Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Berempat (2)


__ADS_3

Langit biru terhampar di atas pasir putih yang ditemani gulungan ombak kecil yang sesekali menyapu bibir pantai.


Namun suasana yang cerah dan indah itu nyatanya tidak mampu menenangkan hati yang sedang dibakar cemburu.


Rasa cemburu yang menyelinap masuk tanpa Dini sadari membuat matanya berkaca kaca.


"Kenapa sayang?" tanya Dimas yang melihat mata Dini berkaca kaca.


Sesaat Dini telah hanyut dalam rasa yang tidak ia mengerti, namun ia sadar ia tidak bisa membiarkan rasa itu berlarut larut dalam hatinya.


Dini lalu mengibaskan tangannya di depan matanya.


"Mataku perih," ucap Dini memberi alasan.


"Coba liat sayang," ucap Dimas dengan memegang kedua pipi Dini untuk melihat mata Dini.


Dimas lalu meniup mata Dini dan memberikan kecupan singkat di bibir Dini.


"Dimas!" ucap Dini dengan memukul lengan Dimas.


"Hehe.... udah sembuh kan?"


"Modus banget," ucap Dini dengan memberikan pukulan bertubi tubi pada Dimas.


Dimas lalu berlari menghindar dari Dini, sedangkan Dini terus berlari mengejar Dimas. Saat Dimas berhenti, ia merentangkan kedua tangannya bersiap untuk menerima pelukan Dini.


Dinipun segera menghambur dalam pelukan Dimas. Dimas mengangkat Dini dan memutar badannya.


Mereka tertawa bahagia dengan cinta yang mereka miliki. Perih sesaat yang Dini rasakan telah hilang, yang ada hanya bahagia dengan laki laki yang dia cintai.


"Stop Dimas, aku pusing!" ucap Dini yang membuat Dimas segera menghentikan putarannya.


Dini lalu menjatuhkan badannya di pelukan Dimas dan Dimas menjatuhkan badannya di atas hamparan pasir.


Dini berguling dan berbaring di samping Dimas. Mereka lalu tertawa menertawakan apa yang mereka lakukan.


Karena hari masih pagi, matahari belum terlalu menyiksa kulit. Namun cukup terasa hangat untuk bisa Dimas dan Dini rasakan.


"Masih pusing?" tanya Dimas.


"Hmmmmm....." balas Dini dengan menganggukkan kepalanya.


Dimas lalu berjongkok dan menepuk punggung nya, meminta Dini untuk naik ke punggungnya.


"Kamu serius?" tanya Dini meyakinkan.


"Ayo sayang, sebelum makin panas," balas Dimas.


Dini lalu beranjak dari pasir dan menaiki punggung Dimas. Dimaspun membawa Dini kembali ke tempat piknik mereka.


"Minum dulu sayang," ucap Dimas dengan memberikan satu botol minuman coklat pada Dini.


Dini menerimanya lalu meminumnya.


"Kamu selalu kasih aku minuman coklat dari dulu," ucap Dini.


"Karena aku mau kasih kamu kebahagiaan, kamu tau kan coklat bisa ningkatin hormon yang membuat kita bahagia!"


"Iya aku tau dan buat aku kamu adalah coklat ku, karena kamu selalu bikin aku bahagia," balas Dini.


"Oke, sekarang panggil aku coklat!"


"Love you chocolate," ucap Dini dengan senyum manisnya.


"Love you too my brown," balas Dimas dengan senyumnya.


"Brown?"


"Biar sama sama coklat," jawab Dimas yang membuat mereka kembali tertawa.


Dimas lalu membaringkan badannya di atas kain pantai yang mereka bawa, diikuti Dini yang berbaring dengan memposisikan kepalanya di atas tangan Dimas.


"Perfect vibes," ucap Dimas.


"With perfect couple," lanjut Dini.


Dimas lalu membawa pandangannya pada Dini, mereka saling menatap untuk beberapa saat lalu Dini menggelengkan kepalanya.


Dimas membalasnya dengan mengernyitkan dahinya melihat gelengan kepala Dini.


"Aku tau apa yang ada dipikiran kamu Dimas!" ucap Dini lalu duduk.


"Kamu tau?" tanya Dimas yang ikut duduk dan mendekatkan wajahnya pada Dini.


"Dimas, jangan di sini!" ucap Dini dengan mendorong Dimas.


"Kenapa?"


"Kamu selalu nggak tau tempat, di sini banyak orang," jawab Dini.


"Nggak ada yang liat kita, mereka jauh dari sini dan sibuk sama pasangan mereka sendiri," ucap Dimas.

__ADS_1


"Tapi Dimas......"


Dini menghentikan ucapannya saat Dimas dengan cepat "menyerang" bibirnya, menyapu dengan lembut bersama desah nafas yang semakin memburu.


Dini yang ingin menolak nyatanya hanyut dalam tautan mesra yang menenggelamkannya ke dalam lautan asmara.


Dimas melingkarkan tangannya di pinggang Dini dan menarik Dini agar semakin mendekat padanya. Membuat tautan keduanya semakin kuat dan dalam.


Di sisi lain, Andi dan Anita yang hendak kembali ke tempat piknik mereka hanya diam saat mereka sudah berdiri tak jauh dari tempat Dini dan Dimas.


Mereka kompak menghentikan langkah mereka tanpa mengucapkan apapun.


Andi hanya tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya, sedangkan Anita menatap dengan geram dengan tatapan penuh kebencian.


Andi lalu berbalik dan duduk di bibir pantai, membiarkan sapuan ombak membasahi kakinya.


"aku baik baik aja, hatiku udah terlalu sering ngerasain sakit yang seperti ini dan aku bahagia atas kebahagiaan kamu Din, sampai kapanpun aku hanya akan jadi pemain viguran yang hanya akan kamu datangi saat kamu butuh aku," ucap Andi dalam hati.


"Mereka keterlaluan," ucap Anita yang tiba tiba duduk di samping Andi.


"Biarin aja, mereka lagi bahagia," balas Andi dengan tersenyum menatap gulungan ombak yang semakin mendekat dan membasahi kakinya.


"Berhenti tersenyum Ndi, senyum kamu palsu!" ucap Anita kesal.


Andi lalu membawa pandangannya pada Anita dan menarik wajah Anita agar menghadapi ke arahnya.


Andi menatap Anita untuk beberapa saat dan tersenyum.


"Aku juga bahagia Nit, aku bahagia liat mereka bahagia," ucap Andi.


Anita lalu mengalihkan pandangannya ke arah hamparan laut di hadapannya.


"Suatu saat kamu pasti mengerti," ucap Andi.


Anita hanya diam dengan pandangan kosong. Ia tidak mengerti dengan sikap Andi.


"kamu bodoh Ndi, kamu laki laki paling bodoh yang pernah aku temui," batin Anita kesal dalam hati.


"Terkadang apa yang membuat kita bahagia itu bukan orang lain, bukan juga cinta yang berbalas, tapi yang bikin kita bahagia adalah saat kita udah bisa berdamai dengan hati kita, saat kita udah menang melawan ego kita sendiri," ucap Andi.


"Aku selalu kalah Ndi, aku nggak bisa menang," ucap Anita.


"Kamu bisa menang kalau kamu mau berusaha Anita, kamu mau kita semua berteman lagi kan? mereka sekarang bahagia Anita dan sebagai teman yang baik kamu juga harus bahagia dengan kebahagiaan mereka," balas Andi.


Anita menganggukkan kepalanya dengan membawa pandangannya pada Andi meski sebenernya ia tidak bahagia dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Aku percaya sama kamu Nit, aku percaya kamu udah lebih baik sekarang, jadi tolong jaga kepercayaan aku dengan berhenti deketin Dimas, karena semakin kamu deketin Dimas, Dini akan semakin meragukan kamu Anita!" ucap Andi.


"Aku mengerti Nit, tapi kamu harus pakai cara yang lebih baik, jangan bikin Dini salah paham yang pada akhirnya akan bikin Dini dan Dimas bertengkar!"


"Kamu sebenarnya belain siapa sih Ndi? aku atau Dini?"


"Maksud kamu apa Nit? aku nggak pernah memihak salah satu diantara kalian, aku mau kita berteman kayak dulu seperti yang kamu mau juga," jawab Andi.


"pertanyaan bodoh Anita, udah pasti Andi belain Dini, dia nggak mungkin bisa berantem sama Dini terlalu lama," batin Anita dalam hati.


Anita lalu berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.


"Kamu mau kemana?" tanya Andi tanpa berdiri dari duduknya.


Anita hanya diam seolah tak mendengar pertanyaan Andi. Meski begitu Andi yakin jika Anita masih mendengarnya.


"Aku percaya sama kamu Anita, aku akan bantuin kamu kapanpun kamu butuh aku selama itu demi pertemanan kita!" ucap Andi.


Anita yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis dan tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan Andi.


"sabar Anita, jangan terlalu gegabah, kamu udah dapat kepercayaan Andi jadi jangan kamu sia siakan itu!" batin Anita menasihati dirinya sendiri.


Anita sengaja menjauh dari Andi karena ia kesal pada sikap Andi, tapi meski begitu ia akan tetap menahan diri agar Andi masih percaya padanya.


Di sisi lain, Dimas dan Dini sedang asik berfoto di tempat mereka piknik.


"Dimas, hp kamu lowbatt!" ucap Dini pada Dimas.


"ada powebank di mobil, aku ambil dulu ya!"


"Oke, jangan lama lama!"


Dimas menganggukkan kepalanya lalu mencium kening Dini sebelum pergi.


Dimas berjalan ke arah tempat parkir untuk mengambil powerbank milik sang papa yang selalu ada di mobil.


"Dimas!" panggil Anita yang tiba tiba ada di belakang Dimas saat Dimas membuka pintu mobil.


"Apa lagi Nit?" tanya Dimas yang urung mengambil powerbank.


"Aku perlu bicara sama kamu, jadi please kasih aku kesempatan buat ngomong semuanya sama kamu!"


"Apa kamu akan berhenti ganggu aku sama Andini?"


"Aku nggak bermaksud ganggu kalian, aku cuma mau berteman lagi sama kalian!" jawab Anita.

__ADS_1


"Aku nggak akan mau ke sini kalau bukan Andini yang minta, jadi jangan berpikir aku mau berurusan lagi sama kamu cuma karena aku mau liburan berempat sama kamu!" ucap Dimas dengan tegas.


"Dimas, aku minta maaf, maaf atas semua yang udah aku lakuin sama kamu, aku tau aku salah dan aku menyesal, tolong jangan siksa aku dengan rasa bersalah yang selalu menghantui aku Dimas!"


"Kamu pantas menerima semua itu Anita!"


"Apa nggak ada sedikitpun tempat buat aku di hidup kamu? aku cuma mau kita berteman kayak dulu Dimas, aku mau kita kembali menjadi teman yang saling peduli dan menyayangi satu sama lain!"


"Jangan harap!" ucap Dimas lalu hendak melangkah pergi namun Anita menahannya.


"Kasih aku kesempatan Dimas, kasih aku waktu buat buktiin ucapanku sama kamu!" ucap Anita.


Dimas lalu menarik tangannya dengan kasar.


"Aku akan maafin kamu kalau kamu mau pergi dari hidupku Anita, pergi dan jangan pernah kembali lagi, jangan ganggu aku sama Andini lagi!"


"Kamu egois Dimas, kamu tau gimana aku cinta sama kamu, kamu tau semua yang aku lakuin karena aku cinta sama kamu dan sekarang saat aku berusaha buat memperbaiki kesalahan ku kamu malah minta aku pergi?"


"Iya, aku mau kamu pergi, selamanya!" jawab Dimas dengan penuh keyakinan.


PLAAAAKKKKK


Satu tamparan mendarat di pipi Dimas dan saat Anita akan mengulangi tamparannya, Dimas menahan tangan Anita dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Jangan paksa aku buat kasar sama kamu Anita!" ucap Dimas dengan mata yang berapi api.


"Dini nggak pantes sama kamu Dimas, cinta Andi jauh lebih besar daripada kamu, Andi yang lebih pantas buat Dini, bukan kamu!"


"Jaga ucapan kamu sebelum tangan kamu patah di tanganku!" ucap Dimas yang sudah kehilangan kesabaran nya.


"Aku nggak peduli, aku nggak akan berhenti buat berusaha dapetin kamu Dimas, sampe kapanpun kalian nggak akan bahagia selama ada aku di sini!" ucap Anita dengan penuh penekanan di setiap kata katanya.


Dimas lalu melepaskan tangan Anita dengan kasar dan menampar Anita tanpa ragu.


Emosi sudah menguasai diri Dimas saat itu. Jiwanya sudah terbakar amarah karena ucapan Anita.


Anita memegang pipinya yang terasa perih. Untuk kedua kalinya, laki laki yang dicintainya telah melayangkan tamparan yang menyakitkan padanya.


"Kamu akan menyesal Dimas, kamu pasti menyesal!" ucap Anita dengan suara bergetar dan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Kamu yang akan menyesal Anita, Andi dan Andini udah percaya sama kamu, tapi dengan alasan pertemanan yang selalu kamu ucapkan itu sama sekali nggak akan mempengaruhi aku buat bisa maafin kamu dan sekarang terbukti, kamu emang nggak berubah, kamu tetap perempuan jahat, perempuan licik!"


"Kita lihat aja nanti," ucap Anita dengan tersenyum licik.


"aku bukan Andi, aku nggak akan jadi pemain viguran di cerita ini, aku akan jadi tokoh utama yang akan menghancurkan semua yang menghalangi ku untuk memiliki kamu Dimas!" batin Dimas dalam hati.


Di sisi lain, Dini yang sedang menunggu Dimas dihampiri oleh Andi.


"Dimas kemana?" tanya Andi yang duduk di samping Dini.


"Ambil powerbank di mobil, tapi lama banget dari tadi!" jawab Dini.


"Udah mulai panas nih, Anita juga nggak balik balik!" ucap Andi.


Dini lalu memberikan satu botol minuman pada Andi.


"Emang Anita kemana?" tanya Dini.


"Nggak tau, tiba tiba pergi tadi," jawab Andi.


"Anita sama Dimas nggak ada, kalau Dimas cuma mau ambil powerbank harusnya udah balik dari tadi, apa mereka....."


"Kamu bahagia Din?" tanya Andi membuyarkan lamunan Dini.


"Iya, bahagia, walaupun aku harus maksa Dimas buat mau liburan berempat!" jawab Dini.


"Dimas emang paling lemah sama kamu, dia nggak mungkin bisa nolak permintaan kamu," ucap Andi.


"Kamu juga nggak pernah nolak permintaan aku," balas Dini.


"Karena aku satu satunya sahabat terbaik kamu dari dulu, kalau bukan aku siapa lagi yang mau kamu repotin hahaha....."


"Ooohhh... jadi selama ini aku ngerepotin kamu?"


"Banget, tapi aku suka," jawab Andi dengan menatap ke dalam mata Dini, membuat Dini menjadi salah tingkah.


"Kita balik aja gimana? udah panas di sini!" ajak Dini.


"Dimas sama Anita gimana?"


"Kita beresin ini dulu, sekalian kita jalan ke depan cari mereka," jawab Dini.


"Oke!"


Andi dan Dini lalu membereskan perlengkapan piknik mereka. Memasukkan sisa makanan dan minuman ke dalam keranjang dan melipat kain pantai yang mereka pakai sebagai alas.


Andi dan Dini lalu berjalan ke arah tempat parkir sembari membawa pandangan mereka untuk mencari keberadaan Dimas dan Anita.


Sesampainya di tempat parkir Andi dan Dini begitu terkejut dengan apa yang mereka lihat.


Andi segera menjatuhkan keranjang makanan dan menghampiri Anita yang bersimpuh di dekat mobil dengan darah di sudut bibirnya dan bekas kemerahan di pipinya.

__ADS_1


NB : Cek update terakhir dari CINTA HARTA DAN PERSAHABATAN ya kak, author update visualnya di sana 😉


__ADS_2