Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Menginap


__ADS_3

Dimas masih terdiam karena terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Namun ia segera melepaskan dirinya dari pelukan gadis itu setelah ia bisa mengatasi keterkejutan nya.


Dimas segera memungut barang barangnya yang berjatuhan dan memasukkannya ke dalam kantong dibantu dengan gadis itu.


"Kamu tinggal di sini? aku nggak nyangka akan ketemu kamu di sini!"


Dimas hanya diam lalu segera melanjutkan langkahnya menjauh dari si gadis yang masih mengejarnya.


"Dimas, tunggu!" panggil gadis itu sambil menarik tangan Dimas.


"Berhenti bersikap kayak gini Nit, kamu bikin aku makin benci sama kamu!" ucap Dimas dengan menarik tangannya kasar dan segera masuk ke apartemen nya.


Dimas menghempaskan badannya di sofa dan mengacak acak rambutnya kasar karena terlalu kesal pada Anita.


"kenapa dia ada di sini? apa lagi yang dia rencanain sekarang?" batin Dimas bertanya.


Tak lama kemudian bel apartemen nya berbunyi, Dimas segera melihat ke arah luar melalui lubang kecil di pintunya dan mendapati Anita yang berdiri di depan pintunya.


Dimas lalu kembali duduk, ia harus mempelajari materi meeting yang akan ia presentasikan besok, namun Anita seperti tidak lelah mengganggunya.


Dimaspun membuka pintu dengan penuh emosi.


"Kamu mau apa lagi Nit? kalau kamu ganggu aku kayak gini aku bisa laporin kamu ke petugas keamanan di sini!"


"Aku nggak tau kalau kamu tinggal di sini, aku ke sini karena mbak Dewi tinggal di sini juga, dia di unit 145, aku....."


"Aku nggak mau tau, kamu pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" ucap Dimas yang hendak menutup pintunya, namun Anita menahannya.


"Kenapa kamu semarah ini sama aku Dimas? kenapa kamu nggak bisa maafin aku? kenapa kamu terus menghindar dari aku? apa kamu takut jatuh cinta lagi sama aku?"


"Jatuh cinta lagi? kamu tau makna kata 'lagi' yang kamu ucapin nggak? aku bahkan nggak pernah cinta sama kamu Anita, dari pertama aku kenal kamu, aku cuma anggap kamu teman biasa, jadi jangan terlalu percaya diri atau kamu akan semakin terluka karena rasa percaya diri kamu yang berlebihan itu!" ucap Dimas lalu menutup pintunya dengan kasar.


Dimas lalu kembali ke sofa, membuka minuman yang baru ia beli dan meneguknya sampai habis tak bersisa.


"fokus Dimas, fokus, nggak perlu mikirin yang nggak penting, fokus aja sama materi presentasi besok," ucap Dimas menasihati dirinya sendiri.


Di sisi lain, Anita berjalan ke arah unit apartemen Dewi dengan kesal. Ia lalu memencet bel beberapa kali sampai Dewi membukakan pintunya.


"Akhirnya kamu nyampe', kamu nyetir sendiri?" tanya Dewi.


"Iya mbak," jawab Anita singkat.


"Kamu kenapa? ada masalah?" tanya Dewi yang melihat raut wajah Anita yang kesal.


"Anita ketemu Dimas barusan," jawab Anita.


"Dimas? Dimas tunangan kamu dulu?"


Anita mengangguk tak bersemangat.


"Kamu jangan cari gara gara lagi ya Nit, mbak nggak akan bantuin kamu kalau kamu bermasalah lagi sama keluarga Adhitama, kamu tau mereka bukan orang sembarangan!"


"Anita nggak peduli keluarganya mbak, Anita cuma peduli sama Dimas," balas Anita.


"Kamu masih suka sama dia?"


"Anita nggak bisa berhenti suka sama Dimas mbak, semua yang udah terjadi itu karena Anita cinta sama Dimas dan semua yang udah terjadi nggak akan berakhir sia sia!"


"Jangan bodoh deh Nit, masih banyak laki laki lain yang mau sama kamu!"


"Tapi yang Anita mau cuma Dimas mbak," balas Anita.


"Ya udah jangan dibahas lagi, mbak mau tidur dulu, besok mbak masuk pagi jadi jangan ganggu tidur mbak ya!"


Anita hanya menganggukkan kepalanya lalu segera berganti pakaian dan ikut tidur di samping Dewi.


**


Waktu berlalu, pagi telah tiba. Dimas sedang bersiap untuk berangkat ke kantor. Tak lupa ia membawa materi meeting yang sudah lama ia siapkan.


Dimas keluar dengan menghubungi Dini.


"Halo sayang, udah berangkat?"


"Ini udah di bus, kamu udah berangkat?"


"Baru keluar apartemen, aku tegang banget hari ini, tapi juga semangat!"


"Yang penting kamu udah kuasai dengan baik materi meeting kamu, aku yakin kamu bisa!"


"Makasih sayang, love you!"


"Love you too."


"Love you too," ucap Anita yang sudah berdiri di belakang Dimas.


Dimas hanya memutar kedua bola matanya lalu masuk ke dalam lift, diikuti oleh Anita.


"Aku nggak nyangka akan ketemu kamu di sini," ucap Anita, namun Dimas hanya diam.


"Ada yang mau aku bicarain sama kamu, aku tunggu kamu ya pulang kerja nanti!"


Dimas masih diam mengabaikan Anita.


"Aku akan nunggu kamu, jam berapapun kamu pulang, aku akan tetep tunggu kamu," ucap Anita tanpa pantang menyerah.


Dimas tetap tidak mempedulikan Anita meski ia membiarkan Anita mengikutinya sampai ke basement.


Dimas lalu masuk ke mobilnya dan meninggalkan Anita begitu saja. Dimas berusaha dengan keras untuk bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


Ia tidak ingin kekesalannya pada Anita akan mempengaruhi presentasi nya di kantor.


Sesampainya di kantor, Dimas segera berjalan ke meja kerjanya. Ia mengerjakan pekerjaannya sebelum meeting di mulai.


Tepat jam 10 siang, Dimas pergi ke ruangan meeting. Di sana sudah ada manajer pemasaran, kepala divisi pemasaran dan beberapa staf yang bekerja di bawah divisi pemasaran, termasuk Dimas.


Para staf yang terpilih mulai mempresentasikan materi meeting mereka dengan baik. Kepala divisi dan manajer divisipun beberapa kali memberikan pertanyaan yang harus para staf itu jawab.


Para staf juga diberikan beberapa lembar tes yang harus diselesaikan dalam waktu 30 menit. Dimas yang sudah membaca banyak buku bisnis dari kecil bisa menjawab dengan mudah beberapa tes itu.


Pengalaman yang ia dapat dari kedua orangtua dan banyak buku yang telah ia pelajari membuatnya terpilih untuk mewakili divisi pemasaran dalam meeting tahunan.


Melihat kemampuan Dimas yang diatas rata rata, pihak manajemen secara otomatis menjadikan Dimas sebagai manajer pemasaran mulai bulan depan.


Hal itu membuat Dimas semakin cepat untuk mencapai tujuannya.


Setelah meeting selesai, semuanya meninggalkan ruangan meeting setelah memberi selamat pada Dimas.


"Selamat Dim, gue seneng liat lo berhasil!" ucap Feri pada Dimas.


"Thanks Fer!" balas Dimas.


Meski begitu, masih ada beberapa pegawai yang membicarakan Dimas dibelakang. Mereka berpikir jika Dimas bisa mendapatkan posisi itu dengan cepat karena dia adalah anak Adhitama, owner dari perusahaan terbesar di Indonesia.


Namun Dimas tidak ambil pusing, ia tidak mempedulikan mereka yang tidak menyukainya. Ia hanya akan fokus pada tujuannya.


Mengingat besok adalah tanggal merah, Dimas berniat untuk memberi tahu hal baik itu secara langsung pada Dini.


Ia akan memberikan kejutan pada gadisnya itu.


**


Di tempat lain, Dini sedang fokus pada pekerjaannya sebelum Adit masuk ke ruangannya.


"Kebiasaan buruk!" ucap Adit lalu duduk di hadapan Dini dengan memberikan Dini sebungkus roti.


"Apa lagi kak?"


"Kamu kalau udah sibuk kerja lupa makan siang!"


"Nggak lupa kak, Dini nggak tenang kalau belum selesaiin kerjaannya!"


"Kakak ke sini cuma mau bilang, weekend nanti kakak mau ke Singapura, jadi pastiin weekend nanti jadwal kakak kosong, oke?"


"Kak Adit ada perlu apa ke Singapura?"


"Jangan banyak tanya, lakuin aja!" jawab Adit lalu keluar dari ruangan Dini.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dini dan Adit sudah bersiap untuk meninggalkan kantor.


"Kak Adit mau langsung pulang?" tanya Dini.


Dini hanya menggelengkan kepalanya.


"Kak Adit masih sering hubungin mbak Ana nggak?" tanya Dini yang membuat Adit cukup gugup.


"Kenapa kamu tanya itu?"


"Nggak papa, Dini cuma pingin tau aja apa mbak Ana udah nikah atau belum, soalnya setau Dini belum ada undangan dari mbak Ana buat kak Adit!"


Adit hanya tersenyum canggung lalu segera keluar dari lift dan berjalan cepat meninggalkan Dini.


Dini hanya tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya ke arah halte bus.


Sedangkan Adit segera membawa mobilnya ke arah rumah Ana.


Sesampainya Adit di rumah Ana, ia melihat Ana yang sedang sibuk dengan laptop di hadapannya.


"Fokus banget sampe nggak liat aku dateng," ucap Adit lalu duduk di hadapan Ana.


"Aku tau kok kalau kamu dateng!" balas Ana tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Kenapa kamu nggak peluk aku kayak biasanya?"


"Emang biasanya aku peluk kamu?" balas Ana bertanya.


"Ya udahlah lupain aja, kamu lagi sibuk apa sih?"


"Kamu kan tahu aku sekarang lagi ngerjain blog, lumayan loh hasilnya!"


"Kamu nggak berniat buat kabur dari aku kan?"


"Kenapa? kamu takut aku pergi lagi?"


"Jangan pergi An, jangan bikin aku gila karena kamu pergi lagi!"


Ana hanya tersenyum lalu menutup laptopnya. Ana lalu menggenggam tangan Adit dan menatap kedua mata Adit.


"Aku minta maaf karena sudah egois, aku janji aku nggak akan ngelakuin itu lagi, kamu percaya kan sama aku?"


Adit menganggukkan kepalanya lalu memeluk Ana. Adit lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sakunya dan memberikannya pada Ana.


"Tiket pesawat?" tanya Ana tak percaya.


"Weekend nanti kita liburan ke Singapura, kamu mau kan?"


"Mau, mau banget, makasih Dit!"


"Kita di sana nggak lama An, hari Minggu sore kita balik, nggak papa kan?"

__ADS_1


"Nggak papa, tapi kamu udah bilang sama mama kamu?"


"Belum, nanti aku bilang sama mama!"


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Adit lalu pergi dari rumah Ana, ia kembali pulang ke rumah sang mama.


Sesampainya di rumah, Adit segera mandi dan berganti pakaian lalu turun untuk makan malam bersama mama dan Andi.


"Gimana gedungnya, udah dapet?" tanya Adit pada Andi.


Andi hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Adit. Ia pun menjelaskan jika ia menginginkan sebuah gedung yang menurutnya cocok untuk ia jadikan home store, namun gedung itu sudah ada peminatnya.


Jika Andi ingin memiliki gedung itu, sang pemilik bangunan akan memberikannya pada Andi asalkan Andi membelinya dengan harga yang jauh lebih mahal.


"Emang dimana gedungnya?" tanya Adit.


"Di pertokoan daerah X, deket mini market," jawab Andi.


Adit lalu menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Andi.


"Ma, weekend nanti Adit mau ke Singapura, hari Minggu pulang, nggak papa kan?" tanya Adit pada sang mama.


"Nggak papa sayang, kamu bukan anak kecil lagi yang bisa mama larang!" balas mama Siska.


"Gue ikut!" ucap Andi.


"Nggak bisa, selesaiin dulu kerjaan lo!" balas Adit lalu meninggalkan meja makan dan naik ke kamarnya.


Di dalam kamar, Adit segera menghubungi seseorang dan memintanya untuk membeli sebuah gedung yang Andi inginkan.


"Datanya akan saya kirim, kamu urus semuanya secepatnya!" ucap Adit.


"Baik pak!"


Adit lalu mengirimkan data pribadi Andi pada orang suruhannya itu lalu menyiapkan sejumlah uang untuk membayar gedung yang harganya lebih tinggi dari harga normalnya.


**


Di tempat lain, Dini sedang bersiap untuk membuat nasi goreng di dapurnya. Ia sedang berada di rumah seorang diri karena ibunya hari itu menginap di rumah saudara Andi bersama ibu dan ayah Andi.


Tak lama kemudian, Dini mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya. Melihat mobil milik Dimas yang terparkir di halaman rumahnya, Dini segera membuka pintu rumahnya dan berlari menghambur dalam pelukan Dimas yang baru saja keluar dari mobilnya.


"Aku nggak mimpi kan?" tanya Dini.


Dimas hanya menggeleng lalu mencium bibir Dini singkat.


"Ayo masuk, aku lagi mau masak, kamu udah makan malem?"


"Belum, kamu mau masak apa?"


"Nasi goreng," jawab Dini sambil berjalan ke arah dapur.


"Ibu kemana? tumben kamu yang masak!"


"Ibu nggak di rumah, lagi ada acara di rumah saudara Andi, jadi ibu di sana sama ayah dan ibunya Andi," jawab Dini.


"Menginap?"


Dini hanya menganggukkan kepalanya sambil menggoreng telur mata sapi.


Dimas lalu mendekat dan memeluk Dini dari belakang.


"Berarti malam ini aku boleh tidur di sini dong," ucap Dimas.


"Kenapa kamu tidur di sini?"


"Karena aku nggak mau pulang, aku mau sama kamu aja," jawab Dimas berbisik di telinga Dini.


Hembusan nafas Dimas yang hangat membuat darah Dini berdesir.


"Dimas, kamu bikin geli," ucap Dini dengan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.


"Aku kangen sama kamu," ucap Dimas lalu memberikan kecupan singkat di leher jenjang Dini.


Dini yang saat itu mengikat rambutnya dengan tinggi membuat lehernya terekspos dengan jelas oleh Dimas.


Dimas lalu semakin erat memeluk Dini, sebelum bau gosong menyadarkan pikiran nakalnya.


"Sayang, telur kamu!" ucap Dimas dengan menahan tawanya.


Dini yang sudah hampir kehilangan fokusnya segera mematikan kompornya dan mengangkat telur mata sapi yang sudah menghitam itu.


"Ini telur terakhir ku," ucap Dini dengan sedih.


"Kita pesen makan aja ya!" ucap Dimas lalu mengambil ponselnya.


"Nggak mau, ini semua gara gara kamu, jadi kamu harus makan telur ini!" balas Dini dengan menaruh telur mata sapi yang sudah hitam itu di atas nasi goreng.


"Aku? kamu aja hehe, aku makan nasi goreng aja nggak papa, nggak pake lauk!" ucap Dimas lalu mengambil telur dari atas nasi goreng dan menaruhnya di piring lain.


Dimas lalu membawa nasi goreng itu ke meja makan. Saat ia akan melahapnya, dengan cepat Dini menaruh potongan telur mata sapi yang hitam itu di atas sendok Dimas.


"Makan!" ucap Dini dengan tatapan mematikan.


Dengan terpaksa Dimas lalu memasukkan nasi goreng dengan telur mata sapi yang hitam itu ke dalam mulutnya dan mengunyah nya dengan cepat.


Dini lalu segera memberikan Dimas minum, ia sangat kasian pada laki lakinya itu. Tapi melihat ekspresi Dimas saat memakannya, membuat Dini tak bisa menahan tawanya.


**

__ADS_1


Di tempat lain, Anita masih duduk di depan pintu apartemen Dimas. Ia menunggu Dimas di sana sampai malam semakin larut.


__ADS_2