
Adit sudah berada di rumah sakit, ia terdiam di tempatnya berdiri saat melihat Ana dari celah pintu kaca.
Meski belum tau apa yang terjadi pada Ana, tapi ia sudah tidak melihat perut besar Ana.
Tak lama kemudian Dokter keluar dan menjelaskan keadaan Ana pada Adit. Dokter menjelaskan jika Ana baik baik saja, namun bayi dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan.
"Benturan yang keras membuat pasien mengalami pendarahan dan ketuban pecah dini, hal itu membuat bayi dalam kandungannya harus dilahirkan secara prematur, tapi pasien terlambat dibawa ke rumah sakit jadi.... kami mohon maaf karena tidak bisa menyelamatkan nyawa sang bayi," ucap Dokter menjelaskan.
Seketika Adit benar benar kehilangan tenaganya. Ia jatuh tersungkur di lantai setelah mendengar penjelasan dari Dokter.
Ia merasa telah gagal menjaga Ana dan bayi dalam kandungannya dengan baik. Ia merasa dunianya benar benar telah lumpuh saat itu.
"Saya harap Anda bisa tabah dan kuat, karena saya yakin pasien sekarang membutuhkan kekuatan dari orang orang terdekatnya," ucap Dokter mengingatkan Adit.
Adit hanya diam dengan menutup wajahnya. Ia terduduk di lantai dengan air mata yang sudah tak bisa ia bendung lagi.
Hatinya benar benar hancur dan sakit luar biasa. Ia tidak tau harus menghadapi Ana seperti apa, ia bahkan gagal menjaga bayi yang belum sempat melihat dunia, membuatnya merasa menjadi laki laki paling buruk yang pernah ada.
"Maafkan saya dan Lisa mas Adit," ucap Bu Desi penuh rasa bersalah.
Tak hanya Adit, Bu Desi dan Lisa pun tidak bisa menahan air mata mereka setelah mendengar penjelasan Dokter.
Mereka juga merasa bersalah karena terlambat membawa Ana ke rumah sakit. Mereka bahkan sudah pasrah jika Adit memecat mereka hari itu juga.
Adit lalu menghapus air matanya, menata hatinya dan meneguhkan hatinya agar tetap kuat di hadapan Ana karena meski anak dalam kandungan Ana bukanlah anaknya, ia sudah mencintainya seperti ia mencintai Ana.
Setelah Ana dipindahkan ke ruang rawat, Aditpun masuk ke ruangan Ana. Ia menggenggam tangan Ana, berharap Ana bisa menerima apa yang sudah terjadi pada bayinya.
Tak lama kemudian Ana mengerjap, Ana membuka matanya dan menyadari sesuatu yang berbeda.
Ana menarik tangannya dari genggaman Adit dan mengusap perutnya yang sudah rata.
"Adit, dimana bayi kita Dit? dia baik baik aja kan?" tanya Ana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dia..... dia udah di surga An," jawab Adit dengan suara serak.
Ia benar benar berat mengatakan hal itu, namun mau tak mau ia harus memberi tahu Ana apa yang sudah terjadi.
Ana menggelengkan kepalanya pelan dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Dia udah bahagia di surga An, dia akan jadi malaikat yang akan nunggu kamu di sana," ucap Adit dengan menggenggam tangan Ana.
Ana hanya diam bersama rasa sakit yang menusuknya sangat dalam. Air matanya tak berhenti menetes meski tak ada satu katapun terucap dari bibirnya.
Rasa sakit yang teramat dalam itu seolah telah merenggut kehidupannya. Ia menyesal karena sempat menolak kehadiran bayi dalam kandungannya dan sekarang karmanya telah datang.
Bayi yang sudah dikandungnya memilih pergi karena keinginan Ana di masa lalu. Ia benar benar menyesali perbuatannya, menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada bayinya.
Adit lalu menghapus air mata di pipi Ana, ia tau sebesar apa sakit yang Ana rasakan saat itu meski Ana hanya diam.
"Tinggalin aku Dit," ucap Ana dengan suara bergetar.
"Aku akan di sini nemenin kamu," balas Adit.
"Aku butuh waktu untuk sendiri, aku mohon," ucap Ana dengan menatap mata Adit.
Adit lalu melepaskan genggaman tangannya pada Ana, mencium kening Ana lalu keluar dari ruangan Ana.
Ana memegang perutnya dan mengusapnya pelan.
"Maafkan mama sayang, maafkan mama karena nggak bisa jaga kamu dengan baik, mama sayang sama kamu bahkan sebelum mama lihat kamu, tolong maafkan mama," ucap Ana dengan menumpahkan semua tangisnya.
Ana menangis dengan suara yang memilukan hati. Dalam sekejap saja ia sudah kehilangan semangat dalam hidupnya.
Karena tak kuasa mendengar tangisan pilu Ana, Aditpun kembali masuk dan membawa Ana ke dalam dekapannya.
Ana menangis dalam pelukan Adit, begitu juga Adit yang menangis tanpa suara. Membayangkan saat bayi mungil itu lahir dengan tangisnya, membuat mereka semakin terjatuh jauh kedalam kesedihan.
"Maafkan aku An, harusnya aku bisa jaga kalian dengan lebih baik," ucap Adit dengan suara serak.
"Ini semua salahku Dit, karena aku udah ngelakuin hal yang di luar batas dan aku bahkan sempat menolak kehadirannya, ini semua salah ku, ini karma buat aku!" ucap Ana dengan derai air mata yang terus berjatuhan dari kedua sudut matanya.
"Aku bukan ibu yang baik Dit, aku nggak bisa jagain dia, aku bahkan belum denger suaranya," lanjut Ana yang semakin terdengar pilu dan menyesakkan.
Waktu berlalu dengan kesedihan yang menguasai Adit dan Ana. Langit sore itu mengantarkan mereka ke peristirahatan terakhir bayi mereka.
"Dia udah bahagia di sana kak, gue yakin dia udah merasakan kasih sayang lo sama mbak Ana sebelum dia lahir," ucap Andi yang berusaha menguatkan kakaknya.
"Yang sabar sayang, ini sudah jalan dari Tuhan, mama yakin Tuhan akan kasih hadiah dibalik cobaan ini," ucap mama Siska berusaha menguatkan Ana.
Adit dan Ana hanya diam dengan menatap makam kecil di hadapan mereka.
Tak hanya Adit dan Ana, Andi dan sang mama juga berlinang air mata saat mengetahui kejadian buruk yang menimpa bayi Ana.
"Jangan berlarut larut dalam kesedihan Adit Ana, anak kalian sudah bahagia di surga, dia juga ingin melihat kalian bahagia," ucap mama Siska lalu mengajak Andi untuk pergi, memberi waktu bagi Adit dan Ana untuk berdua di sana.
Sepeninggalan Andi dan mama Siska, Ana menjatuhkan dirinya di samping gundukan kecil itu. Ia menangis dan meratap dalam dekapan Adit.
"Dia pergi Dit, dia bener bener pergi," ucap Ana dengan isak tangisnya yang memecah keheningan.
"Kamu harus kuat An, kamu harus tetap lanjutkan hidup kamu dengan baik, aku yakin dia selalu liat kita dari sana dan dia pasti ingin kita bahagia," ucap Adit.
__ADS_1
Ana masih terisak dengan pilu sampai ia kehilangan kesadarannya dalam dekapan Adit. Adit lalu membopong Ana ke arah mobilnya.
Andi yang melihat hal itu segera membuka pintu mobil dan mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah.
Adit memberikan minyak aromaterapi di hidung Ana, membuat Ana kembali tersadar dari pingsannya.
Namun Ana kembali menangis dalam dekapan Adit, baginya setiap nafasnya bersisi kesedihan yang begitu menyakitkannya.
**
Waktu berlalu, hari berganti tanpa henti.
Sudah hampir satu tahun Dini menjadi istri Dimas. Ia masih bekerja di perusahaan Adit sebagai personal assistan Adit.
Beberapa bisikan selalu Dini dengar mengingat ia belum juga hamil setelah hampir satu tahun pernikahan mereka.
Meski Dini berusaha mengacuhkannya, namun jauh dalam hatinya ia juga bersedih. Ia dan Dimas sudah memeriksakan diri pada ahlinya dan mereka berdua sama sama sehat.
Ia dan Dimas hanya bisa menunggu sampai Tuhan memberikan kepercayaan pada mereka.
"Apa nggak sebaiknya kamu resign aja sayang? mungkin kesibukan kamu yang membuat kalian belum dikaruniai......"
"Ma, Dimas udah bilang jangan bahas masalah ini lagi!" ucap Dimas memotong ucapan sang mama.
Dimas tau percakapan tentang hal itu selalu membuat Dini sedih dan ia sudah mewanti-wanti sang mama atau papanya agar tidak membahas hal itu di depan Dini.
"Maaf sayang, mama nggak bermaksud menyinggung perasaan kamu," ucap mama Dimas pada Dini.
"Nggak papa ma," balas Dini dengan berusaha tersenyum.
Dimas dan Dini lalu pulang ke rumah mereka.
"Sayang, gimana kalau bulan depan kita liburan?" ajak Dimas saat mereka sudah sampai di rumah.
"Liburan? berdua?"
"Kamu bisa ajak siapapun yang kamu mau, mungkin kamu mau ajak Andi?"
"Andi? sama Anita?"
"Iya boleh, kita liburan ke vila aja biar nggak makan waktu buat perjalanan jauh!"
"Oke, nanti aku kasih tau Anita, kamu kasih tau Andi ya?"
Dimas menganggukkan kepalanya lalu membawa Dini ke dalam dekapannya. Ia sangat mencintai istrinya, apapun yang terjadi ia akan selalu berusaha untuk membahagiakan Dini.
**
"Dini, mama kangen banget sama kamu, kamu apa kabar?" tanya mama Siska yang langsung memeluk Dini.
"Dini baik ma, mama apa kabar?"
"Mama juga baik sayang, gimana? masih kosong?" jawab mama Siska sekaligus bertanya dengan mengusap perut Dini.
Dini hanya tersenyum canggung mendengar pertanyaan mama Siska. Basa basi yang terlalu memuakkan bagi Dini.
"Kamu harus banyak makan sayur dan daging sayang, kamu....."
"Ayo berangkat berangkat!" ucap Andi yang tiba tiba datang dan memeluk sang mama di hadapan Dini.
"Mama masih mau ngomong sama Dini biar dia...."
"Andi berangkat dulu ma!" ucap Andi lalu mencium pipi sang mama, agar mamanya berhenti membicarakan hal yang membuat Dini tidak nyaman.
"Dimas sama Dini permisi tante," ucap Dimas pada mama Siska.
"Iya, hati hati," balas mama Siska.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil. Andi sebagai supir, sedangkan Dimas dan Dini berada di bangku belakang.
"Aku minta maaf Din atas ucapan mama tadi!" ucap Andi pada Dini.
"Nggak papa," balas Dini singkat.
Andi lalu mengendarai mobil Dimas ke arah rumah Anita. Tak lama kemudian Anita datang lalu masuk dan duduk di samping Andi.
Andipun segera mengendari mobil Dimas ke arah vila milik keluarga Dimas yang sudah mereka datangi beberapa kali.
"Kamu libur apa cuti kuliah lagi?" tanya Anita pada Andi.
"Libur semester Nit, aku udah kebanyakan cuti kemarin kemarin!" jawab Andi.
Ya, Andi sudah mendaftar S2 nya di universitas terbaik di kotanya. Seperti apa yang sudah Aletta ucapkan padanya, ia akan memulai kembali jalan hidupnya dengan lebih baik.
Tentang Dini, ia masih membiarkan Dini menjadi satu satunya penghuni hatinya, namun ia sudah melupakan kesedihannya.
Sakit yang ia rasakan sudah membaur seiring dengan berjalannya waktu. Kini ia sudah berdamai dengan hatinya dan memulai kembali langkahnya untuk menapaki jalan hidupnya yang baru.
Sesampainya mereka di vila, mereka segera menjatuhkan badan di sofa yang ada di ruang tamu.
Mereka membicarakan banyak hal lalu beristirahat di kamar masing masing sebelum mempersiapkan pesta barbeque di halaman depan.
__ADS_1
"Kamu masih kerja di perusahaan kak Adit Din?" tanya Anita pada Dini.
"Iya," jawab Dini sambil memotong daging.
"Kamu beruntung banget Din, Dimas bisa mengerti semua keputusan kamu," ucap Anita.
"Kamu gimana sama Andi?" tanya Dini pada Anita.
"Aku sama Andi? tetep kayak dulu, kita cuma berteman," jawab Anita.
"Nit, kamu jaga apinya ya, aku mau ke mini market bentar!" ucap Andi pada Anita.
"Aku aja yang ke minimarket," balas Anita.
"Kamu yakin? berani sendirian?"
"Berani lah, emang kamu mau beli apa?"
"Beli makanan ringan aja, biar nggak berat berat semua ini," jawab Andi.
"Oke, aku pergi dulu ya!"
Anita lalu meninggalkan vila untuk pergi ke minimarket.
Tak lama kemudian bi Em datang menghampiri Dimas.
"Mas, saya pergi sebentar ya panggil bapak buat ambil kayu bakar!" ucap bi Em pada Dimas.
"Bapak dimana bi?"
"Di rumah mas, nggak papa kan saya tinggal sebentar?"
"Dimas aja yang panggil bi, kejauhan kalau bibi ke rumah jalan kaki, jam segini juga udah nggak ada ojek!"
"Makasih mas kalau gitu," balas bi Em.
"Emang rumahnya dimana Dim? gue aja yang kesana!" tanya Andi.
"Lumayan jauh dari sini, lo nggak akan tau!"
"Kasih alamatnya aja, kan ada GPS!"
"Di sini sinyalnya susah, lo disini aja daripada ntar nyasar malah susah!"
"Sayang, aku pergi bentar ya!" ucap Dimas pada Dini.
"Iya hati hati," balas Dini.
Kini hanya ada Dini dan Andi di halaman vila. Karena sudah lama tidak berdua, mereka sedikit canggung.
Karena bingung harus bersikap bagaimana dan membicarakan apa, Dini tanpa sengaja melukai tangannya sendiri.
"Awww!!" pekik Dini.
"Kenapa Din? kena pisau?" tanya Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Andi lalu mengambil air dingin dan membasuh jari Dini dengan air dingin sebelum membersihkan darahnya.
"Hati hati dong Din, jangan ceroboh!" ucap Andi sambil melekatkan plester pada luka Dini.
Dini hanya tersenyum mendengar ucapan Andi. Ia merasa senang bisa sedekat itu lagi dengan Andi.
"Kenapa?" tanya Andi yang melihat Dini terus tersenyum dengan menundukkan kepalanya.
"Nggak papa," jawab Dini yang masih menyembunyikan senyumnya.
"Apa Dimas memperlakukan kamu dengan baik Din?" tanya Andi.
"Iya, dia suami yang terbaik buat aku," jawab Dini.
Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu duduk di samping Dini.
"Kamu gimana sama Aletta?" tanya Dini.
"Aletta? kita masih komunikasi beberapa kali, tapi nggak begitu intens, karena kita sama sama sibuk," jawab Andi.
"Anita?"
"Seperti yang kamu liat, dari dulu aku sama Anita ya kayak gini," jawab Andi.
"Apa kamu nggak pernah berpikir tentang siapa yang akan jadi masa depan kamu nanti Ndi?"
Andi menggelengkan kepalanya pelan dengan menatap langit malam.
"Kenapa? apa udah ada seseorang di hati kamu?"
"Iya, ada," jawab Andi.
"Siapa?"
"Kamu," jawab Andi dengan masih menatap hamparan gelap di atasnya.
__ADS_1