
Takdir hidup telah tergariskan. Hidup, mati dan jodoh tidak akan bisa kita ubah seberapa keraspun kita mencobanya. Jika Tuhan telah berkehendak, maka apapun bisa terjadi dan hanya Dia-lah yang Maha membolak balikkan hati.
Baru saja aroma manis dari cinta memenuhi hati yang sedang dilanda rindu, namun dengan sekejap manispun bisa menjadi pahit kala rindu di bantai oleh perih yang menyayat hati.
"Aku selalu percaya sama kamu Dimas, berapa kalipun kamu bohong sama aku, apapun alasan kamu, aku selalu percaya, tapi sampe' kapan? sampe kapan aku harus terus percaya sama semua kebohongan dan alasan kamu?" tanya Dini dengan terisak.
"Aku nggak pernah berniat bohong Andini, aku....."
"Berkali kali aku tanya, apa kamu dateng di acara itu dan berkali kali juga kamu jawab enggak dan bodohnya aku selalu percaya sama kamu, aku emang udah bodoh karena terlalu cinta sama kamu Dimas."
"Enggak sayang, jangan bilang gitu, aku bisa jelasin, dengerin aku dulu," ucap Dimas dengan menggenggam kedua tangan Dini.
Dini hanya diam. Dalam hatinya ia tau Dimas pasti mempunyai alasan kenapa dia berada di sana, namun ia kecewa karena Dimas sudah berbohong padanya.
Tiing Toong....
"Duduk dulu sayang, dengerin penjelasan aku, setelah ini kamu masih tetap marah atau enggak, nggak papa, tapi kasih aku kesempatan untuk jelasin apa yang sebenarnya terjadi," ucap Dimas lalu membawa Dini duduk di sofa.
"Aku buka pintu dulu ya," ucap Dimas sambil membelai rambut Dini lalu membuka pintunya.
Setelah Dimas menerima makanan pesanannya, ia lalu menaruhnya di meja dan duduk di sebelah Dini.
"Andini, aku nggak bohong sama kamu, aku emang nggak mau dateng di acara itu, tapi malam itu Pak Hermawan, Direktur sekaligus papa Chelsea minta aku nganterin file yang ketinggalan di kantor ke rumahnya, aku nggak bisa nolak, jadi terpaksa aku ke rumahnya buat nganterin file itu," jelas Dimas.
"Tapi kamu pelukan sama cewek itu," ucap Dini dengan sesenggukan.
"Aku nggak peluk dia Andini, dia yang tiba tiba peluk aku dan aku nggak tau kalau ada temennya yang udah pegang kamera, setelah itu aku langsung pergi, aku bahkan nggak ketemu pak Hermawan karena file nya aku titipin di ART nya," jelas Dimas.
"Kamu bohongin aku."
"Aku minta maaf sayang, aku tau aku salah karena nggak cerita tentang hal ini, aku cuma nggak mau merusak hari bahagia kita, kita baru ketemu jadi aku nggak mau ada hal hal yang cuma bikin kamu sedih."
"Tapi harusnya kamu jujur, harusnya kamu cerita, aku akan lebih sedih dan sakit kalau bukan kamu yang jujur sama aku Dimas!"
"Aku minta maaf sayang, maafin aku," ucap Dimas lalu membawa Dini ke dalam dekapannya.
Dini hanya diam. Hatinya masih sakit karena rasa kecewanya.
"Aku janji akan lebih terbuka sama kamu, apapun itu pasti aku ceritain sama kamu, maafin aku karena udah merusak kebahagiaan kamu hari ini dan makasih karena udah dengerin penjelasanku, setidaknya kamu tau apa yang sebenarnya terjadi walaupun kamu masih marah sama aku," ucap Dimas.
"Kita cuma 2 manusia bodoh yang saling jatuh cinta Andini, aku yang bodoh karena udah kecewain kamu, bikin kamu sedih, tapi nggak pernah menyerah buat bahagiain kamu, aku yang bodoh karena dengan keyakinanku ini aku bisa bikin kamu bahagia, tapi nyatanya aku nggak pernah bisa berhenti bikin kamu sedih dan yang lebih bodohnya lagi, aku tetap berusaha untuk membahagiakan kamu Andini," lanjut Dimas.
Dini hanya diam. Ia tau rasa di hatinya nyata milik Dimas. Sesakit apapun yang ia rasakan, ia tetap tidak ingin meninggalkan Dimas. Jalan yang mereka lalui sudah cukup panjang untuk menyerah, baginya hanya akan ada cinta dan kepercayaan yang akan membawanya pada keindahan akhir yang bahagia.
"Aku sayang sama kamu Andini, aku nggak mungkin main main sama kamu setelah semua yang udah kita lewati selama ini, kamu tujuan hidupku, kamu masa depanku, aku bahagia sama kamu dan aku selalu berusaha untuk membahagiakan kamu, bahkan lebih dari batas sanggupku aku akan selalu berusaha," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.
"Hati aku sakit Dimas," ucap Dini dengan sesenggukan.
"Maafin aku sayang, maafin aku," ucap Dimas dengan semakin erat memeluk Dini.
"Kasih tau aku, apa yang harus aku lakuin buat nebus kesalahanku," lanjut Dimas yang dibalas gelengan kepala Dini.
"Cewek itu nggak akan berhenti deketin kamu, aku takut kalau.... kalau kamu....."
"Enggak sayang, jangan berpikiran seperti itu, aku di sini cuma fokus kerja, tujuan ku kamu, aku di sini buat kamu," ucap Dimas yang seolah mengerti isi pikiran Dini.
"Kalau Anita bisa bertindak sejauh itu, cewek itu pasti juga ngelakuin apapun buat bisa sama kamu."
"Kamu tau siapa aku kan? saat ini aku emang cuma karyawan biasa, tapi kalau dia manfaatin papanya buat deketin aku, aku nggak akan tinggal diam sayang, aku juga pasti akan ngelakuin apapun biar dia nggak ganggu aku lagi," balas Dimas meyakinkan.
"Aku jauh dari kamu Dimas, aku nggak bisa selalu ada buat kamu, ada saatnya cewek lain yang akan nemenin kamu dan aku.... aku....."
"Ssstttt.... hentikan pikiran negatif kamu Andini, keberadaan aku di sini cuma buat kamu, penyemangat aku cuma kamu, tanpa adanya kamu di sini, kamu tetap jadi satu satunya penyemangat buat aku, aku mohon jangan raguin perasaan aku sama kamu sayang!"
Dini hanya diam. Entah kenapa pikiran pikiran negatif mulai menyerang dirinya. Semua kemungkinan kemungkinan buruk seolah menghantuinya dengan tiba tiba.
Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.
"Aku mau pulang sendiri," ucap Dini tanpa menoleh ke arah Dimas.
__ADS_1
"Enggak, aku anterin kamu!"
"Biarin aku sendiri Dimas, aku mohon," ucap Dini yang masih merasa kecewa pada Dimas.
"Kalau kamu nggak mau aku anter, biar Andi yang jemput kamu!"
"Aku mau sendiri Dimas, aku...."
"Tolong Andini, jangan bikin masalah ini semakin rumit!"
"Masalah ini nggak akan ada kalau kamu jujur sama aku dari awal Dimas!"
"Aku cuma mau jaga perasaan kamu, aku ngelakuin semua ini buat kamu, apa aku yang salah kalau dia suka sama aku?"
Dini hanya diam, matanya kembali berkaca kaca karena mendapat bentakan dari Dimas.
Melihat hal itu, Dimas menyadari kesalahannya, ia sudah terbawa emosi dengan bersuara tinggi pada Dini.
Dimas lalu terduduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku anter kamu sampe perbatasan kota, biar Andi yang anter kamu pulang," ucap Dimas lalu segera menghubungi Andi.
"Halo Ndi, lo dimana?" tanya Dimas saat Andi sudah menerima panggilannya.
"Di home store, lagi interview," jawab Andi.
"2 jam lagi gue tunggu di daerah X, bisa?"
"Lo gila? gue butuh waktu 2 jam buat ke sana, ini masih ada beberapa yang harus gue interview!"
"Jemput Andini di sana, gue tunggu!"
Klik. Sambungan berakhir.
Dimas yakin, sesibuk apapun Andi, ia pasti akan menjemput Dini.
Dimas lalu menyambar kunci mobilnya dan segera keluar dari apartemennya bersama Dini. Mereka hanya saling diam sampai mobil melenggang di padatnya jalan raya kota itu.
Ia sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, ia sudah memilih jalan yang tidak ia inginkan agar ia bisa melanjutkan hubungannya dengan Dini, ia bahkan menjalani hari harinya hanya untuk bekerja demi Dini. Namun, sikap Dini yang seolah meragukannya membuatnya kecewa dan terluka.
"Aku kasih kamu waktu buat mikirin semua ini, tapi ingat pesanku, tetap tersenyum dan jadi Andini yang selalu ceria," ucap Dimas saat mereka sudah sampai di perbatasan kota.
"aku kasih kamu waktu buat berpikir tentang hubungan kita, kalau bukan hanya kamu yang bisa kecewa, aku juga bisa kecewa dan terluka karena sikap kamu," batin Dimas dalam hati.
Dini hanya diam, matanya berkaca kaca mendengar ucapan Dimas.
"apa kamu mau semua ini selesai? apa kamu udah menyerah?" batin Dini dalam hati.
Tak lama kemudian sebuah mobil mendekat ke arah mobil Dimas. Melihat Andi keluar dari mobil itu, Dinipun segera keluar dan berlari ke arah Andi lalu memeluknya.
Andi yang terkejut dengan hal itu hanya bisa diam tanpa membalas pelukan Dini.
"Anterin aku pulang Ndi," ucap Dini dengan terisak.
"Ada apa Din? kamu kenapa?" tanya Andi dengan melepaskan pelukan Dini, namun Dini semakin erat memeluknya.
Andi sengaja tidak memeluk Dini karena melihat Dimas yang masih memperhatikan mereka. Bagaimnapun juga ia harus menghargai posisi Dimas sebagai tunangan Dini.
"Selesaiin masalah kalian baik baik Din, jangan biarin berlarut larut," ucap Andi.
"Aku mau pulang Ndi, ayo pulang!"
"Aku nggak akan pergi dari sini sebelum kamu Selesaiin masalah kamu sama Dimas, kalian udah....."
"Oke, aku bisa pulang sendiri!" ucap Dini lalu melepaskan Andi dari pelukannya dan berjalan meninggalkan Andi.
Andi tidak mengejar Dini, ia menghampiri Dimas dan meminta Dimas untuk mengejar Dini.
"Dim, lo nggak akan diem aja kan di sini? kejar dia Dim, selesaiin masalah kalian berdua dengan baik baik!"
__ADS_1
Dimas hanya diam lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Lo tau gue sayang sama dia Ndi, tapi dia nggak pernah percaya sama perasaan gue, biarin dia sendiri, biarin dia mikirin seberapa besar cinta gue buat dia!" ucap Dimas lalu meninggalkan Andi begitu saja.
Andi lalu segera mengejar Dini yang sudah berjalan cukup jauh. Ia menarik tangan Dini dan memeluknya.
"Aku nggak mungkin anterin kamu pulang dalam keadaan kayak gini Din," ucap Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan menghapus sisa air mata di pipi Dini.
Andi lalu menggandeng tangan Dini dan membawanya ke mobil. Andi mengendarai mobilnya ke arah pantai. Sesampainya di sana, ia segera berjalan ke tepi pantai bersama Dini lalu duduk berdua di sana.
"Kamu mau cerita?" tanya Andi yang dibalas gelengan kepala Dini.
"Selesaiin masalah kalian baik baik Din, aku tau kamu sama Dimas nggak mau ada di posisi kayak gini," ucap Andi.
"Dimas udah menyerah sama aku," ucap Dini pelan.
"Kenapa kamu bilang gitu?"
"Dia biarin aku sendirian, dia udah lepasin aku," jawab Dini dengan menahan air matanya.
"Dia bukan lepasin kamu, dia cuma kasih waktu buat kamu berpikir, dia cinta sama kamu Din, dari awal dia deketin kamu waktu SMA, dia nggak pernah main main, sampe dia koma dan hilang ingatan, dia masih cinta sama kamu!"
"Tapi semuanya berubah Ndi, kamu nggak tau apa apa!"
"Aku emang nggak tau apa apa tentang hubungan kalian, tentang masalah kalian, yang aku tau kalian saling mencintai dan masalah yang kalian hadapi itu proses buat kalian saling menguatkan perasaan masing masing!"
Dini hanya diam mendengarkan ucapan Andi.
"Kalau kamu cinta sama Dimas, kamu juga harus percaya sama dia, bukan cuma percaya ceritanya, tapi juga percaya kalau dia cinta sama kamu, cinta itu datang dari hati kamu Din, jangan biarin ego kalahin kepercayaan kamu sama Dimas!"
"Dia juga bisa kecewa dan sakit hati kalau kamu nggak percaya sama dia, udah banyak hal yang kalian korbankan, udah banyak rintangan yang kalian lewati, dan semuanya itu nggak ada yang mudah buat kamu juga buat Dimas, kalian harus saling mengerti dan memahami, saling percaya kalau cinta yang kalian miliki itu nyata adanya," lanjut Andi.
"Apa dia marah sama aku?"
"Dimas nggak mungkin marah sama kamu Din, dia mungkin kecewa, aku nggak tau masalah kalian apa, tapi aku mohon selesaiin baik baik, bicarain baik baik, jangan sampai semua yang udah kalian lewati dan kalian perjuangin itu sia sia!"
"Tapi Dimas udah nggak mau ngomong sama aku," ucap Dini.
"Kasih dia waktu buat tenangin dirinya, kamu juga butuh waktu buat tenangin diri kamu," balas Andi lalu membawa Dini ke dalam pelukannya.
"Andai itu kamu, bukan Dimas," batin Dini dalam hati.
**
Di tempat lain, Adit sedang bersantai dengan Ana di dekat kolam ikan.
"Ini kontak Dokter Wika, Dokter kandungan, kamu bisa hubungi Dokter Wika kalau ada apa apa!" ucap Adit sambil memberikan sebuah kartu nama pada Ana.
"Makasih Dit," balas Ana.
Biiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Adit berdering, sebuah panggilan dari sang mama.
"Halo Adit, kamu dimana sayang?" tanya sang mama ketika Adit sudah menerima panggilannya.
"Adit..... Adit lagi di apartemen, kenapa ma?"
"Kenapa? kamu weekend ini nggak ke rumah mama loh, kok kenapa!"
"Iya ma, maaf, masih ada beberapa hal yang harus Adit selesaiin, nanti malam Adit ke rumah!"
"Kamu beneran di apartemen? kenapa nggak bukain pintunya? password nya juga kamu ganti, kenapa?"
"Mama di mana sekarang? di apartemen?"
"Iya, mama dari tadi pencet bel kamu nggak denger? atau kamu bohong sama mama?"
Klik. Adit mematikan sambungan ponselnya lalu segera menonaktifkan ponselnya. Ia benar benar tidak punya alasan lagi untuk menjawab pertanyaan sang mama.
__ADS_1
Ia hanya bisa mengacak acak rambutnya kasar karena kesal pada dirinya sendiri yang sudah membohongi mamanya.