Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hati yang Menyimpan Cinta


__ADS_3

Dini, Andi dan Adit masih dalam perjalanan kembali ke kantor bersama Rudi. Pertanyaan Adit membuat suasana semakin canggung.


Jika biasanya Andi atau Dini akan dengan cepat membantahnya, entah kenapa saat itu mereka hanya terdiam.


"Nggak usah dengerin dia Din!" ucap Andi pada Dini.


"Kamu udah berapa lama sih pacaran sama Dimas?" tanya Adit pada Dini.


"Kenapa kak Adit kepo banget sih!" balas Dini yang enggan menjawab.


"Kakak cuma heran aja, apa dia nggak cemburu liat kedekatan kalian?"


Dini hanya diam, pertanyaan Adit seperti menusuk dirinya.


"cemburu? iya, Dimas cemburu, aku emang egois karena nggak bisa memilih salah satu diantara mereka, maafin aku Dimas, maafin aku Ndi," batin Dini dalam hati.


"Anita kemarin ke rumah," ucap Andi pada Dini, berusaha mengalihkan pembahasan Adit yang membuat Dini tidak nyaman.


"Anita? dia udah pulang?"


"Iya, dia pulang cepet karena tau aku kecelakaan, jadi dia pulang sendiri tanpa pak Sonny," jawab Andi.


"Dia pasti khawatir banget ya sama kamu."


"Bisa jadi, oh ya dia bilang ibu sama ayah ada di rumah, emang iya?"


"Iya, ibu sama ayah kamu udah pulang."


"Kalau gitu nanti sore aku mau ke sana, ambil beberapa barang, kamu pulang kerja jam berapa?"


"Mungkin jam 4, kenapa?"


"Aku jemput kamu, kita pulang sama pak Rudi, gimana?"


"Oke, aku tunggu di kantor ya!"


"Oke, pak Rudi bisa antar saya kan nanti sore?"


"Bisa mas," jawab Rudi.


"Gue ikut," sahut Adit.


"Enggak, lo nggak boleh ikut!" balas Andi.


"Kakak ikut ya Din?" tanya Adit pada Dini.


"Big no!" balas Dini lalu tertawa lepas bersama Andi.


Tak lama kemudian mereka sampai di kantor. Dini dan Adit segera turun, sedangkan Andi dan Rudi segera kembali ke rumah.


"Kenapa kakak nggak boleh ikut? kamu mau berduaan aja sama Andi?" tanya Adit yang sengaja menggoda Dini.


"Dini nggak berduaan sama Andi kak, ada pak Rudi juga, lagian kakak kenapa nggak temuin pacar kakak aja sih, suka banget ganggu adiknya!"


"Pa... pacar! pacar siapa?"


"Udah deh kak Adit nggak usah pura pura gitu, Dini tau kok kalau kak Adit punya pacar, Dini cuma bisa berharap kalau itu bukan Jenny, karena kak Adit terlalu baik buat cewek kayak Jenny!"


"Hahaha.... emang cewek seperti apa yang pantas buat kakak?"


"Kayak mbak Ana," jawab Dini yang seketika membuat Adit menghentikan langkahnya.


"Kenapa kak?" tanya Dini yang melihat Adit tiba tiba terdiam di tempatnya.


"Enggak, nggak papa, kenapa harus kayak Ana?"


"Karena sejauh yang Dini tau, mbak Ana cewek yang paling mengerti kak Adit, mbak Ana juga dewasa dan baik, cocok buat kak Adit."


"Ada ada aja kamu!" balas Adit yang tampak tersipu.


"Sayangnya mbak Ana udah punya calon suami, atau bahkan udah nikah, kak Adit nggak mungkin kan pacaran sama istri orang?"


Lagi lagi ucapan Dini membuat Adit menelan ludahnya sendiri.


"Anak kecil jangan berpikir yang terlalu jauh!" ucap Adit sambil mengacak acak rambut Dini.


"semoga kak Adit bisa bertemu seseorang yang sebaik mbak Ana," batin Dini dalam hati.


Sebelum jam makan siang selesai, Dini membuka email dari Dimas dan segera mengeceknya lalu mengirimkan hasilnya pada Dimas.


**


Di tempat lain, Andi sedang berada di home store. Di sana ada Rama dan orang suruhan papa Dimas.


Selama beberapa hari ke depan, Andi akan berusaha mencari investor agar ia bisa segera mengembangkan clothing arts nya.


Andi merasa sangat beruntung karena dengan adanya nama besar perusahaan Adit dalam daftar investor nya, maka akan semakin mudah bagi Andi untuk menarik para investor lain.


Setelah menghabiskan waktunya beberapa jam di home store, Andi lalu mencari gedung yang lebih besar yang akan ia gunakan sebagai home store sekaligus tempat produksi dari clothing arts yang akan sah menjadi miliknya.


Setelah mendatangi beberapa gedung yang sudah ada dalam daftar pencariannya, Andi belum juga mendapatkan gedung yang sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


Sebelum pulang, Andi pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan ginjal baru di dalam tubuhnya.


Ia sangat bersyukur karena keadaannya baik baik saja, ginjal sang mama yang ada dalam dirinya berfungsi dengan baik tanpa ada yang harus dikhawatirkan. Meski begitu, ia tetap harus cek up setiap beberapa bulan sekali sesuai perintah Dokter.


Setelah mendapatkan hasil cek up nya, Andipun pulang.


Sesampainya di rumah, ia segera memberi tahukan pada sang mama hasil cek up nya.


"Kenapa kamu nggak ke rumah sakit sama mama?"


"Tadi sekalian sama pak Rudi ma," jawab Andi.


"Ya udah nggak papa, yang penting semuanya baik baik aja," ucap mama Siska.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 3 lewat 30 menit. Setelah mandi dan berganti pakaian, Andi menemui sang mama yang sedang melukis.


"Hmmmm, anak mama wangi banget, mau kemana?" tanya mama Siska pada Andi.


"Andi mau ke rumah ibu dan ayah ma, boleh?"


Mama Siska lalu menaruh kuas yang ia pegang dan membawa pandangannya pada Andi yang berjongkok di sebelahnya.


"Kamu akan menginap di sana?" tanya mama Siska.


"Iya, cuma semalem kok ma, besok Andi udah balik," jawab Andi.


Mama Siska hanya diam dengan senyum yang tampak dipaksakan. Ada segaris kesedihan yang tergambar diantara senyum yang terlihat di wajahnya.


"Ma, Andi nggak akan pergi kalau mama nggak izinin Andi pergi," ucap Andi dengan menggenggam tangan sang mama.


"Tapi mama udah janji sama kamu," balas mama Siska dengan menahan air matanya.


"Nggak papa, Andi ngerti, Andi bisa ambil barang barang Andi lain kali," ucap Andi.


"Kamu nggak marah kan sama mama?"


"Enggak dong, 25 tahun mama jalani hari mama tanpa Andi, Andi nggak mau rasa sakit yang mama rasain dulu kembali lagi, setelah Andi datang, Andi akan pastiin kalau mama selalu bahagia, benar benar bahagia," ucap Andi.


"Terima kasih sayang, terima kasih," ucap mama Siska dengan memeluk Andi.


Setelah lebih tenang, mama Siskapun melepaskan Andi dari pelukannya.


"Kamu nggak akan pergi dari mama kan?" tanya mama Siska.


"Nggak akan ma, mama harus percaya sama Andi," jawab Andi.


"Kamu boleh pergi, kamu boleh ambil barang barang kamu di rumah ibu dan ayah kamu, mama udah janji sama kamu, nggak seharusnya mama mengingkarinya," ucap mama Siska.


"Enggak sayang, mama nggak akan sedih, kamu cuma menginap semalam kan?"


"Iya, besok pasti Andi balik ke sini," jawab Andi.


"Ya udah nggak papa, mama akan tunggu kamu!"


"Mama nggak akan sedih kan?"


"Enggak sayang, ada Adit yang nemenin mama," jawab mama Siska.


"Makasih ma, Andi mau berangkat sekarang karena harus jemput Dini dulu di kantor!"


"Selalu kasih kabar mama ya!"


"Iya ma, Andi pergi dulu, Andi sayang mama," ucap Andi lalu menarik tangan sang mama dan menciumnya.


Mama Siska hanya tersenyum lalu membiarkan Andi pergi. Dalam hatinya ia masih takut jika ia akan kehilangan Andi lagi. Namun ia tidak akan egois.


Ia sudah berjanji untuk tidak memisahkan Andi dengan ibu dan ayah yang sudah merawatnya dengan baik. Meski begitu, ia akan segera mengurus data data Andi agar Andi benar benar menjadi anaknya yang sah di mata hukum.


**


Di tempat lain, Dini segera membereskan pekerjaannya setelah jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.


Begitu juga dengan Adit yang sudah siap untuk pulang.


Mereka pun meninggalkan ruangan mereka bersama.


"Kak Adit mau langsung pulang?" tanya Dini pada Adit.


"Kakak ada urusan penting, kayaknya kamu yang nggak sabar mau pulang, iya kan?"


"Iya dong, Andi udah nunggu di depan," jawab Dini.


Sesampainya Dini di lobby, sudah ada Andi yang menunggunya. Ia dan Aditpun segera menghampiri Andi.


"Udah lama?" tanya Dini yang tampak sumringah melihat kedatangan Andi.


"Baru aja," jawab Andi.


"Mama tau kan kalau lo mau pulang?" tanya Adit pada Andi.

__ADS_1


"Tau kok, gue udah izin sama mama," jawab Andi.


Dini dan Andi pun segera meninggalkan kantor, begitu juga dengan Adit yang ingin segera menemui gadis yang dicintainya.


**


Sesampainya Andi di depan rumahnya, ia segera turun dari dalam mobil, begitu juga Dini dan Rudi.


"Aku pulang dulu, enjoy your time," ucap Dini pada Andi.


Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu masuk ke rumahnya dengan mengajak Rudi.


Melihat Andi datang, sang ibu segera berlari memeluk anak yang sangat disayanginya. Matanya berkaca kaca melihat anak laki laki yang kini sudah tidak tinggal bersamanya.


Tak lama kemudian, ayah Andipun datang. Ia segera mengajak Andi duduk. Meski ia juga sangat merindukan Andi, ia tidak ingin kedatangan Andi disambut dengan tangis air mata oleh sang ibu.


"Gimana keadaan kamu Ndi? semuanya baik baik aja kan?" tanya ayah Andi.


"Semuanya baik baik aja yah, gimana keadaan ayah dan ibu?"


"Ibu dan ayah juga baik baik aja, ibu seneng banget kamu dateng," jawab ibu Andi.


Setelah mengobrol banyak hal, tak lupa Andi mengenalkan Rudi pada ayah dan ibunya.


"Andi mau ke rumah Dini ya Bu," ucap Andi.


"Iya, kamu pasti udah kangen kan sama dia!"


"Banget," jawab Andi lalu segera keluar dengan mengajak Rudi.


"Pak Rudi bisa pulang sekarang, bawa aja mobilnya, besok pagi jemput saya!" ucap Andi pada Rudi.


"Baik mas, saya permisi," balas Rudi lalu meninggalkan rumah Andi, tak lupa ia juga berpamitan pada ayah dan ibu Andi.


Saat Andi berjalan ke arah rumah Dini, Dini sudah lebih dulu berjalan ke arahnya.


"Aku tau kamu mau ke rumahku," ucap Dini.


"Enggak, aku ke rumah kamu karena mau ngajak kamu ke....."


"Ke bukit?" sahut Dini cepat.


"Kok tau?"


"Tau lah, ayo!" balas Dini lalu menarik tangan Andi, menggandengnya selama mereka berjalan ke bukit.


Seperti biasa, mereka duduk bersebelahan.


"Aku kangen banget tempat ini, kayaknya aku bakalan jarang ke sini lagi!" ucap Andi.


"Iya, kamu udah tinggal di tempat yang jauh sekarang," balas Dini.


"Selama aku nggak di sini, kamu nggak boleh ke bukit ini sama cowok lain, termasuk Dimas!"


"Kenapa?"


"Aku mau tempat ini jadi tempat kita berdua aja, aku mau tempat ini penuh sama kenangan indah kita, aku dan kamu, nggak ada yang lain!"


"Oke, aku nggak akan ke sini sama siapapun selain kamu, biar tempat ini jadi saksi kebersamaan kita selama ini dan sampe kapan pun tempat ini akan jadi tempat kita berdua!" balas Dini dengan senyum manisnya.


"sampe kapanpun, sampe kapan Din? setelah kamu menikah, aku akan sendirian di sini, cuma ada aku dan semua kenangan kita di bukit ini," batin Andi dalam hati.


"Karena aku sekarang udah nggak bisa sering ketemu kamu lagi, aku harap kamu bisa jaga diri baik baik Din, selalu bahagia dan jangan pernah ngerasa kesepian," ucap Andi.


"Iya Ndi, selama aku punya kamu dan Dimas, walaupun kalian jauh, aku nggak akan ngerasa kesepian, aku akan sabar nunggu Dimas sampai dia kembali dan aku akan selalu ingat hal hal indah yang pernah kita lewati di sini," balas Dini.


"Aku pingin selalu ada di dekat kamu Din, aku pingin selalu jagain kamu, tapi ternyata aku harus tinggal jauh dari kamu, maafin aku."


"Jangan minta maaf Ndi, 25 tahun kita sama sama, selama itu juga kamu selalu ada buat aku, apa yang udah kita lewati berdua akan jadi bagian dari hal paling indah dalam hidup ku," ucap Dini.


"Aku selalu berdo'a buat kebahagiaan kamu Din, aku selalu minta Tuhan buat kasih air mata dan rasa sakit kamu buat aku, aku nggak mau kamu sedih dan terluka, aku mau kamu selalu bahagia."


"Aku bahagia Ndi, sangat bahagia," ucap Dini dengan menatap kedua mata sahabat nya itu.


Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Ada gemuruh kecil dalam hati mereka. Gemuruh indah yang membuat dada mereka berdebar dan jantung berdetak dengan cepat, sangat cepat namun juga terasa sangat indah.


Di hadapan goresan jingga sore itu, Andi dan Dini hanya duduk dengan saling menatap. Lambaian angin pun perlahan mengusap rambut Dini, membuatnya menghalangi wajah cantik Dini di depan cahaya jingga sang Ilahi.


Andi lalu menyentuh pelan rambut Dini dan menyibakkannya ke belakang telinga Dini.


"Kamu cantik," ucap Andi pelan.


Dini hanya tersenyum dengan menundukkan kepalanya.


Andi lalu mendekat dan membawa Dini ke dalam dekapannya. Jika langit bisa berbicara, ia pasti sudah merajuk karena iri melihat kebersamaan Andi dan Dini di hadapan sinarnya yang indah.


"kamu cintaku, kamu harapanku, kamu impianku yang nggak akan pernah jadi milikku, aku cinta sama kamu Din, aku sayang sama kamu lebih dari siapapun," ucap Andi dalam hati.


"Kalian ini kenapa nggak pacaran aja sih, betah banget temenan doang!"


Ucapan Adit beberapa waktu yang lalu kembali terngiang dalam ingatan Andi.

__ADS_1


"yang paling penting bukan apa status hubungan kita, yang paling penting buat aku adalah kebahagiaan kamu Din," batin Andi dalam hati.


Sore itu, senja telah membawa nuansa indah dalam hati mereka. Keindahan yang hanya dapat dirasakan oleh hati yang menyimpan cinta.


__ADS_2