
Hamparan gelap malam itu tampak sunyi. Tak ada bulan dan bintang yang saling menemani. Mereka seolah sepakat untuk pergi, membiarkan hati meratap seorang diri.
Dini duduk di jendela kamarnya. Matanya menerawang jauh menembus kegelapan malam. Ia ingin bisa berdiri tegar, namun pedih di hatinya menariknya kembali ke dalam jurang kesedihan.
"semangat Dini, tunggu Dimas kembali dan kalian akan bersama seperti dulu," ucap Dini dalam hati.
Dini lalu merebahkan badannya di atas tempat tidur. Ia sengaja membiarkan jendela kamarnya terbuka, membiarkan angin malam memeluk malamnya yang terasa semakin dingin karena perpisahannya dengan Dimas.
Ia merintih dalam pejam matanya, menahan semua sesak yang seolah memeluknya dengan begitu erat.
Hingga pagi datang, rasa itu masih ada. Sebuah rasa sakit tanpa ada yang menyakiti. Bukan Dimas, bukan juga cintanya, tapi takdirlah yang terasa begitu menyakitkan baginya.
Dini meraih ponsel di mejanya. Sejak semalam ia sengaja menonaktifkan ponselnya dan begitu banyak pesan masuk setelah ia kembali mengaktifkannya.
Ia mengabaikan semua pesan itu. Ia hanya membuka pesan Dimas dan membacanya lagi.
Andini, aku tau ini nggak mudah buat kamu juga buat aku, tapi ini yang terbaik, ini jalan yang udah kita berdua pilih, jadi aku harap kamu nggak pernah menyesalinya. Lanjutkan hidup kamu dengan baik Andini, bahagiakan orang orang di sekitar kamu, jangan biarkan mereka merasakan kesedihan yang kita rasakan sekarang. Bangkit dengan senyum manis kamu Andini, dunia tidak akan runtuh hanya karena kesedihan kita. Tersenyumlah seperti saat kamu tersenyum untukku, jaga hati kamu buat aku Andini, tunggu aku, aku pasti kembali :)
Dini tersenyum dengan bulir bening yang kembali menetes dari kedua sudut matanya, namun ia segera menghapusnya. Ia harus tersenyum, ia hanya perlu menunggu Dimas untuk kembali padanya.
"aku akan tunggu kamu, berapa lamapun waktu yang kamu butuhkan, aku akan selalu jaga hati aku buat kamu," ucap Dini dalam hati.
Dini lalu menyambar handuknya dan segera mandi. Pagi itu, matahari belum menyapa namun Dini sudah duduk di halte menunggu bus yang akan mengantarnya ke kantor.
Ia sampai di kantor lebih pagi dari biasanya. Ruangan kantor masih sangat sepi, hanya ada beberapa yang sudah datang.
Dini lalu memasuki ruangannya dan segera menyelesaikan tugasnya.
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 7 pagi. Dini segera menyiapkan minuman hangat untuk Adit dan menaruhnya di meja kerja Adit. Ia lalu kembali mengerjakan tugasnya.
Saat Adit memasuki ruangannya, Dini segera membawa jadwal harian Adit dan memberikan file yang sudah ia selesaikan.
"Permisi pak, ini jadwal Pak Adit hari ini dan ini materi meeting yang Pak Adit minta," ucap Dini pada Adit.
"Pelajari materi meetingnya, kamu akan gantikan saya meeting nanti siang," ucap Adit sambil mengcopy file yang Dini bawa.
"Saya sendiri pak?"
"Kamu sama Jaka, ada hal lain yang harus saya kerjakan!"
"Tapi pak....."
"Nggak ada tapi tapi Dini, saya percaya sama kamu, jadi tolong jangan kecewakan saya!"
"Baik pak, saya permisi," balas Dini lalu segera keluar dari ruangan Adit.
Jam sudah menunjukkan pukul 9, satu jam lagi meeting akan dimulai, namun Dini masih belum bisa menguasai materi meeting dengan baik.
Entah apa yang terjadi padanya, ia tidak bisa berkonsentrasi dengan baik hari itu. Membuatnya begitu kesal pada dirinya sendiri.
"ayo Din, fokus fokus, waktunya kerja," ucap Dini dalam hati.
Hingga 30 menit sebelum meeting di mulai, Dini masih tampak gelisah. Ia mondar mandir di depan meja kerjanya dengan membawa materi meeting yang harus ia pahami.
Dini menyerah, ia benar benar kehilangan konsentrasinya. Materi meeting yang ia kerjakan sendiri bahkan tak bisa ia mengerti sama sekali.
Dini terduduk di lantai dengan memeluk kedua kakinya. Ia menangis karena terlalu kesal pada dirinya sendiri.
Di sisi lain, Adit yang melihat hal itu segera mendatangi ruangan Dini. Ia masuk dan melemparkan sebuah map ke arah Dini.
"Apa apaan kamu Din!"
Melihat Adit datang, Dini segera berdiri dan menghapus air matanya setelah mengemasi isi map yang tercecer di sekitarnya.
"Maaf pak, saya......"
"Kalau kamu sakit, pulang, saya tidak akan mempekerjakan pegawai yang sakit di sini!"
"Saya nggak sakit pak, saya cuma...."
"Ini tempat kerja, ini ruangan kerja, tugas kamu di sini bekerja dengan baik tidak peduli seberat apapun masalah yang kamu hadapi di luar sana, saat kamu berada di sini fokus kamu hanya untuk bekerja, mengerti?"
"Baik pak, saya mengerti," jawab Dini dengan menundukkan kepalanya.
Adit lalu menarik dagu Dini, menegakkan kepala Dini agar sejajar dengannya.
__ADS_1
"Fokus dengan pekerjaan kamu dan lakukan yang terbaik untuk pekerjaan kamu!" ucap Adit lalu keluar dari ruangan Dini dan kembali ke ruangannya.
Dini lalu pergi ke ke kamar mandi dan membasuh wajahnya lalu kembali mengenakan make up tipisnya.
"Pak Adit bener, ini waktunya kerja, aku cuma harus fokus sama kerjaan, nggak boleh mikirin yang lain, huuuffttt semangat Dini, kamu pasti bisa," ucap Dini menyemangati dirinya sendiri.
Dini lalu kembali ke ruangannya dan segera mempelajari materi meeting yang 20 menit lagi akan dimulai. Ia membaca berkas yang Adit lemparkan padanya, ternyata itu adalah ringkasan singkat materi meeting yang sudah ia kerjakan. Dengan itu, Dini menjadi lebih mudah untuk mempelajarinya.
Tak lama kemudian Jaka masuk ke ruangan Dini.
"Udah siap Din?" tanya Jaka.
Dini menggeleng pelan.
"Pak Adit udah kasih pembagian materi meetingnya kan? kamu cuma perlu pahami bagian yang Pak Adit berikan, sisanya percaya aja sama aku!"
"Syukurlah kalau gitu, terima kasih banyak Pak Jaka," balas Dini lega.
"Pastikan kamu menguasai materi yang Pak Adit berikan buat kamu ya!"
"Baik pak," balas Dini.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, Dini dan Jaka sudah berada di ruangan meeting di perusahaan tempat mereka bekerja.
2 jam berlalu, meeting berjalan lancar. Dini bisa menguasai dengan baik materi yang diberikan padanya dan Jaka bisa menjadi back up yang baik untuk Dini.
"dengan waktu sesingkat itu dia bisa paham sama materinya? lumayan juga sih, tapi itu kan berkat bantuan Pak Adit," ucap Jaka dalam hati.
Mereka lalu meninggalkan ruangan meeting. Dini kembali ke ruangannya, sedangkan Jaka pergi ke kantin karena sudah jam makan siang.
Dini segera mengerjakan laporan hasil meeting, ia sama sekali tidak tertarik untuk mengisi perutnya yang sudah meronta ronta.
Sesekali ia melihat ke ruangan Adit, kosong. Adit sedang tidak berada di ruangannya saat itu. Entah makan siang atau ada kepentingan lain, Dini tidak memikirkannya.
30 menit sebelum jam makan siang selesai, Adit kembali ke ruangannya. Melihat hal itu, Dini segera memberikan laporan hasil meeting nya pada Adit.
"Permisi pak, ini laporan hasil meeting tadi," ucap Dini sambil memberikan sebuah map pada Adit.
Adit menerima map itu dan melihat ke arah jam tangannya.
"masih jam makan siang," batin Adit.
"Belum pak, selesai meeting saya mengerjakan laporannya," jawab Dini.
Adit mengangguk anggukkan kepalanya. Ia lalu mengambil beberapa map dan memberikannya pada Dini.
"Ini materi meeting yang harus kamu susun, pelajari dengan baik, lusa kita akan meeting dengan klien penting, Jaka akan membantu kamu!"
"Baik pak, saya permisi."
Dini lalu kembali ke ruangannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, satu jam lagi ia harus bersiap pulang.
"Din, ini beberapa file yang harus kamu cek sebelum diserahkan Pak Adit, deadline nya sampai akhir bulan, tapi kalau bisa kamu kerjakan lebih cepat lebih baik," ucap Jaka sambil menaruh setumpuk map di atas meja kerja Dini.
"Baik pak," jawab Dini.
Tak lama setelah Jaka pergi, seorang gadis cantik masuk dan memberikan tumpukan map yang lebih banyak lagi.
Sekarang, tumpukan pekerjaan sudah menanti untuk ia selesaikan.
Baginya itu bukan masalah besar, ia akan menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja. Dengan begitu, ia tidak akan memikirkan hal hal yang membuatnya sedih.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dini merasa matanya sudah lelah menatap layar monitor di hadapannya, namun tumpukan pekerjaan masih harus ia selesaikan.
Dini lalu pergi ke pantry untuk membuat kopi. Ketika ia kembali, ia baru menyadari jika Adit masih berada di ruangannya.
Dini lalu kembali sibuk, sampai tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6 petang. Suasana kantor sudah sepi, tapi ia enggan untuk pulang.
Ia kembali ke pantry untuk membuat kopi dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
Hingga tanpa sadar, Dini tertidur di meja kerjanya.
Adit yang melihat hal itu segera mengemasi barang barangnya lalu masuk ke ruangan Dini.
__ADS_1
"Din, kamu tidur?" tanya Adit pelan, namun tak ada jawaban.
Adit lalu menyentuh pundak Dini dan memanggilnya pelan. Dengan kedua mata yang masih tertutup, Dini menarik tangan Adit dan menggenggamnya.
"Kamu jahat Dimas," ucap Dini dengan suara serak, seperti menahan tangisnya.
"Din, bangun," ucap Adit dengan menarik tangannya dengan pelan.
Teesss!!
Tetes air mata jatuh membasahi tangan Adit yang berada dalam genggaman Dini.
"Apa yang terjadi sama kamu Din?" tanya Adit pelan.
Tak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis dalam keheningan ruangan itu.
BRAAAKKKK
Tak sengaja seorang satpam yang sedang berkeliling menabrak tempat sampah, membuat Dini segera terbangun dari tidurnya.
Dini mengerjapkan matanya menatap laki laki di hadapannya. Ia masih diambang kesadaran setelah tertidur beberapa menit di meja kerjanya.
"Tangan saya," ucap Adit dengan membawa pandangannya ke arah tangannya yang masih di genggam Dini.
Seketika Dini menyadari jika ia sedang menggenggam tangan Adit. Ia pun segera melepaskannya.
"Maaf pak, maaf, saya ketiduran, saya....."
"Cepat pulang, kantor sudah sepi!" ucap Adit lalu keluar dari ruangan Dini.
Dini hanya mengangguk. Ia masih tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Ia lalu mengusap wajahnya yang basah, entah kenapa ia merasa dadanya terasa sesak.
"apa aku nangis? di depan Pak Adit? sambil genggam tangannya Pak Adit? aaarrgghhh kamu apa apaan sih Din!"
"Belum pulang mbak?" tanya Pak satpam yang baru saja datang.
"Ini mau pulang pak," jawab Dini lalu segera mengemasi barang barangnya setelah menyimpan file yang tadi dikerjakannya.
Dini lalu keluar dari ruangannya. Ia berjalan ke arah lobby yang sudah sangat sepi. Di depan kantor, ia duduk di tepi jalan di atas trotoar.
Matanya menatap nanar keramaian jalan raya di hadapannya. Dalam keramaian itu, ia merasa sendiri. Hatinya terasa hampa.
Tak terasa air matanya menetes merasakan kesedihan yang masih hinggap dalam dirinya. Dini segera menghapus air matanya. Sialnya, semakin ia berusaha tegar, semakin ia berusaha kuat, dadanya terasa semakin sesak.
Kesakitan itu mengimpit dadanya seolah tak memberikan ruang sama sekali dalam hatinya untuk merasakan bahagia.
Tanpa Dini tau, seseorang dari dalam mobil tengah memperhatikannya. Ia merasakan apa yang tengah dirasakan gadisnya. Sebuah kesakitan dan kesedihan yang harus mereka jalani demi hati seorang ibu.
Di sisi lain, seseorang menatap Dini dengan tatapan penuh tanda tanya dalam pikirannya. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat itu, ia hanya ingin menghampiri Dini sebelum seseorang membuatnya menghentikan langkahnya. Adit melihat seorang laki laki yang berjalan menghampiri Dini.
Laki laki yang pernah ia temui beberapa hari yang lalu. Melihatnya kembali, entah kenapa ia tiba tiba gelisah. Ia lalu kembali ke dalam mobilnya dan meninggalkan kantor.
Dimas yang melihat Andi datang hanya tersenyum tipis. Setidaknya ia sudah tidak mengkhawatirkan Dini karena ada Andi yang menemaninya.
Dimas lalu melajukan mobilnya yang sudah terparkir di sana hampir 3 jam lamanya.
"Kita pulang ya!" ajak Andi pada Dini.
Dini hanya diam di tempatnya. Pandangannya kosong seperti keadaan hatinya saat itu.
Andi lalu duduk di samping Dini, menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.
"Aku selalu di sini buat kamu Din, aku akan denger semua keluh kesah kamu, cerita bahagia kamu, aku akan jadi pendengar yang baik buat kamu, jadi jangan pernah ragu buat ceritain semuanya sama aku," ucap Andi.
Dini lalu membawa pandangannya ke arah Andi. Ia menatap laki laki di hadapannya. Laki laki yang selalu menemaninya, laki laki yang selalu bersamanya, laki laki yang selalu ada untuknya.
"Buat sekarang, biarin aku sendiri Ndi," ucap Dini pelan.
Dini lalu menarik tangannya dari genggaman Andi dan berdiri, berjalan meninggalkan Andi.
Andi yang melihat hal itu hanya bisa menerimanya. Ia membiarkan Dini berjalan seorang diri, sedangkan ia mengikutinya dari belakang.
"aku tau kita cuma sahabat Ndi, debaran yang aku rasain itu karena kita udah lama bersahabat, pada kenyataan nya hati aku milik Dimas, selamanya," ucap Dini dalam hati.
Dini lalu menaiki bus yang membawanya ke rumah, begitu juga Andi. Namun Andi masih menjaga jarak dengan Dini. Ia berusaha untuk memahami keadaan Dini saat itu.
__ADS_1
Beberapa waktu yang lalu, Dimas sudah menjelaskan semua yang terjadi diantara Dini dan Dimas pada Andi. Hal itu membuatnya sedih, ia tau bagaimana Dini akan menjalani hari harinya dengan kesedihan yang masih tinggal dalam hatinya.
Sebagai sahabat, ia hanya bisa berusaha membuat Dini kembali baik baik saja meski ia tau itu tak akan mudah baginya.