Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Harapan Alana


__ADS_3

Kemacetan panjang terjadi di salah satu ruas jalan utama kota. Diantara para pengendara yang terjebak macet itu ada Dini yang berada disana bersama Pak Yusman.


Berkali kali Dini melihat jam di tangan kirinya yang membuatnya semakin panik. Satu jam sudah berlalu dan ia masih terjebak diantara lautan mobil yang ada di jalan raya.


"Pak, nggak bisa cari jalan lain ya?" tanya Dini pada Pak Yusman.


"Nggak ada mbak, tadi sebenarnya ada jalan tikus, tapi udah kelewat dan nggak bisa balik kesana lagi," jawab pak Yusman menjelaskan.


"Kalau ada jalan tikus lewatin aja pak, saya udah telat banget soalnya," ucap Dini.


"Baik mbak," balas pak Yusman.


Setelah beberapa lama terjebak, Dini akhirnya bisa keluar dengan melewati jalan tikus.


Dinipun sampai di rumah Andi. Dengan kotak kado kecil di tangannya Dini berlari memasuki rumah mewah itu.


Saat ia baru saja menginjakkan kaki di halaman rumah yang dipakai untuk acara ulang tahun Alana, semua mata tertuju padanya.


Alanapun segera berlari ke arah Dini dan memeluknya, masih terlihat sisa air mata di pipi Alana karena sudah lama menunggu kedatangan Dini.


Dinipun berjongkok dan memeluk Alana.


"Selamat ulang tahun cantik, maaf Tante terlambat," ucap Dini lalu mencium pipi Alana.


"Alana pikir tante nggak jadi dateng," ucap Alana dengan masih sesenggukan.


"Tante pasti tepati janji tante," balas Dini dengan memberikan kotak kadonya pada Alana.


"Ini apa Tante?" tanya Alana penasaran.


"Ini hadiah dari Tante, tapi nanti aja ya dibukanya," jawab Dini yang dibalas anggukan kepala Alana.


Tak lama kemudian Andi datang menghampiri Alana dan Dini.


"Sekarang waktunya Alana tiup lilin!" ucap Andi pada Alana.


"Ayo Tante, kita tiup lilin sama sama!" ajak Alana sambil menarik tangan Dini.


Andi hanya menggelengkan kepalanya pelan karena Alana lebih memilih menarik tangan Dini daripada dirinya.


"Ayo pa, sini, kita tiup lilin bertiga, Alana, papa dan Tante Dini!" ucap Alana sambil melambaikan tangannya pada sang papa.


"Alana, tante......."


"Nggak papa Din, dia dari tadi nggak mau tiup lilin karena nunggu kamu," ucap mama Siska yang mengerti maksud Dini yang ingin menolak permintaan Alana.


Dini kemudian menganggukan kepalanya. Semua yang ada disanapun kembali menyayikan lagu selamat ulang tahun untuk Alana kemudian Alana meniup lilinnya bersama Tante Dini dan sang papa.

__ADS_1


Tak lupa ia mengucapkan harapannya dalam hati sebelum ia meniup lilinnya.


"semoga Tante Dini bisa jadi mamanya Alana," ucap Alana dalam hati.


Semua yang ada disanapun bertepuk tangan. Dengan dibantu Andi, Alana memotong kuenya dan memberikan suapan pertamanya pada sang papa, kemudian Dini, mama Siska, Ana dan Adit.


Mereka semua berbahagia di hari ulang tahun Alana, tak terkecuali Dini. Ia seperti menemukan kembali kebahagiaannya.


Setelah acara ulang tahun selesai, tinggal Andi, Dini, Alana, mama Siksa, Adit dan Ana yang ada disana.


Mereka mengobrol bersama membicarakan banyak hal. Entah kenapa Alana terlihat sangat manja pada Dini saat itu.


Ia bahkan mengajak Dini untuk membuka kado yang ia dapat. Saat membuka kado dari Dini, ia begitu antusias.


Sebuah kalung dengan huruf A di tengahnya melingkar indah di dalam kotak kecil yang Alana pegang.


"Waaahhh, kalung," ucap Alana senang.


"Tante bantu pake'in ya?" tanya Dini yang dibalas anggukan kepala oleh Alana.


"Naaahhh, cantik, seperti Alana," ucap Dini setelah memakaikan kalung itu pada Alana


"Terima kasih Tante, Alana suka banget,"


Alana kemudian memamerkan kalungnya pada semua yang ada disana. Saat Alana sedang bersama mama Siska, Adit dan Ana, Andi menghampiri Dini yang duduknya sedikit menjauh dari yang lain.


"Makasih udah dateng," ucap Andi pada Dini.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Waktu berlalu, Dinipun meninggalkan rumah Andi dan pulang bersama pak Yusman.


**


Hari hari telah berganti, bulan dan tahun berlalu. Banyak hal yang sudah berubah sejak Dini bertemu dengan Alana. Kebahagiaan yang sempat hilang seolah kembali datang pada Dini.


Ia sudah berdamai dengan keadaan yang sempat membawa penderitaan baginya. Ia sadar, kesedihan tidak akan merubah apapun.


Dimas bahkan selalu memintanya untuk melanjutkan hidupnya dengan lebih baik dan yang bisa Dini lakukan saat itu adalah mengikuti ucapan Dimas, menjalani hidupnya dengan baik dan bahagia.


Waktu yang berlalu membawa Dini kembali dekat dengan Andi. Mereka sering menghabiskan waktu bertiga bersama Alana karena tak jarang Alana mengajak sang papa dan Tante Dini untuk berlibur bersama atau sekedar jalan jalan bertiga.


"Ada yang mau aku tanyain sama kamu," ucap Dini saat mereka sedang piknik.


Alana yang saat itu sedang bermain bersama temannya membuat Andi dan Dini hanya duduk berdua dengan mengawasi Alana dari jauh.


"Apa?" tanya Andi.

__ADS_1


"Apa perasaan kamu udah berubah?" tanya Dini dengan menundukkan kepalanya tanpa berani menatap wajah Andi.


"Nggak ada yang berubah Din, dari dulu sampai sekarang, cinta itu tetap ada tanpa aku berani berharap apapun, aku emang pengecut," jawab Andi dengan tersenyum tipis di akhir kalimatnya.


"Kenapa kamu nggak berani berharap?"


Andi lalu membawa pandangannya pada Dini, menatap wajah cantik itu dari samping.


"Aku nggak mau merusak apa yang udah ada, buat aku kebahagiaan kamu adalah tujuan hidupku, selagi kamu bahagia itu udah lebih dari cukup buat aku," jawab Andi yang membuat Dini membawa pandangannya pada Andi.


"Walaupun itu menyakiti hati kamu?" tanya Dini.


"Aku nggak peduli, kebahagiaan kamu yang akan menyembuhkannya," jawab Andi.


Dini menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum. Ia tidak mengerti kenapa sahabat yang ia kenal dari kecil bisa mempunyai perasaan sedalam itu padanya.


Tak lama kemudian Alana datang dengan membawa balon berbentuk hati dan memberikannya pada Dini.


"Tante, Alana akan kasih balon ini buat Tante, tapi ada syaratnya!" ucap Alana pada Dini.


"Apa itu?" tanya Dini.


"Tante harus jadi mamanya Alana, gimana?" tanya Alana yang membuat Dini dan Andi begitu terkejut mendengarnya.


"Alana, papa kan udah bilang, nggak boleh bercanda kayak gitu," ucap Andi dengan menarik tangan Alana.


"Alana nggak bercanda kok, Alana pingin Tante Dini jadi mamanya Alana, mau ya Tante?"


"Kamu udah bilang om Dimas sama mama Anita?" balas Dini bertanya.


"Sudah, om Dimas sama mama Anita seneng kok kalau Tante Dini mau jadi mamanya Alana," jawab Alana dengan polosnya.


Dini lalu membawa pandangannya pada Andi, namun Andi hanya tersenyum canggung pada Dini.


Dini kemudian menganggukan kepalanya dengan tersenyum pada Alana.


"Iya, Tante mau jadi mamanya Alana," ucap Dini yang membuat Alana bersorak, sedangkan Andi hanya diam dengan menatap Dini tak percaya.


"Yeeeeyyyy Alana punya mama...


horeeee........" teriak Alana kencang


Dini kemudian berdiri dari duduknya dan meraih tangan Alana. Mereka berpegangan lalu berputar putar di depan Andi.


Sedangkan Andi masih terdiam tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Papa, ayo!" ucap Alana dengan menarik tangan Andi.

__ADS_1


Dengan ragu Andi berdiri, memegang tangan Dini dan Alana lalu ikut berputar bersama mereka.


Kebahagiaan pun kini tampak dari raut wajah mereka bertiga.


__ADS_2