choice!" ucap Jenny dengan senyum liciknya.


"Apa ada jaminan kalau kamu nggak akan sebarin video itu?" tanya Adit.


"Of course, kita bikin perjanjian secara tertulis, gimana?"


Adit menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskannya pelan.


"Oke," jawab Adit pasrah.


"Oke? are you serious?"


"No, but i have no choice!"


Jenny hanya tertawa penuh kemenangan saat itu.

__ADS_1


"Oke, sekarang aku ikut kamu ke kantor dan sebagai pacar kamu, aku nggak mau satu mobil sama asisten kamu itu!"


"Tapi....."


"Adit, aku ikut kamu ke kantor buat bikin perjanjian, nggak boleh?"


"Oke, tapi....."


"I'm your girlfriend Adit, aku nggak mau ada perempuan lain yang deket sama kamu!" ucap Jenny menyela.


"Oke," balas Adit mengalah.


Adit dan Jenny lalu keluar dari kafe menuju ke tempat Adit memarkirkan mobilnya.


Dini yang sedang menunggu di dalam mobil sedikit heran karena melihat Adit yang menghampirinya bersama Jenny, terlebih Jenny menggandeng tangan Adit tanpa penolakan dari Adit.


"Din, kamu pulang naik taksi nggak papa kan?"


"Nggak papa kak," jawab Dini lalu turun dari mobil Adit.


Adit lalu kembali ke kantor bersama Jenny, meninggalkan Dini yang masih menunggu taksi karena kebetulan ponselnya lowbatt, membuatnya tidak bisa memesan taksi.


Tiba tiba sebuah mobil berhenti di depannya, seorang laki laki turun dari dalam mobil dan menghampiri Dini.


"Kamu ngapain di sini? nungguin siapa?" tanya Andi pada Dini.


"Nunggu taksi, HP ku lowbatt nggak bisa pesen taksi," jawab Dini.


"Mau balik ke kantor?"


"Iya," jawab Dini dengan menganggukkan kepalanya.


"Ayo aku anter, aku lewat depan kantor kamu kok!"


"Yeeeyyy, makasih Ndi!"


Dinipun kembali ke kantor bersama Andi.


"Ini mobil siapa? mobil kamu?" tanya Dini yang merasa asing dengan mobil yang digunakan Andi.


"Bukan, papa Dimas pinjemin mobil ini buat home store, biar lebih gampang kemana mana kalau Dimas udah pindah," jawab Andi.


"Waahhh, keren, papa emang baik banget, papa udah mikirin home store waktu Dimas udah nggak disana nanti."


"Tinggal beberapa minggu lagi Dimas di home store, jadi aku harus belajar banyak hal sebelum Dimas pindah, termasuk nemuin klien dan cari bahan yang bagus, itu kenapa papa Dimas pinjemin mobil ini buat home store!"


Dini mengangguk anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Andi. Memang akan lebih baik jika memiliki kendaraan pribadi untuk mempermudah mobilitas Andi yang harus meng-handle home store seorang diri.


"Kamu abis ketemu siapa di kafe?" tanya Andi.


"Tadinya aku sama kak Adit, tapi kak Adit balik duluan," jawab Dini.


"Dia ninggalin kamu gitu aja?"


"Iya, tapi aku....."


"Bener bener kurang ajar tuh cowok, bisa bisanya ninggalin kamu gitu aja!"


"Kak Adit ada keperluan lain mungkin."


"Tapi nggak harus ninggalin kamu dong Din!"


"Udah, nggak papa, jangan dibahas lagi!"


Tak lama kemudian mereka sampai di depan kantor Dini, Dinipun segera masuk ke ruang kerjanya.


Di sisi lain, Adit dan Jenny sedang berada di dalam ruangan Adit. Mereka sedang berdebat tentang isi perjanjian yang akan mereka sepakati.


"Kamu jangan egois dong Dit, aku nggak mau pacar ku jalan sama cewek lain!"


"Kamu yang egois Jen, aku kan udah bilang ini soal pekerjaan, aku sama Dini akan sering keluar berdua karena dia personal assistant ku!"


"Oke, selain Dini dan pekerjaan nggak boleh!"


"Deal!"


Setelah membuat beberapa perjanjian tertulis, Adit dan Jenny pun menandatanganinya.


Dalam hatinya, Adit merasa ragu dengan apa yang dipilihnya. Meski begitu, ia akan mencari cara agar ia bisa terlepas dari Jenny tanpa membuat orang lain dalam bahaya.


"Sekarang kamu pulang!" ucap Adit pada Jenny.


"Aku mau nemenin kamu di sini," balas Jenny.


"Kamu lupa isi perjanjian ini, aku nggak mau kamu ganggu dan ikut campur masalah pekerjaan ku!"


"Tapi aku nggak akan ganggu Adit, aku cuma duduk di sini!"


"Tapi aku merasa terganggu dengan adanya kamu di sini!"


"Oke fine, aku keluar!" ucap Jenny kesal lalu keluar dari ruangan Adit.


Saat baru saja keluar dari ruangan Adit, Jenny berpapasan dengan Dini.


"You're a good girl, but it's not enough!" ucap Jenny dengan senyum menyeringai lalu melangkah pergi.


"Aneh banget sih tuh cewek, ngeri banget senyumnya," gerutu Dini pelan.


Dini lalu masuk ke ruangannya dan mulai mengerjakan pekerjaannya sampai jam pulang kantor tiba. Setelah membereskan semua pekerjaan dan barang barangnya, seperti biasa Dini akan menghampiri Adit, namun ia mengurungkan niatnya karena melihat Jenny yang masuk ke ruangan Adit.


Dini masih berdiri di tempatnya dan begitu terkejut melihat Jenny yang memeluk dan mencium Adit tanpa perlawanan sedikitpun dari Adit.

__ADS_1


__ADS_2