
Dini masih berada di rumah sakit bersama Adit. Ucapan Adit membuat Dini seketika membelalakkan matanya tak percaya. Ia ingin menyangkal hal itu secepatnya sebelum kebohongan yang Adit utarakan akan memperburuk hubungannya dengan Dimas.
Belum sempat Dini mengucapkan sepatahkatapun, Adit semakin erat menggenggam tangan Dini.
"Ini kan yang mama pingin? apa ini bisa bikin mama tenang? apa ini bisa bikin mama sehat?" tanya Adit pada sang mama yang juga tampak terkejut.
"Tentu sayang, mama jadi nggak khawatir lagi, mama jadi nggak kepikiran ucapan teman teman arisan mama sekarang, mama sangat bahagia Dit, sangat bahagia," jawab mama Adit dengan raut wajah yang memancarkan kebahagiaan yang sudah lama tidak Adit lihat.
"Sini sayang, duduk di sini!" ucap mama Adit sambil meminta Dini duduk di sebelahnya.
Dini membawa pandangannya pada Adit dan dibalas anggukan kepala oleh Adit.
Dengan ragu Dinipun duduk di samping mama Adit.
"Nama kamu Andini?" tanya mama Adit yang dibalas anggukan kepala Dini.
"Dia pemalu ya Dit," ucap mama Adit pada Adit.
"Kamu cantik sayang, Adit pasti bisa jaga kamu dengan baik," ucap mama Adit pada Dini.
Dini hanya tersenyum, ia benar benar merasa canggung. Ia tidak tau apa yang harus ia lalukan, apa yang harus ia ucapkan. Menyadari hal itu, Adit segera mengalihkan perhatian mamanya.
"Mama harus istirahat, Adit mau balik ke kantor dulu," ucap Adit pada mamanya.
"Kamu temani mama di sini ya sayang," ucap mama Adit dengan menggenggam tangan Dini.
"Ma, Dini kan juga harus kerja, dia kerja sama Adit," sahut Adit.
"Dia kerja di perusahaan kamu? apa dia yang gantiin Ana?" tanya mama Adit.
"mama Pak Adit juga kenal mbak Ana? pasti hubungan mereka dulu deket banget," batin Dini dalam hati.
"Iya ma, dia pengganti Ana di kantor," jawab Adit.
"Ya udah kalian balik aja, mama udah sehat sekarang, jangan khawatirin mama lagi!" ucap mama Adit.
Adit dan Dini lalu meninggalkan rumah sakit. Mereka segera kembali ke kantor.
"Din, saya minta maaf atas apa yang saya ucapkan tadi, saya tidak bermaksud untuk kurang ajar sama kamu," ucap Adit yang tampak menyesali perbuatannya.
Dini hanya diam. Sejujurnya ia ingin marah, ia ingin membentak laki laki di sampingnya itu. Tapi mengingat sikap mama Adit padanya, membuatnya ragu untuk memarahi Adit. Selain karena Adit adalah atasannya, ia juga melihat betapa bahagianya mama Adit ketika mengetahui Adit datang bersama "pacarnya".
"Mama selalu minta saya punya pacar Din, tapi saya nggak pernah mau pacaran, beberapa hari ini mama terganggu sama obrolan grup arisannya yang bilang kalau saya nggak suka perempuan, mama takut kalau....."
"Hmmmmpppzzz....."
Mendengar penjelasan Adit membuat Dini menahan tawanya. Bagaimana mungkin seorang laki laki tampan dan kaya raya di sebelahnya dianggap "belok" oleh para ibu ibu arisan.
"Kamu tertawa?"
"Maaf pak," jawab Dini dengan berusaha menutup mulutnya dengan rapat.
"Saya normal Din, saya masih suka perempuan, tapi belum ada perempuan yang bikin saya tertarik untuk pacaran, saya juga nggak ada waktu buat pacaran Din!"
"Saya mengerti pak, saya percaya sama Pak Adit," jawab Dini dengan tersenyum, menyembunyikan tawanya.
"Terima kasih karena kamu mengerti posisi saya, saya akan coba bicara baik baik sama mama supaya mama juga mengerti posisi saya," ucap Adit yang dibalas anggukan kepala Dini.
Tak lama kemudian mereka sampai di kantor. Adit segera berjalan ke arah ruangannya, sedangkan Dini mengambil beberapa berkas dari ruangan Jaka.
"tumben tumbenan Pak Adit telat balik kantor,"
"pasti abis makan siang plus plus tuh hahaha."
"makan siang plus plus di hotel kan hahaha."
"emang cewek murahan sih, gara gara dia Pak Adit jadi nggak on time deh!"
Dini berusaha mengabaikan bisikan bisikan yang sebenarnya sangat mengganggunya. Jika ditanya apa ia sakit hati? tentu saja. Meski ia sudah lebih kuat, tapi hatinya tidak terbuat dari batu yang keras. Ucapan ucapan itu tentu saja menyakiti hatinya, tapi ia lebih memilih untuk fokus pada pekerjaannya.
Ia lalu masuk ke ruangannya dan mengerjakan pekerjaanya. Tiba tiba seseorang mengetuk pintu ruangan Dini lalu masuk dan menghampiri Dini.
"Kamu lagi ngerjain materi buat meeting minggu depan ya?" tanya seorang gadis cantik di hadapannya.
"Iya mbak," jawab Dini.
"Ikut aku, aku bantuin kamu!"
"Baik mbak, terima kasih sebelumnya," balas Dini dengan tersenyum senang.
Ia pun mengikuti gadis cantik itu. Namun bukannya ke ruang kerja, gadis itu malah membawa Dini ke pantry.
"Buatin teh dong, kerja sambil ngeteh kan enak!"
__ADS_1
"Baik mbak."
"Jangan lama lama!"
Dini menganggukkan kepalanya lalu membuatkan teh untuk di gadis.
"Tolong bawain ke tempatku ya, tanganku lagi sakit nih!"
Dini kembali menganggukkan kepalanya lalu mengikuti si gadis berjalan ke arah meja kerjanya.
"Guys, ada yang butuh minum nggak? ada Dini nih, dia barusan bikinin aku teh enak banget loh!"
"Bikinin gue juga dong Din!"
"Aku juga ya!"
"Aku juga, gulanya dikit aja!"
"Gue Din, jangan lupa!"
"Gue sekalian deh!"
Pada akhirnya Dini membuatkan teh untuk mereka yang sudah memintanya membuat teh.
"Gimana mbak, kapan mbak bantuin saya mengerjakan materi....."
"Kamu nggak liat aku sibuk?"
"Tapi mbak bilang......."
"Sana pergi, ganggu aja!"
"Eh jangan galak galak dong sama Dini, ntar lo dilaporin Pak Adit loh!" sahut seseorang di sana.
"Bener tuh, Pak Adit kan pasti nurut banget sama dia!" sahut yang lain.
"Coba aja kalau berani, kalau sampe Pak Adit turun tangan, itu artinya semua gosip itu bener, iya kan?"
"Mbak, saya disini kerja, saya nggak pernah....."
"Dini, ikut saya!" ucap Jaka yang tiba tiba datang.
"Baik pak,"jawab Dini lalu segera meninggalkan kumpulan orang orang yang hobi bergosip.
"Apa kamu mau bikin keributan lagi?" tanya Jaka.
"Yang tadi itu, kalau sampai Pak Adit tau, Pak Adit akan marah besar Din, kamu pasti tau itu kan?"
"Tapi saya nggak ngelakuin apa apa Pak, mereka yang...."
"Kamu disini baru Din, jadi aku harap kamu bisa jaga sikap walaupun kamu adalah personal assistant Pak Adit."
Dini hanya mengangguk, menjelaskan pada seseorang yang tidak percaya padanya akan terasa percuma baginya.
"Aku akan bantuin kamu ngerjain materi meeting, tapi jangan bilang Pak Adit tentang kejadian tadi!"
"Baik pak," balas Dini.
Ia lalu mengerjakan materi meeting bersama Jaka. Berkat bantuan Jaka, 80% materi meeting sudah siap. Jika ditelisik lebih jauh, Dini bisa melihat bahwa Jaka memanglah pegawai yang cocok untuk dijadikan pegawai teladan di sana.
Kemampuan dan hasil kerjanya selalu memuaskan Adit, membuat Adit mempercayakan banyak hal pada Jaka. Namun karena sebuah kesalahpahaman, Jaka menjadi seseorang yang tampak menyebalkan di mata Dini. Bagi Dini, Jaka sama saja seperti pegawai lain yang suka membicarakannya di belakangnya.
Dini lalu keluar dari ruangan Jaka dan berjalan ke arah ruangannya. Namun saat hendak membuka pintu ruangannya, tiba tiba kepalanya berdenyut, ia merasa begitu pusing.
"Kamu kenapa Din?" tanya Adit yang melihat Dini memegangi handle pintu ruangannya.
"Enggak pak, nggak papa," jawab Dini lalu segera masuk dan duduk di kursi kerjanya.
Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kepalanya seperti sudah menyerah untuk menampung semua masalah yang dihadapinya. Mulai dari sang ibu yang melarang hubungannya dengan Dimas, Adit yang mengakuinya sebagai pacar di depan mamanya, belum lagi gosip yang beredar di kantor membuatnya semakin muak dengan jalan hidupnya sendiri.
Terlebih, beberapa pegawai mulai berani membicarakannya secara langsung di depannya, tentu saja hal itu sangat mengganggu kesehatan mentalnya.
Sedikit udara segar yang ia rasakan adalah kehadiran Dimas dalam masa masa sulitnya saat itu. Ia berusaha menghilangkan semua macam pikiran buruk di kepalanya. Ia harus fokus pada hal hal yang membahagiakannya.
Ia lalu menghubungi Dimas, meminta Dimas untuk menjemputnya. Setelah memastikan Dimas menjemputnya, ia segera merapikan barang barangnya.
Kriiiing Kriiiing Kriiiing
Telepon di depannya berdering saat ia sedang memoles bibirnya dengan pelembab bibir.
"Sebelum pulang, tolong bawa berkas yang kamu kerjakan ke ruangan saya ya!"
"Tapi saya belum selesai Pak, besok akan saya selesaikan."
__ADS_1
"Saya akan cek sebelum kamu mengerjakan yang lain!"
"Oh baik pak, saya antar kesana sekarang."
Dini segera menyiapakan berkas yang diminta oleh Adit dan memberikannya pada Adit.
"Wajah kamu pucat, kamu sakit?"
"Tidak pak, saya baik baik saja," jawab Dini.
"Kamu mau pulang?" tanya Adit.
"Iya Pak, apa masih ada yang harus saya kerjakan?"
Adit menggeleng lalu memberikan isyarat dengan tangannya agar Dini keluar.
"Saya permisi pak," ucap Dini lalu segera keluar dari ruangan Adit.
**
Di depan kantor, Dimas sudah menunggu Dini di dalam mobilnya. Dini lalu mengetuk kaca pintu mobil dengan senyum manisnya.
"Udah dari tadi?" tanya Dini ketika ia sudah duduk di samping Dimas.
"Barusan," jawab Dimas.
Dimas lalu melajukan mobilnya ke arah pantai. Sepanjang perjalanan, tak banyak percakapan yang terjadi, membuat Dini bertanya tanya tentang sikap Dimas yang tampak dingin padanya.
Beberapa kali Dini mencoba untuk mencairkan kesunyian di antara mereka berdua, namun Dimas tetap saja bersikap dingin padanya.
Pada akhirnya Dini menyerah, ia ingin marah namun ia menahannya. Ia tidak ingin merusak pertemuan mereka hari itu.
Sesampainya di tempat parkir pantai, Dimas segera turun dari mobilnya, begitu juga Dini.
Dimas berjalan ke arah pantai tanpa menggandeng tangan Dini seperti biasa. Ia membiarkan Dini berjalan di belakangnya.
Dimas lalu duduk di tepi pantai diikuti Dini yang duduk di sebelahnya.
"Dimas, kamu kenapa?" tanya Dini dengan menggenggam tangan Dimas.
Dimas hanya menggeleng dan melepaskan tangannya dari genggaman Dini.
Dini menghela napasnya panjang. Ia masih berusaha sabar pada sikap Dimas yang begitu dingin padanya.
Dini lalu berjalan mendekati bibir pantai. Perlahan percikan ombak yang menghantam karang mulai membasahi pakaiannya. Ia tidak bergeming, ia terus berjalan menjauh dari bibir pantai.
Kini air sudah sebatas lututnya. Gulungan ombak membuatnya tidak bisa menjaga keseimbangannya, namun Dini masih terus berjalan.
Ia hanya ingin tau, apa Dimas benar benar mencampakkannya saat itu?
Sampai di suatu titik, ombak menghantam Dini dengan kuat dan membuat Dini terjatuh. Melihat hal itu, Dimas segera berlari ke arah Dini dan menarik tangan Dini dengan kasar.
Dini yang sudah basah kuyup ditarik Dimas untuk menjauh dari pantai.
"Apa yang kamu lakuin Andini?" tanya Dimas lalu menghempaskan tangan Dini dengan kasar.
"Kamu kenapa sih Dim? ada apa? apa yang aku nggak tau? kenapa sikap kamu dingin sama aku? aku salah apa?" balas Dini dengan pertanyaan bertubi tubi.
Dimas hanya diam, ia tidak menjawab pertanyaan Dini sama sekali. Ia lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan Dini yang masih basah kuyup di tengah hamparan pasir putih yang berkilauan karena cahaya sunset sang mentari.
"Apa karena kamu udah nggak cinta sama aku? apa karena perasaan kamu berubah? apa karena Anita?" tanya Dini dengan berteriak, namun Dimas tetap pergi, melangkah semakin jauh dari tempat Dini berdiri.
Dini terduduk lemah tak berdaya. Hatinya terasa begitu sakit melihat Dimas yang mencampakkannya.
"Kenapa kamu ngelakuin ini Dimas? kenapa?" tanya Dini dengan suara lirih bersama air mata yang mulai membasahi pipinya.
Semakin lama ia melihat Dimas yang perlahan menghilang dari pandangannya. Hari itu, mentari pergi bersama Dimas yang pergi meninggalkannya. Menyisakan kegelapan yang menyelimuti hatinya yang tengah terluka.
Dini berjalan gontai ke arah batu karang besar di tepi pantai. Ia duduk merenung di bawah celah batu karang.
"Aku cuma mimpi, aku yakin aku cuma mimpi, bangun Dini, ayo bangun, Dimas nggak mungkin pergi, Dimas nggak mungkin ninggalin kamu," ucap Dini dengan isak tangis yang semakin memilukan.
Deburan ombak di hadapannya memecahkan kesunyian malam di tepi pantai. Di bawah langit gelap itu, Dini menangis sejadi jadinya bersama hantaman ombak yang menabrak karang.
"Dimas, kenapa semudah itu kamu pergi? kenapa semudah itu kamu buang aku, harapan aku, masa depan aku, kenapa kamu harus sejahat ini Dimas? kenapa?"
"Andai aku bisa, aku nggak akan milih buat jatuh cinta sama kamu, andai aku bisa aku nggak akan biarin hati aku sakit karena kamu, tapi aku nggak bisa Dimas, aku nggak bisa, hati aku tetep milih kamu berapakalipun kamu nyakitin aku, jangan pergi Dimas, jangan!"
Sakit dalam hatinya tak bisa lagi ia tahan. Ia merasa gulungan ombak dihadapannya seolah sedang memanggilnya.
"Maafin Dini bu, maaf belum bisa jadi anak yang membanggakan buat ibu, maaf karena Dini lebih memilih Dimas, semua ini terlalu sakit buat Dini bu, Dini nggak bisa tahan lagi, Dini nyerah bu, maafin Dini," ucap Dini dengan isak tangis yang menggema bersama gulungan ombak yang semakin membawanya menjauh dari garis pantai.
Kini hampir setengah badannya sudah tertutup air laut, sesekali ombak menghantam keseimbangan tubuhnya yang semakin rapuh.
__ADS_1
Dini masih berjalan dengan air mata kesakitannya. Air mata yang merupakan tanda kekalahannya pada takdir yang selalu memisahkannya dari laki laki yang dicintainya.
Ia menyerah. Ya, ia menyerah pada takdir yang begitu menyakitkan untuk ia jalani.