
Masalah yang datang memang untuk dihadapi. Hadirnya seperti sebuah ujian yang akan menaikkan level kita jika kita mampu melaluinya dengan baik.
Jangan menyerah dan jangan pergi. Sejauh apapun kita pergi, masalah tidak akan berhenti datang. Hadapi, apapun yang terjadi!
"Sayang, kenapa masih di sini?" tanya mama Dimas pada Dini yang berdiri tak jauh dari gazebo.
Seketika Dimas dan papanya menoleh ke arah sumber suara dan melihat Dini dan yang hanya berdiri diam di tempatnya.
"Dini ke kamar mandi bentar ma!" ucap Dini lalu segera berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Dimaspun segera mengejar Dini ke dalam rumah.
"Kenapa Pa?" tanya mama Dimas pada sang suami.
"Biasa, masalah anak muda, biarin mereka selesaiin masalah mereka secara dewasa!" jawab papa Dimas.
"Apa Dimas udah tau soal ucapan Hermawan kemarin?"
"Iya, papa udah kasih tau dia."
"Apa kita kasih tau media aja ya Pa, kalau Dimas sama Dini udah tunangan, biar hal semacam ini nggak terulang lagi!"
"Nggak perlu ma, kita juga harus hargai permintaan ibu Dini buat nggak kasih tau media tentang hal itu!"
"Tapi Pa....."
"Ma, biarin mereka sama sama belajar buat ambil keputusan, papa yakin mereka bisa lewati semua ini!"
Mama Dimas hanya diam, ia hanya bisa berdo'a agar tidak ada lagi yang mengganggu hubungan Dimas dan Dini.
Di sisi lain, Dimas berhasil menahan Dini, membuat Dini menghentikan langkahnya.
"Sayang, kamu denger semuanya?" tanya Dimas yang dibalas anggukan kepala Dini.
Dimas lalu menggandeng tangan Dini, membawanya naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.
Ia lalu mendudukkan Dini di tepi ranjangnya.
"Kamu nggak perlu khawatir tentang perjodohan itu, papa sama mama dukung kita, papa sama mama udah yakin sama hubungan kita, biarin Chelsea ngelakuin apapun yang dia mau, semua itu nggak akan bikin aku goyah karena tujuanku cuma satu, kamu!"
"Apa kamu akan pindah ke luar pulau?" tanya Dini.
Dimas lalu menarik napasnya dalam dalam, menghembuskannya pelan.
"Aku minta pindah karena aku mau menghindar dari Chelsea sayang, aku tau dia nggak akan mudah menyerah, aku tau dia masih punya banyak alasan buat deketin aku dan aku nggak mau hal itu jadi masalah buat kita," ucap Dimas.
"Apa kamu yakin dengan perginya kamu yang semakin jauh itu, hubungan kita akan lebih baik?"
"Aku nggak tau, aku belum ambil keputusan apa apa," jawab Dimas lalu duduk di samping Dini.
Dini lalu memeluk Dimas dengan erat.
"Jangan pergi Dimas, jangan!"
"Apa kamu siap berhadapan sama Chelsea? apa kamu akan bertahan dengan semua masalah yang Chelsea buat?"
"Aku nggak peduli sama dia, aku nggak peduli sama siapapun yang deketin kamu, aku percaya sama kamu, aku yakin kamu nggak akan goyah, aku yakin kamu nggak akan berbuat sesuatu yang menyakitkan buat aku!"
"Makasih sayang, makasih udah percaya sama aku, kita pasti bisa lewati ini sama sama," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.
**
Di tempat lain, saat Andi kembali ke home store, ia melihat seorang laki laki yang duduk di depan home store.
Dengan kemeja putih dan celana hitam, seseorang itu membawa sebuah map di tangannya.
Andipun menghampirinya.
"Kamu yang mau interview tadi?" tanya Andi.
"Iya kak, saya yang nomor 5, nomor 3 sama 4 udah pulang," jawab seseorang yang bernama Rama itu.
Andi menganggukkan kepalanya lalu mengajaknya masuk.
"Kamu kenapa nunggu saya? bukannya saya minta kalian semua pulang ya tadi?" tanya Andi.
"Iya kak, tapi tadi kakak nggak bilang balik jam berapa, jadi saya tunggu aja, siapa tau nggak lama!"
"Panggil saya Andi aja!" ucap Andi sambil membaca CV milik Rama.
"Kak Andi?"
"Oke, terserah kamu, nilai kamu bagus semua, kenapa nggak lanjut kuliah?"
"Saya sudah daftar kak dan lolos, tapi waktu itu ibu sakit keras, saya cuma berdua sama ibu, jadi saya pilih buat jaga ibu di rumah sambil kerja dari rumah," jawab Rama.
"Kamu kerja apa di rumah?"
"Ibu punya warung makan kak di rumah, jadi saya yang gantiin ibu."
"Kamu bisa masak?"
"Bisa kak, saya selalu bantu ibu masak dari kecil, jadi saya banyak belajar dari ibu."
Setelah beberapa lama bertanya jawab dengan Rama, Andipun mengakhiri sesi interview nya.
"Saya akan kasih kabar dalam waktu dekat, sekarang kamu bisa pulang!" ucap Andi pada Rama.
__ADS_1
"Baik kak, terima kasih, saya permisi!"
Saat Rama baru saja keluar, Dimas datang.
"Siapa?" tanya Dimas pada Andi.
"Calon temen kerja gue, namanya Rama!" jawab Andi.
"Lo ngapain ke sini? Dini mana?" lanjut Andi bertanya.
"Gue baru anter dia pulang, sekalian mampir ke sini sebelum balik ke apartemen!" jawab Dimas.
Merekapun duduk di dalam home store yang sedang tutup.
"Kalian ada masalah apa sih sebenarnya?" tanya Andi.
"Gue mau dijodohin," jawab Dimas.
"Dijodohin? sama siapa?" tanya Andi yang begitu terkejut dengan jawaban Dimas.
"Anaknya Direktur di tempat gue kerja, partner kerja papa!"
"Om Tama nggak mungkin setuju kan? tante Angel juga sayang banget sama Dini!"
"Mama sama papa emang udah nolak perjodohan itu, tapi masalah sebenarnya bukan itu!"
"Terus apa?"
"Ini tentang Andini, lo tau gue nggak bisa cegah seseorang buat datang dalam hidup gue, gue cuma nggak mau sering ada kesalahpahaman antara gue sama Andini!"
"Dini pasti belajar dari masalah yang udah kalian hadapi Dim, lo fokus aja sama kerjaan lo dan cepet balik!"
Dimas menganggukkan kepalanya dengan pandangan kosong. Tak hanya Dini, ia juga harus belajar dari masalah yang sudah terjadi sebelumnya.
Semakin banyak masalah yang mereka hadapi, semakin banyak peluang mereka untuk saling belajar dan mendewasakan diri.
Ia hanya bisa mengambil sisi positif dari semua masalah yang ia hadapi dengan Dini, dengan begitu ia tak perlu khawatir lagi dengan masalah yang akan datang di depannya.
Baginya, kepercayaan Dini padanya adalah sebuah kobaran yang membakar semangatnya untuk tetap berada di jalur yang sudah ia rencanakan untuk bisa menggapai ending bahagia bersama gadis yang dicintainya.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dimaspun meninggalkan home store dan kembali ke apartemennya. Begitu juga dengan Andi yang segera pulang ke rumahnya.
**
Di tempat lain, Adit sedang berada di apartemennya. Ia sibuk dengan laptop di hadapannya.
"Andi Putra Prayoga, hari lahirnya sama kayak mama dan pastinya sama kayak Andi yang selama ini aku cari, kebetulan apa lagi ini?" batin Adit dalam hati.
**
Hari berganti. Kesibukan di tempat kerja pun sudah menanti.
"Pagi ma," sapa Adit sambil memeluk sang mama yang sedang memasak di dapur.
"Pagi sayang, bantuin mama bawa ini ke meja makan!"
Adit pun membantu sang mama membawa lauk ke meja makan. Mereka lalu sarapan bersama.
"Gimana Dit? udah dapet informasinya?"
"Adit butuh waktu buat dapet detail informasinya ma, Adit juga harus pastiin kalau informasi yang Adit dapet itu valid," jawab Adit.
"Kenapa mama yakin banget ya Dit, apa mama langsung tes DNA aja?"
"Mama sabar dulu ma, Adit pasti akan berusaha cari tau secepat mungkin!"
"Baiklah, mama akan sabar nunggu jawaban dari kamu, tapi kapan mama bisa ketemu pacar kamu?"
"Mama juga harus sabar untuk itu hehe..."
"Seenggaknya kasih tau mama siapa namanya, fotonya!"
"Adit pasti kasih tau mama kok, tapi harus nunggu waktu yang tepat, mama sabar aja ya!"
"Kamu nggak pacaran sama perempuan yang aneh aneh kan Dit?"
Huuukkk Huuukkk Hukkkkk!!
Seketika pertanyaan mama Siska membuat Adit tersedak saat ia sedang minum.
"Hati hati dong Dit minumnya," ucap mama Siska sambil mengusap punggung Adit.
"Maaf ma, Adit harus ke kantor sekarang," ucap Adit lalu mengenakan jasnya.
"Sekarang?"
"Iya ma, Adit berangkat dulu ya ma!" ucap Adit sambil mencium kening sang mama lalu pergi meninggalkan rumah mamanya.
Dalam perjalanan ke kantor, Adit memikirkan hubungannya dengan Ana. Meski Ana belum memberinya jawaban, ia takut jika ia berhubungan dengan Ana lebih serius, sang mama akan menolaknya, mengingat bagaimana keadaan Ana saat itu.
Namun ia juga tidak bisa menyembunyikan Ana selamanya. Ana bukanlah tipe perempuan yang suka berdiam diri di rumah dan keadaannya saat itu memaksanya untuk lebih banyak berdiam diri di dalam rumah.
Tak lama kemudian Adit sampai di kantornya dan menghubungi Rudi agar segera datang ke kantor karena akan ada meeting pagi di perusahaan lain.
Melihat Adit yang sudah datang bersama dengan dirinya, Dini segera mengecek jam di ponselnya, takut jika ia telat lagi.
"enggak, aku nggak telat, berarti kak Adit yang berangkatnya lebih pagi," ucap Dini dalam hati.
__ADS_1
"Pagi pak Adit," sapa Dini yang berjalan di samping Adit.
"Pagi, ada apa? ceria banget!"
Dini hanya menggeleng dengan senyum di bibirnya. Ia lalu pergi ke pantry untuk menyiapkan minuman Adit.
Setelah menaruhnya di meja kerja Adit, Dini masuk ke ruangannya dan kembali ke ruangan Adit untuk memberikan jadwal harian Adit.
"Materi meeting sudah kamu siapkan?" tanya Adit.
"Sudah pak," jawab Dini.
"Bagus, kembali ke ruangan kamu!"
"Baik pak, saya permisi!"
Dini lalu kembali ke ruangannya.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Dini dan Adit segera keluar dari kantor untuk meeting di perusahaan lain dengan diantar oleh Rudi.
Setelah selesai meeting, Adit dan Dini melakukan peninjauan di anak perusahaan yang berada tak jauh dari tempat mereka meeting.
Tepat jam 10 siang, mereka kembali meeting di tempat yang berbeda sampai jam makan siang tiba.
Adit lalu mengajak Dini makan siang di kedai mie ayam yang sering mereka datangi.
"Kak Adit belum cerita tentang Sela sama Dini loh!" ucap Dini menagih janji Adit.
"Sebelumnya kakak mau tanya sesuatu dulu sama kamu, apa kamu masih trauma tentang kejadian di rumah kosong itu?"
"Yang sama Jenny? enggak!"
"Kamu yakin?"
"Dini yakin, Jenny juga udah minta maaf, dia cuma cemburu karena kak Adit lebih deket sama Dini daripada sama dia, dia juga nggak ngelakuin sesuatu yang nyakitin Dini!"
"Tapi Dimas bilang....."
"Itu masalah lain, Dini nggak bisa cerita tentang hal itu sama kak Adit," ucap Dini memotong ucapan Adit.
"Oke, yang kamu harus tau, apa yang dilakukan Jenny itu termasuk dalam tindak kriminal Din, kamu bisa bikin dia masuk penjara, tapi kamu memilih buat nggak lanjutin kasus itu!"
"Itu kan nggak ada hubungannya sama Sela kak!"
"Itu yang kamu nggak tau, hari itu Sela sengaja bikin kamu pulang malam biar orang suruhan Jenny lebih leluasa buat bawa kamu ke rumah itu, Sela juga suruhan Jenny Din, apa selama ini kamu nggak sadar?"
Dini menggeleng pelan.
"Dini pikir dia benci sama Dini karena tiba tiba Dini masuk dan jadi personal assistant kak Adit," ucap Dini.
"Semua masalah di kantor itu bersumber dari dia Din, karena dia udah bertindak terlalu jauh, kakak harus keluarin dia dari kantor," jelas Adit.
Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Adit.
**
Di tempat lain.
Dimas sedang sibuk dengan komputer di hadapannya. Beberapa coklat dan surat dengan kertas berwarna tampak bertumpuk di meja kerjanya.
"Dim, lo marah sama gue?" tanya Feri yang merasa diacuhkan oleh Dimas dari pagi.
Dimas hanya diam tak menjawab pertanyaan Feri.
"Dim, kita ini tim, lo nggak bisa....."
"Bagian gue udah selesai," ucap Dimas sambil memberikan sebuah map pada Feri, lalu pergi meninggalkan meja kerjanya.
Feri pun mengikuti Dimas dan menghadangnya.
"Lo marah gara gara masalah kemarin?" tanya Feri.
"Apa gue harus jelasin kesalahan lo?"
"Sorry Dim, gue cuma bercanda, please jangan bawa masalah pribadi lo ke kantor, kita ini tim, gue nggak mau masalah pribadi lo ngerusak kinerja kita sebagai tim!"
"Gue yakin lo orang yang berpendidikan, jadi jaga mulut lo baik baik, sebelum jadi bumerang buat lo!" ucap Dimas lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi.
Baru saja ia memasuki pantry, seseorang memanggilnya.
"Dimas!" panggilnya manja.
Dimas hanya diam dengan menuangkan air ke dalam cangkir.
"Kenapa nggak balas pesan ku?" tanya Chelsea dengan menyandarkan dagunya di pundak Dimas, namun Dimas segera menghindar.
"Chelsea, aku udah punya tunangan, tolong berhenti deketin aku kayak gini!" ucap Dimas tegas.
"Aku tau dan aku nggak peduli, tunangan kamu nggak di sini Dimas, dia jauh dari kamu, aku yang akan perhatian sama kamu selama kamu di sini, aku nggak keberatan kalau harus jadi yang kedua!" ucap Chelsea penuh percaya diri.
"Kamu perempuan baik baik Chels, kamu nggak harus ngelakuin hal ini cuma buat punya pasangan!"
"Aku jatuh cinta sama kamu bahkan sebelum aku ketemu kamu Dimas, aku nggak akan ngelakuin hal ini kalau aku nggak sungguh sungguh sama kamu!"
Dimas hanya menggelengkan kepalanya lalu keluar dari pantry dengan membawa cangkir yang berisi teh panas. Namun tiba tiba Chelsea memeluknya dari belakang, membuat teh panas itu tumpah mengenai tangan Chelsea.
"Aaaaawwww, paanasss!!!" teriak Chelsea yang cukup mengundang banyak mata.
__ADS_1
Dimaspun segera menaruh cangkirnya dan membasuh tangan Chelsea dengan air mengalir.
Chelsea hanya tersenyum melihat Dimas yang dinilainya begitu peduli padanya.