Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Sebuah Tanya


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul 9 pagi, Andi sedang berada di sebuah mini market untuk membeli keperluannya.


Ketika ia baru saja keluar dari mini market, dilihatnya seorang wanita paruh baya yang tampak akan menyebrang jalan dan di sisi lain ada seorang pengendara motor dengan kecepatan tinggi.


Andi menjatuhkan barang belanjaannya begitu saja dan menarik tangan si wanita yang hampir saja tertabrak oleh pengendara motor itu. Akibatnya, ia dan si wanita terjatuh di pinggir jalan dengan luka kecil di beberapa bagian tubuh mereka.


Lukman yang menyaksikan hal itu segera membantu majikannya berdiri dan memastikan keadaan sang majikan baik baik saja.


"Kita ke rumah sakit ya bu!" ucap Lukman pada mama Adit.


Sesaat mama Adit masih diam menatap laki laki di hadapannya. Laki laki yang ditaksir usianya sedikit di bawah Adit. Jantungnya berdetak kencang melihat anak laki laki di hadapannya itu.


"Tante nggak papa kan? maaf saya tadi....."


Mama Adit lalu menarik tangan Andi dan menggenggamnya dengan gemetar. Matanya sama sekali tak bisa berpaling dari Andi.


"tangannya gemetar dan basah, apa tante ini terlalu shock karena kejadian barusan?" batin Andi dalam hati.


"Kita ke rumah sakit bu," ucap Lukman membuyarkan lamunan mama Adit.


Mama Adit segera mengangguk dan mencoba untuk berdiri. Karena masih gemetar, ia hampir saja ambruk jika Andi tidak menangkapnya dengan cepat.


Seketika tangan Andi mulai berkeringat, jantungnya berdetak sangat cepat.


"tenang Ndi, tenang," batin Andi menenangkan dirinya sendiri yang mulai gelisah.


"Kamu ikut tante ke rumah sakit ya!" ucap mama Adit pada Andi.


"Saya baik baik saja tante, saya....."


"Tante mohon," ucap mama Adit memohon.


Andi mengangguk. Ia lalu mengikuti mama Adit masuk ke dalam mobil, ia bahkan melupakan barang belanjaannya.


Tanpa mereka sadar, sepanjang perjalanan tangan mama Adit masih menggenggam tangan Andi dengan erat.


Jantung keduanya berdegup dengan kencang, namun diantara debaran itu tersisip sebuah rasa bahagia yang mereka tak tau darimana datangnya.


Sesampainya di rumah sakit, Lukman segera menghubungi Adit dan memberi tahu Adit jika sang mama mengalami kecelakaan.


**


Di tempat lain, Adit sedang mengerjakan pekerjaannya bersama Dini sebelum Lukman menghubunginya.


Biiiiippp Biiiiippp Biiiippp


Ponsel Adit berdering, sebuah panggilan dari Lukman.


"Halo pak, gimana? mama masih mau kesini?"


"Ibu kecelakaan mas, sekarang di rumah sakit X."


"Mama kecelakaan?"


Adit segera menyambar jas hitamnya dan menghubungi Rudi agar menyiapkan mobilnya.


"Rud, siapkan mobil sekarang, cepat!"


"Baik pak."


Adit menarik tangan Dini begitu saja dan membawanya keluar dari ruangannya.


"Mama kecelakaan, ikut kakak ke rumah sakit!" ucap Adit tanpa menoleh ke arah Dini.


Mereka berjalan cepat ke arah mobil Adit yang sudah siap membawa mereka ke rumah sakit.


"mereka kemana? kenapa gandengan tangan gitu? apa cewek itu yang bikin Adit menjauh dari aku?" batin Jenny bertanya tanya saat ia baru saja tiba di kantor Adit.


Untuk sementara Jenny tidak mempedulikan Adit dan Dini, niat awalnya datang ke kantor Adit untuk bertemu seseorang, seseorang yang membantunya menjalankan rencananya.


**


Di rumah sakit, Adit dan Dini segera berlari ke ruang UGD namun mereka tak menemukan sang mama di sana.


Adit lalu menghubungi Lukman dan menanyakan keberadaan sang mama.


Aditpun segera menuju ke tempat yang dimaksud Lukman. Sebuah ruangan untuk pasien umum, bukan ruangan VIP seperti biasanya.


"Kenapa mama di sini Pak? kenapa bukan di VIP?" tanya Adit pada Lukman.


"Maaf mas, ibu sendiri yang minta."


"Udah kak, jangan ribut, ayo masuk!" ucap Dini pada Adit.


Adit dan Dinipun masuk ke dalam ruangan yang terdiri dari beberapa ranjang. Adit memperhatikan satu per satu pasien yang terbaring di sana.


"Mama!"


"Andi!"


Mereka semua saling terkejut dengan hal itu.


"Mama kenapa di sini ma? kita pindah ke VIP ya?" ucap Adit pada sang mama.


"Mama cuma luka kecil kok Dit, mama mau di sini aja," balas mama Adit.


"Kamu kenapa bisa disini Ndi? kamu masih sakit? demamnya belum turun?" tanya Dini dengan menempelkan tangannya di kening Andi.


"Aku nggak papa Din, kamu sendiri ngapain ke sini?"


"Aku..... aku....."


"Saya yang ajak Dini," ucap Adit menjawab pertanyaan Andi.


"Dokter bilang apa ma?" tanya Adit pada sang mama.


"Mama baik baik aja Dit, cuma luka kecil di sini, di sini, di sini," jawab mama Adit dengan menunjukkan beberapa lukanya.


"Mama kalau butuh apa apa bisa minta Pak Lukman ma, mama nggak perlu keluar sendiri kayak gini."

__ADS_1


"Mama cuma mau ke kantor kamu Dit, mama....."


Mama Adit menghentikan ucapannya melihat luka di kening Adit. Sesaat ia ingat noda darah dan pecahan vas bunganya di halaman belakang rumah.


"Kamu kenapa sayang?" tanya mama Adit dengan menyentuh kening Adit.


"Adit jatuh di kamar mandi, tapi udah nggak papa kok, mama nggak perlu khawatirin Adit."


"Kamu anak mama sayang, mana mungkin mama nggak khawatir sama kamu, apa mama kemarin......"


"Sssttttt...."


Adit menggelengkan kepalanya pelan lalu memeluk sang mama yang duduk di ranjang rumah sakit.


"Adit baik baik aja, mama juga harus baik baik aja ya, Adit sayang sama mama," ucap Adit pada sang mama.


Andi dan Dini yang berada di sebelah ranjang mama Adit hanya saling diam memperhatikan CEO galak yang kini tampak begitu manis.


"Aku juga sayang sama kamu," ucap Dini berbisik pada Andi.


"Aku lebih sayang lagi," balas Andi dengan memeluk Dini lalu mereka tertawa kecil.


"Eheemm!"


Andi segera melepas pelukannya pada Dini ketika mendengar deheman Adit.


"Kalian saling kenal?" tanya mama Adit pada Dini dan Andi.


"Iya ma, kita udah bersahabat dari kecil," jawab Dini.


"Ma?" tanya Andi meyakinkan pendengarannya.


Dini hanya tersenyum lebar sambil mencubit lengan Andi agar Andi tidak menanyakan hal itu saat itu.


"Kamu harus berterima kasih sama dia Dit, dia yang udah tolongin mama, kalau bukan karena dia mungkin mama udah ditabrak sama pengendara motor itu!" ucap mama Adit.


"Terima kasih karena sudah menolong mama saya," ucap Adit pada Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


"Dimas tau kamu di sini?" tanya Dini pada Andi.


"Aku tadi minta dia jemput di sini," jawab Andi.


"Berarti aku harus pergi sekarang," ucap Dini lalu segera berbalik namun Andi mencegahnya.


"Kamu nggak mau ketemu sama dia?" tanya Andi dengan memegang tangan Dini.


"Ndi, aku....."


"Dini harus kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan," ucap Adit pada Andi.


Andi lalu melepaskan tangan Dini, membiarkan Dini pergi.


"Ma, kita balik ke kantor dulu ya, Adit pasti pulang cepat buat jemput mama!" ucap Adit pada sang mama.


"Iya sayang, hati hati," balas mama Adit.


Kini tinggal Andi dan mama Adit di sana.


"Iya tante, saya Andi," jawab Andi.


"Andi? dari sekian banyak nama, kenapa nama itu?" batin mama Adit dalam hati.


"Saya Siska, kamu bisa panggil tante Siska," ucap mama Adit.


"Siska? dari sekian banyak nama, kenapa nama itu?" batin Andi dalam hati.


"Iya, tante Siska."


Di lorong rumah sakit, Dimas berjalan bersama Anita untuk mencari ruangan Andi.


Saat Andi menghubungi Dimas, kebetulan Anita baru saja tiba di home store saat itu. Karena Dimas begitu fokus mencari ruangan Andi, ia tidak memperhatikan Dini yang berjalan melewatinya. Begitu juga Dini yang tidak melihat keberadaan Dimas.


"Dini? sama siapa?" tanya Anita dalam hati.


"Dimas, HP ku ketinggalan di mobil, aku bisa minta kunci mobilnya?"


Dimas memberikan kunci mobilnya pada Anita tanpa curiga sedikitpun.


Anita lalu berlari mengejar Dini. Saat berada di tempat parkir, diam diam ia mengambil foto Dini saat Adit membukakan pintu untuk Dini.


Anita lalu masuk ke dalam mobil Dimas dan berfoto selfie di dalamnya dengan mengenakan hoodie Dimas yang tertinggal di dalam mobil.


"Oke, upload kasih caption yang menarik."


Kehangatan yang lama ku rindukan ❤


"Klik, done!"


Anita lalu keluar dari mobil Dimas dan mencari ruangan Andi. Belum sampai ia di ruangan Andi, ia melihat Andi dan Dimas yang sudah berjalan keluar.


"Andi, kamu nggak papa? aku khawatir sama kamu!" ucap Anita dengan memeluk Andi.


"Aku nggak papa Nit, kamu kenapa bisa di sini?" jawab Andi sekaligus bertanya dengan melepaskan Anita dari pelukannya.


"Aku tadi di home store sama Dimas," jawab Anita.


Andi lalu membawa pandangannya ke arah Dimas seolah meminta penjelasan.


"Dia baru dateng dan maksa ikut ke sini waktu tau lo di sini," ucap Dimas pada Andi.


Andi lalu mengangguk anggukkan kepalanya mendengar ucapan Dimas. Merekapun kembali ke home store.


**


Di tempat lain, Dini sudah berada di kantor bersama Adit. Merekapun melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.


Tak lama kemudian tampak keributan di depan ruangan Adit. Aditpun meminta satpam untuk segera membawa Jenny keluar dari kantornya. Namun bukannya keluar, Jenny malah semakin membuat keributan.


Aditpun berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruangannya untuk menemui Jenny.

__ADS_1


"Lepaskan dia pak," ucap Adit pada Satpam yang memaksa Jenny keluar.


"Give me 5 minutes to talk with you Adit, please!" ucap Jenny pada Adit.


"Come in!" balas Adit lalu masuk ke ruangannya.


Jenny mengikuti Adit masuk dan melihat Dini di sana.


"Why you are here?" tanya Jenny pada Dini.


"Dia kerja sama aku Jen, kamu punya waktu 5 menit sebelum aku sendiri yang seret kamu keluar dari sini!"


"Okay okay, aku ke sini cuma buat ngasih kamu ini, pembaharuan kontrak dari papa!"


"Sorry Jen, aku nggak bisa!"


"Why? kenapa Dit? kamu baca aja dulu, kamu pasti setuju kok!"


Adit mengambil map yang Jenny taruh di mejanya lalu mengembalikannya pada Jenny.


"Aku sama sekali nggak tertarik," ucap Adit tegas.


"Kamu tau risiko yang akan datang kan? kamu tau kalau papa....."


"Aku tau dan itu lebih baik buat aku dan perusahaan ku," ucap Adit.


"Tapi Dit......"


"You have 5 seconds, one, two, three......"


"Okay okay, this your choice Adit, so don't regret it!" ucap Jenny lalu keluar dari ruangan Adit dengan kesal.


Jenny lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Oke, let's go for plan B!" ucap Jenny.


Adit dan Dini lalu mengerjakan kembali pekerjaan mereka sampai jam makan siang tiba.


"Din, kakak harus ke rumah sakit sama Ana, kamu mau ikut?"


"Enggak, Dini makan siang di kantor aja."


"Oke, kakak keluar dulu ya!"


Dini menganggukkan kepalanya lalu segera menyimpan file nya dan kembali ke ruangannya sebelum ia pergi ke kantin.


"Ke kantin Din?" tanya Ica atau Aca, Dini masih belum bisa membedakan mereka berdua.


"Iya," jawab Dini.


Merekapun pergi ke kantin bersama disusul Aca. Mereka duduk bertiga menunggu bakso pesanan mereka datang.


"Guys, ada gosip baru nih!" ucap Sela dengan suara yang cukup kencang.


"Waahhh, gosip nih, apa lagi ya!" sahut Ica antusias.


"Lo apaan sih Ca, doyan banget gosip nggak bener!" ucap Aca.


Dini tidak menghiraukan mereka yang suka bergosip, ia lebih memilih untuk sibuk dengan ponselnya.


"Ternyata Pak Adit sama Jenny itu udah tunangan loh, hubungan mereka lagi break gara gara ada orang ketiga yang tiba tiba datang!" ucap Sela.


"Orang ketiga siapa?" tanya yang lain.


"Siapa lagi kalau bukan personal assistant kesayangan," jawab Sela.


Merekapun mulai membicarakan Dini lagi, beberapa dari mereka percaya ucapan Sela, namun sebagian dari mereka meragukan ucapan Sela, termasuk Ica dan Aca.


"Oke kalau kalian nggak percaya, aku kasih bukti ya!" ucap Sela lalu mengirimkan sebuah foto pada grup khusus pegawai.


Dini yang belum masuk grup itu tidak mengetahui apa yang sedang teman temannya bicarakan. Ia lebih fokus pada unggahan terbaru Anita di sosial medianya.


"ini hoodie nya Dimas kan? ini hadiah ulang tahun dari mama, hoodie Limited Edition dari Merk terkenal, tas yang dibelakang juga tasnya Dimas, apa dia di mobil Dimas? dia lagi sama Dimas?" batin Dini bertanya tanya.


Kehangatan yang lama ku rindukan ❤


"captionnya apa apaan sih! apa mereka udah deket lagi? deket lagi? emang sedeket apa hubungan mereka dulu?"


"Din, Dini!" panggil Aca dengan menggoyangkan tangan Dini, membuyarkan lamunan Dini.


"Eh iya, apa?"


"Kamu udah masuk grup belum?" tanya Ica.


"Belum, aku duluan ya!" jawab Dini lalu segera meninggalkan kantin.


"Tuh kan bener, dia pasti kabur tuh minta perlindungan Pak Adit," ucap Sela.


Dini berjalan cepat ke ruangannya untuk menghubungi Andi.


"Halo Ndi, kamu dimana?"


"Di home store, kenapa Din?"


"makasih buat hari ini ya Dim!" ucap Anita sebelum ia meninggalkan home store.


Dimas hanya diam lalu masuk ke ruang kerjanya.


"Ada siapa di sana Ndi?" tanya Dini.


"Aku pulang dulu ya Ndi, jangan lupa diobati lukanya!" ucap Anita pada Dimas.


"Oke, hati hati Nit!" jawab Andi.


Klik. Dini mematikan sambungan ponselnya.


"Anita? dia beneran sama Dimas? 'makasih buat hari ini'? apa maksudnya? apa Dimas..... enggak, Dimas nggak mungkin kayak gitu," batin Dini dalam hati.


Ia menimang nimang ponsel di tangannya. Ia ingin menghubungi Dimas, menanyakan semua yang menjadi keresahannya, tapi ia ragu.

__ADS_1


"kamu akan jaga hati kamu kan Dimas?" tanya Dini dalam hatinya.


__ADS_2